APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel TERPAKSA MENIKAHI MANTAN

TERPAKSA MENIKAHI MANTAN

Tak pernah terbayang aku harus menjadi pengantin pengganti untuk Uswa, mantan pacarku semasa SMA. Takdir berubah saat Ilham, calon suaminya, mendadak kritis menjelang akad. Dalam kondisi darurat, Bang Adam dan keluarga besar Uswa mendesakku menggantikan posisi mempelai pria. Walau diliputi keraguan dan rasa syok, pernikahan ini akhirnya tetap digelar. Bagaimanakah kelanjutan kehidupan kami setelah takdir menyatukan kami kembali dalam ikatan ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

Bang Adam sempat terkejut saat ayah Ilham menelepon dan memberitahu keadaan anaknya. Shok dan tak bisa berpikir jernih pada saat itu. Namun, anehnya keinginan Bang Adam untuk membatalkan pernikahan sang adik ditentang oleh ayah Ilham. Ia beralasan bahwa sebelum Ilham jatuh pingsan, ia sempat menulis sebuah pesan lewat secarik kertas di atas meja di kamar Ilham. 

Seakan tau ia tak bisa menghadiri pesta pernikahannya, Ilham menyuruh Bang Adam agar aku menggantikan posisinya. Tentu saja aku terkejut untuk kesekian kalinya. Kenapa harus aku? Kenapa aku? 

Ingin sekali diri ini bertanya ke pada Uswa apa yang sebenarnya terjadi, tapi sepertinya itu tidak mungkin karna wanita itu terus saja mengurung diri di dalam kamarnya. Hanya dua kali aku melihatnya keluar kamar. Itu pun hanya untuk mengambil air wudhu. 

"Apa Uswa sengaja tak memberitahu penyakit Ilham, Bang?" 

"Jangankan sama Abah dan Umi, orang tua Ilham aja gak tau kalau anaknya sakit." 

"Tapi, Uswa tau?" 

"Itulah yang gue heranin. Gue tau kalau Uswa terima Ilham apa adanya, tapi mereka gak berpikir panjang. Karna sikap mereka, Abah juga jadi korban." 

Ilham memang sahabatku pada saat kami sama-sama sekolah di MAN enam tahun lalu, setelah kami lulus aku putus komunikasi dengannya juga dengan Uswa, tapi yang membuatku heran kenapa harus aku yang dipilih Ilham?  

"Zul. Maafin gue, ya. Gue cuma ngikutin kemauan Ilham. Keadaan Abah juga sempet buat gue gak bisa mikir lagi." 

Apa dikata, nasi sudah menjadi bubur. Aku tetap harus berhati-hati berbincang-bincang dengan orang yang kini jadi abang iparku. Meski dalam hal ini, sebenarnya aku yang menjadi korban utama. 

"Aku gak bisa nyalahin Abang. Siapa yang tau akan jadi kaya gini, kan?" Raut wajah Bang Adam masih jelas terlihat bahwa ia merasa bersalah. Meski aku tak serta merta menyalahkannya. 

"Istirahat, Zul. Gue cape banget." Bang Adam bangkit dan menepuk bahuku perlahan. Ia lantas masuk ke rumah.  Sementara aku masih duduk di teras menikmati dinginnya angin malam. 

Kejadian hari ini masih belum begitu membuatku paham. Bagaimana hal ini bisa terjadi hingga bisa merubah statusku. Sepintas aku membayangkan hal yang lumrah dilakukan pengantin baru, sempat membuatku tersenyum lalu menggelengkan kepala. 

Derit bunyi ponsel sejenak mengejutkanku dan membuyarkan lamunan pengantin baru tak disengaja ini. Tertera tulisan ibu di layar ponsel. Entah sudah berapa kali aku merasa terkejut hari ini. Namun, kali ini aku benar-benar lupa memberitahu orang yang sudah melahirkanku bahwa anak satu-satunya ini sudah melangsungkan pernikahan. 

Aku mengusap layar perlahan dan sedikit menjauhkan layar dari telinga. 

"Zulkifliiiiiiiiiii. Ya Allah, Nak. Emak udah nunggu-nunggu telepon, tapi gak ada." 

Benar saja, ibuku berteriak diseberang telepon. Untunglah aku sudah bersiap siaga menyelamatkan gendang telingaku dari suara melengkingnya. 

"Maafin, Zul, Mak. Zul gak sempet kasih tau Emak." 

"Tega-teganya, kamu lupa sama emak, Zul sampai emak kamu sendiri gak di kasih tau kalau kamu nikah. Jangankan jemput emak sama bapak di kampung. Kasih tau pun enggak." Suara Emak mulai berubah. 

Sejenak aku menggaruk kepala. Cukup bingung juga bagaimana menjelaskan hal ini ke pada Emak. Apa beliau akan paham dengan kejadian ini? 

"Mak, maafin, Zul. Zul nikah juga dadakan, Mak. Bukan seperti yang Mak bayangin." 

"Dadakan? kaya tahu bulat. Apa jangan-jangan anak emak udah ngehamilin orang, huaaa." Emak menangis seketika. Semakin pusing aku dibuatnya.

"Mak, Uswa belum hamil, Mak." 

"Hah, namanya Uswa? Pokoknya emak gak mau tau, kamu harus pulang secepatnya. Emak sakit hati karna kamu gak kasih kabar kalau kamu nikah. Emak mau tau kenapa kamu begitu sama emak."

"Iya, Mak. Zul pasti pulang kalau udah waktunya." 

Runyam. Benar-benar runyam. Ternyata masalah pernikahan ini juga menyangkut keluargaku yang tak tau apa-apa. Aku terus berpikir bagaimana cara menjelaskan semua ini ke pada Emak dan Bapak di kampung. Apa mereka akan mengerti? Apa mereka akan menerima Uswa sebagai menantu? Atau mereka akan berusaha memisahkan kami. 

Segala kemungkinan harus aku hadapi sampai kemungkinan terburuk sekalipun. 

"Zul." Suara lirih memanggil namaku dari arah belakang. 

Aku menoleh cepat dan mendapati Uswa tengah melihatku. Ia berjalan mendekat dengan sebuah selendang melingkar di lengannya. 

Aku cukup bingung harus berkata apa. Untung saja keadaan cukup gelap di sini karna lampu sudah dimatikan sejak acara selesai. Andai saja keadaan terang, mungkin akan tampak jelas kalau wajahku ini bersemu merah karna malu. 

"Kamu kenapa di sini? Di sini dingin." Aku mencoba menatapnya dengan penerangan remang-remang. 

Uswa hanya diam dan duduk di kursi yang semula diduduki abangnya. 

"Maafin aku, Zul. Mungkin memang iya kalau aku egois." 

Uswa yang aku kenal saat sekolah dulu, amat sulit berucap maaf. Sebenarnya, aku juga tak bisa menyalahkannya begitu saja karna ia pasti juga tak akan menyangka hal ini akan terjadi. 

"Kamu gak salah, kok. Andai kata kamu cerita ke Abah dan Umi, yang namanya penyakit, siapa yang tau." Semoga apa yang aku ucapkan tidak menyakitinya. 

Aku kembali menatap Uswa saat ia menghela napas. Sempat aku membuang pandangan ketika ia menatapku. Entah mengapa rasa malu menjalar saat kami duduk berdua di teras. Berulang kali aku menarik napas perlahan untuk menetralisir hatiku. Bayangan masa lalu ketika kami dekat dulu tiba-tiba terpintas begitu saja. Juga kelakuan aneh dan jahilku. Mungkin hal ini yang membuatku sedikit malu padanya. 

"Ilham itu laki-laki yang baik. Tegar dan apa adanya. Dia bahkan gak mau kalau ibunya sampai tau kalau dia sakit." 

Sepertinya Uswa masih berharap pada Ilham. Atau mungkin ia sebenarnya tak mau menjalankan pernikahannya denganku? 

"Ketika Ilham sakit, sekalipun dia gak pernah ngeluh. Semua dia jalani sendirian. Cuma aku yang bisa kasih dia semangat." Suaranya mulai bergetar. 

Tangan ini hendak memegang bahunya, tapi aku urungkan. Mungkin saat ini, Uswa masih terhanyut dengan kesedihannya dan belum melihatku. Melihat kekecewaanku karna ia terus saja memuji Ilham. 

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ARJUNA MENCARI CINTA
9.3
Arjuna Levin, CEO sombong di Jakarta, terbiasa memanfaatkan kekuasaan untuk mempermainkan hati wanita tanpa komitmen. Namun, dominasinya runtuh saat ia bertemu Jane Calista Cintania, gadis lembut dan lugu yang berhasil memikatnya. Sang miliarder kini justru berbalik mengejar dan memohon ketulusan dari Jane. Akankah Arjuna sukses menaklukkan hati gadis tersebut, atau ia harus merasakan kepedihan akibat penolakan?
Sampul Novel Bukan Perawan Kesayangan Tuan-tuan Gigolo
9.6
Jagat raya dikejutkan oleh aksi para gigolo kaya nan rupawan yang memperebutkan kasih sayang seorang gadis desa yang serba kekurangan. Di balik kepolosan wajahnya, perempuan tersebut rupanya seorang pembunuh kejam yang telah melukai mereka. Anehnya, para pria ini malah merasa bangga jika harus tewas di tangan sang gadis. Mengapa mereka justru memuja sosok yang mengancam nyawa tersebut? Inilah kisah cinta penuh laga tentang obsesi luar biasa yang sulit dinalar publik.
Sampul Novel Cinta Terhalang Ukuran
9.4
Sebagai ahli waris kaya raya berparas rupawan, Dhipta Wisnu Pratama terlihat sempurna di mata publik. Namun, sebuah rahasia tentang kekurangan fisiknya membuat pria ini selalu meragukan ketulusan cinta yang datang. Ujian terberat bagi Dhipta tiba ketika ia mulai mencintai Anandhila Prameswary, aktris sekaligus model papan atas yang begitu memikat. Kini, Dhipta harus berjuang keras menaklukkan hati Dhila dan mengajaknya membina rumah tangga di tengah segala ketidaksempurnaan dirinya.
Sampul Novel Cinta yang Melintasi Waktu
9.5
Sepuluh tahun pernikahan Lestari dipenuhi kebencian Atmaja yang berduka atas kematian cinta pertamanya. Namun, saat kebakaran melanda, Atmaja justru mengorbankan nyawa demi menyelamatkannya. Diiringi penyesalan mendalam dan tuduhan dari mertuanya yang berharap Atmaja menikahi Intan, Lestari memilih mengakhiri hidup dengan melompat dari Menara Bintang. Keajaiban membawanya kembali ke sepuluh tahun lalu. Kini, ia bertekad melepaskan Atmaja dan mengubah takdir mereka selamanya.
Sampul Novel Godaan yang Terlalu Memikat
7.8
Demi merebut kembali sang putra, seorang janda beranak dua rela melakukan apa saja, termasuk memanfaatkan ketulusan pria baik hati demi tujuannya. Meski sadar tindakan manipulatif ini sangat egois, baginya naluri seorang ibu jauh lebih utama dibanding moralitas diri. Ia pun mendesak pria itu untuk membenci dan melupakan dirinya. Baginya, mengakhiri hubungan rumit ini adalah satu-satunya jalan terbaik agar mereka berdua bisa bertahan hidup.
Sampul Novel Kelakuan Suami dan Ibu Mertuaku di Balik Pintu
8.3
Mengetahui bahwa anak yang disayanginya selama ini merupakan hasil hubungan sedarah, sementara darah dagingnya sendiri telah meninggal secara mengenaskan, tidak membuat wanita ini menyerah pada keterpurukan. Alih-alih hancur, ia memilih bangkit dengan tekad membara untuk menuntut keadilan. Langkah pembalasan dendam pun dimulai dengan menyeret sang ibu mertua ke balik jeruji besi dan menelanjangi semua kebusukan suaminya di hadapan publik, sebelum ia melangkah pergi memulai lembaran hidup yang baru.