APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel TERPAKSA MENIKAHI MANTAN

TERPAKSA MENIKAHI MANTAN

Tak pernah terbayang aku harus menjadi pengantin pengganti untuk Uswa, mantan pacarku semasa SMA. Takdir berubah saat Ilham, calon suaminya, mendadak kritis menjelang akad. Dalam kondisi darurat, Bang Adam dan keluarga besar Uswa mendesakku menggantikan posisi mempelai pria. Walau diliputi keraguan dan rasa syok, pernikahan ini akhirnya tetap digelar. Bagaimanakah kelanjutan kehidupan kami setelah takdir menyatukan kami kembali dalam ikatan ini?
Bab
Bagikan

Bab 3

Melihat kamar pengantin dipenuhi bunga dengan kain berwarna merah muda yang menutupi seluruh dinding rasanya membuat hatiku berdesir. Bermesraan dengan pasangan layaknya pengantin baru lainnya tentu sangat aku dambakan. Namun, hal itu benar-benar harus aku tahan sampai waktunya tiba. 

Melihat Uswa masih saja bersedih hingga ia beranjak tidur, rasanya aku sebagai laki-laki sungguh tidak berguna. Enam tahun fokus bekerja tanpa memiliki tambatan hati membuat diri ini tak tau harus berbuat apa melihat keadaan Uswa. Di sisi lain, aku masih saja berpikir kalau dia sebenarnya tak mengharapkan pernikahan ini dan masih mengharapkan Ilham. Aku juga tak bisa memaksa Uswa menerimaku, atau bisa mencintaiku karna mungkin rasa cintanya ke pada Ilham sungguh besar. 

Aku meraih satu bantal dan merebahkan diri ini di lantai dengan beralaskan ambal yang cukup tebal. Untunglah Bang Adam juga memberiku sebuah sarung. Mungkin ia tau, malam ini masih terlalu cepat buatku dan Uswa untuk berhubungan suci layaknya suami istri pada umumnya. 

Denting jam mewarnai malamku. Nyaris satu jam sekali aku melirik jam yang entah kenapa bunyi detik itu seakan begitu keras terdengar. Rasanya, masih belum percaya kejadian hari ini, bak takdir yang benar-benar tak bisa kuhindari. Aku berandai-andai, bila saja aku tak datang ke sini, apa yang akan terjadi? Bila saja Ilham tak memiliki penyakit itu, pasti saat ini aku sudah terlelap di atas ranjang empukku menikmati waktu istirahat dengan menyenangkan. 

*****

Bunyi lantunan ayat suci terdengar jelas. Aku mencoba menyadarkan diri, namun mata ini terasa begitu sulit untuk terbuka. Mungkin karna belum lama aku bisa terlelap. Tak lama berselang, adzan subuh terdengar bersahut-sahutan dari masjid satu ke masjid yang lain. Perlahan aku beranjak dan memegang kepala yang sedikit terasa berat. 

"Zul. Abah udah nunggu kamu buat salat berjamaah." Uswa berkata di balik pintu dengan memakai mukena. Ia pun langsung pergi begitu saja saat mendapati aku sudah terbangun. 

Tak menunggu lama, aku langsung saja mengambil handuk dan segera mandi. Tak ingin Abah dan yang lainnya menunggu lama, aku pun segera bergabung dengan mereka. Ternyata malu rasanya menjadi orang terakhir yang datang dan membuat keluarga yang lain menunggu. 

"Zul, lu belum keramas?" goda Bang Adam sambil menyenggol perut sampingku dengan sikutnya. Ia juga tertawa kecil saat aku sedikit kesakitan. 

Ah, aku lupa. Tak teringat sedikitpun olehku untuk keramas pagi ini. Semoga saja Abah dan Umi bisa mengerti keadaan kami. 

___

"Zul, Adam. Tinggallah sebentar. Abah mau ngobrol sama kalian." Abah menghadap samping saat kami selesai takzim. Dengan santai dan penuh keramahan, ia memintaku dan Bang Adam untuk tetap tinggal. Sedangkan Uswa dan Umi beranjak pergi dari musolah rumah. 

"Zul, kemarin abah belum sempat ngucapin terima kasih sama kamu." Suaranya tenang dan begitu nyaman terdengar. 

"Abah juga mau minta maaf karna kejadian kemarin, mungkin udah buat kamu terpaksa menggantikan posisi Ilham."

"Tapi, yang perlu kamu tau, Zul. Itu semua adalah murni keinginan Ilham sendiri. Bahkan abah gak tau kalau kamu datang ke sini." 

Aku dan Bang Adam mendengarkan dengan saksama. Sedikit banyak aku paham, mungkin saja Abah tak ingin dipersalahkan karena masalah kemarin. 

"Zul, udah tau, Bah." Bang Adam menjawab. 

"Abah cuma mau meluruskan ini. Abah gak mau, Zul, abah, dan Umi merasa gak enak hati. Benar, Zul?" 

"Iya, Bah." Begitu bersahaja. Tak ada yang berubah sedikitpun dari Abah Sulaiman. Ia masih seperti dulu. Begitu sabar dalam menghadapi masalah. 

"Oh, ya, Adam. Nanti, kamu jenguk Ilham. Sampaikan salam buat Pak Suryo dan Ibu. Bilang juga kalau abah dan Umi tidak enak badan. Jangan lupa doakan Ilham supaya bisa sehat lagi." 

"Adam sendirian, Bah?" 

"Ajak Zul juga kalau kamu takut sendirian." Abah sedikit tersenyum. 

"Ehm. Gak ajak Uswa sekalian, Bah?" tanyaku. 

"Boleh. Ajak saja kalau dia mau." 

Aku mengerutkan kening sesaat. Mana mungkin Uswa tak mau pergi ke rumah sakit melihat keadaan sang pujaan hati. 

*****

"Apa kamu mau ikut ke rumah sakit?" Uswa masih duduk di ranjang dengan memegang alquran kecil di tangannya. Rupanya ia baru saja mengaji karna mukena putih gading itu masih melekat di tubuhnya.  

Ia menggeleng perlahan. 

"Kamu gak ikut?" tanyaku lagi. Aku duduk di samping Uswa dan berusaha mengetahui apa aku salah melihat. 

Wanita manis ini menarik napas. "Aku gak mau berlarut-larut dalam kesedihan, Zul. Mungkin aja, ini yang terbaik buatku dan Ilham. Walaupun sampai sekarang aku gak ngerti kenapa Ilham milih kamu buat gantiin dia." Uswa menunduk. Jemari lentik itu mengusap-usap alquran yang ia genggam. Tidak sengaja aku melihat setetes air jatuh di atas kitab suci itu. 

"Aku mau belajar ikhlas kalau Ilham mungkin aja bakal pergi, Zul." Uswa tiba-tiba saja menyandarkan kepalanya di bahuku sambil terisak. 

Terkejut dan tak bisa berkata apa-apa. Ingin sekali aku mengusap kepala wanitaku ini, tapi apa daya tanganku pun bergetar hebat. Aku membuang pandangan seketika dan berulang kali menarik napas agar Uswa tak menyadari kalau sebenarnya aku berusaha menetralisir jantung yang berdentum tak karuan ini.

"Uswa, kamu ikut abang, gak?" Terdengar Bang Adam datang dan langsung membuka pintu kamar. Ia pun melihat ke arah kami. 

Aku tergagap saat menyadari Bang Adam datang begitu saja. Belum sempat aku berucap, laki-laki berkumis tipis itu kembali menutup pintu. 

"Maaf, aku lupa." Ia kembali menutup pintu dengan cepat. 

Apa maksudnya? Bisa-bisanya ia berkata lupa. Aku dan Uswa juga tak melakukan apa-apa. 

"Aku kirim salam aja buat Bu Salamah." 

"Oke." 

Setelah memakai baju yang diberikan Bang Adam, tak lupa aku merapikan rambut dan mengambil sepatu. Kubuka pintu kamar perlahan. 

"Zul." 

Aku berhenti sejenak saat Uswa memanggil. "Hem." Aku menoleh dan melihatnya. 

"Hati-hati, ya." 

Kali ini aku tak bisa menahan senyum sambil menjawab, "Ya." 

Bersambung...

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ARJUNA MENCARI CINTA
9.3
Arjuna Levin, CEO sombong di Jakarta, terbiasa memanfaatkan kekuasaan untuk mempermainkan hati wanita tanpa komitmen. Namun, dominasinya runtuh saat ia bertemu Jane Calista Cintania, gadis lembut dan lugu yang berhasil memikatnya. Sang miliarder kini justru berbalik mengejar dan memohon ketulusan dari Jane. Akankah Arjuna sukses menaklukkan hati gadis tersebut, atau ia harus merasakan kepedihan akibat penolakan?
Sampul Novel Bukan Perawan Kesayangan Tuan-tuan Gigolo
9.6
Jagat raya dikejutkan oleh aksi para gigolo kaya nan rupawan yang memperebutkan kasih sayang seorang gadis desa yang serba kekurangan. Di balik kepolosan wajahnya, perempuan tersebut rupanya seorang pembunuh kejam yang telah melukai mereka. Anehnya, para pria ini malah merasa bangga jika harus tewas di tangan sang gadis. Mengapa mereka justru memuja sosok yang mengancam nyawa tersebut? Inilah kisah cinta penuh laga tentang obsesi luar biasa yang sulit dinalar publik.
Sampul Novel Cinta Terhalang Ukuran
9.4
Sebagai ahli waris kaya raya berparas rupawan, Dhipta Wisnu Pratama terlihat sempurna di mata publik. Namun, sebuah rahasia tentang kekurangan fisiknya membuat pria ini selalu meragukan ketulusan cinta yang datang. Ujian terberat bagi Dhipta tiba ketika ia mulai mencintai Anandhila Prameswary, aktris sekaligus model papan atas yang begitu memikat. Kini, Dhipta harus berjuang keras menaklukkan hati Dhila dan mengajaknya membina rumah tangga di tengah segala ketidaksempurnaan dirinya.
Sampul Novel Cinta yang Melintasi Waktu
9.5
Sepuluh tahun pernikahan Lestari dipenuhi kebencian Atmaja yang berduka atas kematian cinta pertamanya. Namun, saat kebakaran melanda, Atmaja justru mengorbankan nyawa demi menyelamatkannya. Diiringi penyesalan mendalam dan tuduhan dari mertuanya yang berharap Atmaja menikahi Intan, Lestari memilih mengakhiri hidup dengan melompat dari Menara Bintang. Keajaiban membawanya kembali ke sepuluh tahun lalu. Kini, ia bertekad melepaskan Atmaja dan mengubah takdir mereka selamanya.
Sampul Novel Godaan yang Terlalu Memikat
7.8
Demi merebut kembali sang putra, seorang janda beranak dua rela melakukan apa saja, termasuk memanfaatkan ketulusan pria baik hati demi tujuannya. Meski sadar tindakan manipulatif ini sangat egois, baginya naluri seorang ibu jauh lebih utama dibanding moralitas diri. Ia pun mendesak pria itu untuk membenci dan melupakan dirinya. Baginya, mengakhiri hubungan rumit ini adalah satu-satunya jalan terbaik agar mereka berdua bisa bertahan hidup.
Sampul Novel Kelakuan Suami dan Ibu Mertuaku di Balik Pintu
8.3
Mengetahui bahwa anak yang disayanginya selama ini merupakan hasil hubungan sedarah, sementara darah dagingnya sendiri telah meninggal secara mengenaskan, tidak membuat wanita ini menyerah pada keterpurukan. Alih-alih hancur, ia memilih bangkit dengan tekad membara untuk menuntut keadilan. Langkah pembalasan dendam pun dimulai dengan menyeret sang ibu mertua ke balik jeruji besi dan menelanjangi semua kebusukan suaminya di hadapan publik, sebelum ia melangkah pergi memulai lembaran hidup yang baru.