APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terpaksa Menikah

Terpaksa Menikah

Demi menutupi sebuah aib besar, pernikahan dengan karyawan ayahku terpaksa dilakukan. Awalnya perbedaan kasta membuatku enggan, tetapi sikap dingin pria itu malah memicu rasa penasaranku. Walau dia dikenal sangat setia pada wanita dari masa lalunya, aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku bertekad melakukan segala cara untuk memenangkan hatinya karena kini aku telah benar-benar jatuh cinta. Perjuanganku untuk mendapatkan cintanya baru saja dimulai.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku mendengkus kesal, Abdi melewatiku begitu saja. Dia berjalan ke arah ranjang, mengambil selimut dan bantal, lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Tak lama kemudian terdengar dengkur halusnya.

Aku hanya bisa memperhatikan sambil membaringkan tubuh di atas kasur, berharap mata ini segera terpejam. Nyatanya aku tetap terjaga, meski lelah mendera jiwa raga

* * * * *

Efek susah tidur semalam, badanku rasanya pegal semua saat bangun. Kulihat ke arah sofa, Abdi sudah tidak ada. Samar-samar aku mendengar suara Abdi sedang bicara dengan seseorang, entah siapa.

"Maaf, semalam aku sibuk menyelesaikan pekerjaan, telfon sengaja aku matikan."

".................. "

"Namanya juga naik jabatan, tanggung jawabnya juga ikut dinaik-kan. Kerjaanku jadi banyak, jadi sering lembur," ucap Abdi pelan.

"................... "

"Iya, mereka datang ingin menjengukku, sekalian jalan-jalan katanya," ucap

".................. "

"Iya, aku ngerti. Tapi mau gimana lagi? Aku bener-bener sibuk sekarang, sabar dulu ya? Lebaran ini pulang, kok."

"..............."

"Ha... ha..., kamu ini lucu. Iya... iya... tunggu aku pulang ya? I love you." pungkas Abdi.

Rasanya pengen kugampar laki-laki tak tahu diri itu, bisa-bisanya nelfon perempuan lain di kamar ini. Meski kami menikah tanpa cinta, tidak bisa kah dia menghargaiku sedikit saja?

Abdi masuk kamar mandi, setelah meletakkan telfonnya di atas meja rias. Dia sama sekali tak menyapaku, padahal dia melihatku duduk di tepi ranjang.

Karena jengkel, akhirnya aku memutuskan keluar dari kamar. Tanpa cuci muka, aku langsung ngeloyor ke ruang makan. Di sana Papa dan Mama sedang sarapan berdua. Jujur aku iri sama mereka, puluhan tahun menikah masih saja mesra.

"Aduh Adelia kamu jorok sekali, belum mandi mau makan aja. Kamu itu sudah punya suami, bangun tidur itu langsung mandi, dandan yang cantik. Pagi-pagi suami disuguhin penampakan horor begini, bisa kabur dia!" omel Mama melihatku masih mengenakan baju tidur, dengan muka acak-acakan khas orang bangun tidur.

Kalau pasangan normal ya begitu, bangun tidur langsung mandi, habis bercinta kan? Lah aku, persis Mbak Kunti bangkit dari kubur.

"Duh Mama, pagi-pagi sudah ngomel nggak jelas. Kamar mandinya dipakai," ketusku.

"Harusnya kamu bangun duluan, dong! Jangan molor terus! Lagian kamu kenapa sih? Mukanya jutek banget?" lanjut Mama

"Sebel aku tuh!" ketusku, seraya menghempaskan tubuh ke kursi.

Mama menatapku heran, pun dengan Papa, dia langsung menghentikan aktivitas mengunyahnya, dengan tatapan yang menuntut jawaban.

"Menantu Mama itu, munafik! Dia tak mau menyentuhku, dia bilang, "Maaf, aku tidak bisa menyentuhmu, pernikahan kita tidak sah, wanita hamil haram untuk dinikahi" ucapku menirukan ucapan Abdi Negara semalam.

"Masak sih? Nak Abdi bilang begitu? Jadi semalam kalian---" tanya Mama mengambang.

"Iya, aku tidur di ranjang, dia tidur di sofa. Aku sendiri hampir nggak percaya, kalau tidak mendengarnya secara langsung. Sok suci banget sih! Bawa-bawa agama segala, bilang aja jijik sama aku, karena hamil dengan laki-laki nggak jelas," ucapku kesal.

"Yang Abdi katakan itu benar, wanita hamil tidak boleh dinikahi atau diceraikan. Pernikahan sah, jika dilakukan setelah masa nifas selesai," ucap Papa seraya mengelap bibirnya dengan tisu.

"Papa tahu? Kenapa tetap menikahkan kami berdua?" protesku.

"Papa terpaksa melakukannya, demi nama baik keluarga. Kamu hamil tanpa suami, mau ditaruh kemana muka Papa? Dengan menikahkan kalian harga diri keluarga terselamatkan.

Meski pada akhirnya orang-orang tahu kalau kamu hamil sebelum menikah, setidaknya mereka tidak tahu, kalau Ayah janin itu nggak jelas siapa. Mereka hanya tahu kamu menikah dengan Abdi, dan beranggapan janin itu anaknya Abdi," jelas Ayah.

"Sekalipun saling mencintai, kami tetap tidak boleh bersentuhan?" tanyaku lagi.

"Tentu saja, usai bayi itu lahir dan masa nifasmu selesai. Kalian harus menikah ulang, memang tidak harus ke KUA, tapi secara agama. Karena itu tadi, kalian menikah demi menutup aib, dan agar bayi itu punya Ayah saat dilahirkan."

"Berarti Nak Abdi itu paham ilmu agama ya, Pa?" sahut Mama.

"Lho, dia itu pernah mondok enam tahun di pesantrennya KH. Mahfud. Papa tidak akan sembarangan memilih calon menantu. Papa pilih Abdi, karena berharap dia bisa membimbing Adelia menjadi lebih baik, menjadi wanita sholehah.

Papa harap kalian bisa saling jatuh cinta, pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek."

"Aamiin ... semoga mereka berjodoh ya Pa? Bangga punya menantu seperti Nak Abdi, sudah ganteng, pinter, sholeh lagi," sahut Mama memuji Abdi.

"Huh!" Aku mendengkus kesal mendengar percakapan orang tuaku.

Bisa-bisanya memuji pemuda kampungan itu. Padahal aku berharap mendapat pembelaan dari kedua orang tuaku, ini yang terjadi malah sebaliknya. Mereka memuji Abdi habis-habisan.

"Sarapan Nak Abdi?" sapa Mama ramah.

Aku menoleh ke belakang, ternyata Abdi berjalan ke arah kami. Dia sudah terlihat rapi. Panjang umur tuh orang, baru diomongin langsung nongol.

Buru-buru aku memutar kembali kepala, malu kalau sampai Andi melihatku dalam keadaan yang mengerikan ini.

"Iya Bu," jawab Mas Abdi sopan, dia mengambil duduk tepat disampingku.

"Jangan Bu dong, manggilnya? Kamu kan menantu Mama sekarang, panggil Mama aja, biar lebih akrab." Mama lebay! gerutuku dalam hati.

"I--iya Ma,"

"Adel? Suaminya diambilkan makan, dong? Jangan diam begitu?" Mama mendelik ke arahku.

"He... he.... iya Mah." Canggung aku mengambil piring yang ada di depan Abdi.

Mama memang keterlaluan, aku berusaha menghindar dari tatapan Abdi, malah disuruh ngambilin makan.

"Mau makan pakai apa?" tanyaku kaku.

Gimana nggak kaku, kami hanya bertemu sekali sebelum menikah. Tak pernah berinteraksi, apalagi semalam dia baru saja menolakku, makin canggung lah aku.

"Terserah, apapun yang kamu ambil akan kumakan," jawabnya pelan.

Kuambil nasi dan lauk, lalu ku sodorkan pada menantu idaman Papa itu. Pria itu menerimanya, sambil mengulas senyum manis. "Terimakasih," ucapnya.

"Hari ini kamu tidak ke kantor, kan?" tanya Papa, memecah kekakuan diantara kami berdua.

"Nggak Pak, eh Pa. Saya mau menemui keluarga saya di hotel, hari mereka akan pulang ke kampung," jawab Abdi.

"Bagus lah, sudah sepantasnya pengantin baru itu cuti. Kalian pergilah jalan-jalan, atau kemana gitu, biar lebih akrab. Bagaimana pun juga kalian itu suami istri, sudah sepantasnya membangun kemistri, iya kan?"

Papa apa-apaan sih, ngomong kayak gitu? Siapa juga yang berakrab-akrab ria sama kanebo kering kayak dia? Males!

"Iya Pa, mungkin besok atau lusa. Nggak pa-pa kan, Del?" ucap Abdi seolah meminta persetujuanku.

Dasar penjilat! Di depan Papa dia bersikap manis, di depanku dia kayak es batu.

"Iya, santai aja, nggak usah buru-buru." jawabku sekenanya.

"Nak Abdi, Mama mau nitip oleh-oleh buat keluargamu, nanti jangan lupa bawa ya?" ucap Mama lembut, pada sangat menantu tersayangnya itu.

"Adelia kamu mandi gih! Dandan yang cantik, temani Nak Abdi menemui keluarganya. Jadilah menantu yang baik."

Mama beralih menatapku, aku balas dengan mendelik ke arah Mama, tidak setuju dengan perintahnya.

"Eh nggak boleh gitu! Nggak sopan, itu keluarga suami kamu lho!"

"Ok, aku mandi dulu. Dandan yang cantik, biar nggak malu-maluin. Begitu kan Ma?" sindirku.

"Pinter kamu," ucap Mama, membuatku kesal.

Sudah tahu kami menikah hanya pura-pura, kenapa aku dipaksa bersikap manis? Cukuplah aku menghadapi Abdi yang kaku, ini masih ditambah harus mengahadapi keluarganya. Menyebalkan!

Gegas aku meninggalkan meja makan, menuju kamarku, untuk melakukan perintah Mama. Kalau tidak dituruti, Mama bisa tiba-tiba menjadi raper.

Oh ya aku lupa, ini pernikahan sandiwara. Jadi aku harus berakting, seolah-seolah pernikahan ini nyata. Konyol memang.

To be continued....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ALFARO | Berandal gilaku
8.5
Keenan Alfaro seorang anak yatim piatu yang hidup sendiri sejak usia 9 tahun. Bukan hal yang mudah untuknya bisa bertahan sampai usianya menginjak 18 tahun dan duduk dibangku SMA. "BERANI, LAWAN!! GAK BERANI, PULANG!! COWO JANGAN NANGIS!!" Kalimat satu-satunya yang terlontar dari mulut papanya yang membuatnya bertahan menghadapi kerasnya hidup. Tumbuh dengan tanpa pengawasan orang tua menjadikannya pribadi yang urakan dan playboy. Tak takut kepada siapapun dan tak takut menghadapi apapun. Tak pernah menangis hanya karena tubuhnya terluka dan berdarah. Pengecualian yang membuatnya menitikan air mata. Cewe! Mutiara namanya. Murid terpintar seangkatannya yang duduk dibangku kelas 11. Satu-satunya cewe yang meluluhkan hati Keenan diantara ribuan cewe yang ada di jagat raya ini. Keenan, murid beasiswa ini kembali harus duduk di kelas 12 karena satu hal dan menjadi saingan Mutia. --‐‐----------------------------------------------------------------- "Berat?" Tanya Keenan tepat di depan wajah Mutia saat tubuhnya menindih tubuh mungil cewenya ini. Nafasnya menguar mengeluarkan wangi mint yang khas. Mutia menggeleng "Yang berat itu jadi pacar kamu" Bagaimana tidak, seumur hidupnya tak pernah menyangka jika dirinya akan berakhir mendapatkan pembulian di kelas 12 setelah dirinya meminta Keenan untuk mempublikasikan statusnya. --------------------------------------------------------------------- Keenan Alfaro si kere ini memanfaatkan wajah tampannya juga kepintarannya untuk memeras para cewe-cewe kaya di sekolahnya. Rayuan gombalnya membuat mereka tak pernah merasa dimanfaatkan. Tak terima dengan pengakuan yang Keenan buat, para cewe itu mengamuk dan berakhir membuli Mutia. Bukan hanya dari kalangan para cewe, para cowo pun ikut membuli Mutia karena dari mereka banyak yang menjadi sasaran empuk kepalan tangan Keenan. Cowo itu tak terkalahkan dalam hal apapun termasuk adu jotos. Si BERANDAL GILA, itulah sebutannya. Mutia kini menjadi sasaran balas dendam mereka. Akankah Mutia bertahan? Atau malah menyerah??
Sampul Novel Cinta satu malam terbaik
8.7
Ditinggal sang kekasih membuat Feyleria terpuruk hingga ia terbangun di sebelah pria asing lalu kabur. Namun, Alexander, pria misterius malam itu, justru terobsesi padanya. Melalui tekanan orang tua, Alex menjebak Fey dalam perjodohan rumit. Di kala perasaan cinta Fey untuk Alex mulai bersemi, Sani sang mantan kembali untuk merebut hatinya. Fey pun bimbang memilih bayang masa lalu atau masa depan bersama pria yang tulus memujanya.
Sampul Novel Hati Beku yang Tak Dapat Dicairkan Lagi
9.2
Di kamar utama vila Keluarga Andara, Natasha bersiap mengakhiri pernikahan kontraknya yang tersisa satu bulan lagi. Ia bahkan telah merencanakan kematian palsu untuk pergi. Meski ibu mertuanya memohon agar kesepakatan dibatalkan karena sangat menghargai jasa Natasha merawat Varo selama sepuluh tahun dan melahirkan keturunan mereka, Natasha dengan tegas menolak. Keputusannya sudah bulat untuk tetap menyelesaikan hubungan pernikahan tersebut sesuai dengan kontrak awal.
Sampul Novel Jatuh Cinta Dengan CEO Duda
7.8
Kehidupan pengusaha dingin bernama Dimas berubah sejak kehadiran Sinta, sekretaris baru yang sangat ceria. Setelah mengalami perceraian pahit, hati Dimas yang beku perlahan mulai melunak. Tidak hanya memikat Dimas, Sinta juga berhasil dekat dengan Arya, putra sang CEO yang kesepian. Sayangnya, saat hubungan mereka mulai erat, mantan istri Dimas muncul kembali untuk mengacau. Kini, kekuatan cinta mereka diuji oleh bayang-bayang masa lalu yang mengganggu.
Sampul Novel Madu(Memilih Terluka Untuk Bahagia)
9.0
Kehidupan Ara hancur seketika setelah ditalak oleh Revan akibat fitnah keji. Dia dituduh mencoba membunuh Mayang yang sedang mengandung hingga pendarahan, meski Ara tak tahu dari mana obat di kamarnya berasal. Revan yang diselimuti murka memilih menceraikannya dan mengancam akan melapor ke polisi. Namun, di balik kebencian itu, ada misteri besar tentang dalang asli keguguran Mayang. Akankah kebenaran terungkap setelah pengorbanan Ara dibalas hinaan?
Sampul Novel Mengejar Cinta Ustaz Tampan
9.7
Di usia kepala tiga, Dian yang tomboi dan ceplas-ceplos didera kecemasan karena belum juga melepas masa lajang. Sebuah saran tak biasa menuntunnya rajin ke masjid di waktu Subuh demi mencari pasangan. Tak disangka, ia malah jatuh hati pada Fajar Faizan, ustaz muda nan tampan yang juga seorang dosen. Demi memikatnya, Dian rela merombak drastis seluruh penampilannya. Akankah niat awal yang murni demi urusan dunia ini mampu bermuara pada kisah cinta yang tulus?