APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terpaksa Jadi Ibu Surogasi

Terpaksa Jadi Ibu Surogasi

Karina terpuruk usai dikhianati Daniel, tunangannya yang berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Cobaan bertambah kala ia mengalami kecelakaan tragis. Sementara itu, Adrian harus segera memiliki ahli waris untuk mengamankan warisan sang kakek, tetapi istrinya enggan mengandung. Akibat kelalaian medis, Karina malah hamil anak Adrian melalui metode surogasi. Saat Karina bekerja di bawah pimpinan Adrian, rahasia besar tersebut mulai menguji hubungan mereka yang pelik.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Daniel, aku pulang ..." bisik Karina, tersenyum kecil penuh harapan. Berdiri di depan pintu apartemen tunangannya, ia meremas buket bunga dan hadiah kecil di tangannya. Perasaan gugup dan bahagia bercampur, membayangkan wajah terkejut Daniel, pelukan hangat yang akan menyambutnya setelah setahun terpisah.

Namun, begitu pintu terbuka, bukan kebahagiaan yang ia temukan.

Di ambang pintu, Daniel berdiri dengan ekspresi yang tak pernah Karina bayangkan. Di sampingnya, seorang wanita berdiri terlalu dekat. Vera. Sahabat yang ia percayai seperti saudara, kini berada di samping Daniel, dalam keintiman yang tak bisa diabaikan.

"Aku ... aku bisa jelaskan ...." Daniel mencoba bicara, tapi kata-katanya menggantung di udara. Vera hanya menatap Karina dengan senyum tipis yang lebih terasa seperti ejekan daripada permintaan maaf.

Karina memandang mereka dengan perasaan campur aduk-kecewa, marah, sakit hati. Rasanya seperti ada yang mencengkeram kuat jantungnya, mematahkan semua harapan yang ia bawa pulang.

"Karina..." Daniel memanggil, suaranya bergetar. Namun, Karina tak ingin mendengarnya. Tak ada lagi yang ingin ia dengar dari pria yang telah menghancurkan kepercayaannya.

"Jelaskan?" Karina tertawa pendek, getir. "Apa yang mau kau jelaskan, Daniel? Bahwa kau berkhianat di belakangku? Bahwa semua janji dan kata-katamu itu hanya omong kosong?"

Vera mengangkat alis, sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah. "Karina, ini adalah risiko dari hubungan jarak jauh. Kau yang memilih pergi dan meninggalkan Daniel. Apa kau pikir dia akan menunggu selamanya?"

"Jadi ini salahku?" Karina menelan ludah, tangannya bergetar menahan marah. "Salahku karena percaya pada kalian? Salahku karena berpikir kalian, orang-orang yang paling aku percayai, tidak akan menusukku dari belakang?"

Daniel mencoba melangkah mendekat, wajahnya panik. "Karina, ini... ini bukan seperti yang kau pikirkan..."

"Tidak seperti yang kupikirkan?" Karina mendekat, matanya penuh kemarahan. "Kau tidak tahu bagaimana menghargai perasaan orang lain, Daniel. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri."

Daniel terdiam, tak bisa membela diri. Sementara itu, Vera tersenyum sinis, senyum yang membuat Karina ingin berteriak.

"Daniel, kau tak pernah pantas untukku," bisik Karina, suaranya bergetar. "Dan Vera ... kau lebih hina dari yang pernah kubayangkan."

Vera hanya tersenyum angkuh. "Kau boleh berkata apa saja, tapi kenyataannya, kaulah yang ditinggalkan."

Tanpa menunggu jawaban, Karina berbalik dan berjalan menjauh. Tangannya masih gemetar saat menutup pintu, seperti menutup babak hidup yang paling kelam. Begitu keluar dari gedung, hujan mulai turun, menambah kesunyian hatinya. Langkahnya berat, membawa beban rasa sakit yang tak tertahankan.

Hujan membasahi tubuhnya, tapi ia tak peduli. Dingin hujan tak seberapa dibanding dinginnya perasaan yang menghujam di dalam dada. Setiap kali melangkah, bayangan Daniel dan Vera muncul, menghantui benaknya. Karina ingin berlari, namun setiap langkah terasa semakin lambat, seakan rasa sakit itu tak pernah ingin pergi.

Di tepi jalan, ia berhenti. Napasnya terengah, berusaha menahan emosi yang memuncak. Tanpa sadar, ia bergumam, "Kenapa?" suaranya tenggelam dalam hujan. Tapi tak ada jawaban. Hanya gemuruh hujan yang semakin deras, membuat tubuhnya semakin dingin.

Di tengah lamunannya, sebuah cahaya terang mendekat dari arah yang tak ia sadari. Suara klakson memecah keheningan, dan sebelum ia sempat bereaksi, tubuhnya terpental, jatuh menghantam kerasnya aspal yang basah.

Dunia seketika gelap.

---

Kecelakaan itu terjadi begitu cepat, dan dampaknya cukup parah. Berhari-hari setelah itu, Karina merasakan nyeri di tubuhnya. Ia menghabiskan beberapa waktu di rumah sakit sebelum diizinkan pulang, dengan berbagai obat pereda nyeri yang harus diminumnya secara teratur.

Tapi seminggu setelahnya, ia mulai merasa mual setiap pagi. Awalnya, ia berpikir itu efek dari kecelakaan dan obat-obatan yang harus ia konsumsi. Namun, rasa mual itu semakin sering datang, tak hanya di pagi hari, dan bahkan sering kali disertai pusing yang hebat.

Karina kembali ke rumah sakit, kali ini untuk memeriksakan kondisinya yang semakin lemah. Dokter menanyakan beberapa hal tentang keluhannya dan memutuskan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan, termasuk beberapa tes laboratorium.

Setelah beberapa waktu menunggu, seorang perawat datang dan meminta Karina untuk menemui dokter di ruangan konsultasi. Karina masuk dengan raut wajah lelah, masih merasa lemas setelah beberapa hari mual dan muntah yang tak kunjung reda.

Dokter menatapnya dengan sorot mata serius. "Nona Karina, kami sudah mendapatkan hasil pemeriksaan."

Karina hanya mengangguk, menunggu dengan hati yang cemas.

"Dari hasil tes, kondisi Anda ternyata lebih dari sekadar efek samping kecelakaan. Anda ... sedang mengandung."

Kata-kata itu menghantamnya seperti badai. Karina membeku, sulit percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Maaf, apa ... apa Anda bilang saya hamil?"

Dokter mengangguk pelan, wajahnya menunjukkan pemahaman terhadap keterkejutan Karina. "Kami memastikan hasilnya dengan pemeriksaan lanjutan. Kondisi Anda stabil, tapi kami sarankan untuk mulai menjaga kesehatan Anda lebih intensif."

Karina hanya bisa terdiam. Pikirannya kalut. Mengandung? Dari siapa? Kapan? Bagaimana mungkin? Tubuhnya terasa lemas, dan ia hanya bisa memandang kosong ke arah dokter, mencoba memproses kenyataan yang baru saja dilemparkan padanya.

Dokter itu melanjutkan, "Kami akan memberikan panduan lebih lanjut untuk menjaga kehamilan Anda. Jika Anda butuh konseling atau ingin berkonsultasi tentang pilihan-pilihan yang Anda miliki, kami juga siap membantu."

Karina mencoba menguatkan diri, mengumpulkan setiap sisa energi yang ia punya. "Terima kasih, Dok. Saya ... saya butuh waktu untuk memikirkan semuanya."

Sang dokter tersenyum lembut, "Tentu, Nona Karina. Kami akan selalu ada untuk membantu Anda."

---

Namun, tubuh Karina ternyata belum cukup kuat untuk menanggung semuanya. Beberapa hari setelah pemeriksaan tersebut, tubuhnya kembali melemah. Mual yang tak tertahankan, rasa pusing yang semakin parah, serta nyeri dari sisa-sisa kecelakaan membuatnya harus kembali ke rumah sakit. Kondisinya belum stabil, dan sekarang, dengan kehamilan yang baru ia ketahui, pihak rumah sakit memutuskan untuk menahannya lebih lama demi pemulihan yang lebih terjaga.

Di ruangan putih itu, Karina terbaring lemah. Selang infus terpasang di tangannya, wajahnya pucat, matanya menerawang, menatap langit-langit. Pikiran dan perasaannya berkecamuk, mencoba mencerna perubahan besar dalam hidupnya. Setiap hembusan napas terasa berat, bukan hanya karena tubuhnya yang lemah, tapi juga beban mental yang kini harus ia pikul sendirian.

Seorang perawat masuk ke kamarnya, meletakkan tangan lembut di bahu Karina, mencoba memberinya ketenangan. "Nona Karina, jika Anda membutuhkan seseorang untuk mendengar, kami semua ada di sini. Tidak mudah memang, tapi kesehatan Anda sangat penting sekarang."

Karina tersenyum lemah, mencoba menguatkan diri meski tubuh dan pikirannya terasa begitu rapuh. "Terima kasih. Saya akan berusaha untuk bertahan."

Perawat itu mengangguk, meninggalkan ruangan, membiarkan Karina dalam kesendiriannya. Karina memejamkan mata, membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya mengalir. Semua perasaan sakit, kecewa, marah, dan putus asa ia biarkan meluap.

Namun di balik semua itu, ada janji yang ia buat dalam hatinya sendiri. Janji untuk bertahan, untuk tetap kuat, untuk bayi yang kini tumbuh di dalam dirinya. Perlahan ia menyentuh perutnya yang masih datar, berusaha menerima kenyataan bahwa hidupnya telah berubah. Meski terasa menakutkan dan penuh ketidakpastian, ia tahu, ia tak lagi sendirian.

Dalam keheningan malam itu, dengan tubuh yang lemah dan hati yang penuh luka, Karina berbisik pada dirinya sendiri, "Aku akan melewati ini semua. Aku akan bertahan."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Jiwa Pengganti
8.5
Pasca tewas tragis akibat patah hati di usia 27 tahun, Amelia terbangun di tubuh Castarica, putri bangsawan kejam berjuluk iblis. Di kehidupan barunya ini, ia terjebak dalam pernikahan dengan seorang pria berhati dingin yang menyimpan ambisi rahasia. Kini, Amelia harus berjuang bertahan hidup di raga sang antagonis, sembari menghadapi suaminya yang penuh misteri dan rencana tersembunyi. Mampukah ia melaluinya?
Sampul Novel Kau Pilih Dia, Aku Bawa Anakmu Pergi!
9.7
Malam sebelum pernikahan megah dua keluarga mafia, Jeny menemukan pesan mesum dari Via di ponsel Leo. Meski Leo berjanji setenang mungkin untuk memutuskan hubungan dengan adik mendiang wakilnya itu, pengkhianatan nyata terjadi di hari pernikahan mereka. Saat janji suci hampir diucapkan, Leo memilih pergi menyelamatkan Via yang mengancam bunuh diri. Ditinggal sendirian di altar, Jeny memutuskan mengakhiri hubungan mereka selamanya. Ia menghilang tanpa jejak, membawa pergi anak Leo yang sedang dikandungnya.
Sampul Novel Kronik Kenikmatan Abadi
9.6
Di balik kedok persahabatan dan harapan baru, ada sosok manipulatif yang sangat lihai. Ia tampak suportif, padahal diam-diam mendominasi hidup orang-orang di sekitarnya lewat pesta mewah serta perjalanan jauh. Dengan menguasai festival dan hari libur kota, ia mengubah tatanan dunia demi ambisi pribadi. Bagi para mantan kriminal, ia adalah momok mengerikan yang memegang kendali mutlak atas nasib mereka secara kejam.
Sampul Novel Menikahi Lelaki Brengsek
8.9
Kehidupan indah Raden Roro Ayu, bangsawan berpendidikan tinggi, runtuh setelah mengandung anak dari Nanda, sahabat dari pacarnya sendiri. Pernikahan terpaksa ini membawa penderitaan bagi Ayu hingga memicu dendam membara, merusak kedamaian keluarga, dan melahirkan permusuhan besar. Sementara itu, Sonny yang tetap mencintai Ayu menolak merelakannya. Ayu pun kini berada di persimpangan jalan, terjebak antara pernikahan dinginnya atau pulang ke pelukan Sonny.
Sampul Novel Permainan Cinta Dokter Muda
8.1
Melihat penderitaan adiknya, Sonya Anastasya trauma dan tidak lagi memercayai laki-laki. Di matanya, pria hanyalah perayu, tak terkecuali Dokter Tomy Surya Atmaja. Walau Tomy sudah beristri dan anaknya adalah murid Sonya, sebuah peristiwa tak terduga dalam semalam menyulut gairah terlarang. Kini, Sonya terjebak konflik batin antara akal sehat dan hasrat membara yang sulit ia tepis, meski sadar hubungan ini adalah kekeliruan besar.
Sampul Novel The Devil's Gift
9.8
Saat menyelesaikan konflik di Philadelphia, bos mafia Italia yang kejam, Cerano Acheron, bertemu Raveena Hesper. Lama terperangkap di rumah bordil, Raveena memberanikan diri bersujud di depan sang 'iblis' demi bebas. Ia menyerahkan jiwa dan raganya sebagai imbalan agar Cerano meratakan tempat terkutuk itu. Terkesan oleh nyali Raveena yang siap mati, Cerano menyetujui kesepakatan tersebut. Kini, Raveena selamanya terikat dalam pelukan sang Underboss yang sangat berbahaya.