APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terpaksa Dimadu

Terpaksa Dimadu

Kehancuran hati Ririn tak terbendung saat memergoki Arman, sang suami, bersiap menikah lagi di rumah mertuanya. Tanpa memedulikan izinnya, pernikahan kedua itu tetap dipaksakan hingga Ririn terpaksa menyetujui poligami ini. Sebagai syarat, ia menuntut hak mutlak untuk mengatur seluruh prosesi pernikahan tersebut sendirian. Di balik kepatuhan yang ia tunjukkan, Ririn sebenarnya sedang merancang sebuah rencana besar untuk memberi pelajaran setimpal bagi suami dan mertuanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku melihat Mas Arman tak berkedip melihat gadis di hadapannya.

Gadis itu datang bersama sang ayah. Kutaksir usianya sekitar 2 atau tiga tahun di bawahku. Ia memakai rok depan di atas lutut dengan belahan yang cukup tinggi. Jika duduk paha mulusnya terekspos dengan sempurna.

Wajahnya cantik, sangat cantik bila dibandingkan denganku yang jarang tersentuh make-up atau skincare mahal.

Rambut panjangnya terurai. Warna hitam legam sangat kontras dengan kulit putihnya yang mempesona.

Aku melirik Mas Arman. Kulihat beberapa kali ia meneguk ludah. Begitu juga dengan para iparku.

Laki-laki. Semuanya sama. Dikasih ikan segar pasti berebut.

"Mas Arman sehat? Kita bertemu lagi, ya, Mas? Padahal baru kemarin, hihihi," ucapnya mendayu.

Telingaku gatal mendengarnya mulai berbicara. Apa katanya tadi? Kemarin bertemu? Kapan? Jam berapa? Apakah pagi saat Mas Arman izin padaku untuk ke bengkel.

Aku menatap Mas Arman meminta penjelasan. Sudah kuduga, ia tak berani menatapku. Ia hanya cengengesan pada jalang itu.

"Hahahaha, Arman kangen itu sama kamu Mila. Sudah gak sabar," kelakar lelaki paruh baya di sebelahnya. Ia adalah Pak Handoko ayah gadis di hadapan kami yang bernama Mila.

Dua orang ini? Apakah mereka tak tahu ada istrinya di sini? Inikah yang kata ibu mertuaku orang yang bermartabat itu.

Bapak, Ibu, dan iparku tertawa bersamaan. Akrab sekali sepertinya dua keluarga ini. Apakah ada yang tidak aku ketahui?

Hanya Mas Arman saja yang kikuk berkali-kali ia melirikku. Dapat kupastikan wajahku saat ini. Sudah merah bak kepiting rebus.

"Ehem. Ini istri saya, Pak, Dek Mila." Mas Arman merangkul bahuku sambil memperkenalkan aku pada mereka. Apa tadi? Dek Mila? Oh, sudah punya panggilan sayang rupanya.

Mendadak suasana riuh itu berubah senyap.

Aku berusaha tersenyum dengan santai. Tak akan kutunjukkan di depan mereka bahwa aku lemah.

"Hai, Mbak Ririn, ya," ucap jalang itu sambil mengulurkan tangan. Ah, kusebut lagi ia jalang. Lantas sebutan apa yang pantas untuknya selain itu? Wanita yang mau suami orang ya memang pantas disebut jalang.

"Ya," ucapku sambil tersenyum menyambut tangannya.

"Oh, Nak Ririn. Salam kenal, ya. Semoga bisa jadi kakak madu yang baik buat Mila," ucap Pak Handoko.

Apa? Percaya diri sekali bapak ini? Sejak kapan aku setuju dimadu dengannya.

"Oh, memang kapan rencana pernikahannya, Pak? Saya belum bilang boleh, loh," jawabku sesantai mungkin.

Semua orang dalam ruangan itu menatapku terkejut. Terutama Bapak dan Ibu mertua kesayangan.

"Lho, bukannya kemarin kamu bilang sudah setuju?" tanya Bapak. Ibu mertua mengangguk. Tatapannya mengintimidasi agar aku segera menarik ucapanku.

"Maaf, Pak, Bu. Bukannya Ririn bilang keputusannya setelah Ririn melihat calon madu Ririn," jawabku.

"Oh, sekarang sudah lihat, kan? Lihat dia cantik sekali pas jika bersanding dengan Arman," jawab Ibu mertuaku.

Mila yang duduk berdekatan dengan ibu mertuaku mengusap lengan wanita itu. Akrab sekali. Seperti mertua dan mantu idaman.

"Ya, sih, cantik. Tapi, kok mau ya sama bekasku?" sindirku.

Seketika wajah manis yang tadinya terus tersenyum itu berubah kecut. Ibu mertua melotot ke arahku. Takut sekali ia sepertinya kehilangan calon mantu kebanggaan.

"Hahahaha, santai aja cuma bercanda, kok." Aku mengambil teh hangat yang tersedia di meja.

"Ayo, minum. Tehnya enak lho ini. Ibu pasti yang buat. Jarang-jarang aku bisa minum teh di rumah ini sambil santai. Biasanya aku yang repot di dapur," ujarku.

Aku terus meracau, tak ada satupun dari mereka berniat menjawab perkataanku. Ah, bahkan Ibu rela membuat teh hangat demi meluluhkan hatiku. Tapi, aku tak akan mudah luluh begitu saja.

Kulihat dengan kikuk mereka mengambil tehnya masing-masing. Lucu sekali.

"Rin, ikut ibu sebentar ke belakang, yu," ucap Ibu.

"Ada apa, ya, Bu?" tanyaku.

"Ada yang ingin ibu bicarakan," ucap Ibu mertuaku.

"Lho, di sini saja? Bukankah mereka sebentar lagi jadi keluarga?" jawabku.

"Ehem, iya Jeng di sini saja," ucap wanita bersanggul tinggi dengan dandanan menor. Pasti itu ibunya Mila.

Ibu akhirnya duduk kembali. Aku tahu hendak apa ia memanggilku ke belakang.

"Jadi, Nak Ririn. Ibu sebelumnya minta maaf kalau menyinggung Nak Ririn." Ibu Mila memulai obrolan denganku.

"Tapi, sebenarnya dahulu Mila dan Arman itu sudah dijodohkan. Namun, Arman memaksa menikah dengan Nak Ririn," ucapnya lagi.

Oh, tentu saja. Dahulu ia sangat mencintaiku.

"Tapi ... ternyata Mila masih memendam perasaan pada Nak Arman. Sampai sekarang ia belum mau menikah. Padahal banyak lelaki yang sudah meminangnya," lanjutnya.

Benarkah? Bukan gak laku ya?

"Jadi, ibu sangat berharap sekali Nak Ririn berbesar hati mau menerima Mila sebagai adik Nak Ririn," ucapnya mengiba.

"Ya, ini sebenarnya pernikahan yang tertunda. Meski kamu gak setuju juga akan kami laksanakan," ucap Ibu.

Apa? Frontal sekali bicara ibu mertuaku ini. Ngebet sekali ingin punya menantu kaya sepertinya.

Oke. Aku tahu, sejak awal memang begitu. Setuju atau tidaknya aku pernikahan ini akan dilaksanakan. Bahkan mereka sepertinya akan membuang ku jauh-jauh.

Sakit? Tentu saja. Hatiku sakit sekali, terlebih pada Mas Arman yang tak bisa berbuat apa-apa. Ah, sebenarnya ia bisa namun tak mau. Entah apa yang telah ibu mertuaku lakukan atau jalang itu perbuat sampai Mas Arman yang biasanya teguh berpendirian sampai melempem seperti kerupuk terkena angin.

Aku harus bermain cantik. Aku tak boleh sembrono. Setidaknya hak Haidar tidak begitu saja diambil oleh jalang ini. Aku yakin Bapak dan Ibu mertua pun tak perduli pada Haidar. Ah, anakku yang malang. Andai dulu aku tetap bekerja.

Aku menghela napas panjang.

"Hmm. Baiklah. Ririn setuju," ucapku.

Wajah sumringah Bapak dan Ibu terpancar seketika mendengarku. Mas Arman mengambil tanganku kemudian menggenggamnya.

Hanya saja, wajah Mila tak sebahagia yang aku kira. Tak mau, kah ia menjadi maduku? Padahal aku sudah berbesar hati padanya.

"Terima kasih, Sayang," ujar Ibu padaku. Ia menghambur memelukku. Ah, basa basi sekali. Jika bukan karena pernikahan kedua ini, sudah pasti aku sangat senang ibu begini. Meski kutahu itu palsu. Namun, maaf, Bu. Hatiku sudah beku. Cukup enam tahun aku disiksa batin olehmu. Keputusanku sudah bulat. Meski nanti Ibu memintaku kembali, aku tetap pada keputusanku.

Untuk sekarang nikmati saja kebahagiaan kalian. Pelan tapi pasti, sedikit demi sedikit aku akan melepaskan rasa bahagia itu dari tubuh kalian.

"Mila, tapi mbak punya satu syarat," ucapku pada Mila.

Mila menatapku pernasaran. Kemudian mengangguk.

"Nanti biar mbak yang siapkan pesta pernikahan kalian, ya," ucapku sambil tersenyum semanis mungkin.

Dapat kulihat perubahan raut wajah dari calon maduku itu. Rencana pertama sudah kususun tapi dalam kepala. Bersiaplah calon adik maduku sayang.

Bersambung

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Budak Cinta
8.4
Saat sedang hamil, aku harus menghadapi kenyataan mengerikan. Selama tiga tahun ini, Liam Barnes yang merupakan kekasihku sendiri, membiarkan kembarannya, Lucas, meniduriku. Pengkhianatan kejam ini dilakukan Liam sebagai bentuk balas dendam demi cinta pertamanya, Vivian Quinn. Namun, reaksi berbeda ditunjukkan Lucas saat aku mengonfrontasinya. Di hadapanku, ia justru berlutut khidmat, mencium kakiku, dan bersumpah bahwa kesetiaannya kini sepenuhnya hanya milikku.
Sampul Novel Cinta Pertamaku, Suami Orang
8.9
Nisa, seorang lulusan pesantren, goyah oleh bujuk rayu Dani hingga terlibat hubungan terlarang. Padahal, pria yang menjadi cinta pertamanya itu sudah berstatus sebagai suami Rika. Meski Rika telah memperingatkannya dengan keras untuk pergi, Nisa enggan mundur karena merasa Dani harus bertanggung jawab atas hatinya. Kini ia dirundung dilema besar: menyudahi perselingkuhan ini atau tetap egois mengejar kebahagiaan di atas penderitaan wanita lain.
Sampul Novel Cinta Tersayat Dendam
9.5
Arta, wanita tangguh yang kerap diremehkan karena penampilannya yang sederhana, fokus meniti karier demi membuktikan dirinya setelah dicampakkan akibat perbedaan kasta. Takdir mempertemukannya dengan Evan, seorang pengusaha duda yang sukses. Di tengah badai dan dendam masa lalu yang terus menguji hubungan mereka, keduanya kini harus bersatu guna menyelidiki dalang di balik kekacauan yang melanda perusahaan masing-masing.
Sampul Novel Foto Pelakor di Profil Ponsel Suamiku
8.3
Muak dikhianati Agung serta ditindas oleh keluarga mertuanya, Serani Gunawan mantap mengambil keputusan untuk bercerai. Penyesalan mendalam segera menghampiri sang mantan suami ketika menyadari bahwa CEO baru di kantornya adalah Serani, yang selama ini menyembunyikan status miliardernya. Demi menguasai kekayaan Serani, Agung dan selingkuhannya menyusun berbagai rencana jahat. Beruntung, Serani tidak sendirian; dua pria kaya dan tampan siap mendampinginya menghadapi setiap ancaman demi menemukan cinta sejati.
Sampul Novel Identitasku Dipakai di Pernikahan Mantanku
7.9
Hidup Rani hancur setelah Angela mencuri identitasnya untuk menikahi Azlan Bagaskara. Tak hanya merebut sang kekasih, sahabatnya itu bahkan memaksanya menjadi pelayan di rumah mereka. Setiap hari, Rani harus menahan kepedihan menyaksikan kemesraan palsu mantan pacarnya bersama Angela. Di tengah penderitaan batin yang tiada henti, akankah Rani terus terpuruk dalam diam, atau bangkit memperjuangkan keadilan atas pengkhianatan kejam yang merusak masa depannya?
Sampul Novel Istri Kedua Ustadz
8.2
Kehidupan Dina, seorang wanita sederhana penyayang, berubah total setelah dinikahi oleh Ustadz Ahmad. Sebagai tokoh agama yang dihormati, Ahmad sebenarnya telah membina rumah tangga dengan Siti. Namun, karena tidak dapat menghadirkan keturunan, Siti dengan ikhlas meminta sang suami untuk berpoligami. Keputusan besar ini diambil Siti demi mendapatkan buah hati, yang pada akhirnya menuntun Dina menjadi bagian dari kehidupan pernikahan mereka.