APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terpaksa Dimadu

Terpaksa Dimadu

Kehancuran hati Ririn tak terbendung saat memergoki Arman, sang suami, bersiap menikah lagi di rumah mertuanya. Tanpa memedulikan izinnya, pernikahan kedua itu tetap dipaksakan hingga Ririn terpaksa menyetujui poligami ini. Sebagai syarat, ia menuntut hak mutlak untuk mengatur seluruh prosesi pernikahan tersebut sendirian. Di balik kepatuhan yang ia tunjukkan, Ririn sebenarnya sedang merancang sebuah rencana besar untuk memberi pelajaran setimpal bagi suami dan mertuanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Tapi, Mbak. Aku gak mau pernikahan yang biasa, lho. Aku malu nanti sama temanku. Apa Mbak Ririn sanggup?"

Calon maduku tersayang ini ternyata banyak maunya. Okelah untuk menyenangkannya aku sanggup segala permintaannya.

"Tenang saja. Nanti semua mbak yang atur. Mbak juga bahagia Mas Arman bisa menikah dengamu. Terlebih, mbak bisa mendukung Mas Arman jadi anak berbakti," ucapku.

Ibu mertua sumringah mendengar perkataanku. Berulangkali kulihat anting bulat besar di telinganya bergoyang-goyang karena setuju dengan ucapanku.

"Benar, gak apa-apa Mila. Nanti biar ibu pantau kerja Ririn," ucap Ibu.

Ah, Ibu apa yang ingin kau pantau?

"Tapi, Bu. Kayaknya Ririn akan banyak butuh bantuan Ibu. Nanti Ririn minta dibimbing, ya," ucapku manis.

"Lha, iya. Harus itu," ujar Ibu bersemangat.

"Ta-." Mila tak melanjutkan perkataannya. Lengannya di senggol sang mama. Dapat kulihat mama Mila memberi kode agar Mila mengikuti saja mauku.

Ah, aku tak sabar.

"Wah, sudah bersemangat sepertinya. Gimana kalau sekarang kita menentukan tanggal pernikahan," ucap Bapak.

"Wah, iya mumpung ada di sini," balas Pak Handoko.

Ada rasa nyeri ketika mereka mengucapkan itu. Namun, aku harus tahan. Demi Haidar anakku. Belum saatnya aku mengucap kata cerai.

'Tunggu Ririn gak akan lama,' batinku menguatkan diri.

"Rin, Sayang. Makasih banyak, ya, Nak." Ibu mertua manis sekali berucap padaku.

Aku menatapnya. Andai ia berlaku begini terus padaku. Sungguh, aku tak tega menyakitinya. Namun, apa mau dikata ia bersikap manis karena aku mau dimadu.

Masih terus menggenggam tanganku. Ibu mertua mengobrol bersama calon besan.

Tak apa, aku akan memberikan sedikit bahagia pada kalian sebelum semuanya berbalik.

"Bagaimana kalau tiga bukan lagi," ucap Pak Handoko.

"Bagaimana, Rin. Apa cukup?" tanya Ibu.

"Sedikit mepet, Bu. Tapi Ririn usahakan," ujarku.

"Tiga bulan? Apa gak kelamaan. Aku pikir sebulan cukup," sanggah Mila.

Ah, gadis itu seperti orang ngebet kawin.

"Ya, terserah, sih. Kalau mau pesta yang biasa mungkin sebulan bisa. Tapi, kan. Kamu maunya yang wah. Kita perlu booking gedung yang bagus. Sedangkan gedung yang bagus pasti sudah laris. Tiga bulan menurutku terlalu mepet. Tapi, masih untung jika bisa dapet gedung yang oke. Belum lagi gaun. Tentu kamu gak mau, kan pake gaun yang biasa aja?" Aku menjelaskan panjang lebar. Ibu mertua dan ibu Mila mengangguk menyetujui ucapanku. Memang, pernikahan wah setidaknya butuh waktu paling cepat enam bulan untuk persiapan. Tiga bulan, termasuk mepet sekali. Tapi, tak apa aku bisa akali ini.

"Bener kata Ririn, Mil. Sudah tiga bulan saja. Itu juga sudah terlalu cepat. Lagipula kita gak mau kan pernikahan putri kita ini biasa saja," ujar ibu Mila.

"Iya, Mil. Biar Ririn yang atur. Ibu percaya sama dia." Ibu mertua mendukungku.

Didesak sana sini, akhirnya Mila pasrah. Ia mengikuti kemauan orangtuanya dan calon mertua.

'Horee!!!' Aku bersorak dalam hati.

Setidaknya aku harus buat orang percaya padaku dulu. Rencana pertama berhasil.

"Baiklah tiga bulan lagi. Tanggalnya tanggal berapa?" tanya Bapak.

"Hmm. Maaf, Pak. Bagaimana kalau pas ulang tahun Mas Arman?" usulku.

"Kenapa?" tanya Bapak.

"Ya, aku ingin pernikahan keduanya jadi hadiah dariku untuk Mas Arman."

Bapak mengangguk, paham.

"Bagaimana, Pak, Bu? tanya Bapak meminta persetujuan Bapak dan Ibu Handoko.

"Hmm. Kami setuju saja, ya, kan, Ma?"

"Iya, Pa," jawab Ibu Mila.

"Urusan biaya bagiamana, Pak?" tanyaku.

"Hmm. Bagaimana enaknya, ya," ucap Bapak.

Bapak dan Ibu Handoko diam. Mereka berdua saling sikut.

"Ehem. Begini saja. Bagiamana kalau dari Bapak Bagus dulu. Toh yang mengatur Ririn. Nanti habisnya berapa tinggal kita hitung bersama," ujar Pak Handoko.

Bapak tercengang mendengar ucapan calon besannya. Mungkin ia tak menyangka menikahi gadis kaya bakal ke luar uang juga.

Melihatnya seperti itu ingin rasanya aku tertawa.

"Iya, Jeng. Jangan khawatir, nanti kami akan bertanggung jawab. Kan Pak Bagus dan Jeng Marni tahu perusahaan kami banyak sedangkan Mila anak kami satu-satunya. Nanti harta kami, kan, pasti jatuh ke Arman juga," jelas Ibu Mila.

Wow! Amazing. Pernikahan macam apa ini?

Kulirik Mas Arman. Namanya disebut sebagai calon pewaris perusahaan besar membuat hidungnya kembang kempis.

Beralih kulirik Ibu mertua. Ia sudah senyum-senyum sendiri membayangkan anaknya mewarisi beberapa perusahan milik calon besan.

"Ah, iya-iya. Tentu saja. Bisa diatur," jawab Bapak.

***

Aku sedang mencuci piring bekas makan malam ketika sebuah tangan kekar melingkar di pinggangku.

"Bun, makasih, ya," ucapnya sambil menempelkan dagu di bahuku.

Ingin aku mengelak. Namun, belum saatnya. Aku harus mengikuti permainan mereka.

"Bunda gak marah, kan?" tanyanya.

Hahahah. Entah aku harus tertawa atau menangis mendengar pertanyaannya.

Lelaki ini, bertanya seperti Haidar jika ketahuan makan permen lantas aku perbolehkan.

Aku diam. Ia terus menciumi tengkuk dan pipiku. Ingin kudorong saja tubuh besarnya.

'Sabar, Rin.' Itu terus yang aku gumamkan dalam hati.

"Hmm. Mas, apa nanti setelah Mas menikah dengan Mila. Mila akan tinggal di sini?" tanyaku.

"Sepertinya gak, Sayang. Eh, tapi apa kamu mau serumah dengannya? Biar ramai?" tanyanya.

What? Lelaki ini bercanda. Otaknya sudah geser atau bagaimana?

"Ehm. Sepertinya mending dipisah aja deh, Mas. Aku takut khilaf kalau cemburu," ujarku memelas.

Mas Arman memasang wajah bersalah.

"Maaf, ya, Sayang." Mas Arman menangkup wajahku kemudian menempelkan dahiku dengan dahinya. Duku aku suka jika diperlakukan seperti ini. Namun, sekarang aku muak.

Aku mengangguk. Kemudian memaksakan diri tersenyum.

"Oh, iya Mas. Rumah yang kalian tempati itu milik Mila?" tanyaku.

Mas Arman mengangguk.

"Wah, Mila hebat, ya. Sudah punya rumah sendiri. Besar, Mas?" tanyaku lagi.

"Hmm. Mas belum pernah lihat, sih. Tapi, kata Bapak sama Ibu besar," ucapnya.

"Terus, Mas. Tadi aku dengar kalau Mas menikah dengannya, Mas akan pegang salah satu perusahaan mereka? Bener itu, Mas?" tanyaku masih penasaran.

Mas Arman mengangguk.

"Bukan hanya satu, Sayang. Hampir semua Mas akan pegang."

"Yang bener, Mas?" tanyaku pura-pura antusias. Sebenarnya ada maksud aku bertanya seperti ini.

"Iya. Enak, kan. Nanti kamu kebawa enak, Sayang." Mas Arman memainkan rambutku.

"Lho, kenapa?" tanyaku.

"Nanti, Mas akan kasih kamu bagian."

"Waw. Mau, Mas. Eh, tapi berarti rumah ini, Mas gak perlu lagi dong?" pancingku.

"Iya, nanti kita akan pindah ke rumah yang lebih besar," jawabnya.

"Ehm. Kalau rumah ini dibalik nama atas namaku gimana, Mas? Lagipula Mas nanti akan dapat yang lebih besar dan bagus dari ini," rayuku.

Mas Arman mengerenyitkan dahi. Ia berpikir. Beberapa saat kemudian ia merengkuh tubuhku. Kemudian membisikan kata-kata yang membuatku senang.

"Besok kita urus ya, Sayang. Rumah ini akan mas kasih sebagai hadiah karena kamu mengijinkan mas menikah lagi," ucapnya.

Bersambung

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Budak Cinta
8.4
Saat sedang hamil, aku harus menghadapi kenyataan mengerikan. Selama tiga tahun ini, Liam Barnes yang merupakan kekasihku sendiri, membiarkan kembarannya, Lucas, meniduriku. Pengkhianatan kejam ini dilakukan Liam sebagai bentuk balas dendam demi cinta pertamanya, Vivian Quinn. Namun, reaksi berbeda ditunjukkan Lucas saat aku mengonfrontasinya. Di hadapanku, ia justru berlutut khidmat, mencium kakiku, dan bersumpah bahwa kesetiaannya kini sepenuhnya hanya milikku.
Sampul Novel Cinta Pertamaku, Suami Orang
8.9
Nisa, seorang lulusan pesantren, goyah oleh bujuk rayu Dani hingga terlibat hubungan terlarang. Padahal, pria yang menjadi cinta pertamanya itu sudah berstatus sebagai suami Rika. Meski Rika telah memperingatkannya dengan keras untuk pergi, Nisa enggan mundur karena merasa Dani harus bertanggung jawab atas hatinya. Kini ia dirundung dilema besar: menyudahi perselingkuhan ini atau tetap egois mengejar kebahagiaan di atas penderitaan wanita lain.
Sampul Novel Cinta Tersayat Dendam
9.5
Arta, wanita tangguh yang kerap diremehkan karena penampilannya yang sederhana, fokus meniti karier demi membuktikan dirinya setelah dicampakkan akibat perbedaan kasta. Takdir mempertemukannya dengan Evan, seorang pengusaha duda yang sukses. Di tengah badai dan dendam masa lalu yang terus menguji hubungan mereka, keduanya kini harus bersatu guna menyelidiki dalang di balik kekacauan yang melanda perusahaan masing-masing.
Sampul Novel Foto Pelakor di Profil Ponsel Suamiku
8.3
Muak dikhianati Agung serta ditindas oleh keluarga mertuanya, Serani Gunawan mantap mengambil keputusan untuk bercerai. Penyesalan mendalam segera menghampiri sang mantan suami ketika menyadari bahwa CEO baru di kantornya adalah Serani, yang selama ini menyembunyikan status miliardernya. Demi menguasai kekayaan Serani, Agung dan selingkuhannya menyusun berbagai rencana jahat. Beruntung, Serani tidak sendirian; dua pria kaya dan tampan siap mendampinginya menghadapi setiap ancaman demi menemukan cinta sejati.
Sampul Novel Identitasku Dipakai di Pernikahan Mantanku
7.9
Hidup Rani hancur setelah Angela mencuri identitasnya untuk menikahi Azlan Bagaskara. Tak hanya merebut sang kekasih, sahabatnya itu bahkan memaksanya menjadi pelayan di rumah mereka. Setiap hari, Rani harus menahan kepedihan menyaksikan kemesraan palsu mantan pacarnya bersama Angela. Di tengah penderitaan batin yang tiada henti, akankah Rani terus terpuruk dalam diam, atau bangkit memperjuangkan keadilan atas pengkhianatan kejam yang merusak masa depannya?
Sampul Novel Istri Kedua Ustadz
8.2
Kehidupan Dina, seorang wanita sederhana penyayang, berubah total setelah dinikahi oleh Ustadz Ahmad. Sebagai tokoh agama yang dihormati, Ahmad sebenarnya telah membina rumah tangga dengan Siti. Namun, karena tidak dapat menghadirkan keturunan, Siti dengan ikhlas meminta sang suami untuk berpoligami. Keputusan besar ini diambil Siti demi mendapatkan buah hati, yang pada akhirnya menuntun Dina menjadi bagian dari kehidupan pernikahan mereka.