
Ternyata Jodoh Selalu di Sampingku
Bab 9
Menghadapi pertanyaan dari Farel, aku memilih diam.
Dia berdiri di tepi ranjang, menunggu jawabanku.
Namun, aku hanya menatap langit-langit dan tidak menjawab sepatah kata pun.
Tiba-tiba, ponsel Farel berdering.
Terdengar suara manja Nia dari ujung telepon, "Kak Farel, tanganku sakit sekali,"
Sekejap saja, ekspresi di wajah Farel langsung melunak.
"Aku segera ke sana," ucap Farel. Dia menutup telepon, lalu berkata padaku, "Pikirkan baik-baik kesalahanmu."
Seperti sebelumnya, dia meninggalkanku sendirian lagi demi Nia.
Kini sisa aku sendirian di bangsal.
Sekitar sejam kemudian, pintu bangsal terbuka.
Nia masuk dengan tangan kanan berbalut perban tebal, tetapi wajahnya terlihat segar.
"Kak Alisa, gimana perasaanmu?" tanya Nia seolah peduli.
Aku menoleh, tetapi tetap diam.
Nia menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Sambil tersenyum manis, dia berkata padaku, "Sayang, aku mau bercerita sesuatu."
"Aku nggak mau dengar," ucapku.
"Tapi cerita ini ada hubungannya denganku. Ini tentang alasan kenapa Kak Farel mau menerima permintaan ayahmu untuk ‘mendidikmu’," ujar Nia dengan penuh rasa puas di wajahnya.
Tanganku mengepal.
"Waktu SMA, Kak Farel adalah pacarku," ucap Nia. Dia mulai bercerita, "Saat itu hubungan kami sangat baik. Kak Farel sangat perhatian, dia mengingat semua kesukaanku, bahkan berjanji akan menikahiku setelah lulus. Tapi suatu hari terjadi sesuatu …."
Nia berhenti sejenak untuk mengamati ekspresiku.
"Suatu malam, dia dikepung oleh orang-orang dari perusahaan lawan. Untuk menyelamatkannya, aku maju dan menahan sebuah tusukan pisau untuknya," ucap Nia sambil menunjuk bahu kirinya. "Pisau itu hampir merenggut nyawaku," lanjut Nia.
Dia terus berkata, "Sejak saat itu, Kak Farel merasa bersalah padaku. Dia berjanji akan melindungiku seumur hidup sebagai kompensasi,"
Aku tetap diam, tetapi jantungku berdegup makin kencang.
"Kemudian aku ke Negara Bargata untuk pemulihan. Kak Farel berjanji akan menikahiku setelah aku pulang. Kami nggak pernah berhenti berhubungan. Saat itu, aku bilang padanya kalau ibuku menikah ke Keluarga Elio, tapi putri Keluarga Elio selalu jahat padanya. Aku sangat sedih,"
"Kak Farel bilang, dia akan membalas dendam untuk ibuku. Jadi, dia sendiri yang berinisiatif untuk mendidikmu. Kamu pikir itu paksaan dari Paman Abbas? Kamu salah, itu kemauannya sendiri," ucap Nia sambil tersenyum puas.
Darahku serasa membeku. "Apa katamu?" tanyaku.
"Ada yang lebih menarik," kata Nia sambil mengeluarkan ponsel. "Kamu tahu, setiap kali kalian bersama, semuanya direkam loh," lanjut Nia.
Aku berseru kejut "Apa?"
"Kak Farel memasang kamera tersembunyi di kamar. Semua momen kalian terekam. Dia bilang rekaman-rekaman itu akan diberikan padaku sebagai senjata untuk mengendalikanmu," kata Nia. Senyuman di wajahnya makin bengis.
Duniaku mulai berputar.
"Alisa, kamu kaget?" tanya Nia sambil berdiri. "Kak Farel nggak pernah mencintaimu. Kamu cuma sebuah tugas baginya. Sekarang tugas itu selesai, dia akan menikah denganku," lanjut Nia.
Nia melangkah ke pintu, lalu menoleh padaku.
"Oh iya, aku sudah menyalin semua video itu. Kalau kamu berani menggangguku lagi, aku akan menyebarkannya di internet," ucap Nia.
Setelah Nia pergi, aku duduk terdiam cukup lama.
Kata-katanya berulang-ulang menggema di kepalaku.
Farel sendiri yang meminta untuk mendidikku.
Demi membalas dendam untuk Nia.
Dia merekam semua momen intim kami.
Aku turun dari ranjang, mencabut jarum infus, lalu berlari keluar bangsal.
Suara perawat memanggilku tidak kuhiraukan.
Aku berlari keluar dari rumah sakit, lalu menghentikan sebuah taksi.
"Ke vila Farel. Cepat!" ucapku.
Aku harus ke vila Farel dan memastikannya dengan mata kepala sendiri.
Dua puluh menit kemudian, taksi tiba di gerbang vila.
Aku membuka pintu dengan kunci cadangan dan langsung menuju ruang kerja Farel.
Ada sebuah ruang tersembunyi di sana, aku tahu kata sandinya.
Setelah kata sandi dimasukkan, dinding perlahan terbuka, menampakkan alat-alat di dalamnya.
Di sana, ada deretan komputer, layar monitor, dan peralatan perekam.
Aku duduk di depan komputer utama, lalu membuka sebuah folder dokumen.
Di dalam folder bernama F, aku menemukan sebuah folder yang terkunci.
Namanya "Privasi_Alisa."
Tanganku mulai gemetar, tetapi aku tetap membukanya.
Tiba-tiba muncul puluhan video yang tersusun rapi berdasarkan tanggal.
Dari malam pertama kami berhubungan intim sampai terakhir kalinya, semuanya ada di sana.
Aku menekan salah satu video itu.
Layar menampilkan adegan aku bermesraan dengan Farel. Setiap detail direkam dengan jelas.
Termasuk saat aku bersandar dalam pelukannya sambil berbisik, "Aku mencintaimu." Setiap momenku yang tampak lemah dan ketagihan terekam dengan jelas.
Kakiku lemas. Aku jatuh berlutut.
Ternyata Nia benar.
Farel memang merekam segalanya.
Aku menertawakan kebodohanku sendiri. Seiring aku tertawa, air mata pun membasahi wajahku.
Anda Mungkin Juga Suka





