
Terlahir Kembali, Akan Kubalas Kalian
Bab 3
Begitu Dylan pergi, aku segera pergi ke rumah sakit untuk menjalani operasi aborsi.
Sesaat sebelum anestesi masuk ke tubuhku, aku menerima pesan dari Dylan.
[Chloe, tadi aku bilang gitu karena emosi. Tenang saja, aku pasti akan menikahimu. Pada hari pertama tahun baru, aku pasti akan pulang. Tunggu aku.]
[Soal Lydia, anggap saja dia nggak pernah ada. Aku sudah bicara dengannya, dia nggak akan ganggu kehidupan kita.]
Aku menatap pesan-pesan itu dan mematikan layar ponsel dengan dingin.
Selama dua tahun terakhir, demi Lydia, Dylan telah beberapa kali menentang perjodohan antara dua keluarga ini.
Aku bahkan sudah berniat ke luar negeri demi merelakannya. Namun, pada hari keberangkatanku, Dylan mengejarku ke bandara sambil menangis dan memohon agar aku tidak pergi.
Hari itu, kami sama-sama kehilangan kendali, jadi anak ini pun hadir.
Namun, menjelang ajalku, aku baru tahu bahwa Dylan mengejarku ke bandara hari itu hanya karena Keluarga Stevens mengancamnya dengan Lydia.
Perjodohan antara Keluarga Horton dan Keluarga Stevens tidak akan berubah karena siapa pun atau apa pun.
Jadi, sekalipun Dylan sangat mencintai Lydia, dia tetap harus menikah denganku.
Aku merasakan tubuhku mengalirkan kehangatan. Sejak awal, anak ini memang sebuah kesalahan.
Saat aku terbangun, aku sudah berada di bangsal.
Saat itu, Dylan dan Lydia sudah lebih dulu tiba di pantai.
Lydia juga kirimkan lumayan banyak pesan pamer, lengkap dengan beberapa foto bersama Dylan.
Di foto itu, Dylan tampak memeluk Lydia dari belakang dengan ekspresi lembut. Dulu, Dylan juga bersikap seperti itu padaku. Namun, sekarang... aku hanya merasa jijik saat melihatnya.
[Kak, Pak Dylan bilang kamu juga suka laut. Kalau tahu dari awal, harusnya aku juga mengajakmu.]
[Oh ya, dia sudah siapkan pertunjukan kembang api untukku. Nanti akan aku kirimkan videonya padamu, ya.]
[Wanita tua, kalau aku jadi kamu, aku bakal sadar diri dan pergi sejak lama. Masih saja menempel sama Pak Dylan, kamu memang nggak tahu malu.]
Dulu, aku akan mengabaikannya. Namun, kali ini aku membalasnya.
[Kalau kamu memang begitu mencintai Dylan, jangan pernah lepaskan dia.]
Aku juga ingin melihat, apa Lydia masih akan tetap bersama Dylan ketika dia kehilangan segalanya.
Setelah mengirim pesan itu, aku merasa lelah dan ingin memejamkan mata sejenak. Namun, saat hendak tidur, ponselku berdering.
Begitu tersambung, suara Dylan yang marah langsung terdengar.
"Chloe, ngapain kamu menggila lagi? Sudah kubilang, aku akan menikahimu, kenapa kamu terus-menerus lampiaskan amarahmu ke Lydia?"
"Aku susah payah bawa dia liburan untuk menyambut tahun baru, kenapa kamu harus merusak suasana sih? Minta maaf padanya. Kalau nggak, jangan salahkan aku kalau nanti di hari pertama tahun baru, aku nggak bersikap baik padamu."
Aku mengernyit dan merasa suaranya begitu mengganggu.
Dylan masih terus bicara tanpa henti. Tapi aku langsung menutup telepon dan memblokir nomornya dengan kesal.
Hari aku keluar dari rumah sakit, bertepatan dengan malam tahun baru.
Sesampainya di rumah, aku mengemasi semua barang yang berhubungan dengan Dylan dan membuangnya.
Pakaian, sikat gigi, bahkan buku-buku yang Dylan beli, semuanya aku kemas dan buang.
Barang-barang Dylan tidak seharusnya ada di sini karena aku yang membeli rumah ini.
Setelah itu, aku kembali ke rumah lama untuk makan malam tahun baru.
Saat menonton acara malam tahun baru, aku pun bosan dan bermain ponsel.
Tiba-tiba, sebuah pertunjukan kembang api muncul sebagai berita terviral.
Melihat singkatan DS dan LA, aku langsung menebak bahwa itu adalah pertunjukan kembang api yang disiapkan Dylan untuk Lydia.
Benar saja, tidak lama kemudian, Lydia mengirimkan video.
[Wanita tua, Dylan bilang pertunjukan kembang api ini hanya untukku. Emang kenapa kalau kalian berteman sejak kecil? Emang kenapa kalau kamu hamil? Pada akhirnya, kamu tetap nggak bisa dapat cinta dari Dylan.]
[Tiba-tiba aku merasa, kalau kalian nikah juga nggak masalah. Lagi pula, yang dicintai Dylan adalah aku.]
Saat itu, muncul pesan dari kontak dengan foto profil hitam di bagian atas layar.
Aku melihat pesan itu dan tersenyum tipis.
Biarlah malam ini menjadi pesta terakhir bagi pasangan menjijikkan itu.
Pada hari pertama tahun baru, Keluarga Stevens telah memesan ruang VIP untuk membahas pertunangan antara kedua keluarga.
Namun, Dylan yang seharusnya menjadi tokoh utama, tidak kunjung datang.
Wajah ayah Dylan serius dan berkata dengan suara dingin, "Ada apa dengan Dylan ini? Kalau dia bertingkah seperti itu saat tahun baru, aku masih bisa maklum, tapi di hari yang penting seperti ini, dia malah terlambat. Semua ini karena kamu manjakan dia. Kamu yang terlalu sayang sama dia, makanya dia jadi hancur gini. Begitu dia datang, aku pasti akan memberinya pelajaran."
Ibu Dylan juga terlihat cemas. Setelah dimarahi ayah Dylan, dia hanya menundukkan kepala dengan sedih.
Di meja makan, semua orang menunggu Dylan dengan wajah muram.
Namun aku tahu, Dylan sedang berada di lantai bawah.
Dylan sedang menunggu, menunggu aku minta maaf pada Lydia. Keterlambatannya hari ini adalah pelajaran yang dia berikan padaku.
Aku juga sedang menunggu, menunggu seseorang.
Aku menenangkan kedua keluarga tanpa menghiraukan ponsel yang terus-menerus bergetar.
Setengah jam kemudian, akhirnya ponselku diam. Bersamaan dengan itu, pintu ruangan tiba-tiba didorong keras.
Dylan melangkah masuk dengan wajah menggelap dan langsung menuju ke arahku.
"Chloe, aku sudah bilang, minta maaf pada Lydia. Ngapain pura-pura nggak tahu? Ini kesempatan terakhirmu. Kalau kamu nggak minta maaf, pertunangan hari ini batal!"
Seketika, ruangan menjadi sunyi senyap.
Ayah Dylan memukul meja dan berdiri, lalu menunjuk Dylan dengan marah. "Anak durhaka! Apa yang kamu bilang barusan? Selain terlambat, kamu bahkan mau ancam Chloe? Minta maaf pada Chloe! Minta maaf!"
Wajah ayahku menjadi sangat muram, dia mendengus dingin.
"Victor, anakmu benar-benar luar biasa. Putri Keluarga Hortonku ini tampaknya sama sekali nggak berarti di matanya."
Wajah ayah Dylan tampak sangat buruk. Dia memaksa Dylan untuk meminta maaf.
Namun, Dylan bersikeras menolak. Tidak lama kemudian, Lydia juga berlari masuk sambil menangis.
"Pak Dylan, tolong jangan marah demi aku. Aku nggak masalah mendapat perlakuan menyakitkan. Lagian sejak kecil aku sudah terbiasa menerima perlakuan seperti ini."
Wajah Dylan makin kelam. Dia mendekat ke telingaku dan mengancam dengan suara rendah, "Chloe, kalau kamu nggak minta maaf, kita nggak akan nikah. Kita lihat saja apa keluargamu masih mau menerimamu, ketika kamu lahirkan anak di luar nikah."
"Kalau itu terjadi, aku akan undang beberapa media besar untuk publikasikan bahwa putri tunggal Keluarga Horton melahirkan anak tanpa nikah. Saat itu, coba tebak, apa keluargamu akan terkena dampak?"
Aku mendongak dengan cepat dan menatapnya tidak percaya.
Dylan mengangkat alisnya dan mencoba membujukku.
"Chloe, ini cuma soal minta maaf. Kalau kamu minta maaf, semuanya akan selesai. Aku juga akan bekerja sama hari ini untuk tetapkan tanggal pernikahan antara kedua keluarga. Kamu harusnya tahu harus gimana pilih, 'kan?"
Ayahku memang marah, tapi sejak awal, dia tidak pernah menyatakan ingin membatalkan perjodohan.
Hal ini membuat Dylan makin berani.
Dia menungguku mengalah dengan percaya diri.
Namun, pada detik berikutnya, pintu ruangan kembali terbuka. Sebuah sosok tinggi besar melangkah masuk.
Anda Mungkin Juga Suka





