APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjerat Gairah Berbahaya

Terjerat Gairah Berbahaya

Demi menjaga nama baik keluarga, Melati terpaksa menggantikan posisi kakaknya yang kabur dari perjodohan. Ia kini harus menikah dengan Arya Dwicandra, atasannya sendiri yang sangat ia benci. Bagi Arya, kehadiran Melati hanyalah kesialan yang merusak masa depannya. Di tengah kebencian yang membara dan rahasia besar yang dipendam Arya, mampukah pernikahan tanpa landasan cinta ini tetap bertahan? Akankah benih asmara tumbuh di antara dua jiwa yang saling mendendam?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Nggak mau! Aku nggak terima!” tegas Melati menolak keinginan papanya.

Sang ayah langsung memasang wajah serius, sepasang bola mata cokelat itu langsung menyorot tajam ke retina wanita muda di depannya.

Bersamaan dengan itu, Kirana muncul. Wanita paruh baya itu sudah mendengar semua perbincangan mereka.

“Melati, kalau bukan kamu siapa lagi yang harus menggantikan kakakmu. Apa kamu mau muka keluarga kita tercoreng?” tanya Kirana. Sejenak Melati terdiam, ia tampak luluh saat melihat wajah ibunya. “Lagipula usiamu kan udah matang sekali untuk menikah. Tunggu apa lagi coba?”

Melati tetap terdiam. Keningnya mengernyit. Ia merasa ini adalah kesalahan. Lalu ia lalu memandang kedua kedua orang tuanya secara bergantian. Ada secercah harapan yang terlihat dari sorot mata mereka, membuat wanita itu semakin luluh.

“Pokoknya suka atau nggak. Kamu harus menerima perjodohan ini. Titik!”

Melati terbelalak. “Tapi—”

Kening Rafael makin mengkerut dalam. Melati langsung menunduk. Dalam hati ia mengutus keras keegoisan papanya yang selalu ingin dituruti.

“Tapi apa, Melati?” Suara Rafael semakin dingin.

“I-itu... anuh...” Melati tampak gugup. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Dia memang tak berani dengan papanya saat melihat tatapan itu menyorot tajam. Wanita manis itu tak mampu membayangkan bagaimana kalau pria di depannya itu marah. Tamatlah sudah.

“Anuh apa? Katakan, Melati!”

“Pa, Ma. Bukan aku menolak perjodohan.” Melati menghembuskan napas panjang. Dia memutuskan buka suara setelah berpikir cepat. “Tapi aku kan belum kenal pria itu. Gimana kalau nggak sesuai dengan kriteria pria yang aku mau. Aku pasti nggak akan bahagia, Pa,” lanjutnya.

Kalimatnya merentet bak senapan mesin. Ia tidak peduli dengan apa yang akan dikatakan oleh dua orang di depannya. Meski sebenarnya Melati masih takut dengan respon orang tuanya nanti.

Namu alih-alih marah besar pada sang anak. Rafael malah terhenyak mendengar pengakuan putri bungsunya. Pria itu memandang putrinya dengan lekat. Ia tahu persis seperti apa kekhawatiran putri cantiknya itu.

“Papa yakin kamu akan menyukai anak sahabat Papa itu. Dia buka pria sembarangan. Hanya wanita gila yang berani menolak pria itu,” ungkap Rafael.

“Iya benar, Melati. Mama juga yakin kalian serasi,” dukung Kirana, mengembangkan senyumnya.

Melati tersenyum datar. Hanya itu ekspresi yang bisa dia tunjukkan di depan sang Ibu. Tak ada gunanya juga melawan perintah kedua orang tuanya. Apalagi dalam keluarga Hutama, ucapan sang Ayah adalah perintah yang mutlak.

“Baiklah, aku ikut nanti malam. Tapi bukan berarti aku menerima perjodohan ini ya, Ma. Aku hanya mengganti posisi Mawar aja,” tegas Melati dengan raut kecewa.

Ia langsung melangkah ke kamar meninggalkan kedua orang tuanya. Sesampai di ranjang, ia melepas tas dan melempar kunci mobilnya di ranjang untuk melampiaskan kekesalannya.

“Ini gila! Ide yang sangat gila dalam hidupku,” ujarnya. “Lagian kenapa juga Tata pake kabur segala, benar-benar kebangetan dia,” keluhnya.

Undangan dari keluarga pihak pria dipenuhi. Melati dan kedua orang tuanya baru saja tiba di halaman rumah bak istana yang terpampang di depan mereka. Tidak membuang waktu, mereka bergegas ke arah pintu utama. Calon besan sudah menunggu kedatangan mereka.

Beberapa saat kemudian, mereka diajak ke meja makan. Lalu lima menit berselang, pria tampan dengan sisiran rambut yang rapi muncul di tempat itu.

Mata Melati langsung membulat sempurna memandang sosok pria yang berdiri di hadapannya. Begitu juga pria itu. Rautnya berubah saat bertemu dengan wanita yang menjadi rivalnya.

“Arya, sini duduk,” ajak Chandrajaya, ayah Arya. Ia merasa heran saat melihat ekspresi putranya bertemu dengan Melati.

Arya lalu menghampiri mereka, dan memaksanya untuk memasang wajah ramah di depan tamu. Kali ini Melati dan Arya duduk berdampingan. Ini kesempatan Melati untuk memaki-maki manusia sok kegantengan itu.

Sementara Arya tetap dingin dan cuek kepada Melati. Ia tidak ingin terlalu menunjukkan sikap buruknya di hadapan tamu.

“Arya, wanita itu adalah calon istrimu. Cantik, kan?” tanya Nina—sang Ibu.

“I-iya, Ma.” Arya hanya menjawab singkat. Ia masih muak dengan wanita di sampingnya itu. Namun, ia tiba-tiba mendapat ide cemerlang untuk memanfaatkan perjodohan ini untuk memenangkan perkara yang sedang ditangani oleh Melati.

Sejenak mereka terdiam membisu. Lalu Rafael membuka perbincangan.

“Chandra, terima kasih untuk jamuannya,” ucap Rafael. “Aku yakin kedua anak kita akan saling mencintai. Mereka serasi sekali. Pilihan Papa cocok, kan?” tanyanya ke Melati.

“I-iya, Pa.” Wanita cantik itu hanya menjawab singkat dengan tutur kata yang lembut. Berbeda sekali ketika ia berbicara dengan waktu itu.

Ia memang harus bersikap lembut, ia tidak ingin keluarga Dwicandra menganggapnya sebagai wanita yang tidak punya sopan santun.

“Dasar bermuka dua, sok lembut, sok sopan,” gumam Arya, dalam hati.

“Ayok! Silahkan dinikmati hidangannya,” ujar Candrajaya.

Ia dan sang istri turut bahagia dengan kehadiran calon menantunya. Namun, mereka tidak pernah tahu kalau Arya dan Melati menentang keras perjodohan itu. Hanya saja mereka tidak ingin mengecewakan keluarga masing-masing.

“Iya Tante, terima kasih ya,” jawab Melati, dengan senyum indah merekah di wajahnya.

“Jangan sungkan-sungkan,” tambah Nina.

“Iya, anggap saja ini keluarga barumu. Jadi kami udah menganggapmu sebagai bagian dari keluarga kami,” ujar Candrajaya

Perhatian itu justru semakin membuat Arya Muak. Ia hanya iri karena kedua orang tuanya yang begitu memuji sosok Melati yang baru mereka kenal.

“Aku nggak habis pikir sama mereka. Bisa-bisanya memuji wanita itu, padahal kalian nggak tahu gimana dia sebenarnya. Sama sekali bukan wanita idamanku,” gerutu Arya lagi, dalam hati.

Ia hanya berani berbicara demikian di dalam hati saja. Karena tidak mungkin berani berbicara langsung. Ia takut sang Ibu akan marah besar jika sampai ia bersikap seburuk itu.

Melati sudah mengambil beberapa lauk yang ada di piringnya, lalu ia mencicipi satu persatu. Ia merasa masakan itu sangat enak.

“Tante, masakannya enak banget tahu. Pasti Tante yang masak, kan?” tanya Melati memuji.

“Iya, Melati. Kamu suka?” tanya Nina. Melati mengangguk tersenyum. “Kamu harus tahu juga, Arya yang bantuin Tante masak. Dia juga jago masak.”

Tanpa diduga perkataan Nina membuat Melati batuk. Wanita itu hanya terkejut dan tidak percaya jika pria arogan dan sombong itu bisa memasak seenak ini.

“Kamu tidak apa-apa kan, Mel?” tanya Kirana melirik putrinya.

“Nggak, Ma. Aku nggak apa-apa,” jawab Melati setelah meneguk segelas air putih di hadapannya.

Semua mata tertuju pada Melati, secara otomatis Arya juga langsung tersorot karena Melati ada di sebelahnya. Pria itu sedikit tersinggung dengan ekspresi yang Melati tunjukkan. Ia merasa Melati meremehkan masakannya.

“Sumpah ya, kamu ngeselin banget jadi orang. Kamu pikir aku nggak bisa masak? Aku jadi mikir, jangan-jangan wanita aneh ini malah yang nggak bisa masak,” gerutu Arya lagi, dalam hati.

Beberapa saat mereka terdiam, tidak berkata apa-apa. Mereka seperi kehabisan kata-kata untuk dibicarakan.

“Kamu serius ini masakan buatanmu,” bisik Melati kepada Arya yang ada di sebelahnya.

“Heran kalau ada cowok bisa masak? Jangan-jangan kamu nggak bisa masak, kan?”

“Jangan asal nuduh ya. Gini-gini aku pernah juara lomba masah di komplek,” jawab Melati, pelan.

Arya langsung tertawa dalam hati saat mengetahui kalau wanita menyebalkan di sampingnya hanya juara antar ibu-ibu komplek.

“Gue nggak yakin kalau ...” ucapan Arya terpotong oleh derheman Nina yang duduk berhadapan dengan mereka.

Spontan dua sejoli itu tersenyum seperti sedang tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Sampai kapanpun Melati tidak mungkin mengalah, begitu juga dengan Arya. Keduanya hanya mereka harus menghormati orang tua. membuat mereka harus berpura-pura akur.

“Udahlah. Nggak nyari ribut di sini. Aku nggak mau mereka berpikir yang enggak-enggak,” pinta Arya seraya membisik ke telinga Melati.

“Serah kamu!” jawabnya singkat.

Tidak lama kemudian, mereka pun terlihat akur. Rafael dan Kirana sangat senang dengan kedekatan mereka. Kedua orang tua merasa perjodohan yang mereka lakukan telah berhasil.

Entah sampai kapan Arya dan Melati akan berpura-pura seperti itu. Namun, yang terpenting malam ini mereka tidak mengecewakan siapapun. Terutama Melati, tidak mendapat omelan sang Ibu karena tidak bertindak memalukan di depan keluarga calon besan.

Setelah acara di meja makan selesai. Nina memanggil Melati dan duduk di balkon belakang rumah yang dekat dengan kolam renang. Mereka duduk santai dengan obrolan ringan. Wanita paruh baya itu ingin mengenal calon menantunya lebih dekat.

“Mel, jawab jujur ya. Apa kamu menyetujui perjodohan ini?”

Deg!

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DILEMA SUAMI BAYARAN
9.6
Duda bernama Barra Farzan ingin bahagia dengan menikahi Astra, anak konglomerat yang menawan. Sialnya, pesta pernikahan mereka yang meriah mendadak kacau saat seorang wanita datang menampar Astra. Perempuan itu mengaku istri sah Barra yang dicampakkan bersama anak mereka. Astra pun dituduh sebagai perebut suami orang. Apa misteri kelam yang ditutupi Barra? Akankah pernikahan mereka bertahan, atau Barra cuma berstatus suami bayaran?
Sampul Novel Gadis Penghibur Tuan CEO
8.5
Nasib malang menimpa Ajeng Kirei Aswari yang dijual ayahnya ke dunia malam sejak usia delapan belas tahun. Satu dekade berlalu, hidupnya bergantung pada sosok CEO sukses, Reynold Bill Timur. Hubungan mereka terhalang restu keluarga Bill yang menuntut pernikahan setara. Meski terpaksa menikahi wanita pilihan keluarga, Bill enggan melepas Ajeng dan menyeretnya ke pusaran skandal. Kini, Ajeng terjebak dalam dilema moral antara bertahan atau menyakiti istri sah Bill.
Sampul Novel Tidak Pernah Melihat Kembali: Hati Menginginkan Apa yang Diinginkannya
8.0
Lorenzo tega mendonorkan jantung putri mereka demi wanita lain, membuat Gracie sangat kecewa. Ia pun menuntut cerai dan bekerja sama dengan Waylon, paman Lorenzo, untuk menuntut balas. Rencana mereka berhasil menghancurkan hidup Lorenzo hingga pria itu memohon ampun. Namun, setelah dendamnya terbalaskan, Gracie justru tidak bisa pergi begitu saja. Waylon menolak melepaskannya, membuat Gracie kini terjebak dalam jerat dominasi sang paman mantan suaminya.
Sampul Novel Istri Tanpa Suami
7.9
Aminarsih, gadis yatim piatu, dinikahi seorang CEO kaya hanya sebagai penangkal nasib buruk. Pria itu selalu kehilangan istrinya yang tewas misterius dua hari setelah menikah. Bukannya hidup layak, Aminarsih justru disembunyikan di rumah kosong yang menyeramkan. Demi bertahan hidup di tempat terasing itu, ia terpaksa berteman dengan alam sekitar. Hanya pohon apel, tikus, kecoa, dan semut yang menemaninya setiap hari, hingga ia menganggap makhluk-makhluk tersebut sebagai keluarganya sendiri.
Sampul Novel Jaring Kebohongan Suami Miliarderku
9.6
Menjadi istri Kian, miliarder teknologi, aku selalu menjadi penenang baginya. Namun, ia tega mengalihkan dana medis adikku demi kucing selingkuhannya. Saat kecelakaan merenggut nyawa adikku, Kian mengabaikan lukaku demi wanita itu. Saat ingin bercerai, aku baru tahu pernikahan kami palsu. Demi membalas dendam dan menghancurkan Kian, aku menghubungi pria dari masa laluku.
Sampul Novel Oh My CEO
8.1
Menginginkan anak tanpa ikatan pernikahan, Restu Kanaya Putri nekat meminta atasannya untuk menghamilinya. Pria itu adalah Alvian Saga Majendra, sang bos berwajah pucat yang juga sahabat dekatnya. Reres pun merencanakan perjalanan ke Bali demi menghabiskan tujuh malam penuh gairah bersama Saga. Akankah misi rahasia pengasuh pribadi ini berjalan mulus? Bagaimana kelanjutan hubungan profesional dan persahabatan mereka setelah malam-malam panas itu berakhir?