APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjerat Gadis Manja

Terjerat Gadis Manja

Morgan yang kaku kini terperangkap dalam rencana perjodohan dengan Bianca, sosok gadis manja yang penuh keceriaan. Walau selalu bersikap tidak peduli, tindakan Morgan yang kerap menjemput Bianca di kampus justru menimbulkan tanda tanya besar. Sebagai anak tunggal, ia memikul beban berat untuk memenuhi impian orang tuanya yang ingin berbesan dengan sahabat lama. Meski tidak dipaksa, Morgan merasa sangat sulit mengabaikan harapan besar dari kedua keluarga tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 2

Bianca belum pernah sebahagia ini semenjak dua bulan menjadi kekasih Morgan. Tadi sore Morgan mengirimkan pesan untuk bersiap-siap menghadiri pesta ulangtahun putri relasi bisnis pria itu. Pria itu akan menjemputnya pukul tujuh malam, dan itu berarti dua jam dari sekarang. Selama ini Morgan tidak pernah mengajaknya ke acara penting seperti itu, karena Morgan tidak memiliki banyak waktu untuk acara selain bekerja di kantor. Jadi saat Morgan mengiriminya pesan, Bianca bahagia bukan main.

Bianca harus tampil special untuk acara perdananya dengan Morgan, berharap tidak ada cela kesalahan sedikitpun pada tampilannya malam ini.

Saat sedang disibukkan dengan memilih aksesoris yang cocok, tiba-tiba ponselnya berdering dan Bianca langsung mengangkatnya begitu tahu siapa subyeknya.

“Mama!”

'Ugh, ada apa, Sayang? Apa ada berita bagus?'

Bianca tersenyum lebar sebelum menjawab.

“Morgan ngajak Bianca ke pesta ulang tahun relasi bisnisnya, Ma.”

‘Oh ya? Pantesan putri Mama kedengeran sangat bahagia?'

“Mama!” Bianca merasakan pipinya menghangat dan saat ia melirik ke kaca rias wajahnya terlihat memerah. Sial! Mama berhasil menggodanya.

'Hahaha! Pokoknya putri Mama harus dandan super cantik malam ini!'

“Jadi selama ini Bianca nggak cantik?”

'Bukan kayak itu, Sayang ~ Putri Mama udah cantik bahkan pas masih di rahim Mama. Tapi, paling nggak buat kak Morgan terpesona oleh kecantikanmu. Oke?'

“Bianca akan nyoba narik perhatian kak Morgan, Ma!”

“Ya Tuhan, Morgan sepertinya akan jatuh cinta beneran sama putri Mama yang cantik!'

Ekspresi Bianca berubah dan Mama tidak perlu tahu putrinya tidak lagi merona. Diam-diam Bianca mengamini ucapan Mamanya. Ya, semoga itu benar.

Morgan benar-benar jatuh cinta kepadanya. Bukan hanya cinta bertepuk sebelah tangan yang dialami Bianca.

“Oh ya, Ma. Kenapa nelpon?”

'Ah, Mama lupa! Mama cuman mau bilang kalau Mama dan Papa nggak jadi pulang besok. Mungkin lusa, atau minggu depan. Papamu masih harus ketemuan sama teman lamanya. Maaf ya, sayang?’

Bianca mengerucutkan bibirnya yang terpoles liptint pink. Sedikit kesal karena Mamanya kembali mengingkari janjinya untuk pulang. Padahal Mama sudah berjanji untuk membantu Bianca membuatkan puding untuk Morgan.

“Huh Mama! Padahal Bianca udah kangen banget sama Mama, sama Papa juga!”

'Maaf ya, sayang. Mama janji deh kalau pulang bakal beliin hadiah spesial. Oke?’

“Apa tuh?” tanya Bianca seketika luluh oleh iming-iming hadiah. Biasanya, Mama akan pulang membawa hadiah yang tak terduga. Seperti tempo hari, saat Mama dan Papa baru pulang dari perjalanan bisnis, Bianca mendapatkan satu set peralatan make up dengan label harga yang lumayan menguras dompet Papa. Padahal hanya beberapa yang berderet di meja rias Bianca, sisanya tersimpan di dalam laci.

‘Rahasia! Pokoknya Bianca nggak boleh marah sama Mama dulu.”

“Ya, ya, ya. Aku ngerti.” Merajukpun percuma, kalau Mama juga tidak ada disini untuk membujuknya. Biasanya Mama akan membujuknya dengan membuatkan makanan favorit Bianca, selain iming-iming hadiah tentunya.

'Ya udah, Mama tutup ya? Sayangnya Papa masih mandi jadi nggak bisa ngobrol sama Bianca. Oh ya, bilang sama Adian, jangan sering-sering main hp, Ujian Nasional sebentar lagi. Mama mencintaimu Bianca~'

“Oke, Ma! Cepet pulang, ya? Miss you...”

‘Iya sayang. Miss you too, bye!'

“Bye, Ma!”

Bianca meletakkan ponselnya di atas meja rias sementara dirinya melihat alat-alat make up di sekitarnya. Sudah selesai. Hanya sedikit sentuhan di wajah dan rambutnya, Bianca tidak akan mengolesi make up secara berlebihan. Toh, sebagus apa pun dandanannya, Bianca yakin tidak akan berguna, jika Morgan-pun tidak melihat fisiknya.

“Nona, gaun Nona sudah saya siapkan di atas ranjang.” Seorang pelayan berbicara dan dibalas anggukan oleh Bianca. Sepergian pelayan itu, Bianca melihat satu persatu gaun barunya yang tertata rapi di atas ranjangnya. Gaun dengan warna berbeda itu tampak tidak menarik perhatian Bianca. Bianca melihatnya tanpa minat, bukan karena gaun-gaun itu tidak bagus melainkan karena Bianca tidak bersemangat untuk memilih dan mencoba ditubuhnya.

Entahlah, perasaan Bianca mendadak tidak enak beberapa saat setelah menutup telpon Mama. Bianca merasa suatu hal buruk akan terjadi, tapi ia tidak tahu apa itu. Ia hanya berharap hal buruk itu tidak akan menimpa orang terdekatnya.

Karena itulah Bianca akhirnya memilih gaun berwarna hitam yang paling sederhana diantara gaun lainnya. Jika Mama tahu pasti beliau tidak akan membiarkan Bianca memakai gaun itu terlebih Bianca akan menghadiri acaranya dengan pacarnya.

***

Pukul tujuh kurang dua belas menit, Morgan telah berdiri di depan pintu rumah megah kekasihnya Pria itu tampak dingin seperti biasa, kemeja biru pekat didalam jas formal melengkapi penampilannya menjadi lebih maskulin. Rambut hitam legamnya ia sisir ke samping dengan tambahan gel rambut dan membuat penampilannya semakin menyilaukan mata.

“Aku lama banget, ya?”

Suara perempuan tiba-tiba memasuki gendang telinga Morgan. Pria itu mendongak dan mendapati Bianca telah berdiri di hadapannya dengan senyuman lebar. Bianca datang dengan gaun berwarna hitam selutut dilengkapi dengan aksesoris liontin putih dan arloji kecil di pergelangan tangan kirinya. Wajahnya natural dan rambutnya hanya dibuat curly di ujungnya. Nyaris seperti Bianca di hari-hari biasanya. Tidak ada perubahan yang berarti bagi Morgan, padahal mulanya Morgan pikir Bianca akan berdandan habis-habisan terlebih ini pertama kalinya Morgan memperkenalkan Bianca sebagai sang kekasih di hadapan relasi kerjanya.

Sejujurnya Morgan berniat datang sendiri tanpa mengajak Bianca. Namun entah darimana ayahnya mengetahui pesta itu, jadi orangtuanya meminta Morgan untuk mengajak Bianca. Karena itu Morgan terpaksa mengajak Bianca ke pesta itu. Dicatat, ter-pak-sa karena permintaan ayah dan ibunya.

Morgan tidak berminat mengajak Bianca karena ia sudah memastikan tabiat Bianca jika dirinya dekat dengan anak relasi kerja bisnisnya. Adriana, putri relasi bisnis Morgan yang juga teman kuliah Morgan dulu. Morgan tentu tidak hanya membicarakan bisnis tetapi juga kisah selama perkuliahannya beberapa tahun lalu. Sedangkan Bianca tidak mau tahu, gadis itu tidak akan suka Morgan dekat dengan Adriana. Mungkin jika Bianca tahu Adriana pernah menyatakan perasaannya pada Morgan dulu –walaupun Morgan menolaknya-, Bianca pasti tidak akan mengizinkan Morgan datang ke pesta itu.

“Kak Morgan! Kamu ngelamun?”

Morgan tersentak dan kembali memfokuskan pandangan kepada Bianca. “Ayo berangkat.”

Morgan melangkah terlebih dahulu menuju mobilnya, sementara Bianca kembali tersenyum paksa mendapati perlakuan Morgan yang ogah-ogahan. Hanya singkat, Bianca lalu berlari meraih lengan Morgan untuk ia gelanyuti.

***

“Selamat ulang tahun, Adri—nama panggilan Adriana—!”

Morgan memberikan ucapan selamat serta senyuman yang membuatnya semakin tampan. Senyuman yang jarang ia sunggingkan termasuk kepada Bianca. Bianca hanya sesekali melihat senyuman itu saat Morgan berkunjung di rumahnya dan bertemu dengan orangtua Bianca. Tentu saja Bianca tahu itu hanya senyum tanda kesopanan.

“Makasih banyak, Gan. Kamu kok kelihatan beda sekarang.”

“Beneran?”

“Iya. Kamu lebih keliatan manly daripada pas kuliah dulu. Apa karena sekarang udah jadi Presiden Direktur perusahaan Ayahmu?”

“Itu nggak ada hubungannya, Adri!”

Morgan dan Adriana asyik tertawa kecil dan melupakan satu sosok bertubuh mungil di sebelah Morgan yang sedari tadi memainkan jemarinya di kemeja biru pekat milik Morgan dan sibuk melihat sekeliling. Bianca tidak berniat menginterupsi meskipun mulutnya gatal untuk merengek meminta pulang. Ya, dia ingin pulang sebab tidak tahan dengan kedekatan Morgan dan Adriana. Lihatlah, bahkan Bianca belum pernah melihat Morgan tertawa serenyah itu selama hidupnya!

“Ngomong-ngomong, dia pacarmu?” tanya Adriana begitu menyadari seseorang berbaju hitam di sebelah Morgan.

“Ya. Aku pacar kak Morgan. Namaku Bianca.” Bianca mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan. Ia tetap memperlihatkan wajah riangnya meski sedikit dipaksakan. Sedangkan yang diuluri tangan memberikan tatapan yang sulit di artikan dan ia membalas uluran tangan Bianca.

“Aku Adriana. Pemilik pesta ini. Selamat datang di pestaku!” Adriana membalas tidak kalah riang.

“Selamat tahun untukmu.”

Perilaku Bianca berhasil membuat Morgan melirik penuh tanda tanya. Semula Morgan berpikir Bianca akan berbuat nekad seperti berucap sinis pada Adriana atau lebih parah dari itu dilihat dari gadis itu yang terus-terusan menarik ujung kemejanya. Namun ternyata pikirannya tidak terbukti. Bianca malah tersenyum riang seolah tidak ada yang ia permasalahkan.

“Yaudah. Adri, aku pergi dulu. Aku mau nemui beberapa orang.”

“Iya, Gan. Nikmatilah pesta ini. Aku ke yang lain dulu.”

Adriana tersenyum ke arah Morgan namun berubah ekspresi saat melihat wajah Bianca. Bianca bisa menyadari itu, tatapan lain yang diberikan Adriana kepada Morgan sangatlah berbeda. Hingga Morgan menarik tangannya ke sudut ruangan, Bianca masih sempat melirik Adriana dari ujung matanya. Tampaknya si gadis ulangtahun tidak menyadari dan terlalu sibuk dengan tamu-tamunya.

“Sebenernya siapa Adriana itu, Kak?” tanya Bianca disela perjalanannya ke relasi bisnis Morgan.

“Temenku kuliah. Aku kan udah bilang tadi!” jawab Morgan datar.

“Tapi aku ngerasa dia suka kak Morgan.” Bianca mencebikkan bibir tipisnya, rasanya ia begitu enggan memanggil nama Adriana dari mulutnya.

“Bianca, ayolah, jangan kaya ini! Jangan hancurin pesta ulangtahun Adriana karena sifat kekanakanmu!”

Bianca lantas terdiam. Perkataan Morgan rupanya berhasil menyentuh dasar hatinya. Menciptakan luka perih yang membuatnya meringis.

'Ngancurin? Bukannya kak Morgan sendiri yang ngancurin perasaanku? Sebenarnya di mana letak kesalahanku sebenernya?'

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Di Jodohkan Dengan Om Galak
8.2
Nessa, mahasiswi berjiwa bebas, terpaksa menikah dengan Arga, CEO dingin yang sempat ia temui dalam situasi buruk. Demi menuruti perjodohan tanpa membongkar rahasia dari orang tua, mereka sepakat menjalani pernikahan kontrak selama satu tahun. Di tengah bayang-bayang masa lalu Arga, hubungan keduanya perlahan mulai berubah. Akankah benih cinta tumbuh di antara mereka, atau justru kembalinya masa lalu Arga yang akan menghancurkan pernikahan ini?
Sampul Novel Kehebatan Ayah Mertua ku
9.2
Kehidupan pernikahan tokoh utama berubah drastis setelah kecelakaan tragis membuat suaminya mengalami kelumpuhan. Di tengah kesedihan dan kesepian malam yang membuatnya sering menangis, sang ayah mertua yang merasa iba memutuskan untuk mendekatinya. Hubungan terlarang pun dimulai ketika sang ayah mertua masuk ke kamarnya di tengah malam, menawarkan bantuan fisik untuk menggantikan alat bantu yang biasa ia gunakan, hingga memicu konflik batin yang mendalam di antara mereka.
Sampul Novel Last Twilight
8.5
Senja Aluna selalu bingung dengan sikap dingin kedua orang tuanya. Saat adiknya sakit keras, ia malah menjadi pelampiasan amarah sang bunda. Beruntung, ada Dilan, sahabat setia yang selalu melindunginya di tengah kehampaan kasih sayang keluarga. Namun, hidup Senja kian goyah saat takdir mengancam akan memisahkan Dilan darinya. Di ambang keputusasaan, Senja hanya mendambakan pelukan hangat dan perhatian tulus ibunya. Akankah impian sederhana itu terwujud?
Sampul Novel Obsesi Mafia Tampan
9.0
Terperangkap dalam dunia model dewasa, nasib Haruka Arsya kian malang setelah diculik oleh penggemar fanatiknya, Agaskara Angkasa. Demi memiliki Haruka, pria itu nekat memakai obat terlarang untuk merusak hubungan Haruka dengan kekasihnya. Upaya kabur Haruka justru membawanya ke dalam bahaya baru ketika ia disandera oleh musuh Agaskara. Kini, Haruka terjebak di tengah perseteruan kejam dunia mafia dan obsesi gila yang mengancam keselamatan jiwanya.
Sampul Novel Terbelenggu Hasrat
8.1
Kebahagiaan rumah tangga Aruna dan William terusik sejak Jones hadir kembali. Sang mantan kekasih yang menyimpan dendam itu bertekad merusak pernikahan mereka. Demi melancarkan aksi liciknya, Jones bahkan memengaruhi Karin, adik kandung Aruna. Di bawah bayang-bayang teror dan tekanan mental yang hebat, Aruna harus berjuang mempertahankan perkawinannya. Obsesi gelap masa lalu kini mengancam kehancuran rumah tangga mereka dalam pusaran konflik yang penuh hasrat.
Sampul Novel Tunangan Kontrak Grand Duke
9.5
Cette terlempar ke dunia novel fantasi dan menjadi putri bangsawan yang ditakdirkan mati tragis di tangan Morrigan. Sang Grand Duke kejam berjuluk Pria Musim Dingin itu adalah sosok yang nantinya akan merebut takhta. Bertekad menyelamatkan diri, Cette mencoba kabur sejauh mungkin. Sialnya, rencana itu gagal total saat Morrigan mendadak muncul dan menyodorkan proposal pertunangan kontrak. Kini, ia harus menjalani kesepakatan maut demi mengubah takdirnya.