APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjerat Cinta Nona Arogan

Terjerat Cinta Nona Arogan

Di usia 24 tahun, Theresa Daniella sukses memimpin perusahaan sebagai CEO. Namun, pesonanya gagal memikat seorang barista yang dua tahun lebih muda darinya. Menghadapi penolakan, Echa tidak menyerah. Ia memanfaatkan kekayaannya dengan menawarkan bantuan biaya pengobatan ibu pria tersebut. Sebagai gantinya, mereka harus menikah. Sang barista pun sepakat, tetapi ia mengajukan syarat mutlak bahwa pernikahan mereka hanyalah sebuah ikatan kontrak tanpa landasan cinta.
Bab
Bagikan

Bab 3

*Author POV

Echa menggigit kukunya seraya mondar-mandir di dalam kamar. Percakapan dengan kedua orang tuanya terus menghantui pikirannya. Echa jadi menyesali keputusannya untuk membawa Denan ke rumah.

Bagaimana caranya dia membawa Denan menemui orang tuanya dalam waktu 2 minggu?

"Ih! Gimana ya?" gumam Echa pelan.

Wanita itu pun mengambil ponselnya yang disimpan di atas nakas, setelahnya dia mulai membuka aplikasi chat berwarna hijau. Baru saja dia akan mengetikkan sesuatu, tiba-tiba jarinya terhenti, Echa menepuk pelan keningnya.

"Oh iya!" ingatnya sembari menepuk kening pelan. "Nomor ponsel gue kan diblokir sama Denan."

'Sial!' umpat Echa dalam hati

Akibat terlalu sering mengirimi pesan tidak bermutu, Denan memutuskan untuk memblokir nomor Echa.. Bukan sekali dua kali lelaki itu melakukan hal serupa, bahkan sudah berulang kali hingga Echa mendatangi pria itu dan merengek agar Denan membuka blokirannya.

"Oke, besok gue bakal minta Denan buka blokirannya," kata Echa kepada dirinya sendiri. "Sekarang fokus, gimana caranya biar bisa bawa calon suami ke hadapan Papa Mama."

Jika kalian kira Echa itu sulit jodoh, jawabannya salah. Banyak sekali yang sering mendekati Echa, tetapi wanita itu selalu menolak dengan melontarkan kalimat-kalimat pedas. Yang diinginkan hanyalah Denandra Nanggala, bukan yang lain.

Bisa saja sih, Echa menyewa pria lagi untuk menjadi pacar sewaannya, tapi jika Wira setuju dan menyuruh mereka menikah akan bahaya. Entah bagaimana caranya Echa harus membawa Denan dan membuat lelaki itu mau menikahinya.

"Capek, mikir terus. Mending tidur, besok kerja," putus Echa. Selain Denan, pikiran Echa hanyalah seputar pekerjaan.

Tipikal alpha woman.

***

Di sisi lain, Denan sedang memandang sendu ke arah wanita paruh baya yang sekarang sedang terbaring lemah di hadapannya dengan mata terpejam. Siapa lagi jika bukan ibunya.

Sudah hampir 3 hari, ibu Denan dirawat di rumah sakit karena penyakit gagal ginjalnya mulai kambuh dan selama 3 hari pula, selepas pulang bekerja Denan selalu pergi ke rumah sakit. Walaupun sudah sering melakukan cuci darah, tetapi akhir-akhir ini kondisi ibunya semakin memburuk. Itulah yang menyebabkan Denan harus kerja lebih keras agar bisa membayar biaya rumah sakit serta cuci darah ke depannya.

"Kerja apa lagi ya biar bisa bayar biaya pengobatan ibu?" tutur Denan lirih.

Gaji Denan sebagai barista tentu saja kurang. Untuk membayar kebutuhan yang lain pun Denan terpaksa membongkar tabungannya bahkan pernah sekali Ratih -Ibunya- meminta Denan untuk menjual cincin pernikahan miliknya dengan mendiang sang suami dulu.

Embusan napas terdengar dari mulut Denan. Dari sorot matanya saja sudah terlihat bahwa lelaki itu lelah, sangat lelah. Tiba-tiba saja pikiran Denan melayang pada Echa, wanita yang terobsesi dengannya itu pernah menawarkan diri untuk membantu pengobatan Ratih.

'Tidak.’

Itulah jawaban Denan saat itu. Dia tidak mungkin mau menikah dengan wanita yang sama sekali tidak dicintainya. Denan juga paham betul, bahwa Echa sebenarnya tidak mencintainya, semua yang ditunjukan perempuan itu hanya obsesi belaka. Kekasihnya juga salah satu alasan Denan menolak Echa. Gadis lugu itu sudah benar-benar menguasai hati Denan. Sifat lembut Ayana yang membuat Denan jatuh cinta setiap harinya.

'Apa aku terima saja tawaran Echa?'

Sadar akan pikiran gilanya, Denan menggelengkan kepalanya pelan. Berusaha mengusir pikiran gila itu.

Tanpa disadari, terlihat pergerakan kecil dari jemari rapuh milik Ratih. Tak lama setelah itu, mata wanita Ratih terbuka, pandangannya sayup-sayup melihat putranya yang sekarang sedang melamun.

"Nak.." panggil Ratih lirih, sangat lirih. Denan saja sekarang belum tersadar dari lamunannya.

Dahi Ratih pun berkerut, tangan lemahnya terulur untuk menyentuh tangan putranya yang sekarang sedang berada di pinggiran brankar.

"Denan..”

"Eh?" Denan sontak langsung tersadar dari lamunannya dengan ekspresi terkejut. Tapi terkejutannya tidak berlangsung lama setelah melihat mata Ratih yang terbuka dan senyum tipis di wajah pucat ibunya.

"Ibu kenapa bangun?" tanya Denan. "Ibu perlu sesuatu?"

"Boleh ambilkan ibu minum?"

Mendengar itu, Denan lantas segera mengambil segelas air yang berada di atas nakas. Lelaki itu dengan telaten dan penuh kasih sayang menyodorkan gelas itu kepada Ratih hingga wanita paruh baya itu meneguk air di dalam gelas hingga tersisa setengah.

"Sudah, makasih ya," ucap Ratih dengan senyumnya.

"Apa Denan ganggu ibu?"

Mendengar itu lantas Ratih terkekeh, "Ganggu gimana? Waktu ibu bangun saja kamu malah melamun. Tadi ibu cuma haus makannya bangun," terang Ratih dengan suaranya yang masih terdengar lemah.

Denan tersenyum. "Yaudah, kalau gitu ibu istirahat lagi ya," titahnya sembari membenahi letak bantal serta selimut ibunya.

Bukannya memejamkan matanya, Ratih malah mengerucutkan bibirnya. "Ibu itu capek loh dari sore tidur terus."

"Tapi ini sudah malam bu," kata Denan.

"Iya ibu tau, tapi ibu itu capek lo tidur terus. Dari siang ibu belum lihat kamu, sekarang baru lihat sebentar udah disuruh tidur lagi," kekeh Ratih.

Harus Denan akui walaupun ibunya ini lemah lembut, tetapi sifat keras kepala juga melekat pada diri Ratih.

"Yaudah, aku ngalah deh," pasrah Denan sembari mengembuskan napas. "Ibu mau nonton tv?" tawarnya.

Ratih menggeleng lemah, "Ibu cuma pingin ngobrol-ngobrol sama putra ibu."

"Ngobrol apa? Nanti ibu capek," canda Denan dengan kekehan ringannya.

"Uang tabungan kita sudah habis?" tanya Ratih tanpa mempedulikan ucapan Denan sebelumnya.

Nahkan...

Sudah Denan duga jika ibunya akan membahas hal ini. Itu sebabnya dia enggan untuk mengobrol dengan ibunya. Helaan napas panjang terdengar keluar dari mulut lelaki itu. "Biar Denan yang mikir masalah biaya pengobatan. Ibu tenang aja ya," ucap Denan menenangkan ibunya.

"Ibu cuma nggak mau nyusahin kamu. Lagian kalau seumpama ibu dirawat jalan juga nggak masalah. Besok kita pulang ya?"

Denan semakin dibuat pusing. Sudah sejak awal dirawat, Ratih selalu saja memaksa untuk pulang dan sekarang lagi. Bukannya Denan tidak ingin menuruti, tetapi kondisi wanita paruh baya itu belum stabil. Terkadang saja saat Denan bekerja, Ratih sering mengeluh perutnya terasa sakit kepada suster. Itulah yang menyebabkan Denan merasa sangat khawatir. Hanya ibu dan adiknya yang dia miliki.

Oh ya, Denan itu punya adik perempuan namanya Kinara atau yang kerap dipanggil Ara. Ara masih duduk di bangku 2 SMP dan besok ada ujian tengah semester, itulah sebabnya malam ini Ara tidak menemani Ratih di rumah sakit. Ratih sendirilah yang meminta putrinya untuk tetap tinggal di rumah dan belajar dengan giat. Toh, di rumah sakit ada dokter dan suster yang akan menjaganya.

Sedangkan ayah Denan sudah meninggal sekitar 6 tahun lalu, sejak saat itu tugas mencari nafkah digantikan oleh Denan.

"Ibu belum sembuh betul, Denan nggak mau ambil resiko," jawab Denan dengan nada datar.

Jika sudah mendengar nada datar dari putranya, Ratih tidak bisa lagi membantah karena pasti Denan akan marah dan berakhir mendiamkannya. Ratih paham betul bagaimana sikap Denan, putranya itu sangat menyayangi dirinya, bahkan rela tidak melanjutkan kuliahnya demi membiayai pengobatan dirinya serta membiayai sekolah Ara.

"Sekarang ibu tidur," pinta Denan. "Denan keluar dulu, mau ke kantin beli kopi," lanjutnya.

Ratih memandang punggung putranya yang perlahan hilang di balik pintu. Dia tahu, pasti membeli kopi hanyalah alasan belaka. Denan hanya ingin menghindar dari pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukannya.

'Suatu saat kamu harus bahagia, nak,' batin Ratih.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Aku, Kamu, dan Gundikmu
8.4
Anisa Amanda dikhianati oleh suaminya, Hendra, yang berselingkuh dengan Tia, sepupunya sendiri. Terluka mendalam, Anisa menyusun rencana balas dendam. Di tengah jalannya, takdir mempertemukannya dengan Fras Ramadhan, pria tampan yang bekerja sebagai juru parkir. Tanpa diketahui Anisa, Fras sebenarnya adalah CEO sukses Bintang Group yang sedang menyamar. Hubungan tak terduga ini tidak hanya memicu konflik baru, tetapi juga perlahan menumbuhkan benih cinta yang tulus di antara mereka.
Sampul Novel Benih Sang Kakak Ipar
9.7
Demi mengatasi masalah keuangan, Gavin memboyong istrinya, Aura, untuk menetap di kediaman sang kakak. Namun, keputusan ini justru menjerumuskan Aura ke dalam pusaran obsesi Adrian Mahendra. Sebagai konglomerat berhati dingin yang sangat berpengaruh, Adrian diam-diam mendamba adik iparnya tersebut. Lewat pengaruh dan taktik liciknya, Adrian mulai menyudutkan Aura, memaksanya goyah di antara komitmen pernikahan dan jerat pesona sang ipar yang kian sulit dihindari.
Sampul Novel Cinta yang Jatuh Tanpa Gema
8.1
Rumi tak sengaja bertemu mantan iparnya saat periksa kehamilan. Di tengah tuntutan untuk kembali pada Aryan—miliarder yang dulu mengabaikan pernikahan mereka demi wanita lain hingga memicu kematian ibu Rumi—ia diingatkan akan perjuangan sang mantan suami mencarinya. Namun, luka masa lalu akibat pesan suara kejam Aryan tak bisa terhapus. Dengan tenang, Rumi menunjukkan cincin di jarinya, menegaskan bahwa ia telah memulai hidup baru yang sederhana dan meninggalkan masa lalu kelamnya di Kota Daro.
Sampul Novel Dalam Genggaman Sang Penguasa
7.9
Berbekal kecerdasan dan kerja keras, Jonathan Smith sukses keluar dari jerat kemiskinan hingga menjelma sebagai miliarder nomor satu di kota Rivera. Kendati dihujani berbagai serangan dari rival bisnis serta musuh yang ingin menggulingkannya, posisinya di puncak tidak pernah goyah. Imperium bisnis miliknya justru kian kuat dan tak tertandingi sejak ia resmi dilantik menjadi Perdana Menteri. Kini, Jonathan dengan mutlak mengendalikan segalanya dari takhta kekuasaan tertinggi.
Sampul Novel Gawat, Pak Bos Ada Maksud Lain
8.6
Setelah melahirkan anaknya, Linda langsung mendapatkan pekerjaan baru sebagai sekretaris pribadi untuk pimpinan tertinggi di Grup Jarvis. Namun, profesionalisme kerja yang ia bayangkan seketika sirna pada hari pertamanya bekerja. Jonathan Jarvis, sang CEO tampan sekaligus bos barunya, justru memandang Linda dengan tatapan yang penuh gairah tidak biasa. Pertanyaan provokatif dari Jonathan, "Bu Linda, bagaimana bisa minum kopi tanpa susu?", menandai awal dari hubungan kerja yang berbahaya.
Sampul Novel I'm Baby Doll
8.1
Model seksi Gea Mexalla terjebak dalam sisi gelap dunia hiburan, dipaksa melayani para sponsor demi ketenaran. Saat berniat keluar demi kariernya, ia malah diperkosa oleh manajer dan sponsornya sendiri. Di tengah keputusasaan, sosok Cale Vertoghen hadir menyelamatkannya. Namun, penyelamat tersebut adalah seorang CEO kejam yang sangat terobsesi pada Gea. Sanggupkah ia membebaskan diri dari jeratan para pria yang terus memangsanya?