APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjerat Cinta Kakak Ipar

Terjerat Cinta Kakak Ipar

Kehidupan yatim piatu Ayunindira Santi berbalik total akibat sebuah wasiat terakhir dari mendiang kakak kandungnya. Demi memenuhi amanah tersebut, Santi terpaksa menyetujui pernikahan dengan mantan kakak iparnya sendiri demi mendapatkan perlindungan. Terjebak dalam komitmen pernikahan yang rumit dan tidak biasa ini, ia harus beradaptasi hidup bersama pria yang semula ia anggap sebagai keluarga. Akankah hubungan tanpa landasan cinta ini akhirnya menumbuhkan kebahagiaan sejati?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Kalau kamu menikah dengan Mas Adipati saja, gimana? Mbak ridho kalo berbagi suami sama kamu."

"Gak bisa dan gak mungkin. Mbak pikir Santi ini perempuan macam apa sampe Mbak mau berbagi suami? Mbak seolah-olah men-cap Santi sebagai perempuan gak laku, sampe harus mengemis dinikahkan dengan suami kakaknya sendiri," cetus Santi menolak keras tawaran tak masuk akal yang tiba-tiba saja dilayangkan oleh kakaknya.

Dada Santi naik turun karena gejolak amarah yang tiba-tiba saja memuncak, sampai-sampai membuatnya terasa sesak. Ia bahkan tak segan melayangkan tatapan tajamnya pada sang kakak untuk sekadar menunjukan ketidak setujuannya.

Namun, seolah tak terpengaruh sama sekali. Kanya masih saja memasang ekspresi tenangnya ketika menatap Santi.

"Mbak gak berpikiran untuk mengejek kamu, dek... enggak sama sekali. Mbak-"

"Keluar, mbak... aku gak mau bicara lagi sama mbak. Aku mau istirahat," pungkas Santi menyela ucapan kakaknya sendiri. Secara terang-terangan ia mengusir Kanya, melupakan fakta kalau saat ini ia tinggal disebuah kamar yang disediakan oleh kakaknya sendiri. Santi lupa fakta bahwa ia hanya menumpang.

Helaan napas berat kemudian terdengar keluar dari mulut Kanya, lalu dengan berat hati, ia pun bangkit berdiri dan nelangkah pergi meninggalkan kamar Santi.

***

Di dalam kamar pribadinya, Kanya bersandar lesu pada kepala ranjang, lalu menatap lurus ke depan dengan pikiran yang melayang entah ke mana.

Sementara itu, Adipati yang baru saja keluar dari kamar mandi selesai membersihkan dirinya pun hanya sebentar melirik ke arah Kanya, sebelum kemudian melangkah ke dekat nakas dan mengeluarkan dua botol obat dari dalam laci.

Beberapa butir obat ia keluarkan, lalu kemudian tanpa kata ia ulurkan pada Kanya, diiringi dengan uluran segelas air putih.

"Terima kasih," kata Kanya seraya memasukan kedua butir obat ke dalam mulutnya, lalu kemudian ia terima uluran segelas air putih itu untuk ia teguk sampai obat itu tertelan dengan sempurna.

Hening untuk sejenak ketika Adipati meraih kembali gelas kosong dari tangan Kanya untuk ia taruh ke atas nakas, lalu setelahnya ia pun mengambil posisi berbaring tepat di samping kanya dan menatap bingung ke arah istrinya itu.

"Kamu baik-baik aja? Tadi, di pemakaman kamu gak nangis sama sekali. Kalo mau nangis, boleh kok. Rasa sedih yang dipendam itu gak baik, kanya," cetus Adipati memulai pembicaraan.

Kanya menoleh sebentar lalu menghela napas berat, sebelum kemudian ia kembali menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang kosong.

"Aku gak tahu, Mas. Rasanya terlalu sakit, sampe air mataku aja gak bisa keluar. Hatiku rasanya kosong. Pertama Abah, lalu sekarang Emak. Kehilangan keduanya ngebuat aku jadi linglung antara harus nangis atau gimana, aku gak tahu."

Adipati diam. Ada perasaan tak tega tatkala melihat Kanya yang seperti ini, ia merasa harus mengulurkan tangannya dan mengusap bahu Kanya lalu menenangkannya, tapi ia mengurungkan niatnya itu. Pada akhirnya Adipati hanya bisa bergeming di tempatnya tanpa bicara apapun, membuat keheningan melingkupi keduanya.

Cukup lama mereka berada dalam keheningan. Sibuk dengan pikiran masing-masing, sampai kemudian Kanya berhenti melamun dan menoleh ke arah Adipati untuk menatap lamat-lamat ke arah suaminya itu.

"Mas," panggilnya. Memecahkan keheningan yang sedari tadi melingkupi mereka.

"Iya?" sahut Adipati seraya menolehkan wajahnya menatap ke arah Kanya.

"Menurut kamu Santi itu gimana, Mas?"

"Santi anak yang baik. Dia sopan dan-"

"Bukan itu maksud aku," tukas Kanya menyela ucapan Adipati, membuat pria itu mengernyit bingung.

"Lalu, gimana maksud kamu?"

"Maksud aku... kalo dari kacamata seorang laki-laki, Santi itu gimana? Aku minta pendapat kamu sebagai laki-laki dewasa yang menilai perempuan lain, ya, bukan menilai adik sendiri."

Sejenak, Adipati mengerjapkan matanya beberapa kali. Kentara sekali kalau ia sedang memikirkan jawabannya.

"Ya, kalo menurut aku, Santi itu perempuan yang cantik dan sopan. Dia juga cukup mandiri, kan? Walaupun masih belia, tapi Santi serba bisa. Kalo kamu emang keukeuh mau mencarikan Santi calon suami, mungkin aku bisa bantu cari dari temanku yang sudah mapan dan cukup baik untuk jadi pasangan Santi. Toh aku yakin Santi pun sudah cukup baik untuk jadi seorang istri," kata Adipati.

"Jadi kamu pun setuju kalo Santi itu istri ideal walaupun masih sangat muda?"

"Iya." Adipati menganggukan kepalanya, setuju dengan ucapan Kanya.

Seulas senyum pun kemudian terbit di wajah Kanya.

"Jadi, kamu sendiri gimana, Mas? Dimulai sejak kapan kamu suka sama Santi?" tanya Kanya tiba-tiba dengan ringannya.

Sontak saja, Adipati terbatuk karena tersedak ludahnya sendiri. Kemudian ia pun menatap terkejut ke arah Kanya dengan kedua mata yang terbelalak sempurna, sementara Kanya justru terlihat tenang dengan seulas senyum yang masih terlukis di wajahnya.

"Isi kepala kamu itu kayaknya lagi kusut dan penuh, Kanya, makanya kamu ngomongnya jadi ngawur gini. Sekarang lebih baik kamu istirahat aja, kamu kayaknya capek."

"Semuanya terlihat jelas, kok, Mas. Kamu punya tatapan yang beda. Aku tahu kamu sayang sama Santi, tapi aku juga tahu kalo rasa sayang itu bukan rasa sayang seorang kakak ke adiknya. Jadi, sejak kapan kamu punya perasaan sama Santi? Aku bilang gini bukan karena marah, aku gak marah sama sekali. Aku cuma penasaran aja," ujarnya.

Mendengar hal itu, Adipati pun tertegun untuk beberapa saat. Ia merasa bimbang ketika harus memikirkan jawabannya sendiri.

"Kenapa tiba-tiba kamu bicara kayak gini? Kok tiba-tiba tanya begitu?"

"Karena aku pikir kamu cukup baik untuk jadi suami Santi. Terlebih lagi kamu punya perasaan cinta untuk dia. Aku yakin kamu bisa buat Santi bahagia, bisa jadi pundak buat Santi bersandar kalo nanti aku gak ada. Sekarang dan kedepannya Santi cuma punya aku, kalo aku sampe meninggal juga, Santi gimana? Makanya aku mau titip Sama kamu. Cintai dan jaga dia dengan sepenuh hati kamu, Mas... aku beneran ikhlas."

"Jangan ngawur. Oke, aku jawab kalo aku memang punya perasaan sama Santi sejak Santi berusia 15 tahun. Aku suka dia dari pertama kali aku datang ke rumah orang tua kamu, tapi cukup sampe di situ aja. Dari awal aku nikah sama kamu, istri aku ya cuma kamu. Perasaanku sama Santi udah lama aku kubur, Kanya. Perasaan sayang yang tersisa cuma rasa sayang seorang kakak ke adiknya, gak lebih. Istriku cuma kamu," ujar Adipati dengan tegas.

"Tapi aku sakit-sakitan. Kamu bakal lelah kalo terus ngurusin aku yang harus sering minum obat , dan sangat ngerepotin kamu. Kamu pengen punya anak, kan, Mas? Menikahlah dengan Santi. Santi sehat, dia bisa ngasih kamu keturunan. Aku gak masalah kalo harus di madu, sungguh...."

"Gak akan, Kanya. Kamu masih bisa sehat, dan kamu masih akan jadi istriku. Ada banyak temen aku yang bisa jadi kandidat calon suami untuk Santi. Selagi kamu masih jadi istriku, aku gak akan sekalipun melirik perempuan lain ataupun menikahinya. Aku hanya punya satu istri dan itu kamu."

"Tapi, masalannya... kalo kamu tetep setia sama aku, yang kamu hadapi kedepannya bukan cuma kamu yang harus sanggup direpotkan dengan kondisi penyakitku yang paling parah, tapi kamu juga bakal dihadapkan skenario terburuk kalo kamu juga bakal kehilangan aku selamanya. Menikahlah lagi, Mas... cari perempuan yang sehat. Jangan terus menghabiskan waktu kamu sama aku."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bantu  Mertuaku Ngerjai Pelakor
9.1
Terkenal berwatak keras dan pantang mengalah saat berdebat, seorang wanita sempat khawatir akan kehidupan pernikahannya. Namun, ia justru mendapatkan suami penurut dan ibu mertua yang sangat lembut, membuat hari-harinya terasa membosankan tanpa tantangan. Keadaan berubah drastis saat cinta lama ayah mertuanya kembali ke negara ini dan menyengsarakan ibu mertuanya. Enggan tinggal diam melihat mertua yang baik hati menderita, ia pun bersiap menggunakan ketajamannya untuk bertarung melawan sang pengganggu.
Sampul Novel Mantan Kesayangan Menjadi Ratu Mafia
8.3
Dante Adiwangsa pernah menyelamatkan nyawaku, tetapi sepuluh tahun berlalu, dia justru berkhianat demi aliansi kriminal. Dia membiarkan tunangannya merendahkanku di tengah ancaman maut yang mengintai. Sadar diri ini hanya dianggap pajangan, rasa cintaku pun sirna. Pada hari perayaannya, aku memilih melarikan diri dari sangkar emasnya. Sebuah jet pribadi kini membawaku pulang ke pelukan ayah kandungku, sosok yang ternyata merupakan musuh bebuyutan dari sang bos mafia tersebut.
Sampul Novel Menaklukan Hati Dokter Cantik
9.3
Demi memenuhi wasiat, Khalila Permata Sutama, dokter cerdas pewaris rumah sakit, terpaksa menikahi Zahran Fahad Auzan. Zahran yang masih SMA menggantikan mendiang kakaknya dalam perjodohan ini. Meski Khalila bersikap dingin dan malu bersuamikan anak sekolah, Zahran tetap tulus karena Khalila pernah menyelamatkan nyawanya. Ketulusan Zahran perlahan mulai meluluhkan hati istrinya. Akankah pernikahan beda usia ini bermuara pada cinta sejati?
Sampul Novel OLD VIRGIN (WHEN I LOVED YOU)
7.9
Shereen Edwarida, seorang wanita karier sukses, menutup rapat hatinya akibat trauma masa lalu yang mendalam. Ia ditinggalkan oleh kekasihnya tepat sebelum pernikahan demi perempuan lain. Meski dicap perawan tua oleh lingkungan sekitar, Shereen tetap memilih sendiri dengan dukungan keluarga dan sahabat. Namun, pertahanannya goyah saat sang mantan kembali untuk menebus kesalahan. Akankah ia memberikan kesempatan kedua di tengah bayang-bayang luka lama?
Sampul Novel Pengantin Pengganti Untuk Tuan CEO
9.3
Aluna harus menjadi pengantin pengganti setelah kembarannya kabur dari perjodohan dengan CEO kaya, Angga Wijaya Kusuma. Enggan terjebak pernikahan tanpa cinta, ia nekat melarikan diri pada hari pernikahan. Sialnya, rencana itu gagal total saat dirinya malah masuk ke mobil milik calon suaminya sendiri. Kini, Aluna terjebak bersama Angga, menghadapi ancaman kehilangan kebebasannya secara total.
Sampul Novel Pernikahan Dadakan dengan CEO
8.0
Pernikahan kini berubah menjadi perhitungan bisnis yang kaku. Sang suami menuntut agar seluruh pengeluaran rumah tangga, mulai dari biaya hidup sehari-hari, cicilan KPR, hingga cicilan mobil, dibagi rata secara adil. Ketegangan semakin memuncak ketika keberadaan adik ipar yang menumpang tinggal mulai dipermasalahkan. Uang bulanan sebesar empat juta rupiah dianggap tidak lagi cukup, dan ia dipaksa membayar setengah dari total biaya sewa demi menghindari tuduhan menumpang secara gratis.