APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjebak Gairah Terlarang

Terjebak Gairah Terlarang

Julian, seorang pelajar SMA yang gemar bermain basket, memendam ketertarikan pada pemilik rental PS bernama Tante Namira. Hubungan mereka mendadak berubah intim setelah sebuah permintaan pijat biasa melanggar batas norma. Kejadian tersebut memicu hasrat Julian untuk mencari petualangan serupa dengan perempuan dewasa lain, mulai dari guru di sekolah hingga seorang perawat. Terjebak di antara rasa bersalah dan gairah, ia terus menantang moralitasnya tanpa tahu apakah ini akan menghancurkannya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Suara itu seperti mantra yang menghapus semua keraguanku. Aku semakin berani. Tanganku menyelusup ke balik daster, menyentuh langsung kulit pinggangnya yang hangat. Dia tidak menolak.

Napasnya mulai terdengar lebih berat. Aku bisa merasakan ketegangan di tubuhnya. Perlahan, aku menggeser dasternya sedikit lebih tinggi, memperlihatkan sebagian kecil dari punggung bagian bawahnya yang mulus.

Sentuhanku semakin intens. Aku memijatnya dengan gerakan yang lebih sensual, lebih menggoda. Jemariku menari-nari di kulitnya, menimbulkan sensasi yang aku sendiri belum pernah rasakan sebelumnya.

Tante Namira memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhanku. Aku bisa melihat bulu matanya yang lentik bergetar. Bibirnya sedikit terbuka, seperti menahan desahan.

Lalu, keberanianku mencapai puncaknya. Dengan perlahan, jemariku menyentuh bagian bawah dadanya, tepat di bawah garis bra yang ia kenakan. Aku bisa merasakan kelembutan kulitnya di sana.

Tante Namira menarik napas dalam-dalam. Tubuhnya sedikit menegang. Tapi dia tidak menghentikanku.

Aku semakin berani. Jemariku merayap naik, menyentuh sisi dadanya. Bentuknya yang bulat dan kencang terasa jelas di bawah sentuhanku.

"Jul..." desahnya lagi, kali ini lebih keras.

Aku menghentikan pijatanku. Kami berdua terdiam, hanya suara napas kami yang terdengar di ruangan itu. Aku bisa merasakan jantungku berdebar kencang, begitu pula dengan Tante Namira

Perlahan, Tante Namira menolehkan kepalanya, menatapku dengan mata yang sayu dan penuh gairah. Senyum tipis menghiasi bibirnya yang ranum.

"Kamu... pintar memijat, Jul," bisiknya, dengan suara serak yang menggoda.

Tatapan matanya membuatku terpaku. Ada sesuatu di sana, sebuah sinyal yang jelas. Sinyal yang membuatku mengerti bahwa ini bukan lagi sekadar pijatan biasa. Ini adalah awal dari sesuatu yang terlarang, sesuatu yang menggoda, dan sesuatu yang mungkin akan mengubah hidupku selamanya.

"Sayang, tante pakai daster," kataku, mencoba bersikap tenang meski jantungku berdebar kencang. "Kalau pakai kaos mungkin bisa diangkat kaosnya supaya aku mijatnya lebih enak." Ucapan itu meluncur begitu saja, sebuah keberanian yang tiba-tiba muncul dari dorongan yang tak bisa kukendalikan.

Tante Namira terdiam, bibirnya sedikit mengerucut, seperti sedang mempertimbangkan kata-kataku. Detik-detik berlalu dalam keheningan yang terasa begitu berat. Aku bisa merasakan tatapannya yang intens, meski dia tak langsung melihat ke arahku. Akhirnya, suara lembutnya memecah kesunyian.

"Emang dasternya mengganggu ya?" tanyanya, nada suaranya sedikit menggoda.

"Kalo mengganggu sih gak juga," jawabku jujur, sambil berusaha menjaga kontak mata dengannya. "Namun memang rasanya gak maksimal karena ada kain yang menghalangi. Aku jadi gak bisa merasakan lekuk tubuh tante dengan sempurna." Kata-kata itu terlontar begitu saja, tanpa kupikirkan lebih dulu, dan aku bisa melihat perubahan kecil di raut wajahnya.

Senyum tipis kembali menghiasi bibirnya yang ranum. "Kalau begitu..." jedanya, menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan, "...aku buka dasternya ya. Tapi tante mau tutup dulu rentalnya ya, biar nggak ada yang ganggu."

Jantungku berpacu semakin cepat. Aku mengangguk kecil, tak mampu berkata apa-apa. Tante Namira berdiri dan berjalan anggun menuju pintu depan. Aku memperhatikannya dalam diam saat dia membuka pintu, melangkah keluar untuk menutup gerbang rumah dengan bunyi berderit pelan. Saat dia kembali masuk, aroma parfumnya yang lembut menyapa indra penciumanku. Dia menutup pintu dengan hati-hati, memutar kunci, dan membalik tanda "Open" menjadi "Close". Tindakan sederhana itu terasa seperti ritual, menutup dunia luar dan hanya menyisakan kami berdua dalam ruang privat ini.

"Jul, pindah ke ruang keluarga dalam saja yuk," ajaknya, suaranya kini terdengar lebih santai. "Sebentar tante mau ambil minum buat kamu." Dia berjalan menuju dapur, langkahnya ringan dan gemulai. Aku bisa melihat siluet tubuhnya yang indah dari balik daster tipis yang dikenakannya.

Aku mengangguk dan beranjak dari tempatku, mengikuti Tante Namira ke bagian dalam rumah. Ruang keluarga itu terasa nyaman dengan sofa empuk dan bantal-bantal berwarna cerah. Aku duduk di sofa, menunggu Tante Namira kembali.

Tak lama kemudian, dia menghampiriku dengan sekaleng minuman soda dingin di tangannya. "Minum dulu, Jul," katanya sambil tersenyum, menyodorkan kaleng minuman itu padaku. Tatapannya lembut, namun ada sesuatu yang berbeda di sana, sebuah kilatan yang membuatku semakin gugup dan bersemangat dalam waktu yang bersamaan.

Aku menerima kaleng itu dan meneguk isinya beberapa kali. Minuman dingin itu terasa menyegarkan di tenggorokanku yang tiba-tiba terasa kering. Aku meletakkan kaleng minuman di meja samping sofa. Saat itulah, tanpa ragu sedikit pun, Tante Namira meraih ujung dasternya.

Detik itu juga, waktu seolah berhenti berputar. Aku terpaku, tak percaya dengan apa yang sedang terjadi di depan mataku. Sejujurnya, aku hanya berharap dia mengangkat sedikit dasternya, mungkin sebatas pinggang, agar aku bisa memijat punggungnya dengan lebih leluasa. Aku sama sekali tidak menyangka, tidak pernah membayangkan, bahwa dia akan melakukan ini.

Ketika dasternya perlahan diangkat, melewati lututnya, aku mengira akan melihat kain lain di baliknya. Pakaian dalam, celana pendek, apapun. Namun, kenyataannya jauh di luar ekspektasiku.

KETIKA dengan gerakan lambat yang memabukkan, Tante Namira terus mengangkat dasternya, awalnya aku melihat sepasang paha yang putih mulus, berkilauan lembut di bawah cahaya lampu ruangan. Kulitnya tampak halus seperti sutra, mengundang untuk disentuh. Tapi pemandangan itu hanyalah permulaan.

Tepat di bagian atas pahanya, di antara kedua kaki jenjang itu, aku melihat pemandangan yang membuat napasku tercekat. Rimbun halus berwarna gelap, membentuk segitiga misterius yang menyembunyikan rahasia terlarang. Rasa penasaran dan hasratku langsung melonjak tak terkendali.

Wow. Tante Namira ternyata tidak memakai celana dalam! Kejutan itu terasa seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuhku.

Dan bukan hanya itu. Ketika Tante Namira terus mengangkat dasternya, memperlihatkan perutnya yang rata dan pinggangnya yang ramping, pandanganku terangkat ke atas. Di sana, terpampang sepasang bukit kembar yang mengacung penuh, menantang gravitasi. Sepasang bukit yang bulat dan besar, dengan puting merah muda yang menonjol keras, seolah memanggil untuk dibelai dan dikecup. Mereka bebas, tanpa penutup apapun, memperlihatkan keindahan yang selama ini tersembunyi di balik kain.

Aku masih terpaku, mataku tak berkedip, menyerap setiap detail pemandangan di depanku. Daster itu akhirnya melewati kepalanya, jatuh ke belakang sofa tempatku duduk, bagaikan kain sutra yang tak berharga.

Tante Namira sendiri nampak tenang, nyaris tanpa ekspresi. Dia tersenyum tipis, senyum misterius yang membuatku semakin penasaran. Dengan gerakan anggun, dia membuang daster itu ke belakang sofa, lalu, seolah tak terjadi apa-apa, dia melangkah mendekat dan duduk tepat di depanku, di tepi sofa.

Jarak kami kini begitu dekat, aroma tubuhnya yang bercampur dengan parfumnya yang lembut menyeruak memenuhi indra penciumanku. Aku bisa melihat pori-pori kulitnya, bulu-bulu halus di lengannya, dan lekuk lehernya yang jenjang. Dan yang paling utama, pemandangan dadanya yang telanjang, hanya beberapa sentimeter dari wajahku, membuat darahku berdesir hebat. Putingnya yang mengeras tampak semakin menantang, seolah menggodaku untuk menyentuhnya.

Aku masih termangu, otaku berusaha mencerna kenyataan yang ada di depan mata. Duduk di depanku adalah Tante Namira. Tante yang selama ini kukenal sebagai sosok yang sopan dan ramah, kini hadir tanpa sehelai benang pun. Kulitnya yang putih bersih berkilauan lembut, kontras dengan putingnya yang berwarna merah muda gelap.

Wow. Benar-benar wow!! Aku merasa seperti berada di alam mimpi, sebuah fantasi erotis yang menjadi kenyataan. Sempat terlintas di benakku kalau aku sedang bermimpi, atau berkhayal, atau bahkan berhalusinasi. Tapi sentuhan angin lembut yang menerpa kulitku, aroma tubuh Tante Namira yang memabukkan, dan detak jantungku yang menggila, semuanya terasa begitu nyata.

Sebagai bukti bahwa ini bukan mimpi, dengan ragu-ragu aku mengulurkan tanganku, menyentuh punggung telanjangnya yang terbuka. Kulitnya terasa halus seperti sutra, hangat dan lembut di bawah sentuhan jariku. Jemariku sedikit gemetar saat merasakannya.

Ini nyata. Ini sama sekali bukan mimpi. Jika mimpi, tak mungkin aku bisa merasakan kehalusan punggung Tante Namira yang terasa begitu licin dan menggoda!!

"Terusin dong mijatnya. Kan sekarang gak ada gangguan daster lagi kan?" Terdengar suara Tante Namira, lembut namun penuh godaan. Suaranya terdengar biasa, seolah ketelanjangannya bukanlah hal yang istimewa.

"I... iya tante," kataku terbata-bata, masih terpukau dengan pemandangan di depanku.

Dengan gugup, aku kembali memijat. Melakukan hal yang sama dengan sebelumnya, namun dengan sensasi yang jauh berbeda. Jika tadi obyek yang kupijat adalah punggung yang tertutup kain, kini punggung itu telanjang, terbuka sepenuhnya untukku.

Aku memulai pijatan dari bahunya yang lembut. Kukerahkan keberanianku untuk meremas bahunya perlahan, merasakan otot-ototnya yang sedikit tegang. Kemudian, jemariku turun ke bagian punggung, mengusapnya dengan gerakan memutar yang lembut. Setiap sentuhan terasa seperti aliran listrik yang menjalar melalui tubuhku dan tubuhnya.

Sambil memijat, benakku berputar, mencoba menganalisa apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kenapa Tante Namira melakukan ini? Apakah ini sebuah jebakan? Atau dia benar-benar menginginkanku? Pikiran-pikiran itu bercampur aduk dalam benakku, antara kebingungan, ketakutan, dan hasrat birahi yang bergejolak.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel As Your Command
8.2
Demi wasiat sang ayah, Kenneth mendedikasikan hidupnya untuk mematuhi setiap perintah Kania. Sejak sekolah hingga bekerja, ia bertindak layaknya robot dingin tanpa emosi. Namun, Kania tidak menyerah dan terus berusaha mendobrak dinding pertahanan Kenneth. Ketika tuntutan sang majikan perlahan berubah menjadi lebih berani dan intim, Kenneth akhirnya menyadari bahwa pengabdian setianya kini telah bertransformasi menjadi benih cinta yang nyata.
Sampul Novel Gairah Liar Setelah Menikah
9.6
Kebahagiaan seorang miliarder membubung setelah berhasil menikahi wanita muslimah impiannya. Namun, baru satu pekan berjalan, sang istri mulai merasa kewalahan menghadapi hasrat suaminya yang begitu membara. Pria itu kerap meminta bermesraan di berbagai tempat, mulai dari ruang tamu hingga area dapur saat istrinya memasak. Sempat menolak karena sibuk, ia akhirnya pasrah pada keinginan suaminya. Ketangguhan sang suami yang luar biasa pun membuatnya lemas tak berdaya.
Sampul Novel Istri Kedua Pak Kades
9.8
Kehidupan Raya, seorang mahasiswi KKN, hancur dalam semalam akibat tragedi memilukan. Di tengah keheningan malam, kesuciannya direnggut paksa oleh Pak Kades yang kehilangan kendali karena sakau. Meski Raya telah berteriak histeris dan memohon, tak ada satu pun warga yang datang menyelamatkannya. Kini, Raya harus menghadapi kenyataan pahit setelah kehormatannya dirampas oleh pria beristri yang telah memiliki anak tersebut. Bagaimana nasibnya kini?
Sampul Novel Istri Yang Diacuhkan
8.3
Arvin berniat menceraikan Gina, mengabaikan kehadiran putri mereka, Darcy. Pernikahan ini rupanya cuma kedok balas dendam Arvin kepada Felysia, sang mantan pacar yang ternyata kakak kandung Gina sendiri. Walau Gina sudah berjuang keras mempertahankan rumah tangga mereka, pengkhianatan Arvin yang berselingkuh dengan Felysia di belakangnya merusak segalanya. Akhirnya, demi menyembunyikan kepedihan ini, mereka sepakat bercerai saat Darcy berusia tiga tahun.
Sampul Novel Jebakan Salon
9.5
Berawal dari ajakan seorang sahabat untuk melakukan perawatan wajah di sebuah salon kecantikan, hidup seorang wanita berubah sepenuhnya. Di tempat itulah ia bertemu dengan seorang pemuda tampan berpostur tinggi yang sangat pandai memikat hati. Rayuan manis dan perhatian pria misterius itu membuatnya merasa sangat dihargai sebagai wanita, hingga ia tega mengabaikan keberadaan kekasihnya sendiri. Namun, di balik pesona memikat dan kelembutan sikap luar biasa tersebut, sebuah konsekuensi fatal serta misteri besar tengah mengintai hidupnya.
Sampul Novel Kerinduan Tak Berujung
7.9
Lima tahun membina rumah tangga, Stella baru menyadari bahwa pernikahan dengan Felix hanyalah kepalsuan belaka. Sang suami sengaja memalsukan akta nikah mereka demi memberikan status hukum kepada wanita lain bernama Tania demi kelancaran bisnisnya. Felix mengira Stella yang telah mengorbankan hubungan keluarga demi dirinya tidak akan pernah pergi. Namun, rasa kecewa yang mendalam membuat Stella memilih melangkah pergi selamanya, meninggalkan Felix yang terlambat menyesali keputusannya.