APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel TERJEBAK DALAM DOSA CINTA

TERJEBAK DALAM DOSA CINTA

Sering bepergian ke luar kota demi pekerjaan membuat seorang pria terbuai dalam hubungan gelap dengan wanita asing. Namun, kenyamanan perselingkuhan itu terancam runtuh ketika istrinya mulai mencurigai perubahan sikapnya. Kini, ia harus berjuang keras menutupi kebohongan yang kian menjerat dirinya. Akankah semua rahasia ini tetap tersimpan rapat, atau justru menghancurkan hidupnya? Kisah penuh intrik tentang dampak nyata dari sebuah pengkhianatan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Hari-hari berlalu, dan Arief berusaha untuk menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Namun, perasaan cemas dan bersalah terus menghantuinya. Dalam upaya untuk menghindari konflik, dia memutuskan untuk lebih fokus pada keluarganya dan berusaha menjadi suami yang lebih baik bagi Lila. Dia bertekad untuk mengurangi komunikasi dengan Clara, meskipun hatinya berjuang melawan kerinduan yang terus menggerogoti jiwanya.

Suatu hari, saat perjalanan dinas ke luar kota, Arief menerima pesan dari Clara. "Aku merindukanmu. Rindu suara dan tawamu," bunyi pesan itu, mengingatkan semua kenangan indah yang mereka bagi. Dalam kebingungan dan godaan, dia membalasnya dengan pesan yang penuh cinta: "Aku juga merindukanmu. Setiap detik tanpa kamu terasa kosong."

Tanpa disadari, Arief mengirimkan pesan itu ke nomor Lila. Dia terdiam sejenak, tidak menyadari kesalahannya. Hatinya berdegup kencang saat ia menyadari apa yang telah terjadi. Ketika Lila membalasnya dengan pesan, "Apa maksudmu dengan ini, Arief?" rasa panik langsung menyergap dirinya.

Mendengar nada Lila yang penuh tanya, Arief merasa jantungnya berdegup kencang. Ia segera menghubungi Lila, berusaha untuk memperbaiki keadaan. "Sayang, aku tidak tahu apa yang terjadi. Itu pasti kesalahan teknis," ujarnya, berusaha terdengar tenang meski hatinya bergetar.

"Kesalahan teknis? Atau kau sengaja mengirimi aku pesan itu?" Lila bertanya, suaranya mulai meninggi.

Arief berjuang mencari kata-kata yang tepat. "Lila, aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Mungkin ada kesalahan saat aku mengetik. Aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu dan tidak ada yang bisa mengubah itu."

Namun, Lila tidak puas dengan jawabannya. "Arief, jika kau tidak jujur padaku sekarang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ini bukanlah hal yang sepele!"

Setiap kata yang diucapkan Lila seperti sabetan pedang yang menghujam jantung Arief. Dia tahu bahwa kebohongannya semakin dalam, dan dia harus segera menemukan cara untuk mengubah arah percakapan ini.

"Sayang, aku tidak ingin ada rahasia di antara kita. Mari kita bicarakan ini dengan tenang. Aku akan pulang secepatnya, dan kita bisa berbicara tentang apa yang terjadi," kata Arief dengan suara lembut, berharap bisa meredakan kemarahan Lila.

Tetapi Lila sudah sangat terluka. "Aku tidak tahu harus percaya siapa, Arief. Apakah ini semua hanya permainan bagimu?" katanya, suaranya mulai pecah.

Arief merasa semakin terdesak. "Lila, aku berjanji, tidak ada yang lebih penting bagiku selain kamu dan anak-anak. Aku hanya... aku hanya butuh waktu untuk menenangkan pikiran."

Mereka menutup percakapan dengan ketegangan yang masih membara di udara. Ketika Arief sampai di rumah, suasana hatinya sangat kelam. Dia tahu bahwa dia tidak hanya menghadapi Lila, tetapi juga konsekuensi dari kebohongannya yang telah menumpuk.

Malam itu, saat Lila menunggu di ruang tamu dengan ekspresi marah yang tak terduga, Arief merasa ketakutan akan apa yang akan terjadi. "Kau tidak datang lebih awal untuk berbicara, Arief? Kita perlu menyelesaikan semua ini," Lila menegaskan.

"Aku sudah bilang, Lila. Itu adalah kesalahan. Aku tidak bermaksud mengirimu pesan itu," Arief berusaha membela diri, tetapi suaranya terdengar lemah.

"Kau tahu, rasanya seperti aku tidak mengenalmu lagi. Ada sesuatu yang sangat salah dalam hidup kita, dan kau tidak mau terbuka padaku," Lila melanjutkan, suaranya tenang tetapi penuh amarah.

"Aku hanya merasa tertekan dengan pekerjaan dan segala hal. Aku tidak mau kehilanganmu, Lila," Arief mengaku, berusaha mencari cara untuk meredakan keadaan. "Mari kita coba untuk berbicara dari hati ke hati."

Lila menghela napas panjang, menatap suaminya dengan tatapan tajam. "Jika kau mencintaiku, mengapa kau mengirimkan pesan itu? Mengapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya?"

Arief tahu bahwa dia tidak bisa terus berbohong. Dalam hati, dia merasakan dorongan untuk jujur, tetapi rasa takut akan menghancurkan keluarganya menghalanginya. "Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan semua ini. Aku terjebak dalam pikiran yang berlawanan, dan aku tidak ingin kau terluka," jawabnya, suaranya bergetar.

"Terjebak? Atau kau yang tidak mau berusaha?" Lila bertanya, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku merasa seperti kita semakin menjauh."

Arief menatap Lila, merasakan betapa dalamnya rasa sakit yang ia timbulkan. Di dalam hati, dia merasa seolah dunia di sekelilingnya hancur. "Aku berjanji, aku akan melakukan yang terbaik untuk memperbaiki semuanya. Aku tidak akan lagi membiarkan ini terjadi," katanya dengan tulus.

Mereka berdua duduk dalam keheningan, beban di antara mereka begitu berat. Arief tahu bahwa dia harus segera mengambil keputusan, entah untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan atau terus bersembunyi di balik kebohongan.

Arief terjaga di tengah malam, mendengar suara lembut Lila terisak di kamarnya. Dia merasa hatinya dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan. Tidur terpisah di tempat tidur yang sama, terasa semakin dingin dan menyakitkan. Dalam pikirannya, dia berjuang antara keinginan untuk mengakhiri kebohongannya dan rasa takut akan kehilangan Lila selamanya.

Pagi datang dengan cahaya matahari yang masuk ke kamar, namun suasana hati Arief tetap kelabu. Dia berusaha untuk bersikap normal saat sarapan bersama Lila dan anak-anak. Namun, ketegangan di antara mereka sangat terasa. Setiap kali Lila berbicara, Arief merasa seperti ada jarum tajam yang menancap di hatinya.

"Pagi ini kita bisa pergi ke taman, kan?" tanya Lila, berusaha terdengar ceria meskipun raut wajahnya tampak pias. Arief mengangguk, tetapi pikirannya sudah melayang jauh, berusaha merencanakan langkah selanjutnya untuk menghindari keruntuhan rumah tangga yang telah dia bangun.

Setelah sarapan, mereka menuju taman. Suasana sekelilingnya seolah tak ada yang tahu pertempuran batin yang sedang dialami Arief. Anak-anak bermain riang, sementara Lila mengamati mereka dengan senyuman yang dipaksakan. Arief mengamati istrinya, merasakan kedamaian yang seharusnya ada, namun kini teredam oleh bayang-bayang kebohongan yang menghantuinya.

Selama di taman, Arief berusaha berinteraksi dengan anak-anak dan berusaha untuk menciptakan momen kebersamaan yang hangat. Namun, setiap tawa dan canda terasa hampa. Dia merindukan Clara, wanita yang telah mengisi hari-harinya dengan gairah, tetapi pada saat yang sama, dia tahu bahwa Lila adalah segalanya baginya.

Saat pulang ke rumah, Arief mendapat telepon dari Clara. Dengan rasa bersalah yang terus menggerogoti, dia menjawabnya. "Arief, aku rindu kamu. Kenapa kamu menghindar dariku?" suara Clara terdengar manja di ujung telepon.

Arief menelan ludah, merasa terjebak. "Aku tidak menghindar, Clara. Hanya... ada banyak hal yang harus kuhadapi saat ini."

"Banyak hal? Atau kau hanya tidak berani menghadapi apa yang kita miliki?" Clara mendesak, suaranya penuh emosi.

"Bukan seperti itu," Arief berusaha menjelaskan. "Aku mencintaimu, tapi aku juga mencintai keluargaku. Ini semua sangat sulit."

"Jadi, kamu memilih untuk menyakiti mereka dan dirimu sendiri? Itu tidak adil," Clara berkata, nada suaranya berubah menjadi tajam. "Aku tidak ingin jadi yang kedua. Aku ingin kamu sepenuhnya."

Arief merasa terjepit. "Aku butuh waktu untuk berpikir," jawabnya, suara berat dengan kesedihan yang mendalam.

Setelah menutup telepon, Arief merasa dunia di sekelilingnya bergetar. Dia tahu dia harus mengambil keputusan, tetapi rasa takut akan kehilangan Lila dan anak-anak terus menahannya. Dalam perjalanan pulang, dia menatap jalanan yang berlalu dengan cepat, berharap semua ini hanya mimpi buruk.

Malam itu, saat anak-anak sudah tidur, Arief menemukan Lila duduk sendirian di ruang tamu, menatap layar ponselnya. Tanpa berpikir panjang, dia mendekati Lila dan merasakan ketegangan di udara. "Kau masih marah padaku?" tanyanya, mencoba untuk memecahkan keheningan.

"Aku tidak marah, Arief. Aku hanya bingung," jawab Lila, menatapnya dengan mata penuh pertanyaan. "Kau bilang kau mencintaiku, tapi tindakanmu seolah-olah tidak mencerminkan itu."

Arief merasakan kepedihan yang mendalam. "Aku tahu aku telah membuat kesalahan. Aku ingin memperbaikinya, Lila. Aku tidak ingin kehilanganmu," ungkapnya dengan tulus.

Lila menunduk, air mata mengalir di pipinya. "Aku ingin percaya padamu, Arief, tetapi setiap kali kau pergi, aku merasa cemas. Seperti ada yang hilang antara kita."

Ketika Arief melihat Lila menangis, hatinya hancur. Dia meraih tangannya, "Aku berjanji, tidak akan ada lagi rahasia. Mari kita bicarakan ini dengan jujur. Aku akan berusaha untuk tidak membiarkan ini terjadi lagi."

Lila mengangkat wajahnya, matanya bersinar dengan harapan dan kebingungan. "Jujur? Apa kamu bisa melakukan itu, Arief? Selama ini aku hanya ingin kau terbuka padaku, tetapi kau selalu menyembunyikan sesuatu."

Arief merasa tekanan di dadanya semakin berat. "Aku akan berusaha, Lila. Aku tidak ingin kita terjebak dalam kebohongan. Mari kita mulai lagi, pelan-pelan."

Kata-kata Arief mungkin tampak sederhana, tetapi di dalam hatinya, dia tahu bahwa untuk melakukannya, dia harus menghadapi Clara dan mengakhiri hubungan terlarang itu. Dia merasa terhimpit antara dua dunia yang saling bertentangan, dan dia harus menemukan cara untuk keluar dari kegelapan ini sebelum semuanya terlambat.

Saat Lila memeluknya, Arief merasakan kehangatan cinta yang seharusnya dia jaga. Namun, bayangan Clara tetap mengintai, menuntut perhatian dan janji yang belum bisa dia tepati. Dalam perjalanan hidup yang penuh dosa ini, dia harus membuat pilihan yang akan menentukan masa depan mereka.

Bersambung...

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cahaya yang Tertunda
8.9
Usai masa nifas, Winda Baskoro mengunjungi Dinas Kependudukan untuk memasukkan bayinya, Alex Harto, ke kartu keluarga. Namun, petugas mengungkap bahwa nama Alex Harto telah terdaftar di bawah nama suaminya, Tama Harto. Saat Winda kebingungan, sebuah pesan masuk dari asisten suaminya, Sania Marsudi. Foto itu menampilkan Tama yang merangkul Sania dan menggendong bocah berusia lima tahun di depan TK, lengkap dengan papan nama bertuliskan Alex Harto.
Sampul Novel CEO LEBAY
8.3
Richard tewas usai kalah memperebutkan Claudia. Di akhirat, protesnya atas nasib buruk berbuah kesempatan hidup kedua dari Tuhan. Ia pun bangkit berkat doa tulus seorang gadis, lengkap dengan ingatan masa lalu yang luar biasa. Kini, Richard menguasai banyak bahasa, seni, serta lokasi harta karun. Sembari mengejar Claudia dengan kekayaan barunya, ia mulai bimbang apakah obsesi itu benar atau justru ada cinta lain yang jauh lebih tulus untuknya.
Sampul Novel Duri Pernikahan
8.6
Setahun berpacaran membuat Sasy Mentari, mahasiswi 19 tahun, yakin menikahi Satya. Namun, kesempurnaan sang dosen sirna seketika usai akad nikah terucap. Satya yang dahulu begitu hangat tiba-tiba berubah menjadi sosok yang dingin serta kasar. Di tengah kepedihan yang terus menyiksa batinnya, Sasy bertekad mengungkap misteri perubahan drastis suaminya. Sanggupkah ia tetap bertahan ketika biduk rumah tangga yang ia jalani kini justru dipenuhi duri yang melukai?
Sampul Novel Guruku Suamiku
8.4
Demi menyelamatkan warisan keluarga Darmawan, Arjuna harus memenuhi wasiat mendiang ayahnya untuk menikahi Asmara, siswi SMK berumur 17 tahun. Penolakan akan membuatnya kehilangan segalanya, sementara ayah Asmara, Pak Banu, terancam bui akibat kasus kecurangan bisnis masa lalu. Kini, Arjuna harus membujuk gadis muda tersebut agar bersedia menikah demi masa depan mereka berdua. Mampukah pernikahan akibat paksaan ini berjalan dengan lancar?
Sampul Novel Habis Manis Sepah Dibuang
9.3
Setelah disiram air dan dihina oleh seorang klien, Jocelyn tidak mendapatkan pembelaan dari atasannya, Michael. Pria itu malah memeluk asisten pribadinya dan memecat Jocelyn dengan dingin karena dianggap tidak becus bekerja. Enggan menerima perlakuan semena-mena tersebut, Jocelyn menyeka wajahnya, menenggak segelas alkohol, lalu menyiram balik wajah Michael sebelum akhirnya menyatakan keluar dari perusahaan. Kisah dalam novel modern ini berfokus pada harga diri Jocelyn yang menolak ditindas.
Sampul Novel Jangan Sentuh Hatiku, Jika Tak Bisa Memiliki
9.6
Nayara, staf administrasi rupawan yang bersahaja di perusahaan besar Jakarta, terlibat hubungan rumit dengan Leonardo Arvandre. Pria itu merupakan miliarder muda blasteran Prancis-Indonesia sekaligus ahli waris tunggal Arvandre Global Corporation. Sejak pertemuan pertama mereka tiga tahun silam, benih asmara mulai tumbuh. Namun kini, keduanya justru terjebak di antara gejolak cinta, harga diri, serta sebuah rahasia besar yang belum terungkap.