APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjebak Cinta Masa Lalu

Terjebak Cinta Masa Lalu

Kecelakaan sang putri memaksa Amanda bertemu kembali dengan Pandu, mantan suaminya, setelah enam tahun berpisah. Selama ini, Amanda sukses menyembunyikan fakta tentang anak kembar mereka. Namun, rahasia besar tersebut kini terancam runtuh saat Pandu menyadari kemiripan fisik yang sangat mencolok pada putra Amanda. Di tengah situasi yang penuh emosi, Pandu pun menuntut penjelasan jujur apakah kedua anak itu adalah darah dagingnya yang sengaja disembunyikan.
Bab
Bagikan

Bab 1

“Arghhh!”

Seorang anak perempuan berteriak sebelum tubuhnya terpental dan jatuh ke aspal. Tubuh kecil itu tergeletak dan bersimbah darah. Bersyukur kepalanya terganjal oleh tas yang digendongnya, namun tidak ada rintihan dan juga tangisan dari anak itu.

“Kita menabrak anak kecil, Bos.” Tama melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau anak kecil itu terpental jauh.

Seorang laki-laki yang memakai kemeja berwarna putih itu keluar dari mobil dengan tergesa-gesa, napasnya memburu ketika melihat bocah kecil tergelatak dan berlumuran darah.

Pria yang keluar dari sisi kiri mobil hanya bergumam dalam hati saat melihat anak kecil yang ditabrak bosnya itu. 'Alana.'

Pria yang dipanggil bos itu langsung menggendong tubuh Alana. “Tam, kamu yang nyetir. Cepat!” perintah Pandu sebelum memasuki mobilnya.

“Baik, Bos.” Tama segera menjalankan mobilnya membelah jalanan kota. Untung saja jalanan tidak macet walau ramai dengan kendaraan, tapi lancar.

Pandu, seorang CEO BARA Corporation yang masih terlihat muda dan tampan di usianya yang sudah menginjak kepala tiga. Pria itu terus memandang wajah anak kecil yang lemah tak berdaya dalam gendongannya akibat kelalaiannya saat mengendarai mobil.

“Bos, apakah anak itu masih bernapas?” Tama melirik sebentar ke arah spion dalam untuk melihat keadaan Alana, lalu ia kembali fokus pada kemudinya.

Tama tetap berusaha fokus, walau pikirannya tertuju pada ibu dari anak yang ditabrak bosnya itu.

'Bagaimana caranya saya menjelaskan semua ini?' Pria yang duduk di kursi kemudi itu hanya bisa bergumam dalam hati. Ia tidak memberitahu pada bosnya kalau ia mengenali anak itu.

Pandu menatap wajah anak perempuan yang terkulai dalam pangkuannya. Anak kecil itu masih terlihat cantik dan manis walau sudah sangat pucat.

Pria yang memakai kemeja putih yang sudah berlumuran darah itu meletakkan jari telunjuknya di bawah hidung Alana, ia bernapas lega saat masih merasakan napas anak itu.

Tidak berapa lama, mereka sampai di rumah sakit. Suster segera membawa Alana ke instalasi gawat darurat. Pandu dan Tama berjalan cepat mengikuti brankar yang didorong suster.

Alana dimasukkan ke instalasi gawat darurat. Pandu menunggu dengan gelisah di depan ruangan. Ia takut terjadi sesuatu pada Alana. Jika itu terjadi ia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.

Tama mendekati sang Bos yang berdiri dengan gelisah di depan pintu ruang IGD. “Bos, sebaiknya kita memberitahukan keluarganya.”

“Ya Tuhan ... kenapa aku bisa lupa. Kita harus mencari tahu ke mana? Aku tidak tahu siapa orang tuanya."

Pandu tiba-tiba teringat tas anak itu yang diberikan oleh suster kepadanya. "Mungkin di sini ada info tentang keluarganya." Pandu menyodorkan tas berwarna merah muda itu pada asistennya.

"Baik, Bos." Tama mengambil tas berwarna merah muda itu. "Saya akan segera menghubungi orang tua Alana."

"Alana?" Kening Pandu berkerut. "Anak itu bernama Alana?"

"Iya, Bos," jawab Tama.

"Dari mana kamu tahu? Apa kamu mengenalnya?" Pandu mencecar beberapa pertanyaan kepada asistennya.

"Ini ada namanya?" Tama memperlihatkan nama Alana yang tertera di tas sekolah berwarna merah muda itu. "Ini pasti nama anak itu."

"Ya itu pasti namanya," kata Pandu, "kamu cari tahu taman kanak-kanak itu dan minta nomor orang tua Alana pada mereka," lanjutnya sambil menunjuk nama sekolah Alana yang tertera pada tas sekolahnya.

Tama mengangguk, lalu pergi dari hadapan bosnya. Setelah berada sedikit jauh dari Pandu, Tama segera menghubungi ibu kandung Alana.

"Halo ... anakmu mengalami kecelakaan. Cepat kamu datang ke sini, nanti saya kirim alamatnya." Tanpa menunggu jawaban dari orang di balik telepon itu. Tama segera menutup panggilannya. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan yang pastinya akan dilontarkan padanya.

Tama kembali menghampiri Pandu setelah selesai menelepon.

"Saya sudah menghubungi ibunya," kata Tama, "dia akan segera datang."

"Baguslah." Hanya itu yang bisa diucapkan Pandu. Kini ia memikirkan bagaimana caranya meminta maaf kepada orang tua anak kecil itu.

Setelah sekian lama, seorang dokter keluar dari ruang pemeriksaan.

"Apa Bapak keluarga anak gadis kecil yang mengalami kecelakaan itu?” tanya Dokter.

“Iya, Dok,” jawab Pandu, "saya ayahnya."

Tama membelalakkan matanya saat sang bos mengaku sebagai ayah dari anak yang ditabraknya.

“Gadis kecil itu kehilangan banyak darah. Untuk darah golongan AB di rumah sakit sedang kosong,” jelas Dokter.

Pandu terdiam beberapa saat setelah mendengar ucapan sang dokter.

“Agar mendapatkan penanganan lebih lanjut, untuk administrasi dan pendaftarannya tolong segera diurus,” tambah Dokter lagi sebelum ia pergi.

Pandu sangat gelisah, pria dewasa itu terus menengok ke jendela ruang rawat darurat. Pandu ingin tahu bagaimana keadaan gadis kecil itu.

Ia benar-benar tidak sengaja saat menabraknya. Andai ia tahu kalau akan begini jadinya, Pandu akan mengendarai mobilnya dengan pelan.

Padahal sebelumnya Tama sudah menawarkan diri agar dia saja yang menyetir, tetapi Pandu bersikeras ingin menyetir sendiri. Alhasil begini jadinya, karena tidak hati-hati, ia menabrak seorang gadis kecil.

Ia sudah siap jika orang tua Alana marah besar padanya dan ia akan bertanggung jawab penuh dan ikhlas jika orang tua Alana menuntutnya.

Pandu terus gelisah, ia terbayang wajah gadis kecil ketika dalam gendongannya yang terasa tidak asing baginya.

“Bos, kalau Anda ingin pulang, biar saya yang mengurus masalah ini,” ucap Tama.

“Mana mungkin aku pulang kalau aku yang sudah menyebabkan gadis itu celaka? Kalau dia kenapa-napa bagaimana?” sentak Pandu menggebu-gebu.

Tama terdiam, bibirnya ingin membuka suara lagi. Namun, ia urungkan saat melihat raut wajah bosnya yang semakin lama semakin gelisah.

Seorang suster keluar dari ruang instalasi gawat darurat. Pandu segera mendatangi suster itu. “Sus, apa saya boleh masuk?” tanya Pandu tak sabar ingin segera bertemu dengan gadis kecil yang ditabraknya.

“Silakan, Pak!” jawab suster itu dengan ramah.

Pandu mengangguk, ia segera masuk ke ruangan, sedangkan Tama mengurus pendaftaran untuk Alana.

Pandu memasuki ruang gawat darurat dengan perasaan yang campur aduk, gelisah, takut dan merasa kasihan. Jantungnya berdetak lebih kencang ketika matanya terus fokus pada wajah anak kecil itu.

Tangan besar Pandu perlahan membelai tangan Alana, tangan gadis kecil itu sangat dingin. Kepala dan tangannya juga dibalut perban.

"Anak manis, bangunlah! Maafkan Paman karena sudah membuatmu seperti ini. Paman janji akan membelikan boneka besar untukmu dan kita akan berteman. Kamu cepat sembuh ya." Pandu mengusap-usap dengan lembut tangan Alana sambil memerhatikan wajah cantik anak kecil itu.

'Wajahmu mengingatkanku pada seseorang.'

"Alana bangun—"

“Lana!” Suara teriakan wanita membuat Pandu menghentikan ucapannya. Lalu menoleh ke sumber suara.

Seorang wanita yang sangat Pandu kenal kini berdiri di samping kanan ranjang. Pandu terkejut saat tahu ibu dari anak kecil yang ia tabrak itu.

"Amanda ...."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Sirna Tanpa Bekas
8.2
Memasuki tahun ketujuh pernikahan, Melda menyadari perubahan aneh pada suaminya, Jefry Marson. Jefry mulai rajin ke tempat gym, menyukai warna cerah, dan mengirim pesan tak biasa. Meski Jefry tetap pulang tepat waktu dan bersikap manis, firasat buruk Melda tak bisa bohong. Lewat rekaman kamera dasbor mobil, ia menemukan bukti perselingkuhan Jefry dengan muridnya sendiri, gadis yang pernah bertamu ke rumah mereka dan memanggilnya Bu Melda.
Sampul Novel Menyambut Cinta Baru
8.7
Setelah tujuh tahun, Eileen kembali dengan penampilan baru yang tak lagi dikenali oleh sang mantan kekasih, Greg. Saat Greg membutuhkan donor darah darinya, Eileen mengajukan syarat: Greg harus bersedia menjadi ayah bagi putrinya, Lottie, selama satu bulan. Sayangnya, Greg malah menelantarkan Lottie demi perempuan lain dan merendahkannya, tanpa tahu Lottie adalah anak kandungnya sendiri. Kecewa berat atas sikap Greg, Eileen pun memutuskan untuk pergi jauh selamanya.
Sampul Novel My Dearest One
8.9
Terbangun tanpa ingatan di tempat asing, Danessa didera sakit kepala hebat tiap kali mencoba mengingat masa lalunya. Begitu kepingan memori mulai terkuak, ia terkejut mendapati fakta bahwa dirinya dahulu adalah sosok buruk yang tidak layak dicintai. Kini, Nessa didera dilema batin yang besar. Apakah ia harus kembali menjadi wanita penuh cela seperti dulu, atau tetap menjalani hidup dengan kepribadian barunya yang kini begitu lembut serta dicintai banyak orang?
Sampul Novel My Fair Lady
9.0
Gugur di luar angkasa, Alex yang merupakan calon kaisar terlahir kembali di Bumi abad ke-21. Sialnya, jiwanya merasuki tubuh Alexandra, gadis tertindas yang dibenci keluarga Klein. Ia bahkan dipaksa menikahi Master Dietritch yang dingin demi menyelamatkan bisnis keluarganya. Walau dianggap sebelah mata sebagai sosok pengganti, jiwa tangguh Alex menolak menyerah. Kisah perjuangan sang ratu pemberani di bawah kuasa presiden tiran yang posesif pun dimulai.
Sampul Novel Panen Buah Cinta
9.1
Ken, seorang pria biasa, tidak pernah menyangka akan masuk ke dalam kehidupan para wanita luar biasa. Keberuntungan besar datang saat dirinya tanpa sadar berhasil memikat hati dua perempuan cantik nan populer. Meski awalnya mereka terasa mustahil digapai, kini Ken justru terjebak dalam dinamika asmara yang tak terduga. Ikuti kisah perjuangan Ken dalam menghadapi pilihan sulit di antara dua sosok menawan yang sama-sama memuja dirinya.
Sampul Novel Pejuang LDR
8.8
Impian pernikahan Dissa dan Daniel terancam batal ketika Daniel memutuskan bertugas sebagai dokter relawan di wilayah konflik Gaza. Meski hubungan jarak jauh mereka awalnya berjalan baik, Daniel mendadak hilang tanpa kabar. Kecemasan Dissa memuncak saat ia menerima kiriman foto tunangannya bersama Jesika, mantan sahabatnya sendiri. Kini, ia didera kebimbangan untuk membatalkan pernikahan atau tetap bertahan memercayai Daniel, tanpa tahu bahaya nyata yang sedang dihadapi kekasihnya di sana.