APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel TERIMA KASIH TELAH MENCINTAIKU

TERIMA KASIH TELAH MENCINTAIKU

Demi balas budi kepada keluarga angkatnya, Sukma yang yatim piatu rela melepas impiannya bersama Ahsan. Ia harus menggantikan posisi Prisilia untuk menikah dengan Raga, seorang duda difabel. Di luar dugaan, ketulusan Raga justru membuat Sukma merasa sangat dicintai dan dihargai. Namun, saat benih kebahagiaan mulai tumbuh di antara mereka, mampukah pernikahan ini bertahan menghadapi badai ujian serta ancaman orang ketiga yang ingin merusak segalanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

PENJUAL REMPEYEK YANG DIHINA SAUDARA TIRINYA ITU DINIKAHI SULTAN

#MENIKAH DENGAN SULTAN (2)

[Ibu Erni! Minta tolong untuk check plat nomor mobil ini! Apakah ini mobil inventaris perusahaan! Lalu minta check juga wajah ini, apakah ini salah satu karyawan di perusahaan?!] sederet kalimat itu dikirimkannya pada Bu Erni---bagian HRD&GA.

Wira kembali memasukkan gawai itu ke dalam saku lusuhnya. Dia memastikan tidak ada yang melihatnya atau semua penyamarannya akan berakhir.

Dia bergegas mendorong kembali gerobak berisi sampah-sampah yang bisa didaur ulang. Penyamarannya kali ini bukan tanpa alasan. Namun dia sedang menyelidiki kasus pembengkakan anggaran untuk project pembebasan lahan. Sudah beberapa laporan masuk jika dana pembebasan lahan ternyata di luar perkiraan.

Tanah yang diperkirakan hanya memiliki kisaran harga tiga ratus ribu rupiah permeter, pada kenyataannya dalam laporan, bisa menjadi naik tiga kali lipatnya. Hal itulah yang pada akhirnya membuat Wira memutuskan untuk menyelidikinya sendiri ke lapangan.

Beberapa fakta mengejutkan terjadi. Pada kenyataan di lapangan, tanah yang sudah termasuk dalam laporan dan sudah mendapatkan uang pembebasan lahan, ternyata kebanyakan tanah girik. Bahkan ada tanah kosong yang memang milik negara yang berjejer di samping kali malang. Wira melakukan survey, beberapa orang menyebutkan betul jika ada orang yang memeberi mereka uang, akan tetapi karena tanah itu memang entah milik siapa, mereka pun hanya meninggalinya. Ada yang diberikan harga hanya 50.000 per m2. Bahkan ada juga yang tidak dibayar alias gratis hanya diberikan kesempatan untuk segera memindahkan barang-barang mereka.

Hari itu Wira kembali berkeliling, masih butuh beberapa keterangan saksi lagi untuk menjerat pelaku. Dia menyusuri jalanan sepanjang kali malang itu sambil memunguti botol-botol bekas. Langkahnya terhenti ketika di teras sebuah rumah yang sangat kecil, tampak gadis yang tadi ditolongnya sedang membantu meminumkan obat pada seorang wanita sepuh yang duduk bersandar. Di depan rumah yang ditaksir hanya memiliki luas 24 m3 itu tampak ada kompor dan panci adonan.

Wira berhenti mengayun langkah. Tertegun sejenak. Hati kecilnya merasa iba. Mungkin ini yang tadi dibilang Rinai---gadis penjual rempeyek itu jika dia sedang butuh uang. Gadis yang baru beberapa hari ditemuinya sedang berjualan di tepi jalan.

“Rongsok! Rongsok! Ada botol aqua bekas? Panci bekas? Wajan bekas?!” Wira mendekat dan berdiri tidak jauh dari Rinai yang baru saja selesai memberikan obat pada ibunya.

“Gak ada, Bang!” Rinai menjawab tanpa menoleh. Dia tidak menyangka jika Wira akan mengikutinya ke sana.

“Saya mau beli rempeyeknya, Mbak!” ucap Wira sambil menatap rempeyek yang masih tampak berenang-renang di wajan. Rupanya Rinai tengah menyiapkan untuk jualan esok pagi lagi.

Rinai menoleh. Selalu ada getar senang ketika ada orang yang berkenan membeli barang dagangannya.

“Belum matang, Bang! Tunggu bentar, ya!” ucap Rinai. Namun netranya terkesima ketika ternyata yang berdiri itu seorang pemulung tampan yang tadi membeli semua dagangannya.

Wira mendekat, lalu duduk pada balai-balai. Dia mengedarkan pandang. Rumah itu benar-benar kecil, jauh dibawah kata sederhana.

“Saya nunggu di sini saja!”ucap Wira.

Rinai mengangguk. Dia beringsut ke dalam dan membawa semua bungkusan obat yang tadi diberikan pada ibunya. Tak berapa lama, dia keluar lagi dengan membawa secangkir teh manis pada nampan.

“Silakan, Bang!” ucapnya sambil meletakkan gelas itu di samping Wira.

“Kenapa dibuatkan ini? Saya bukan tamu.” Wira menatap garis wajah manis yang tampak penuh beban itu.

“Anggap saja ucapan terima kasih, karena bantuang Abang membeli semua rempeyek saya tadi, saya bisa membeli bahan untuk berjualan lagi dan membelikan obat untuk ibu. Selain itu, tadi saya kebele gula dan teh manis … alhamdulilah bisa membuatkan ibu. Sudah lama, gula kami habis, Bang! Saya gak ada uang buat beli,” ucap Rinai.

Kalimat panjang lebar itu membuat hati Wira terenyuh. Ternyata beberapa lembar rupiah yang baginya tidak seberapa bisa begitu berarti buat gadis itu. Bahkan, dengan mata berbinar dia begitu bahagia ketika berbicara bisa membeli teh dan gula. Bisa membuatkan ibunya. Seolah teh manis itu minuman langka.

“Kamu hebat, Mbak! Kamu tampak begitu pekerja keras!” Wira memuji gadis itu dengan tulus. Selama ini tidak ada sosok unik seperti Rinai. Gadis-gadis yang dikenalnya rata-rata bergaya hidup hedon, suka menghamburkan uang, mengikuti trend mode dan sibuk dengan gossip-gosip murahan.

“Saya bukan hebat! Keadaan yang memaksa saya menjadi seperti ini!” Rinai menjawab sambil mengangkat rempeyek yang sudah matang. Kemudian tangannya dengan cekatan kembali memasukkan adonan rempeyek it uke dalam wajan. Membuat cipratan-cipratan minyak kecil dan suara gemericik.

“Sudah matang, Bang! Tunggu dingin sebentar,” ucap Rinai sambil meniriksan rempeyek yang baru saja diangkatnya. Wira mengangguk sambil meneguk teh manis yang disuguhkan padanya.

“Oh iya, kenalkan … nama saya Wira! Mbak namanya siapa?” Wira mengulurkan tangan. Rinai yang baru saja menyimpan centong adonan mengelap sebentar tangannya yang penuh minyak lalu menerima uluran tangan Wira.

“Nama saya Rinai. Mungkin gak usah panggil, Mbak! Sepertinya Abang lebih tua dari saya!” ucapnya sambil tersenyum samar. Wajahnya tampak semakin manis di mata Wira.

Mereka melepas jabatan tangannya. Wira kembali duduk dan menikmati teh manisnya. Sementara itu, Rinai kembali fokus pada wajan berisi rempeyek yang sedang dimasaknya.

Wira mengedarkan pandang. Dia menangkap beberapa sosok berpakaian rapi sedang berjalan menyusuri pinggiran kali. Menatap bangunan-bangunan setengah kumuh yang berdiri di sana. Ada empat orang totalnya. Salah satu dari mereka mengenakan pakaian dengan lambing yang Wira sangat kenal. Dia sepertinya salah satu pegawai yang ditugaskan di lapangan dari perusahaannya.

Keempat orang itu berpencar. Dua orang mendekat ke arah Wira dan Rinai. Sementara itu, dua orang lagi memasuki bangunan setengah kumuh lainnya.

“Permisi, Mbak! Kenalkan, kami dari perusahaan Wira Eka Dharma yang bergerak di bidang property. Maksud kedatangan kami ke sini untuk mengurus pembebasan lahan karena kami sedang ada project komersil di daerah sini!” ucap salah satu memperkenalkan diri. Wira menunduk dan duduk menepi. Membiarkan dua orang itu duduk pada balai-balai dan lebih dekat pada Rinai.

“Iya silakan duduk, Pak! Ada perlu apa, ya?” Rinai mematikan kompor. Mengelap tangan lalu duduk pada balai terpisah yang ada di sana.

“Kami ingin membeli area ini. Ini juga ‘kan masih tanah pengairan ‘ya? Per meternya kami hargai lima puluh ribu rupiah! Ini sudah mutlak, semua harga di sini sama. Kalian bisa pindah dan mencari tempat lain nanti dengan uang yang kami berikan!” ucapnya. Sontak darah Wira mendidih. Mendengar dengan telinga sendiri sebuah kecurangan yang ada di depan matanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Annaya dan Kaisar Kegelapan
9.2
Vlad IV, pangeran vampir penguasa Kastil Bran yang bergelimang harta dan kekuatan, didera kesepian mendalam. Suatu hari, takdir mempertemukannya dengan Annaya di kelas merangkai bunga. Gadis mandiri itu menutup rapat hatinya akibat trauma pengkhianatan masa lalu. Uniknya, kekuatan supranatural Kazi sama sekali tidak mempan terhadap Annaya. Di tengah perbedaan dunia yang membentang, sang pangeran harus berjuang keras meyakinkan Annaya yang skeptis agar mau membuka hati bagi cinta mereka.
Sampul Novel Di Pemberhentian Terakhir
9.4
Sebagai mahasiswi yatim piatu penerima beasiswa, hidup Rana hanya berputar pada kuliah dan kerja. Kehadiran Reva sebagai sahabat pertamanya membawa warna baru, namun ketenangan itu sirna sejak kemunculan Reno serta sosok masa lalu. Situasi kian pelik saat Dito bergabung dalam lingkaran pertemanan mereka. Kini, Rana terjebak dalam pusaran konflik asmara dan emosi rumit yang melibatkan keempat orang terdekatnya tersebut.
Sampul Novel Ditalak Lewat Surat
8.9
Rumah tanggaku hancur seketika setelah Mas Ibram lenyap secara misterius. Ia pergi tanpa jejak dan hanya meninggalkan sepucuk surat talak sepihak. Meski dirundung duka mendalam karena diceraikan tanpa alasan yang jelas, aku menolak untuk pasrah begitu saja. Aku bertekad bulat melacak keberadaan suamiku ke mana pun ia pergi. Aku harus menemukan dirinya demi menuntut penjelasan jujur atas keputusan kejam yang telah menghancurkan pernikahan kami ini.
Sampul Novel GAIRAH PEREMPUAN NAGA
8.1
Koh Ho Ming memercayai Diandra, putri piatu dari asisten rumah tangganya, sebagai reinkarnasi Perempuan Naga. Sejak kecil, ia memperlihatkan tanda spiritual kuat selaku titisan Dewi Kesayangan Langit. Diandra pun harus menghadapi rintangan berat serta tragedi hidup demi menggapai keberhasilan. Perjalanan takdirnya yang penuh liku diwarnai oleh kisah cinta yang mendalam serta sisi erotis yang membara.
Sampul Novel Luka Yang Sisa Kenangan
8.5
Memasuki tahun keempat pernikahan, Luna Gozali bersiap menyambut kehamilan pertamanya. Namun, kebahagiaan itu hancur saat pihak rumah sakit mengungkap bahwa dokumen pernikahannya dengan Rocky Riyandi palsu. Penyelidikan Luna ke kantor catatan sipil justru mengungkap kenyataan pahit: Rocky secara sah tercatat sebagai suami dari Paula Gozali, kakak tirinya sekaligus cinta pertama Rocky yang dahulu kabur ke luar negeri saat hari pernikahan mereka.
Sampul Novel Satu Malam Bersama CEO Duda
7.8
Akibat jebakan bius di sebuah pesta, Azka, seorang CEO duda, mendapati dirinya terbangun di ranjang yang sama dengan Zia. Demi menjaga nama baik dari ancaman hukum dan desakan keluarga wanita asing tersebut, Azka terpaksa menikahi Zia. Walau awalnya enggan, hatinya perlahan luluh oleh rasa iba saat menyaksikan Zia disiksa oleh keluarganya sendiri. Akankah pernikahan tanpa cinta ini berakhir dengan kebahagiaan, atau justru menyisakan kepedihan mendalam?