
Terapis Pembawa Petaka
Bab 2
Tiara panik dan mengalihkan pandangannya dari Dirga.
Aku mengikuti tatapannya di saat yang tepat, kebetulan melihat sosok Dirga yang sempurna dan jam tangan Patek Philippe yang melingkar di pergelangan tangannya.
Tiara langsung tersipu malu. "Ah, maaf ya, aku sudah menyakitimu."
"Tapi, Kak, biasanya perempuan yang menggunakan implan payudara saja yang merasakan sakit."
Aku mengabaikannya karena terlalu jengah.
Aku tidak menyangka dia akan memperkeruh suasana. "Sungguh, Kak. Kamu sudah melakukan operasi di seluruh tubuhmu, kamu pasti sudah mengeluarkan biaya yang nggak sedikit, 'kan?"
"Berapa banyak yang kamu habiskan untuk membuat tubuhmu bisa membuat suamimu tertarik?"
Aku sangat marah dan menepis tangannya, lalu bertanya, "Apa maksudmu?"
Mendengar itu, Dirga bergegas masuk dan menanyakan apa yang sedang terjadi.
Tiara langsung merengek, "Nggak apa-apa, kok. Aku cuma mau bilang kalau Kakak sangat beruntung."
"Nggak cuma tampan, suaminya juga kaya raya."
"Kakak bertanggung jawab untuk tampil cantik sempurna. Bagaimanapun, ada laki-laki yang akan memberimu uang."
"Nggak seperti aku. Aku harus mencari uang sendiri untuk menghidupi diriku sendiri."
Aku kemudian sadar, ternyata Tiara cemburu dengan suamiku yang tampan dan kaya.
Aku merasa agak konyol.
Aku tidak bergantung pada seorang pria untuk menghidupi ku. Uang keluargaku tidak akan habis dalam dua kali keturunan.
Orang tuaku sudah pensiun dan menyerahkan perusahaan ke tanganku. Mereka berdua menanam bunga dan tanaman untuk menghabiskan waktu luang agar tidak bosan.
Jadi, karena itulah mereka berpakaian santai.
Aku menyembunyikan identitasku dan mempekerjakan Dirga sebagai manajer profesional untuk membantuku mengelola bisnis.
Jadi, Dirga tidak pernah tahu keadaan keluarga kami yang sebenarnya.
Namun, hal ini juga tidak bisa menjadikan alasan bagi Tiara untuk menilaiku secara terang-terangan atau di dalam hatinya.
Dirasa tidak ada yang salah, Dirga pun kembali ke luar untuk istirahat di sofa.
Aku terdiam sejenak, lalu berkata kepadanya, "Jangan bicara omong kosong seperti itu. Kalau kamu nggak mau melayaniku, ganti orang lain saja."
Tiara terdiam selama beberapa saat, lalu berkata, "Kak, maaf, aku akan lebih hati-hati mulai sekarang."
"Setelah pengecekan selesai, kamu bisa istirahat. Aku akan memijat asimu setengah jam lagi."
Setengah jam kemudian, Tiara berganti pakaian kerja. Tidak seperti baju lengan pendek dan celana panjang yang baru saja dia kenakan, kali ini dia mengenakan rompi tanpa lengan dan rok super pendek berwarna merah muda.
Lekukan tubuhnya di bagian dada cukup dalam, bahkan tubuhnya cukup berisi di bagian tertentu. Dia memiliki tubuh yang awet muda dan indah.
Melihat tatapan selidik dariku dan Dirga, Tiara berkata dengan malu-malu, "Kak, layanan kali ini cukup berat dan aku takut kepanasan. Jadi, aku ganti baju biar nggak panas. Kamu nggak keberatan, 'kan?"
Jelas-jelas ada AC di ruangan ini. Apa dia masih perlu pakai pakaian seminim itu biar tidak panas?
Namun, begitu aku berpikir bahwa itu adalah pakaian kerja, aku menghilangkan keraguanku dan menganggukkan kepala agar dia memulai tindakan.
Keterampilan Tiara sangat bagus, rasa sakit di payudaraku yang awalnya begitu tak tertahankan karena payudara yang tersumbat, perlahan-lahan berkurang di bawah perawatan pijatannya.
Namun, perlahan aku merasa ada yang tidak beres.
Payudaraku menjadi lebih sakit dari sebelumnya, nyeri dan bengkak. Rasanya sangat menyakitkan sampai aku tidak tahan.
Aku langsung minta berhenti.
Dirga mendengar teriakan kesakitanku dan langsung berlari masuk ke dalam.
Ketika melihat Dirga, Tiara menggigit bibirnya dengan gemas dan berkata, "Kak, aku sudah bilang kalau pakai implan payudara pasti bakal sakit."
Aku menatap payudaraku yang semula putih, sekarang menjadi merah dan bengkak.
"Tapi aku serius. Kamu melakukan implan payudara, jadi nggak dianjurkan untuk menyusui anakmu. Bagaimanapun juga, implan di dalam payudaramu akan mempengaruhi asi mu, itu nggak baik buat anakmu."
Aku tidak tahan lagi dan melambaikan tangan, "Aku nggak pernah melakukan operasi plastik dan kenapa kamu terus-terusan mengatakan kalau aku melakukan implan payudara?"
"Kalau kamu nggak menguasai tekniknya, ganti yang lain saja. Aku nggak butuh layananmu."
"Kalau kamu memfitnahku lagi, aku nggak keberatan menjebloskanmu ke kantor polisi."
Aku sangat marah dan suaraku yang meninggi menarik perhatian orang di sekitar.
Anda Mungkin Juga Suka





