
Terapis Pembawa Petaka
Bab 3
Tiara menjatuhkan diri ke lantai, terlihat sangat menyedihkan. "Kak, aku bicara jujur. Mereka yang melakukan implan payudara ...."
Aku sangat marah, sampai sekarang pun dia masih bicara omong kosong.
Aku mengangkat tangan dan menunjuk hidung Tiara, siap untuk memarahinya.
Dirga menghampiri dan memelukku, mencoba menenangkanku, "Sayang, tenanglah."
"Kenapa kamu marah-marah sama terapis? Sudah, jangan marah-marah."
Aku menjadi tenang setelah dipeluk dan ditenangkan Dirga.
Aku memelototi Tiara yang terduduk di lantai. Aku memutuskan untuk mengatakan pada Intan bahwa terapis pasca persalinan yang dia pekerjakan ini memiliki masalah karakter.
Ketika Tiara melihatku mulai tenang, dia kembali berdiri dan mengatakan akan mengerjakan layanan selanjutnya.
Aku langsung melambaikan tangan dan menolak, "Nggak, aku mau ganti orang."
Mendengar aku ingin ganti orang, Tiara sedikit cemas. "Kak, jangan. Kalau kamu minta ganti, bonusku bulan ini akan hangus."
"Tolong kasihani aku."
Aku tetap bersikeras untuk ganti orang.
Tiara mengalihkan perhatiannya ke Dirga.
"Kak, tolong bantu aku membujuknya. Aku sudah kesusahan karena harus cari uang sendiri. Aku nggak ingin bonusku juga hangus."
Tiara menangkupkan tangannya dengan air mata berlinang, mencoba meminta bantuan Dirga.
Tangannya menangkup seperti itu, membuat garis dada yang sudah dalam jadi makin dalam.
Dirga mengalihkan pandangannya, berjalan mendekat lalu memelukku, "Valeri sayang, bagaimana kalau kita beri dia kesempatan lagi?"
"Aku merasa kasihan padanya."
Aku langsung menolak.
Raut wajah Dirga langsung berubah tidak mengenakkan.
Untuk mencairkan suasana, aku mengubah topik pembicaraan, "Anak kita belum diberi nama, lebih baik pikirkan nama untuknya."
Dirga langsung tertarik. "Ya, ini anak pertama kita, jadi aku harus memikirkannya baik-baik."
Tiara yang sudah berjalan sampai pintu tiba-tiba berbalik. Dia melihat kami, lalu berseru, "Eh, Kak, bukannya kamu sudah pernah melahirkan sebelum ini?"
Setelah mengatakan itu, Tiara langsung menutup mulutnya, seolah-olah dia mengatakannya secara tidak sengaja.
Matanya yang berair bergerak sedikit kikuk.
Seolah-olah dia sedang berusaha keras memikirkan cara untuk memperbaiki situasi.
Orang yang sebelumnya berkumpul di sekitar pintu pun mendekat, takut melewatkan gosip panas dan menggemparkan.
Dirga juga menatapku dengan bingung. Valeri, apa-apaan ini?"
Aku menatap Dirga dengan kecewa. Dirga, kamu nggak percaya padaku?”
Dirga mengerucutkan bibirnya dan memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapanku.
Aku tertawa jengkel.
Aku merapikan pakaianku dan berjalan ke pintu, menoleh ke arah Tiara. "Barusan kamu bilang apa? Katakan lagi?”
Tiara tersentak ke belakang Dirga seperti terkejut.
Aku mendorong Dirga menjauh dan meraih tangan Tiara, memaksanya untuk berhadapan denganku.
"Kapan dan di mana aku pernah melahirkan?"
Tiara menjawab tergagap, "Dua tahun yang lalu di ...."
"Di ... di Rumah Sakit Angel."
"Aku sedang melakukan pemulihan pasca bersalin dan bertemu denganmu di ruang bersalin. Kamu sedang menggendong bayimu."
Melihat alis Dirga berkerut, Tiara tampak sangat bersemangat.
Dia melanjutkan dengan lantang, "Melihat data hasil pengujian otot dasar panggul, aku tahu kalau kamu pernah melahirkan lebih dari satu kali."
"Kamu melakukan operasi plastik di sekujur tubuhmu dan sekilas bisa diketahui kalau kamu bukan wanita normal. Mungkin sebelumnya kamu bekerja sebagai wanita simpanan, punya pemikiran menggunakan anakmu untuk menaikkan statusmu."
"Kak Dirga, jangan tertipu olehnya."
"Monster plastik seperti dia nggak pantas untukmu."
"Kamu kaya dan tampan, kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik untuk mendampingimu."
Orang yang berkumpul di sekitar mulai berbisik-bisik, banyak dari mereka yang menatapku dengan ekspresi jijik.
Beberapa bahkan sudah membuka mulut untuk mengutukku, "Wanita simpanan yang nggak tahu malu!"
"Wanita simpanan kenapa nggak mati saja?"
"Aku ingin menghajar wanita simpanan!"
Anda Mungkin Juga Suka





