
Terapi Khusus Untuk Kelainan Terlarang
Bab 2
Sepasang mata itu seakan terus menatapku, tanpa emosi dan tanpa kehangatan.
Otakku sudah sepenuhnya dikuasai.
Seluruh sel perasa dalam tubuhku seolah terkumpul di bagian bawah perut.
“Sayang… sayang… tolong bantu aku. Kumohon… bantu aku….”
Mungkin karena tatapan asing itu, emosiku malah semakin memuncak.
Aku terus meminta bantuan suamiku, tapi pandanganku tetap tertuju pada sepasang mata asing di balik jendela mobil seberang.
“Sialan, bisa nggak tahan dirimu?”
Suamiku mengumpat, lalu dengan kesal membunyikan klakson. Tapi, jalanan di depan sudah benar-benar macet total, sama sekali tak bisa bergerak.
Dengan kesal, suamiku mengambil tongkat peri itu dan langsung menusuknya ke dalam!
“Aaa!”
Seketika, rasa sakit dan rangsangan yang tiba-tiba membuatku menjerit tanpa sadar, tubuhku menegang seperti udang yang melengkung!
Punggungku menegang dan jari-jariku ikut mengerut.
Aku pun tak bisa menahan diri dan mengeluarkan teriakan nyaring!
Aku benar-benar sudah tak peduli lagi, padahal ini masih di jalan raya dan bahkan ada orang yang sedang melihat ke arahku!
Di detik itu juga, hati kecilku berharap orang itu turun dari mobil dan mendekatiku!
Lalu membuka pintu mobilku, menggendongku keluar dan mempermainkanku di depan semua orang!
Sedikit lagi, aku mau lagi!
Tubuhku mulai gemetar tanpa sadar karena terlalu bersemangat.
Dengan tatapan pria itu, jari-jari kakiku menegang dan aliran air menyembur keluar.
Tubuhku terus bergetar tanpa kendali, pikiranku juga kosong. Bahkan sudut bibirku terasa sedikit basah, menyisakan jejak samar.
Suamiku pun mengumpat lagi, lalu dengan cuek melempar alat itu ke samping, sementara aku hanya bisa terengah-engah mencoba mengatur napas.
Setelah cukup lama, barulah aku bisa menenangkan diri. Kakiku terasa lemas dan dengan tangan yang masih gemetar, aku mengambil tisu untuk menyeka kaca depan yang basah.
Tepat saat itu, mobil di depan pun mulai bergerak.
Dengan wajah muram, suamiku langsung menginjak pedal gas dan melajukan mobil. Sementara aku reflek menoleh ke samping.
Namun, sepasang mata itu sudah tak terlihat lagi.
Entah kenapa, hatiku terasa sedikit kosong.
Sesampainya di klinik, suamiku memarkir mobil dan aku pun turun.
Mungkin karena kelegaan tadi, kakiku masih terasa lemas. Ditambah lagi aku memakai sepatu hak tinggi kerja hari ini, jadi langkahku agak tidak stabil.
Begitu masuk ke dalam, aku baru sadar bahwa klinik ini cukup bagus. Setidaknya tampak sangat menjaga privasi.
Namun, yang tak kusangka ternyata ini adalah klinik psikolog?
“Sayang, bukannya kamu bilang mau ajak aku ke dokter? Kok… malah ke sini?”
Tanyaku agak bingung.
“Temanku ini dokter psikolog. Aku sudah ceritakan soal kondisimu, katanya kebanyakan masalah seperti ini sumbernya dari masalah psikolog.”
Nada bicaranya jelas-jelas terdengar agak kesal dan muak.
“Kondisi sepertimu, masa iya harus dibawa ke rumah sakit? Kamu nggak malu? Aku sih malu!”
Nada suara suamiku penuh kekesalan. Aku sempat membuka mulut ingin menjawab, tapi akhirnya hanya diam. Hatiku terasa agak kecewa.
Aku juga tak mau terkena penyakit seperti ini, tapi….
Melihat suamiku sudah berjalan menjauh, aku buru-buru mengejarnya.
Suamiku membawaku ke lantai paling atas dan mengetuk sebuah pintu.
“Silakan masuk.”
Terdengar suara berat dan hangat dari dalam ruangan, entah kenapa membuatku sedikit tenang.
Suamiku mendorong pintu dan masuk. Saat melihat orang di dalam, nada bicaranya pun berubah lebih ramah,
“Lama tak bertemu, bro.”
Orang di dalam ruangan pun tersenyum dan menjawab,
“Nathan, lama tak bertemu.”
Aku reflek mengangkat kepala untuk melihat orang di depan dan tanganku langsung mengepal.
Pria itu mengenakan jas putih dokter dan berdiri di depan meja kerjanya.
Rambutnya tersisir rapi, penampilannya seperti seorang pria paruh baya yang tampan dan berwibawa.
Namun, tatapan matanya malah membuat tubuhku bergetar.
Dia?!
Dia adalah pria yang melihat aku melakukan hal memalukan di jalan tadi!
Anda Mungkin Juga Suka





