APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tante, mau kan jadi Mamaku?

Tante, mau kan jadi Mamaku?

Kehidupan tenang Intan, seorang mahasiswi, terusik sejak Mahardika menjadi tetangga barunya. Meski duda tersebut sangat tampan, ulah nakal putrinya yang bernama Bella justru kerap membuat Intan naik darah. Bella sangat terobsesi menjadikan Intan sebagai ibu tirinya, tetapi Intan bersikeras menolak demi kedamaiannya. Saking nekatnya, Bella bahkan menghasut sang ayah memakai pelet agar rencana itu berhasil. Sanggupkah Intan bertahan menolak tawaran konyol ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

*Happy Reading*

“Tanteee …!”

Bruk

“Akh!”

Hahahahahahaha ....

“Bellaaa …!”

Tawa Bella pun semakin membahana penuh kemenangan, mendengar kekesalanku pagi itu.

Dasar anak kutil! Masih pagi udah ngerecokin orang aja!

“Awas kamu, Bel! Sini Tante cubit ginjalmu!” marahku seraya bangkit dari lantai dan mengejar anak sialan itu.

Ya … gimana nggak menyebalkan kalau pagi-pagi begini, anak itu seenaknya datang ke kamarku dan berteriak di kuping dengan keras. Aku bahkan harus  melompat dari atas tempat tidur saking kagetnya, kemudian nyungsep di lantai dengan mengenaskan.

Nah, gimana aku nggak murka, coba? Orang lagi enak-enak tidur, dirusuhin bocah gendeng itu.

“Bella sini kamu! Cepat sini!” seruku di sela langkah, sambil terus mengejar bocah kutil yang masih berlari sambil tertawa penuh kemenangan.

Emang bocah nggak ada akhlak!

“Bella!”

“Tante payah! Masa kejar Bella aja nggak bisa? Huh ... dasar, Tante Babon!”

Bajirut! Malah dia ngatain aku sekarang!

Wah. Ini, sih, nggak bisa dibiarin! Awas aja kalau ketangkap! Bakalan gue pites nih kutu satu.

Aku pun mempercepat langkah kakiku tanpa melihat kanan dan kiri lagi. Berusaha lebih keras mengejar bocah itu. Namun, saat aku hampir menangkapnya, bocah itu malah berbelok begitu saja ke arah dapur hingga aku ....

Kerompyang!

... Menabrak Mama tanpa sengaja, yang sedang membawa tepung di baskom untuk bahan kue.

Alhasil, kini wajahku pun putih semua penuh tepung itu.

“Mamaaa …!” teriakku yang nyaris menangis saking kesalnya.

Mama menutup kupingnya dengan dramatis, seolah suaraku ini bisa menghancurkan seluruh isi dunia. Sementara bocah sialan yang jadi penyebab semua kekacauan ini, malah terbahak kian kencang di balik tubuh Mama.

“Astaga, Intan!? Kebiasaan, sih? Masih pagi udah teriak-teriak aja. Malu sama … loh, Tan. Mukamu kenapa? Abis mandi bedak? Apa abis ketumpahan cat tembok?” Papa yang tiba-tiba muncul dari ruang TV pun langsung menghentikan omelannya, saat melihat tampilanku yang putih semua.

Sementara di belakang Papa. Pak Dika merapatkan bibirnya, yang aku tau pasti sedang menahan tawanya melihat tampilanku yang hancur saat ini.

Sialan memang!

Padahal aku jadi begini juga karena anaknya yang buandel banget! Bukannya minta maaf, pria itu malah ingin menertawaiku.

Dasar duda sialan!

“Ini semua gara-gara bocah rese itu, Pah! Dia ngerecokin tidur Intan tadi. Bikin Intan jatuh dari tempat tidur! Makanya Intan kejar, mau dicubit tadinya biar kapok. Eh, malah dimandiin tepung sama Mama,” aduku tanpa menutupi apapun di hadapan kedua orang tuaku dan Bapaknya Bella yang ... sialannya pagi-pagi udah cakep aja. Bikin aku hampir gagal fokus!

Papa dan Mama pun hanya menggeleng tak habis pikir, “Kamu, nih. Anak kecil aja dilawan.”

Eh? Kok, malah jadi aku yang disalahin? Tadi ‘kan yang bikin rusuh si boneka Annabell. Kenapa malah aku yang diomelin?

“Ish, Papa! Ini tuh gara-gara bocah setan itu yang rese!”

“Intan!” tegur Mama nggak suka dengan ucapanku.

“Apa? Emang bener kok, tuh bocah emang sialan banget. Jahilnya naudzubillah!” tukasku sengit, karena terlalu kesal dengan kelakuan si bocah.

“Tapi nggak gitu juga negornya, Intan,” bantah Mama tak setuju.

“Ya, terus? Intan harus gimana? Anaknya udah nggak bisa dibaikin gitu. Semakin lama malah semakin ngelunjak,” balasku tak mau mengalah.

“Tap—”

“Saya minta maaf.”

Eh?

“Saya belum bisa mendidik anak saya untuk jadi anak manis seperti yang lainnya karna keterbatasan waktu. Saya memang belum bisa mendidiknya dengan baik. Saya minta maaf ya, Intan. Semoga kamu mau memaafkan saya.”

Suasana pagi itu pun langsung hening, saat Pak Dika mengintrupsi Mama begitu saja dengan permintaan maafnya. Membuat aku merasa linglung seketika. Semua karena aku ini sebenarnya lumayan sungkan pada pria tersebut. Dia sangat pendiam dan jarang terlihat berinteraksi dengan orang lain.

Aku saja lumayan bisa dihitung dengan jari melihat pria ini selama jadi tetangga. Apalagi dengar suaranya, yang selama ini hanya terdengar kala menegur anaknya doang. Itu pun selalu cuma dua kata saja, “Bella, masuk!”

Hanya itu, selebihnya pria ini memang minim kata dan interaksi. Jelas saja saat akhirnya dia bicara sepanjang itu, bisa apa aku selain terpesona. Pak Mahardika dalam mode banyak omong ternyata lumayan bersahaja.

Terasa lebih anehnya lagi, ketika mendengar suaranya tadi, emosiku pun menyurut begitu saja. Hilang tak tau ke mana, berganti dengan degupan jantung cepat yang kurang ajar.

Jantung nggak ada akhlak!

“Bella, minta maaf sama Tante,” titah Pak Dika kemudian melirik anaknya.

Tidak keras memang, hanya suaranya penuh ketegasan, membuat Bella cemberut, tetapi bocah setan itu tetap maju menghadapiku.

“Bella minta maaf, Tante,” lirihnya sambil menunduk.

Kalau sudah seperti ini, bisa apa aku selain memaafkan?

“Iya, Tante maafin. Jangan diulangi lagi ya?” balasku sekenanya.

“Iya. Tapi ... Bella boleh ngomong sesuatu nggak sama Tante nggak?” jawabnya bertanya.

“Apa?” kepoku.

“Tante nggak pakai BH ya? Pentilnya keliatan, tuh!”

Dasar, Anak setan!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bagaikan Debu Bertemu Mercusuar
8.2
Pernikahan Velia dan Chris Dirja yang baru berjalan dua tahun diuji oleh sikap kejam sang suami. Chris sengaja membawa perempuan lain ke rumah mereka demi menyiksa perasaan Velia. Dia bahkan menantang istrinya untuk mencoba menjalin hubungan dengan pemuda lain yang lebih berenergi. Namun, permainan mental ini menjadi bumerang ketika Velia benar-benar membuka hatinya untuk pria lain. Saat Chris menyadari luka cakaran baru di pinggang pemuda selingkuhan Velia, kemarahan dan kecemburuannya pun meledak.
Sampul Novel JEJAK CINTA DI SISIKU
9.2
Anindita kebingungan mencari Zack, kekasihnya yang lenyap secara misterius. Saat mencari, ia bertemu Dirgantara, sosok pelindung yang masih berduka atas kematian tragis istrinya. Ketika Anindita mulai jatuh hati pada Dirgantara, Zack mendadak kembali membawa rahasia besar. Takdir pun perlahan membongkar hubungan kelam masa lalu Zack, Dirgantara, dan mendiang istrinya. Siapakah yang akhirnya akan dipilih oleh Anindita?
Sampul Novel Kubalas Selingkuh Suamiku dengan Indah
9.2
Zivanna Yahya memberikan seluruh kasih sayangnya kepada Rio Wibisono. Sayangnya, Rio malah memperingatkannya agar tidak terlalu mencintai demi mencegah rasa sakit hati. Saat situasi mendingin, hadirlah Gregory Abel yang mengabaikan norma moral. Baginya, merebut hati perempuan yang telah dimiliki pria lain merupakan dosa terindah, dan ia berambisi merebut Zivanna. Hubungan mereka pun kini terjerat dalam pusaran dusta serta obsesi berbahaya.
Sampul Novel Permainan Cinta: Topeng-Topeng Kekasih
9.0
Keputusan Raivan Bertolius melamar gadis desa misterius memicu kehebohan. Di balik kesederhanaannya, sang tunangan ternyata desainer tersohor sekaligus pewaris takhta triliunan dari orang terkaya di dunia. Pengungkapan identitas ini mengejutkan kalangan elit yang meragukan cinta mereka. Namun, Raivan tetap teguh mengumumkan rencana pernikahan. Apa alasan gadis itu menyamar, dan rahasia apa yang membuat Raivan begitu terpikat padanya?
Sampul Novel Ranjang Panas Tuan Lucas
8.9
Flora terkejut saat Lucas, pemilik Blackwood yang dingin, menagih utang besar mendiang orang tuanya secara mendadak. Meski baru bertemu di sebuah pesta, pria yang terpaut lima belas tahun lebih tua itu tak memberi celah untuk bernegosiasi. Flora yang hanya staf magang kini terjepit dalam kontrak gelap yang mengikatnya. Tanpa uang untuk melunasi kewajiban tersebut, Lucas memaksa Flora menyerahkan kehormatannya malam ini juga sebagai bentuk pembayaran mutlak.
Sampul Novel Ritual Birahi Digunung Keramat
8.5
Di puncak Gunung Keramat, Ujang terdiam saat Mbak Wati merapalkan mantra terakhir. Jantungnya berdegup kencang ketika tubuhnya direbahkan secara paksa. Inilah saat yang dinanti: sebuah upacara gaib yang menjadikan keperjakaannya sebagai persembahan. Tanpa ragu, ia rela mengorbankan kesuciannya demi imbalan kepuasan duniawi. Sambil tersenyum penuh damba, Mbak Wati merayap di atas tubuh Ujang yang kaku, memulai ritual penuh gairah dan misteri.