APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tangisan Terakhir Seorang Istri

Tangisan Terakhir Seorang Istri

Marcell Wijaya, detektif ternama, tega mengusir istrinya yang sedang hamil di jalan gelap karena menolak mendonorkan ginjal untuk Emilia Nessi, cinta pertamanya. Sang istri kemudian diculik oleh penjahat dendam yang memotong lidah korban. Saat penculik menelepon, Marcell mengabaikannya demi menemani pemeriksaan Emilia. Tragisnya, saat menemukan jasad wanita hamil yang dimutilasi di TKP, detektif itu tidak menyadari bahwa korban sadis tersebut adalah istrinya sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 2

Setelah rapat di kantor polisi, wajah para petugas menegang saat mendengar laporan otopsi.

“Korban mengalami penyiksaan ekstensif sebelum mati,” jelas ahli medis sambil mengeklik foto-foto mengerikan di layar. “Banyak tulang yang patah, tanda pelecehan sistematis.”

Karena kondisi tubuh aku yang begitu parah, membuat pengenalan wajah mustahil dilakukan.

Bangunan terlantar tempat aku ditemukan pun bukanlah lokasi pembunuhan utama, makanya penyelidikan menjadi semakin rumit.

Marcell berdiri di depan ruangan, rahangnya mengeras.

“Periksa seluruh area,” perintahnya kepada tim. “Cek semua kamera CCTV dalam radius lima mil. Pasti ada yang melihat sesuatu.”

“Tolong lakukan otopsi lanjutan,” kata Marcell kepada rekannya. “Cari temuan baru, dan percepat analisis DNA ke laboratorium. Aku ingin tahu siapa dia.”

Dengan instruksi itu, dia bergegas keluar bersama timnya.

Ironisnya, suamiku menunjukkan lebih banyak kepedulian pada mayat anonim ini dibandingkan pada diriku.

Aku teringat bulan lalu, saat memberinya kalung warisan ayahku, satu-satunya peninggalan keluarga yang aku miliki.

“Ini melindungi ayahku selama tiga puluh tahun,” kataku kepada Marcell sambil mengalungkannya di leher dia. “Sekarang, kalung ini akan melindungimu.”

Saat itu, dia benar-benar tersenyum. Salah satu senyuman aslinya yang jarang terlihat. Sejenak, aku merasa berhasil menembus tembok hatinya.

Namun keesokan harinya, Emilia datang ke rumah.

“Oh, benda tua itu?” sindirnya sambil menyentuh liontin. “Terlihat murahan sekali, Marcell. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik.”

Sebelum sempat aku menghentikannya, Emilia mencabut kalung itu dari leher Marcell dan melemparkannya ke tong sampah dapur.

Aku menamparnya dengan keras. Suara benturan telapak tangan di pipinya menggema di dapur kami.

Reaksi Marcell cepat dan kejam. Dia mencengkeram lengan aku, dan memutarnya ke belakang.

“Kamu berani menyentuh Emilia?” teriaknya dengan wajah memerah penuh amarah. “Kamu seharusnya bersyukur dia mau bicara denganmu, jalang tidak berguna!”

Dia menyeret aku ke ruang bawah tanah, melemparkan tubuhku turun dari tangga, lalu mengunci pintu.

Selama dua hari aku duduk dalam kegelapan. Tanpa makanan, tanpa air, hanya suara tawa Emilia yang terdengar dari atas.

Kini, saat dia memeriksa tubuhku dengan sentuhan lembut, aku dengar dia berkata, “Kematian yang tragis. Hati suaminya pasti hancur.”

Aku tersenyum pahit. Suamiku mungkin malah merayakan kematianku, atau sekadar berpura-pura berduka demi citra.

Tangan Marcell yang bersarung tangan memeriksa bekas luka panjang di punggungku, dua puluh tiga inci jaringan kasar dari bahu hingga pinggul.

Bekas luka itu kudapatkan saat menyelamatkan nyawanya dalam kecelakaan mobil dua tahun lalu.

Kami sedang mengemudi pulang dari pesta makan malam ketika sebuah truk menerobos lampu merah. Aku melihatnya sebelum Marcell.

Tanpa berpikir, aku melepas sabuk pengaman, mendorongnya keluar dari kursi pengemudi, dan menahan benturan itu sendiri.

Namun setelah aku sembuh, dia nyaris tak sanggup menatapku saat tidur denganku, menganggap bekas luka itu menjijikkan. “Kamu tidak bisa pakai baju?” serunya. “Aku tidak mau melihat benda itu.”

Bisakah dia mengenaliku sekarang, setelah melalui bekas luka yang dia begitu benci?

Aku menahan napas, mengamati wajahnya penuh dengan perhatian.

Namun yang keluar hanyalah gumam dingin, “Luka lama. Tidak ada hubungannya dengan pembunuhan.”

Suaranya klinis, datar, hanya detail lain di berkas kasus.

Tiba-tiba, asistennya berseru, “Detektif, ada kertas di perut korban!”

Mata Marcell terbelalak saat mengambilnya. “Terlalu rusak oleh asam lambung. Kirim ke forensik untuk dianalisis.”

Saat itu, ponselnya berdering, suara dering khusus Emilia.

Marcell melepas sarung tangannya dan bergegas ke lorong, suaranya langsung melembut.

“Emilia? Ada apa, sayang? Aku sedang bekerja.”

“Perawatan besok? Tentu saja aku akan datang.”

Suara manis Emilia terdengar dari telepon, “Aku tahu kamu sibuk dengan kasus ini. Tidak masalah kalau kamu tak bisa datang. Dan tolong jangan paksa Alya untuk donor ginjal. Aku mengerti kalau dia tidak mau membantu.”

“Aku tidak akan pernah pentingkan kasus daripada kamu,” jawab Marcell dengan lembut. “Dan jangan khawatir soal Alya. Kalau perlu, aku akan mengikat dia dan menyeretnya ke rumah sakit. Dia tidak punya hak memilih apakah akan menyelamatkan kamu atau tidak.”

“Kamu terlalu baik,” ucap Emilia penuh keprihatinan yang palsu. “Aku dengar dia mengaku hamil? Kasihan sekali, dia pasti sangat butuh perhatian.”

“Alya tidak hamil,” sahut Marcell dengan tajam. “Dia hanya mencari alasan untuk tidak membantu. Tapi aku tidak akan membiarkannya lolos.”

Emilia hembus nafas lembut. “Tapi hati-hati ya? Pembunuh itu masih di luar sana. Aku khawatir akan keselamatan semua orang.”

“Khawatirkanlah dirimu sendiri, sayang. Aku tak peduli apa yang terjadi pada Alya, selama dia tidak mati sebelum memberi kamu ginjal itu.”

Kekejaman santainya menusuk hati arwahku.

Mereka membicarakan nasib aku dengan angkuh, tak pernah tahu bahwa jasadku berada hanya beberapa meter dari mereka. Tak pernah menyadari bahwa ginjal yang begitu Emilia inginkan kini sudah terlalu rusak untuk menyelamatkannya.

Kematian aku adalah hasil rencana Emilia, namun kebutaan hati suami aku yang membuatnya menjadi mungkin terjadi.

Seandainya dia tahu kebenaran bahwa wanita yang dia cintai telah merencanakan pembunuhan istrinya sendiri, dan dia bahkan sedang memeriksa tubuh istri sendiri...

Tapi bahkan jika dia tahu, apakah dia akan peduli? Atau dia hanya akan marah karena Emilia tidak bisa mendapatkan ginjal aku lagi?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Aku dan Cinta Pertamanya
9.2
Saat hamil sembilan bulan, seorang wanita disandera di atap gedung. Di kehidupan lalu, ia memohon suaminya yang merupakan kepala penyelamat untuk datang. Meski selamat, cinta pertama suaminya tewas terbakar, memicu dendam sang suami yang tega menusuknya dan bayi mereka hingga tewas saat melahirkan. Begitu terbangun kembali di hari penyanderaan maut tersebut, ia memilih tidak memohon bantuan lagi. Kali ini, ia membiarkan suaminya pergi menyelamatkan cinta pertamanya tanpa menahan mereka.
Sampul Novel Bermula Dari Casing Berminyak
9.4
Sebuah benda biasa membawa petaka dalam novel misteri Bermula Dari Casing Berminyak. Sang protagonis menyadari casing ponselnya selalu terasa berminyak secara aneh. Keluhan tersebut hanya dianggap angin lalu, hingga sang sahabat melontarkan gurauan mengerikan bahwa wadah ponsel itu terbuat dari kulit manusia. Ketakutan itu menjadi nyata saat malam tiba, ketika ia terbangun dan merasakan sensasi mengerikan seolah wajahnya sedang dikuliti secara perlahan disertai bisikan dingin yang menuntut kulitnya sendiri.
Sampul Novel Gunung Pengantin Ngunduh Mantu
8.8
Terlahir dari keluarga miskin yang dikutuk iblis, Bima tumbuh di dekat Gunung Pengantin yang angker. Akibat melanggar pantangan di sana, ia kehilangan Alif, sahabatnya yang diculik menjadi budak gaib. Beranjak dewasa, Bima berjuang mematahkan kutukan leluhur bermodalkan kekuatan khodam warisan. Meski misi mistis itu berhasil, ia harus membayar harga mahal. Orang tuanya tewas mengenaskan dalam ritual gaib, meninggalkan Bima sendirian dalam kepedihan mendalam.
Sampul Novel Kasih Sayang Yang Datang Terlambat
9.7
Sebuah hukuman kejam berujung maut. Akibat anak dari wanita idaman ayahnya pingsan karena dehidrasi, sang protagonis dituduh bersalah dan dikurung di dalam bagasi mobil yang gelap. Sang ayah yang murka mengabaikan tangisannya dan melarang siapa pun membebaskannya. Terjebak di garasi sunyi tanpa ada yang mendengar jeritannya, ia perlahan meregang nyawa. Ketika sang ayah akhirnya kembali setelah tujuh hari untuk melepaskannya, ia tidak menyadari bahwa putrinya telah tewas dalam kesendirian.
Sampul Novel Misteri Mata Air Kembar Yang Tak Pernah Kering
9.2
Mata air kembar di Kampung Serigi tak pernah kering dan menjadi penyelamat warga saat kemarau. Namun, di balik keajaiban pancuran bambu tersebut, tersimpan misteri kelam dan pantangan yang sangat ketat. Siapa pun yang berani melanggar aturan akan didatangi oleh entitas gaib penjaga tempat sakral itu. Kini, teror mistis terus membayangi penduduk lokal dan pendatang, mengubah ketenangan sumber air legendaris ini menjadi ancaman nyata yang mencekam.
Sampul Novel Pemburu Darah Perawan
9.7
Demi keluar dari kemiskinan, Japri menjalani ritual pesugihan di Karang Nini. Meski menjadi kaya raya, ia harus menumbalkan darah perawan setiap Selasa Legi. Kewajiban kelam ini kini diwariskan kepada putra tunggalnya, Indra, sesuai perjanjian gaib mereka. Terjebak dalam kutukan tersebut, Indra kini menghadapi situasi pelik saat ia hampir melanggar pantangan sakral yang dapat merenggut nyawa serta seluruh harta bendanya.