APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tak Lagi Berharap

Tak Lagi Berharap

Tragedi masa lalu saat berusia tujuh belas tahun merampas kemampuan wanita ini untuk memiliki keturunan akibat luka tusukan di rahimnya. Meski sang suami sempat berjanji untuk setia selamanya, janji itu runtuh di tahun kelima pernikahan mereka. Pria itu berkhianat dengan menjalin hubungan terlarang bersama wanita kejam yang dahulu menghancurkan fisik dan masa depannya. Kini, setelah memiliki anak dari perselingkuhan tersebut, sang suami justru menuntut perceraian demi memberikan status istri sah kepada selingkuhannya.
Bab
Bagikan

Bab 4

Setiba di kafe, aku melihat Rendra sedang menyuapi tar telur ke mulut Viona.

Saat Viona melihatku, dia tersenyum seolah menantang. "Citra, lihatlah Rendra yang keras kepala ini, dia terus mau menyuapku," kata Viona.

"Awalnya aku mau pergi menemuimu sendiri, tapi sejak hamil, aku sulit bergerak. Jadi Rendra memintamu yang datang," lanjut Viona.

Dia menambahkan lagi, "Ah, maaf ya, aku lupa kamu nggak pernah hamil, jadi mungkin kamu nggak tahu betapa sulitnya mengandung itu."

Aku yang dulu pasti akan marah saat mendengar kalimat seperti itu.

Namun, aku tidak lagi menghiraukannya sekarang.

Aku menoleh ke Rendra, lalu bertanya dengan datar, "Ada urusan apa?"

Rendra menyuapkan tar telur terakhir ke mulut Viona, lalu mengusap sudut bibirnya dengan lembut. Tatapannya penuh kasih sayang.

Namun, ketika menoleh padaku, tatapan itu langsung berubah dingin. "Citra, mari kita bercerai," ujar Rendra.

"Anak di kandungan Vio akan segera lahir. Sebagai ayah, aku nggak bisa membiarkan dia diejek oleh orang-orang," lanjut Rendra.

Dia mencibir, lalu menambahkan, "Lagi pula, kamu juga nggak bisa mengan …."

Saat mengatakan itu, Rendra mendadak meremas dahinya seolah ada sesuatu yang memasuki otaknya. Dia menarik napas dengan ekspresi kesakitan.

Dia menggeleng, lalu bertanya dengan ekspresi heran, "Nggak bisa mengandung? Kenapa aku berkata seperti itu?"

Melihat reaksinya, aku langsung tahu alasannya.

Setelah Rendra di usia tujuh belas menyelamatkanku, tubuhku menjadi tetap utuh dan kemampuan mengandungku pun pulih. Ingatan ini muncul juga di kepala Rendra di usia tiga puluh.

Namun, ekspresi Rendra segera kembali penuh tekad.

Dia mendongak, kembali menatapku dengan tatapan dingin dan asing.

"Citra, kamu nggak sebanding dengan Viona. Kita bercerai saja," ujar Rendra.

Aku mendengar dia menegaskan kalimat itu lagi.

Meskipun tanganku ini masih menggenggam cangkir kopi panas, hatiku terasa dingin.

Lihatlah, orang yang ingin pergi, tidak pernah kekurangan alasan.

Satu hilang, dia akan selalu punya yang lain.

"Baik. Kita akan bercerai, tapi aku ada satu syarat," ucapku.

Aku mendorong buku harian ke hadapannya, lalu menunduk dan berkata dengan suara rendah, "Kamu harus tulis 'Rendra nggak mencintai Citra' di sini dengan tanganmu sendiri."

Rendra melihat buku harian itu, lalu menatapku dengan sinis dan heran.

"Jadi kamu mau menahanku dengan cara ini?" tanya Rendra.

"Citra, apa kamu terlalu banyak menonton drama? Siapa yang nggak pernah buat janji manis waktu remaja? Semua janji itu Cuma omong kosong. Aku bilang itu cuma untuk membodohimu. Kamu benar-benar percaya? Konyol sekali," lanjut Rendra.

Aku tersenyum kecut. Aku mengetuk pelan buku harian itu dengan jari, lalu berkata, "Kalau begitu, tulis saja di atasnya."

Rendra terkejut.

Dia ragu sejenak, lalu mengangkat pena dan menulis empat kata: [Rendra nggak mencintai Citra.]

Setelah menulis, dia menatapku dengan kejam. "Kalau kamu belum puas, aku bisa menulisnya dua kali lagi," ucap Rendra.

Sebelum aku menjawab, dia menuliskan kalimat yang sama lagi.

Aku menatap buku harian itu, tidak ada yang muncul di sana.

Namun, aku tahu remaja di sana pasti bisa melihatnya.

Aku mengangkat pena, lalu menandatangani surat cerai yang sudah disiapkan dengan tanpa ragu.

Setelah itu, aku bangkit dan hendak pergi. Namun, Viona tiba-tiba menahanku, "Citra, tunggu. Aku mau bicara denganmu."

Viona pun meminta Rendra keluar membeli makanan dengan alasan bayi dalam kandungannya lapar.

Rendra mengangguk dengan lembut, lalu menatapku dengan tajam seolah ingin memperingatkanku, kemudian pergi.

Viona tiba-tiba merebut buku harian itu, membacanya, lalu mencibir, "Ini buku harian Rendra, ya? Kudengar dulu dia sering menulis betapa dia menyukaimu di sini. Sayang sekali ya …."

"Memangnya kenapa kalau dia dulu menyukaimu? Kalau dia menyukaimu selama ini, aku nggak mungkin ada di sini, 'kan?"

"Kamu tahu betapa tergila-gilanya dia padaku? Di setiap ulang tahunmu, setiap peringatan pernikahan kalian, dia selalu datang padaku setelah tidur bersamamu."

"Permintaannya banyak sekali, kami menghabiskan banyak kondom setiap kali berhubungan. Kakiku bahkan lemas keesokan harinya. Kami pernah berhubungan di Maybach-nya, di kantornya, bahkan di kamar kalian."

Aku hampir ingin memukul Viona.

Namun, sesaat kemudian, dia tiba-tiba berbaring ke lantai dan menjerit kesakitan.

Jeritannya sangat keras, membuat Rendra buru-buru berlari kemari. Melihat Viona terbaring di lantai, dia bertanya dengan cemas, "Ada apa ini? Apa yang terjadi?"

Viona pura-pura menangis sambil berkata, "Ini semua salahku, aku merebut posisi Citra sebagai istrimu, jadi dia nggak sengaja mendorongku."

"Rendra, jangan salahkan dia."

Rendra melotot padaku dengan mata merah.

Aku hendak menjelaskan, tetapi tangannya tiba-tiba mencekik leherku. Dia berkata dengan tatapan penuh benci, "Kalau aku tahu kamu sekejam ini, aku nggak akan menghadang pisau itu untukmu! Seharusnya kubiarkan kamu mati saat itu!"

Aku tersenyum kecut mendengarnya.

Rendra, lihatlah dirimu. Meskipun aku sudah bilang padamu, kamu tetap saja menyakitiku dengan hal yang sama. Kamu memang tidak pernah berubah.

"Rendra, kamu menjijikkan sekali," ucapku.

Buku harian di tanganku jatuh di hadapan Rendra.

Rendra di usia tiga puluh mengambilnya, lalu berteriak padaku dengan tatapan benci.

"Kamu pikir kamu bisa menahanku dengan buku ini?" tanya Rendra.

Dia melanjutkan, "Setiap kali kubaca tulisan di atasnya, aku selalu merasa jijik mengingat aku pernah mencintaimu!"

"Kembalikan buku itu padaku!" teriakku.

Rendra menghindari tanganku, lalu menarik buku harian itu.

"Kamu mau, ya?" tanya Rendra.

Mendengar teriakanku, Rendra langsung merobek-robek buku itu di hadapanku, kemudian melemparkannya ke udara. "Ini untukmu!" ucap Rendra.

Aku duduk di lantai, melihat halaman buku harian yang hancur dan jatuh seperti salju.

Aku tiba-tiba tertawa keras. Suara tawaku makin lama, makin keras.

Semuanya berakhir sekarang.

Kali ini, semuanya benar-benar berakhir.

Melihat aku tertawa, nadi di dahi Rendra menegang, amarahnya meledak. "Kamu hampir membuat Vio keguguran, dan kamu masih bisa tertawa? Dasar pelacur!" ucap Rendra.

Matanya memerah, muncul niat membunuh dalam tatapannya. Dia meraih pisau steik sapi di meja, lalu menghunuskannya ke arahku.

Namun, rasa sakit yang kutunggu tidak pernah datang.

Setetes demi setetes.

Aku merasakan ada cairan hangat yang menetes di wajahku, disertai bau amis yang menyengat.

Aku membuka mataku, melihat pisau itu ditahan oleh sebuah tangan.

Aku menyusuri tangan itu dan melihat Rendra di usia tujuh belas berdiri di hadapanku.

Perutnya masih dibalut perban, tetapi matanya memerah. Dia menatap Rendra di usia tiga puluh dengan tatapan marah, terkejut, dan kaget sampai akhirnya berubah menjadi putus asa.

Tangan kanannya menggenggam bilah pisau yang tajam dengan erat.

Darah segar mengalir dari telapak tangannya, menetes ke mataku, lalu menyebar menjadi bunga poppy yang mekar.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Cari "B68478" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B68478
Salin

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Adegan Panas Malam Pertama
8.7
Malam pengantin yang semestinya menjadi momen sakral bersama suami justru berakhir mengejutkan. Aku malah menghabiskan malam penuh gairah yang begitu intim dengan sosok pria perkasa lain yang misterius. Begitu pagi menjelang, kekacauan hidup yang rumit mulai menerpa diriku. Pengalaman tak terduga yang memabukkan itu seketika menjungkirbalikkan duniaku, membawa konsekuensi besar yang akan mengubah seluruh alur takdir masa depanku selamanya.
Sampul Novel En-PD163
8.4
Janna, seorang ilmuwan berbakat, jatuh cinta pada Kingsley di tempat riset mereka. Namun, pernikahan yang diraih dengan perjuangan ini hancur karena Kingsley terobsesi pada wanita lain hingga tega menyakiti Janna. Kecewa atas pengkhianatan tersebut, Janna memutuskan bercerai dan pergi. Saat Kingsley akhirnya sadar telah dimanfaatkan dan ingin kembali, Janna telah membuka lembaran baru bersama kekasih baru yang tulus mencintainya.
Sampul Novel Ipar adalah Maut Pernikahan
9.6
Dian terjebak dalam hubungan terlarang bersama Raihan, pria yang terkunci dalam pernikahan dingin. Walau terus dirongrong rasa bersalah pada suaminya, Galih, serta Laras yang merupakan sahabatnya, ia tak berdaya untuk lepas. Niat Dian untuk menjauh justru memicu obsesi Raihan yang makin menjadi. Keadaan kian genting saat Laras tiba-tiba mendatangi kamar Dian. Kini, rahasia kelam ini mengancam menghancurkan nama baik, persahabatan, dan seluruh masa depan Dian.
Sampul Novel Kasih Sayang Mendalam: Sayang, Kembalilah Padaku
8.7
Selama dua tahun, Nina menjalani pernikahan kontrak dengan suami misterius yang tak pernah ia temui. Suatu malam, sebuah kekeliruan fatal membuatnya salah masuk kamar dan menyerahkan kesucian kepada pria asing. Akibat pelanggaran ini, ia terancam denda besar dan memutuskan untuk meminta cerai. Namun, saat menyerahkan berkas perceraian, Nina syok mendapati bahwa suaminya ternyata adalah pria yang sama yang menghabiskan malam bersamanya.
Sampul Novel Mengejar Cinta Ustaz Tampan
9.7
Di usia kepala tiga, Dian yang tomboi dan ceplas-ceplos didera kecemasan karena belum juga melepas masa lajang. Sebuah saran tak biasa menuntunnya rajin ke masjid di waktu Subuh demi mencari pasangan. Tak disangka, ia malah jatuh hati pada Fajar Faizan, ustaz muda nan tampan yang juga seorang dosen. Demi memikatnya, Dian rela merombak drastis seluruh penampilannya. Akankah niat awal yang murni demi urusan dunia ini mampu bermuara pada kisah cinta yang tulus?
Sampul Novel my first love is paman
8.5
Pascatragedi berdarah yang menewaskan orang tuanya, Heira Attaya, siswi SMA dengan kepribadian ganda, kini tinggal bersama pria yang sangat ia cintai. Namun, hidupnya terguncang saat ia menemukan bukti bahwa sang pujaan hati terlibat dalam kematian keluarganya. Di tengah kenyataan pahit tersebut, sebuah peristiwa besar terjadi dan mengubah segalanya, hingga akhirnya Heira menghilang secara misterius tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.