
Tak Dianggap Oleh Suami dan Anakku
Bab 8
Saat Chloe sadar di rumah sakit, hari sudah menjelang pagi.
Dokter mengernyit sambil menjelaskan, "Lukamu sebelumnya saja belum sembuh, sekarang kamu malah kena dua tusukan lagi. Kalau bukan karena ada orang yang cepat membawamu ke sini, kamu sudah kehabisan darah dan mati. Lain kali kalau kondisi tubuhmu lemah, biarkan keluarga yang merawatmu, jangan nekat sendirian."
Dibawa orang? Padahal waktu itu Luther ada tepat di seberang jalan. Dia sedang apa?
Chloe teringat malam di bar itu, lalu tersenyum pahit sambil menggeleng. "Aku sudah nggak punya keluarga."
"Chloe, aku nggak ngerti kenapa kamu masih punya muka untuk terus menempel pada Luther." Entah sejak kapan Monica sudah berdiri di ambang pintu, melipat lengan di depan dada dengan sorot mata penuh kemenangan.
Dia melangkah masuk dengan santai sambil berkata, "Kemarin aku cuma pura-pura pingsan sebentar dan Luther langsung meninggalkanmu untuk mengantarku ke rumah sakit. Kalau aku jadi kamu, aku sudah cerai dari dulu."
"Kamu memang mengandalkan muka tembok seperti ini untuk bisa bertahan di sisinya selama ini ya? Chloe, aku sudah meremehkanmu. Nyawamu ternyata cukup keras."
Setiap kata penuh ejekan dan penghinaan. Dia mengira Chloe akan terpancing emosi, tetapi ternyata salah.
Sekarang, Chloe tidak punya amarah lagi. Menanggapi provokasi Monica, dia hanya berkata datar, "Kalau benar-benar pusing, istirahatlah yang cukup. Kalau mau pura-pura pingsan, setidaknya jangan sampai terbongkar. Kalau nggak, mimpi indahmu akan hancur."
"Kamu ...!" Monica baru hendak berbicara, tetapi terdengar suara langkah kaki mendekat dari luar. Dia cepat-cepat berjalan ke sisi ranjang, lalu sengaja menjatuhkan diri, "Chloe, aku cuma ingin menanyakan kondisimu. Kamu nggak perlu mendorongku, 'kan? Aku salah apa?"
Saat Luther dan Raiden tiba di ambang pintu, mereka mendengar kalimat itu. Luther langsung tak bisa menahan diri, bergegas masuk, memeluk Monica dengan lembut, lalu menatap Chloe dengan mata penuh amarah.
"Apa yang kamu lakukan! Kamu sudah bikin masalah di luar, sekarang mau menyalahkan Monica?"
Raiden berlari kecil ke sisi ranjang dan menghantam perut Chloe dengan tinjunya. "Dasar jahat!"
Serangan itu tepat di luka bekas tusukan. Nyeri menusuk membuat darah merembes cepat dari balik selimut. Tubuh Chloe bergetar hebat, tangannya gemetar saat menekan tombol panggil perawat.
Luther terpaku, sekelebat rasa menyesal muncul di wajahnya. Perawat datang tergesa-gesa, membalut ulang lukanya, lalu menatap Luther dengan nada menahan emosi. "Kamu ayah anak ini, masa nggak tahu cara mendidik? Memukul luka bisa bikin perdarahan hebat. Kalau pasien meninggal, kamu sanggup tanggung jawab?"
Bibir Luther bergerak, tetapi tak ada kata yang keluar. Monica langsung tampil sebagai penengah, tersenyum manis. "Anak kecil nggak tahu apa-apa, jangan dimarahi."
Raiden merasa mendapat perlindungan, jadi bersembunyi di belakang Monica.
Mata perawat menyipit. Dia mengenali sosok di depannya. "Kamu pelakor itu, 'kan? Dari awal diperiksa, kamu baik-baik saja. Pura-pura pingsan pun ada batasnya, jangan anggap semua orang bodoh."
Kalimat yang seharusnya tidak pantas diucapkan petugas medis akhirnya meluncur karena tak tahan lagi. Wajah Monica seketika pucat, sementara Luther menatapnya dengan pandangan heran.
Dalam kepanikannya, Monica menuding balik, "Chloe, meskipun kamu benci aku, jangan provokasi tenaga medis untuk bicara ngawur."
Dia berkata sambil menarik napas dalam-dalam, menampilkan wajah paling menyedihkan.
Detik berikutnya, Luther langsung memihak Monica, menatap Chloe dengan dingin. "Kamu benar-benar membuatku kecewa. Minta maaf pada Monica."
Chloe yang baru saja lolos dari maut setelah ditusuk dua kali, yang hampir mati karena suami tak segera menolong, sekarang harus meminta maaf kepada pelakor yang tidak terluka sedikit pun. Betapa ironisnya.
Dia menggigit bibirnya, memejamkan mata. Sikapnya sangat jelas.
Luther menambahkan dengan tegas, "Kalau kamu nggak minta maaf, jangan harap aku akan menjengukmu lagi."
Setelah itu, dia benar-benar pergi. Dia pun menepati ucapannya. Setengah bulan penuh, dia tak pernah muncul. Sementara itu, Monica rajin mengirim foto-foto manis mereka bertiga, memamerkan keluarga bahagia.
Chloe bahkan malas membukanya, semua disimpan dalam satu folder. Hingga hari perjanjian cerai sah berlaku, Chloe bersikeras keluar dari rumah sakit, pulang untuk membereskan sisa barang. Dia memesan tiket, mengatur email berisi foto serta video perselingkuhan dalam jadwal pengiriman otomatis.
Sebelum pergi, dia meletakkan surat perjanjian cerai di tempat paling mencolok di rumah.
Selamat tinggal rumah yang membuatnya sesak. Selamat tinggal ayah dan anak yang memberinya luka begitu dalam. Mereka tak akan pernah bertemu lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





