
Tak Ada yang Kedua
Bab 3
Namun, di detik berikutnya...
Anto dengan tenang mengalihkan pandangannya. Dengan senyum di sudut bibir, dia menggandeng tangan Vior dan berjalan menuju panggung, seolah-olah aku tak pernah ada di sana.
Aku mencibir, sudut bibirku melengkung dengan sinis.
Seorang wartawan yang berdiri paling dekat denganku, mungkin masih seorang magang, ia dengan ragu-ragu mengulurkan mikrofon dan bertanya,
“Nona Elsa, apakah benar Anda sudah bercerai dengan Pak Anto?”
“Ya.” Aku tersenyum dan mengangguk.
Wartawan itu mendorong kacamatanya ke atas, lalu melanjutkan, “Tapi Anda dan Pak Anto sudah saling mengenal sejak SMA, berpacaran selama tujuh tahun, menikah selama lima tahun...”
“Bahkan bulan lalu, Pak Anto menghabiskan banyak uang untuk membeli sebuah pulau dan menamainya sesuai dengan nama Anda.”
Aku tetap tersenyum, hanya saja senyum itu tak sampai ke mataku.
“Itu hanya sesuatu yang dia hutangkan padaku.”
Demi merawat Vior yang sakit, dia melewatkan ulang tahunku dan menggantinya dengan hadiah ini.
Di kehidupan sebelumnya, aku masih merasa senang karena hal itu. Tapi belakangan aku baru tahu, ide ini berasal dari Josua, pulau itu dipilih oleh asisten Anto, dan dia sendiri bahkan tak tahu pulau itu berada di mana.
“Lalu, apakah Anda masih mencintai Pak Anto?”
Wartawan itu menatapku dengan gugup, sementara para jurnalis di sekitarku mendadak terdiam, menunggu jawabanku.
Bahkan Anto yang berdiri di atas panggung juga menoleh ke arahku, alisnya sedikit berkerut.
Aku hanya menatapnya dengan tenang, kemudian mengangkat sudut bibir dan berkata dengan jelas.
“Tidak lagi.”
Wawancara itu tidak kutunggu sampai selesai. Setelah Anto mengklarifikasi bahwa pernikahan kami sebenarnya sudah lama hancur sejak setahun yang lalu, aku pun meninggalkan tempat itu.
Dalam semalam, aku menjadi ‘barang bekas’ yang tak diinginkan oleh Anto.
Sedangkan Vior? Dia justru berubah menjadi satu-satunya korban tak bersalah dalam pusaran opini publik ini.
Wawancara hari itu bertengger di puncak trending media sosial selama beberapa hari, dengan topiknya terus-menerus diperdebatkan.
Terutama kalimat yang diucapkan Anto.
“Aku dan Elsa memang sudah berniat bercerai sejak setahun yang lalu, hanya saja belum menemukan waktu yang tepat.
Awalnya kami ingin menyelesaikannya dengan tenang, tetapi sekarang, ada orang yang tidak bersalah ikut terseret, jadi kami harus mengklarifikasinya.
Nona Vior bukan orang ketiga yang merusak hubungan kami.
Dia adalah satu-satunya orang yang masih menjadi tanggung jawab profesorku di dunia ini.
Aku hanya berusaha merawatnya dengan baik, dan itu adalah hal yang wajar.
Aku harap semua orang bisa melihat masalah ini dengan lebih rasional.”
Ucapan itu mengarahkan opini publik.
Para penggemarnya mulai mengatakan bahwa alasan hubungan kami berakhir adalah karena aku terlalu kaku dan tak bisa menerima permasalahan kecil dalam pernikahan.
Mereka menuduhku telah menganggap persaudaraan murni antara Anto dan Vior sebagai sesuatu yang kotor dan memalukan.
Mereka juga berkata bahwa aku sempit hati dan tak cukup berlapang dada.
Setelah menikah dengan Anto selama lima tahun, aku tetap tak bisa belajar darinya tentang bagaimana menjadi seseorang yang "setia dan menghargai perasaan orang lain."
Topik ini terus viral selama berhari-hari.
Dan aku? Aku menjadi sasaran kebencian semua orang.
Setelah mengambil sertifikat cerai dari kantor catatan sipil, aku keluar.
Anto memanggilku,“Jangan terlalu memikirkan komentar di internet. Sebentar lagi, orang-orang juga akan melupakannya.”
Aku berhenti melangkah dan tak bisa menahan tawa kecil.
Sama sama dihujat di media sosial, tapi kenapa perlakuannya bisa begitu berbeda?
“Elsa, dua bulan lagi sudah Tahun Baru.”
“Awal tahun depan, bagaimana kalau kita menikah lagi?”
Dia menatapku dan hendak mendekat, tapi aku melangkah mundur sedikit. Dengan ekspresi datar, aku mengalihkan pandangan ke arah para wartawan yang dihalangi oleh pengawal di kejauhan.
Anto tampaknya menyadari ketidakpantasan situasinya dan berhenti di tempat.
“Anto, aku akan kembali ke Montana.”
“Memang sudah lama kau nggak pulang. Pergi sebentar juga baik. Nanti saat Tahun Baru, aku akan menjemputmu pulang...”
“Aku nggak akan kembali.” Aku memotong kata-kata Anto dengan tenang.
Senyum tipisnya langsung membeku di wajahnya, matanya dipenuhi kebingungan.
Aku melanjutkan, “Saat itu aku setuju menandatangani surat cerai, dan kau berjanji akan memenuhi satu permintaanku. Sekarang saatnya menepati janji itu.”
Anto tertegun menatapku.
Saat pertama kali terlahir kembali, aku hanya butuh beberapa detik untuk mencerna cinta dan benciku terhadapnya.
Saat melihat surat cerai, aku memang sempat berpikir untuk merobeknya dan bertengkar dengannya lagi. Namun, pada akhirnya, akalku yang menang.
Setelah sekian lama, aku tersenyum tipis.
Anda Mungkin Juga Suka





