
Surga Sang Primadona Kampus
Bab 2
Sekujur tubuhku lemas, tidak punya tenaga, dan terpaksa berjalan beberapa langkah ke depan. Pria itu berujar, "Kalau aku bilang ke mereka kamu diam-diam ngintip di sini, menurutmu ... apa yang akan mereka lakukan? Kira-kira, mereka bakal ramai-ramai menghabisimu nggak ya?"
Mendengar ucapannya, rasa takut langsung menyelimuti hatiku. Aku menggeleng keras dan memohon padanya agar jangan melakukan itu.
Melihat aku yang ketakutan seperti itu, pria itu justru tertawa pelan dengan nada puas. Lidahnya perlahan menjilat bagian belakang telingaku dengan lembut.
"Jadi, kamu maunya sama satu kelompok atau cuma aku? Pilih sendiri," ucap pria itu. Aku terbelalak saking tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar, lalu buru-buru menoleh menatapnya.
Hanya saja, pria itu langsung mencengkeram daguku dan memaksaku menoleh kembali ke arahnya. Pria itu melanjutkan, "Aku kasih kamu waktu tiga detik. Satu ...."
Rasa putus asa memenuhi dadaku. Aku tidak punya pilihan lain selain memberanikan diri menjawab, "Kamu ... aku pilih kamu."
Meski dalam keadaan seperti ini, aku masih tahu jelas perbedaan satu orang dan satu kelompok. Pria itu mendengus pelan, seolah merasa puas dengan jawabanku. Dia pun memuji, "Pintar."
Kemudian, lengannya yang melingkari pinggangku langsung menguat. Dunia di hadapanku berputar seketika karena tubuhku diangkat ke atas pundaknya. Aksi mendadaknya ini membuatku sangat terkejut.
Berhubung takut gerakan kami menarik perhatian orang lain, aku tidak berani bicara keras-keras. Aku hanya bisa menepuk-nepuk punggungnya sambil menahan suara ketika bertanya, "Eh, kamu mau bawa aku ke mana?"
Berhubung posisi tubuhku digendong seperti ini, gaun tidurku pun tersingkap ke atas dan hanya menyisakan celana dalam tipis yang masih bertahan di posisinya.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pantatku. Itu membuatku sangat terkejut. Pria itu mengancam, "Jangan banyak gerak! Kalau berani berisik, nanti di jalan langsung kuhabisi kamu!"
Mendengar ancamannya, aku langsung menutup mulut rapat-rapat dan tidak berani bicara lagi. Sepanjang perjalanan dipanggul di pundaknya, aku sampai hampir muntah. Akhirnya, dia membawaku masuk ke sebuah kamar asrama sementara.
Begitu melihat tidak ada orang lain di dalam ruangan, aku diam-diam mengembuskan napas lega. Untung saja, dia tidak menipuku.
Kamar ini jauh lebih berantakan dari yang kubayangkan. Pakaian berserakan di mana-mana. Di ujung ranjang, bahkan tergantung celana dalam pria yang dibiarkan begitu saja.
Aku diletakkan di atas meja. Posisiku pas bersebelahan dengan ujung ranjang itu. Saat mencium aroma samar yang bikin deg-degan itu, aku tidak bisa menahan diri dan wajahku langsung memerah.
Pria itu berbalik, lalu mengangkat kedua tangan untuk melepaskan kaos oblongnya. Seketika, tubuh bagian atasnya yang telanjang terlihat. Otot-otot punggungnya terbentuk rapi. Kulitnya juga bersih dan mulus. Dia sangat berbeda dengan para pria berumur yang kulihat tadi di luar.
Saat pria itu berbalik, wajah tampannya yang tegas langsung terpampang jelas di depanku. Dia membungkuk, lalu kedua tangannya bertumpu di meja. Itu membuatku terperangkap di dalam pelukannya.
Saat aku mendongak, yang kulihat adalah wajah tampannya. Saat aku menunduk, yang kulihat adalah otot dadanya yang penuh dan kencang. Jantungku sontak berdebar kencang. Wajahku begitu panas sampai-sampai aku tidak tahu harus menatap ke mana.
Aku sama sekali tidak menyangka, pria ini ternyata begitu tampan. Wajahnya tidak kalah dengan mahasiswa-mahasiswa populer di kampus, bahkan bentuk tubuhnya juga jauh lebih menonjol.
Berbeda dengan tubuh para mahasiswa yang cenderung kurus, otot-otot di tubuhnya terlihat padat dan sempurna, seperti tubuh seekor macan tutul dewasa yang penuh dengan daya tarik seksual yang liar.
Aku terus menatap wajahnya. Tanpa sadar, aku terpaku dan tidak bisa mengalihkan pandangan. Pria itu tertawa pelan, lalu menjepit pipiku dengan tangannya. Dia berucap, "Sadarlah, air liurmu sebentar lagi jatuh."
Aku tersentak dan buru-buru tersadar. Kemudian, aku secara refleks menjilat bibirku yang terasa kering dan panas. Saat itu, aku baru sadar bahwa dia sedang menggodaku. Wajahku langsung memerah.
Pria itu hanya tertawa pelan. Gaun tidur tipis yang kupakai sama sekali tidak bisa melindungi tubuhku. Makin ingin menutupinya, justru semuanya terlihat makin jelas.
Lipatan-lipatan di gaun tidurku perlahan membentuk tonjolan kecil yang naik turun. Tangan pria itu bergerak dari atas ke bawah. Dia bahkan sempat berputar dan berhenti sebentar seolah sedang membelai, sebelum akhirnya terus bergerak ke tujuan utamanya.
"Eh!" Aku buru-buru menangkap pergelangan tangannya dan menghentikan gerakannya. Aku mengerucutkan bibir, lalu menatapnya dengan kesal sambil berujar, "Nggak boleh. Kita bahkan belum tahu nama masing-masing."
"Namaku Gideon Lukito," jawabnya sambil memiringkan kepala. Dia melanjutkan, "Kalau kamu ... siapa yang nggak kenal? Primadona kampus paling terkenal di Akademi Tari, Jemima Lonardo. Tinggi badanmu 169 sentimeter, beratmu 47 kilogram, ukuran D ..."
Aku luar biasa terkejut. Bagaimana dia bisa tahu begitu banyak tentang diriku? Jangan-jangan, dia sudah lama memperhatikanku diam-diam?
Mungkin selama ini Gideon selalu mengamati semua gerak-gerikku di kampus. Bisa jadi ... pria ini bahkan sudah sejak lama punya niat buruk padaku.
Memikirkan kemungkinan ini, anehnya aku malah tidak merasa takut atau marah. Sebaliknya, justru ada rasa deg-degan yang sulit dijelaskan. Tak lama kemudian, pikiranku sudah kosong dan tidak bisa memikirkan apa pun lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





