
Surga Sang Primadona Kampus
Bab 3
Gaun tidur tipisku yang tadinya seolah menutupi tetapi justru memperjelas, kini sudah tidak lagi punya arti keberadaannya. Telapak tangan yang panas menyentuh kulitku dan meninggalkan beberapa jejak samar kemerahan.
Dengan sikap santai, jari-jari Gideon meluncur ringan di atas kulitku yang halus. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang menggoda, tetapi tetap terlihat menahan diri. Dia bertanya, "Tadi waktu lihat teman sekamarmu terjebak di tengah, apa rasanya? Pasti iri ya?"
Pandanganku mulai kabur, bahkan napasku pun tidak lagi teratur. Aku membalas dengan tergagap, "Sem ... sembarangan ...."
Jari-jari Gideon yang ramping seolah-olah menjadi bilah tajam yang tanpa ragu memainkan suasana dan membuatku tak berdaya.
Tak lama kemudian Gideon terkekeh pelan, lalu mengangkat tangan kanannya yang berkilau karena basah di bawah cahaya lampu. Dia meledek, "Sudah basah begini, masih berani bohong?"
Begitu Gideon menarik jarinya, perasaan kosong langsung menguasai diriku. Aku tak kuasa mengernyit. Tubuhku refleks menegakkan pinggang dan perlahan bergoyang.
Melihat ini, tatapan Gideon tiba-tiba berubah dalam. Dia mengumpat pelan, "Benar-benar gila ...."
Tanpa memberi kesempatan bagiku untuk bereaksi, Gideon langsung menunduk dan menindihku. Pinggangnya menekan dengan kekuatan penuh ....
Namun tepat saat itu, suara berat seorang pria terdengar dari luar pintu. "Gideon, kamu punya rokok nggak?"
Kami berdua tersentak kaget sehingga refleks menghentikan semua gerakan. Dengan cepat, Gideon menekan tubuhku ke bawah meja lalu duduk di kursi. Dia menggunakan tubuhnya untuk sepenuhnya menutupi keberadaanku.
Ruang sempit di bawah meja terasa pengap, apalagi saat ini adalah musim panas. Suhu yang tinggi membuatku tak henti berkeringat saat meringkuk di dalam.
Di hadapanku, ada kaki panjang Gideon. Lututnya menempel rapat padaku. Melalui celah kecil, aku bisa melihat seorang pria berusia sekitar 30 tahunan melangkah masuk.
Orang itu tersenyum lebar dan memperlihatkan deretan giginya yang putih ketika bertanya, "Punya rokok nggak? Kasih aku satu bungkus."
Gideon menghela napas dengan tak sabar, lalu meraih sebungkus rokok dari atas meja dan melemparkannya ke arahnya. Begitu memberinya rokok, Gideon langsung mengusir pria itu, "Sudah malam, Kak Morgan. Aku mau tidur."
Bukannya pergi, Morgan malah menggigit sebatang rokok di mulut. Dia bercanda secara tak sopan, "Gimana? Primadona kampus yang waktu itu kamu naksir, sudah berhasil kamu dapatkan belum?"
Mendengar itu, hatiku terkejut. Primadona kampus? Jangan-jangan yang dimaksud adalah aku?
Saat aku masih tertegun, Gideon tiba-tiba mengangkat kedua tangan seperti orang yang sedang meregangkan badan. Tubuhnya merebah ke belakang. Gerakan itu membuat sesuatu yang keras dan panas tiba-tiba menyentuh wajahku.
Kedua kaki Gideon lurus dan mengapit tubuhku di sisi kanan dan kiri. Kain celana jin yang kasar menggesek kulitku. Itu membuatku tak sadar menggigit bibir. Jantungku pun berdebar kencang, serta diliputi rasa gugup dan takut.
Ketika aku mendongak, barulah aku sadar bahwa Gideon berpura-pura sedang meregangkan badan agar tubuhnya makin dekat denganku. Apa yang dia sengaja sodorkan ke hadapanku sekarang, memang sudah direncanakan.
Aku mengangkat kepala dan langsung beradu pandang dengan mata Gideon yang menunduk. Senyumnya penuh dengan keisengan.
Sambil tetap berbincang santai dengan Morgan, tangan Gideon perlahan membuka ritsleting celananya. Begitu penghalang itu terbuka, benda yang terkurung pun langsung melonjak keluar dengan penuh semangat.
Menyadari apa yang akan Gideon lakukan, aku tak kuasa memelototinya. Hanya saja, dalam hatiku justru muncul perasaan aneh yang tidak seharusnya ada.
Sebuah tangan besar dengan santainya membelai rambutku. Jari-jarinya bergerak pelan ke belakang telinga, lalu mengusap cuping telingaku dengan lembut.
Aku berusaha menggeleng dan ingin menghindar, tetapi tubuhku malah tanpa sengaja bersentuhan dengan bagian dalam pahanya yang panas. Dalam gerakan kecil dan saling bersentuhan itu, wajah Gideon tetap terlihat tenang meski terdengar helaan napas tak sabar dari mulutnya.
Mata pria itu menatap lurus ke arahku. Gejolak yang membara dalam matanya sulit disembunyikan dan membuatku gemetar. Tangan besarnya yang sebelumnya hanya bermain-main di telingaku, kini mulai bergerak lebih berani. Dia langsung menekan bagian belakang kepalaku.
Aku berusaha menahan diri, tetapi akhirnya menyerah juga dan perlahan menunduk dengan patuh .... Hanya saja, ukuran yang terlalu berlebihan itu membuatku sulit menyesuaikan diri. Aku bisa merasakan otot-otot di lengan Gideon yang menegang. Jelas bukan hanya aku yang merasa kesulitan.
Suara obrolan mereka terdengar makin kabur di telingaku. Akhirnya, aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku perlahan membuka bibir, lalu suara rintihan yang pelan pun tak sengaja lolos.
Mungkin karena juga sudah menahan terlalu lama, Gideon memijat pelipisnya dengan satu tangan. Kedua matanya terpejam dan giginya terkatup rapat. Dia tidak lagi menanggapi obrolan dari pria di depannya.
Akhirnya, Gideon menarik napas dalam-dalam. Dalam percakapan yang mulai diselingi nada curiga dari Morgan, tangannya diam-diam melingkari pinggangku yang meringkuk di bawah meja.
Tangan besarnya mengerahkan tenaga untuk membalikkan arah tubuhku. Aku terkejut sampai nyaris berteriak, tetapi buru-buru menutup mulut dengan satu tangan.
Setelah membuatku berbalik arah, sebelum aku sempat melampiaskan kekesalan dengan mencubit pahanya, pinggangku lebih dulu dikendalikan oleh kedua tangannya. Aku dipaksa menempel erat ke tubuhnya yang panas, lalu di saat berikutnya dia memasukkannya tanpa ragu.
"Aaargh ...." Suara teriakan kaget yang sempat tertahan ketika tubuhku berbalik arah, akhirnya tak bisa ditahan lagi dan lolos keluar ....
Anda Mungkin Juga Suka





