APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Surga Sang Primadona Kampus

Surga Sang Primadona Kampus

Niat hati mengikuti teman sekamarnya secara diam-diam, seorang mahasiswi justru tertangkap oleh pekerja bangunan berbadan kekar. Di bawah tekanan di atas meja belajar, ia dihadapkan pada pilihan sulit di depan sekelompok pria kasar. Sambil menangis ketakutan, ia terpaksa memilih sang pekerja bangunan. Namun, saat dirinya mulai dipermainkan hingga wajahnya memerah, pintu ruangan tersebut tiba-tiba terbuka lebar.
Bab
Bagikan

Bab 3

Gaun tidur tipisku yang tadinya seolah menutupi tetapi justru memperjelas, kini sudah tidak lagi punya arti keberadaannya. Telapak tangan yang panas menyentuh kulitku dan meninggalkan beberapa jejak samar kemerahan.

Dengan sikap santai, jari-jari Gideon meluncur ringan di atas kulitku yang halus. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang menggoda, tetapi tetap terlihat menahan diri. Dia bertanya, "Tadi waktu lihat teman sekamarmu terjebak di tengah, apa rasanya? Pasti iri ya?"

Pandanganku mulai kabur, bahkan napasku pun tidak lagi teratur. Aku membalas dengan tergagap, "Sem ... sembarangan ...."

Jari-jari Gideon yang ramping seolah-olah menjadi bilah tajam yang tanpa ragu memainkan suasana dan membuatku tak berdaya.

Tak lama kemudian Gideon terkekeh pelan, lalu mengangkat tangan kanannya yang berkilau karena basah di bawah cahaya lampu. Dia meledek, "Sudah basah begini, masih berani bohong?"

Begitu Gideon menarik jarinya, perasaan kosong langsung menguasai diriku. Aku tak kuasa mengernyit. Tubuhku refleks menegakkan pinggang dan perlahan bergoyang.

Melihat ini, tatapan Gideon tiba-tiba berubah dalam. Dia mengumpat pelan, "Benar-benar gila ...."

Tanpa memberi kesempatan bagiku untuk bereaksi, Gideon langsung menunduk dan menindihku. Pinggangnya menekan dengan kekuatan penuh ....

Namun tepat saat itu, suara berat seorang pria terdengar dari luar pintu. "Gideon, kamu punya rokok nggak?"

Kami berdua tersentak kaget sehingga refleks menghentikan semua gerakan. Dengan cepat, Gideon menekan tubuhku ke bawah meja lalu duduk di kursi. Dia menggunakan tubuhnya untuk sepenuhnya menutupi keberadaanku.

Ruang sempit di bawah meja terasa pengap, apalagi saat ini adalah musim panas. Suhu yang tinggi membuatku tak henti berkeringat saat meringkuk di dalam.

Di hadapanku, ada kaki panjang Gideon. Lututnya menempel rapat padaku. Melalui celah kecil, aku bisa melihat seorang pria berusia sekitar 30 tahunan melangkah masuk.

Orang itu tersenyum lebar dan memperlihatkan deretan giginya yang putih ketika bertanya, "Punya rokok nggak? Kasih aku satu bungkus."

Gideon menghela napas dengan tak sabar, lalu meraih sebungkus rokok dari atas meja dan melemparkannya ke arahnya. Begitu memberinya rokok, Gideon langsung mengusir pria itu, "Sudah malam, Kak Morgan. Aku mau tidur."

Bukannya pergi, Morgan malah menggigit sebatang rokok di mulut. Dia bercanda secara tak sopan, "Gimana? Primadona kampus yang waktu itu kamu naksir, sudah berhasil kamu dapatkan belum?"

Mendengar itu, hatiku terkejut. Primadona kampus? Jangan-jangan yang dimaksud adalah aku?

Saat aku masih tertegun, Gideon tiba-tiba mengangkat kedua tangan seperti orang yang sedang meregangkan badan. Tubuhnya merebah ke belakang. Gerakan itu membuat sesuatu yang keras dan panas tiba-tiba menyentuh wajahku.

Kedua kaki Gideon lurus dan mengapit tubuhku di sisi kanan dan kiri. Kain celana jin yang kasar menggesek kulitku. Itu membuatku tak sadar menggigit bibir. Jantungku pun berdebar kencang, serta diliputi rasa gugup dan takut.

Ketika aku mendongak, barulah aku sadar bahwa Gideon berpura-pura sedang meregangkan badan agar tubuhnya makin dekat denganku. Apa yang dia sengaja sodorkan ke hadapanku sekarang, memang sudah direncanakan.

Aku mengangkat kepala dan langsung beradu pandang dengan mata Gideon yang menunduk. Senyumnya penuh dengan keisengan.

Sambil tetap berbincang santai dengan Morgan, tangan Gideon perlahan membuka ritsleting celananya. Begitu penghalang itu terbuka, benda yang terkurung pun langsung melonjak keluar dengan penuh semangat.

Menyadari apa yang akan Gideon lakukan, aku tak kuasa memelototinya. Hanya saja, dalam hatiku justru muncul perasaan aneh yang tidak seharusnya ada.

Sebuah tangan besar dengan santainya membelai rambutku. Jari-jarinya bergerak pelan ke belakang telinga, lalu mengusap cuping telingaku dengan lembut.

Aku berusaha menggeleng dan ingin menghindar, tetapi tubuhku malah tanpa sengaja bersentuhan dengan bagian dalam pahanya yang panas. Dalam gerakan kecil dan saling bersentuhan itu, wajah Gideon tetap terlihat tenang meski terdengar helaan napas tak sabar dari mulutnya.

Mata pria itu menatap lurus ke arahku. Gejolak yang membara dalam matanya sulit disembunyikan dan membuatku gemetar. Tangan besarnya yang sebelumnya hanya bermain-main di telingaku, kini mulai bergerak lebih berani. Dia langsung menekan bagian belakang kepalaku.

Aku berusaha menahan diri, tetapi akhirnya menyerah juga dan perlahan menunduk dengan patuh .... Hanya saja, ukuran yang terlalu berlebihan itu membuatku sulit menyesuaikan diri. Aku bisa merasakan otot-otot di lengan Gideon yang menegang. Jelas bukan hanya aku yang merasa kesulitan.

Suara obrolan mereka terdengar makin kabur di telingaku. Akhirnya, aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku perlahan membuka bibir, lalu suara rintihan yang pelan pun tak sengaja lolos.

Mungkin karena juga sudah menahan terlalu lama, Gideon memijat pelipisnya dengan satu tangan. Kedua matanya terpejam dan giginya terkatup rapat. Dia tidak lagi menanggapi obrolan dari pria di depannya.

Akhirnya, Gideon menarik napas dalam-dalam. Dalam percakapan yang mulai diselingi nada curiga dari Morgan, tangannya diam-diam melingkari pinggangku yang meringkuk di bawah meja.

Tangan besarnya mengerahkan tenaga untuk membalikkan arah tubuhku. Aku terkejut sampai nyaris berteriak, tetapi buru-buru menutup mulut dengan satu tangan.

Setelah membuatku berbalik arah, sebelum aku sempat melampiaskan kekesalan dengan mencubit pahanya, pinggangku lebih dulu dikendalikan oleh kedua tangannya. Aku dipaksa menempel erat ke tubuhnya yang panas, lalu di saat berikutnya dia memasukkannya tanpa ragu.

"Aaargh ...." Suara teriakan kaget yang sempat tertahan ketika tubuhku berbalik arah, akhirnya tak bisa ditahan lagi dan lolos keluar ....

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Cari "B88131" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B88131
Salin

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel [BUKAN] PELAKOR
8.0
Penantian empat tahun Irish berujung hancur setelah Galen mengkhianatinya. Pria yang dulu berjanji setia itu malah menikah dengan perempuan lain. Enggan meratapi nasib atas janji manis yang kini menjadi dusta, Irish memutuskan untuk bertindak ekstrem. Demi memperjuangkan cinta dan masa depannya, ia nekat menyusup sebagai orang ketiga dalam pernikahan Galen. Irish bertekad merebut kembali pria itu. Akankah Galen kembali padanya, ataukah aksi nekat Irish ini berakhir sia-sia?
Sampul Novel Kesempatan Ketujuh
8.6
Tujuh tahun lamanya seorang wanita biasa gigih mengejar Vincent, walau ia selalu mendapatkan penolakan dingin. Demi menjaga norma sosial, Vincent kerap bersikap kasar dan mencaci maki wanita itu karena merasa risi. Namun, sebuah rahasia tak terduga akhirnya terbongkar saat Mira tanpa sengaja melihat daftar kontak di ponsel pria tersebut. Ternyata, di balik segala kebencian dan sikap ketus yang selalu ditunjukkannya, Vincent menyimpan nomor Mira dengan nama Sayangku.
Sampul Novel MILIARDER CANTIK ITU ISTRIKU
8.4
Demi bertahan hidup, Zio terpaksa mengambil keputusan nekat untuk menemani seorang wanita dalam satu malam. Alih-alih bertemu perempuan paruh baya seperti dugaannya, ia justru dihadapkan pada sosok muda yang luar biasa menawan. Kejutan tak berhenti di sana; wanita tersebut justru memintanya untuk menghamili sekaligus menikahinya. Di tengah himpitan kesulitan hidup yang menderanya, sanggupkah Zio memenuhi tuntutan ekstrem dari miliarder misterius itu?
Sampul Novel Nostalgia
8.4
Misa Almira tak mampu lepas dari ingatan masa kecil bersama sahabat yang sangat ia sayangi. Akibat sebuah kekeliruan fatal di masa lalu, sosok berharga itu tiba-tiba lenyap tanpa jejak. Ketika fakta sebenarnya terkuak, Misa didera penyesalan yang teramat besar. Walau kini ia telah tumbuh dewasa dan fokus membangun kariernya, bayang-bayang kesalahan masa lalu dan memori manis bersamanya tetap melekat erat dalam hidup Misa.
Sampul Novel PENGANTIN TITIPAN
9.2
Kamila jatuh cinta pada Dion, mahasiswa KKN yang berani melamarnya tanpa restu keluarga. Namun di hari pernikahan, Dion malah kabur dan meminta Aldin Nabastala, seorang duda, untuk menggantikannya. Demi menjaga nama baik ayahnya, Kamila terpaksa menikah dengan Aldin walau hatinya masih untuk Dion. Seiring waktu, kepribadian shaliha Kamila membuat Aldin jatuh hati. Akankah Aldin merelakan istrinya kembali saat Dion saat cinta mulai tumbuh?
Sampul Novel Terjebak dalam Godaan Ipar
9.7
Kehidupan Elara, wanita mandiri yang teguh, berubah total setelah bertemu keluarga Kaden. Kaden adalah suami dari Marisol, kakak angkat Elara. Dikenal sebagai pria setia, Kaden justru mulai terpikat oleh daya tarik Elara yang polos sekaligus menantang. Situasi ini menjebak Elara dalam dilema antara rahasia gelap dan cinta terlarang. Kini, ia harus memilih: menyerah pada godaan berbahaya sang ipar atau pergi demi melindungi kebahagiaan orang-orang tercinta.