
Sup Kecantikan
Bab 3
Ibu mencengkeram rambutku dengan kasar, mencubit tubuhku sekuat tenaga.
"Dasar jalang pembawa sial! Berani-beraninya kamu menggoda ayahmu sendiri? Kamu mau membunuhku? Membunuh seluruh desa?"
Aku ketakutan, dengan sekuat tenaga aku berusaha melarikan diri. Aku bahkan lupa bahwa aku tidak mengenakan pakaian.
Keributan itu membangunkan nenek dan menarik perhatian penduduk desa. Orang-orang mulai berdatangan untuk melihat apa yang terjadi.
Namun, ibu tidak membiarkanku pergi begitu saja. Dia mengejarku dan menarikku kembali dengan erat.
Tatapan para pria desa tertuju padaku. Aku menundukkan kepala, merasa sangat malu dan tak tahu harus berbuat apa.
"Wah ... anak gadis yang masih segar begini, pantas saja ayahnya nggak bisa menahan diri!"
Wajah ayah memerah, dia buru-buru membela diri, mengatakan bahwa dia hanya ingin mengajariku bagaimana melayani dewa gunung.
Namun, ibu langsung membongkar kebohongannya.
"Perlu diajari? Jangan kira aku nggak tahu! Semua ini karena dia suka minum 'sup kecantikan'! Bahkan bau tubuhnya kini sudah bisa menggoda pria!"
"Semua pria sama saja, mana mungkin bisa menahan godaan?"
Akhirnya, Pak Krisno, si kepala desa maju untuk menengahi, barulah ibu melepaskanku.
Anak dari kepala desa, Arya melepas jubahnya dan menutupi tubuhku.
Saat aku menyadari napasnya yang agak berat, matanya menelusuri tubuhku dengan tatapan panas. Bukan hanya dia, semua pria desa menatapku dengan sorot mata yang sama, tatapan mereka memerah penuh gairah.
Pak Krisno menyeringai, memperlihatkan giginya yang kuning.
"Tapi, ada benarnya juga apa yang dikatakan ayahmu. Kita memang perlu mengajarinya cara melayani dewa gunung, jangan sampai dia nggak puas dan marah!"
Tentu saja ibu tidak akan membiarkan aku kehilangan keperawananku. Jika aku tidak suci lagi, aku tidak bisa menjadi pengantin dewa gunung.
"Nggak perlu kalian ajari! Aku sendiri yang akan mengajarinya!"
"Dasar anak nggak tahu malu! Bukannya kamu suka mengintip saat orang-orang memberiku energi maskulin? Sekarang, lihatlah sepuasmu!"
Tatapan para pria desa semakin memerah, ibu juga membutuhkan energi.
Jika aku bisa menjadi pengantin dewa gunung, dia tidak akan lagi menjadi mayat hidup. Dia bisa benar-benar hidup kembali.
Saat aku kembali sadar, aku sudah berada di dalam kamar, tubuhku tak bisa bergerak.
Ibu berendam di bak besar di samping ranjang. Tubuhnya yang tadinya tampak lemah dan lusuh, kini terlihat putih dan menggoda setelah terendam dalam air susu herbal.
Dia menatapku sambil mengedipkan mata dengan genit. Aku merasa sangat tidak nyaman dan buru-buru memalingkan wajah, menutup mata rapat-rapat.
"Perhatikan baik-baik dan belajar ... "
Air dalam bak mulai beriak, percikan membasahi lantai.
Ayah yang sejak tadi menahan diri, akhirnya tak bisa lagi bersabar, "Dasar wanita jalang! Begitu haus belaian, ya?"
"Dulu aku kira kamu masih perawan, ternyata sudah dipakai pria lain!"
"Pantas saja dewa gunung memilihmu dan menjadikanmu mayat hidup! Sejak awal, dia sudah tahu betapa hinanya kamu!"
Tak ada yang menyentuhku, tapi tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa di bagian bawah tubuhku. Aku menjerit kesakitan.
Kenapa? Apa yang terjadi?
Nenek menampar wajahku, "Jangan pura-pura mati! Perhatikan dan pelajari baik-baik!"
Air mataku mengalir dan menjawab, "Nenek, ini sakit sekali ... "
Aku merasa tubuhku ditekan oleh seseorang yang tak terlihat, membuatku sulit bernapas.
Mata nenek yang tajam tiba-tiba bersinar penuh semangat.
"Gangguan roh? Oh bukan ... ini dewa gunung yang datang menindihmu!"
"Sepertinya dewa gunung sangat menyukai Yolanda! Cepat, semua orang keluar! Jangan ganggu mereka!"
Seketika, aku merasa sangat ketakutan dan berjuang sekuat tenaga.
Namun, aku sama sekali tidak bisa bergerak, hanya bisa melihat mereka semua meninggalkan kamar.
Angin dingin berembus, tekanan itu semakin kuat ...
"Aaaa ... nggak! Sakit sekali!"
Anda Mungkin Juga Suka





