
Suka Duka Ibu Tunggal
Bab 2
Seluruh tubuhku mulai melemas. Aku nyaris jatuh terduduk jika saja tidak ditahan oleh tangan besar Orlando yang erat memegangku.
"Kulitku memang seperti ini sejak kecil ...." Sebelum aku selesai bicara, jaket Orlando yang tadi menutupi tubuhku tiba-tiba jatuh ke lantai. Kini, tidak ada lagi yang menutupi tubuhku.
"Ah!" Aku berteriak kecil, buru-buru membungkuk untuk memungut jaketnya. Namun, ketika aku berdiri, wajahku justru menabrak dada Orlando.
"Ugh ...." Dia mendesah pelan.
Aku panik dan mundur cepat. "Maaf, maaf! Aku nggak sengaja." Hanya saja, karena di belakangku ada meja kerja, jarakku dengannya masih sangat dekat meski aku telah mundur. Yang lebih menyulitkan lagi adalah, Orlando berdiri tepat di depanku.
Jika aku tidak berhati-hati, aku akan kembali menyentuhnya. Satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah memegang erat jaket itu di tubuhku, tanpa berani bergerak sedikit pun.
"Eliyani, apa kamu pernah seperti ini sama suamimu dulu?" Perlahan-lahan, Orlando mulai mendekat. Saat itu, darahku seperti berhenti mengalir. Aku meremas jaket itu dengan kuat.
"Pak Orlando, tolong ... jangan." Namun, semakin aku memohon, dia malah semakin dekat seolah-olah tidak berniat membiarkanku pergi. Wajahku terasa panas, pikiranku benar-benar kacau balau.
"Kenapa harus menolak? Bukankah kamu suka? Coba saja," ujarnya dengan suara menggoda yang hampir mematikan akalku. Aku mulai berkeringat, malu dan takut pada saat yang bersamaan.
Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu.
"Pak Orlando, saya antar kopi untuk Anda." Terdengar suara seorang wanita di luar.
Aku langsung terdorong untuk menjauh darinya. Dengan cepat, aku merapikan pakaian dan membuka pintu. Di luar, berdiri seorang rekan kerjaku, Yuri.
Dia mengenakan gaun ketat bertali tipis, kulitnya mulus, tubuhnya begitu sempurna hingga membuat siapa saja terkesima. Saat melewatiku, dia menatapku dengan pandangan meremehkan, lalu melenggang masuk ke kantor Orlando dengan percaya diri.
Pasti dia juga datang untuk merebut posisi promosi ini. Gaji lebih tinggi, bonus besar, dan liburan panjang ... siapa yang tidak tergiur?
Aku mengepalkan tangan, bertekad bahwa aku harus mendapatkan posisi ini, tidak peduli apa pun caranya.
Setelah pulang kerja, aku langsung pulang ke rumah.
Aku segera berendam dalam bak es lagi, menjaga kulit tetap kencang. Di usiaku sekarang, aku tahu ini satu-satunya cara untuk bersaing. Rasa dingin itu menusuk hingga membuat kulitku merinding. Namun, aku menahan semuanya.
Aku mengambil ponsel, lalu memotret diriku di bak mandi. Kulitku terlihat putih, kencang, dan menggoda.
Tepat tengah malam, aku mengunggah foto itu di media sosial. Aku mengatur agar foto itu hanya bisa dilihat oleh Orlando. Keterangan yang kutulis adalah ....
[ Malam seorang diri, cuma bisa begini saja. ]
Orlando dikenal sebagai orang yang suka bergadang, jadi aku yakin dia akan melihatnya. Benar saja, beberapa menit kemudian, notifikasi pesan muncul.
[ Orlando: Sudah tengah malam, kenapa belum tidur? ]
Aku sengaja menunda membalasnya, lalu mengetik.
[ Terima kasih atas perhatian Anda, Pak. Aku cuma lagi stres akhir-akhir ini. ]
[ Orlando: Stres apa? Kamu kenapa sih sampai stres? ]
Pesan itu disertai emoji wajah dengan air liur menetes.
Aku teringat kelakuannya tadi siang, membuatku malu setengah mati. Namun, aku tidak boleh berhenti di sini.
[ Tentu saja stres soal promosi. Semua orang berusaha keras, aku juga nggak bisa ketinggalan. ]
[ Orlando: Oh, gitu. Kamu harus kerja lebih keras lagi. Kamu tahu sendiri, usia kamu sudah bukan muda lagi. Susah bersaing sama gadis-gadis muda. ]
Aku terdiam sejenak membaca pesannya. Ya, aku sudah di usia pertengahan. Tidak mungkin aku bisa menang hanya dengan wajah cantik seperti mereka. Namun, aku punya kulit yang kencang dan tubuh yang masih menggoda berkat kebiasaanku berendam es.
Aku tersenyum puas. Jelas Orlando mulai tertarik padaku. Promosi itu pasti bisa kudapatkan.
[ Aku akan berusaha, Pak. Terima kasih atas dukungannya. ]
Keesokan paginya, aku kembali berendam es sebelum berangkat ke kantor.
Di kantor, Orlando beberapa kali memanggilku untuk masuk ke ruangannya. Namun, aku sengaja menolak dengan alasan sibuk. Trik tarik ulur ini selalu berhasil pada pria mana pun.
Namun siang harinya, Orlando tampak tidak bisa menahan diri lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





