APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sugar Daddy Dosenku

Sugar Daddy Dosenku

Kehidupan di kota besar membuat Nina, seorang mahasiswi penerima beasiswa, merasa terdesak secara finansial. Uang beasiswa yang ia terima ternyata tidak cukup untuk menutup biaya hidup sehari-hari sekaligus memuaskan keinginannya akan gaya hidup mewah. Didorong oleh tuntutan ekonomi dan hasrat memiliki barang-barang mahal, Nina akhirnya terjun ke dunia gelap penuh rahasia. Ia terperangkap dalam realitas kelam demi memenuhi ambisi pribadinya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Matahari baru saja menampakkan dirinya di ufuk timur, menyelimuti kota dengan sinar lembut yang berangsur-angsur mengusir kegelapan malam. Di sebuah kamar hotel mewah yang sunyi, Nina terbangun dari tidurnya dengan perasaan campur aduk. Cahaya pagi yang masuk melalui tirai tipis terasa menyilaukan, membuatnya meringis kecil saat mencoba membuka mata. Sejenak, ia lupa di mana dirinya berada, namun ketika ingatannya kembali, rasa sesak di dadanya pun mengemuka.

Di sebelahnya, Andi masih tertidur pulas, napasnya teratur dan tenang. Nina menatapnya sejenak, memerhatikan raut wajah pria yang telah memberinya begitu banyak, namun sekaligus menyisakan perasaan hampa yang sulit dijelaskan.

Ia perlahan bangkit dari ranjang, berusaha untuk tidak membuat suara yang bisa membangunkan Andi. Tubuhnya terasa lelah, bukan hanya karena malam panjang yang baru saja ia lalui, tetapi juga karena beban pikiran yang tak kunjung hilang sejak pertemuan mereka.

Nina mengenakan kembali pakaiannya yang tergeletak di lantai dengan gerakan pelan. Setiap langkah terasa berat, seolah-olah ada sesuatu yang mengikat hatinya, mencegahnya untuk benar-benar meninggalkan tempat ini. Ia meraih tasnya yang berada di sudut ruangan, kemudian berhenti sejenak, menatap sosok Andi yang masih terlelap.

"Aku harus pergi," bisik Nina pelan, meskipun ia tahu Andi tak akan mendengarnya.

Dengan hati-hati, ia membuka pintu kamar dan melangkah keluar, meninggalkan Andi sendirian di kamar yang sunyi. Begitu pintu tertutup di belakangnya, Nina menghela napas panjang, merasa beban di dadanya sedikit berkurang. Ia berjalan melewati lorong hotel yang sepi, menuju lift yang akan membawanya ke lobi.

Di dalam lift, Nina menatap bayangannya di cermin yang besar. Wajahnya terlihat lelah, dengan mata yang sedikit bengkak akibat kurang tidur. Ia mencoba merapikan rambutnya yang kusut, namun hasilnya tak seberapa. Pikirannya sudah mulai beralih ke hal lain—ke kehidupannya yang nyata, yang menanti di luar sana.

Saat tiba di lobi, Nina melangkah keluar dengan cepat, berusaha menghindari tatapan penasaran dari petugas hotel. Di luar, udara pagi yang segar menyambutnya, sedikit mengurangi rasa penat yang menggelayuti tubuhnya. Ia melangkah menuju trotoar, mencoba memanggil taksi untuk segera membawanya pulang.

Setelah beberapa menit menunggu, sebuah taksi berhenti di depannya. Nina segera masuk dan menyebutkan alamat rumahnya. Sepanjang perjalanan, ia hanya terdiam, memandang keluar jendela dengan pikiran yang berkecamuk. Apa yang baru saja ia lalui semalam terasa seperti mimpi yang tidak nyata, namun bekas sentuhan Andi di tubuhnya masih terasa, mengingatkannya bahwa semua itu benar-benar terjadi.

Taksi melaju di jalanan yang masih sepi, mengantarkannya pulang ke rumah yang ia tinggali seorang diri. Rumah kecil yang sederhana, jauh dari kemewahan hotel tempatnya menginap semalam. Setibanya di rumah, Nina segera membuka pintu dan masuk ke dalam, meletakkan tasnya di meja dan melangkah langsung ke kamar mandi.

Ia merasa kotor, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Tubuhnya penuh dengan keringat dan sisa-sisa dari malam sebelumnya, membuatnya merasa tidak nyaman. Tanpa membuang waktu, Nina menyalakan shower dan mulai membersihkan tubuhnya dengan air hangat. Air yang mengalir di tubuhnya membawa sedikit rasa lega, namun tidak cukup untuk menghapus perasaan bersalah yang kini menguasai hatinya.

Di bawah aliran air, Nina mencoba menenangkan pikirannya. Ia tahu bahwa keputusan yang ia ambil tidak akan mudah, namun ia juga tahu bahwa ini adalah jalan yang ia pilih sendiri. Andi telah memberinya sesuatu yang tidak bisa ia dapatkan dari orang lain—sebuah kehidupan yang lebih baik, meski dengan harga yang mahal.

Setelah selesai mandi, Nina keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian bersih. Ia memeriksa jam di ponselnya, menyadari bahwa ia harus segera berangkat ke kampus jika tidak ingin terlambat. Dengan cepat, ia mengemas buku-bukunya dan bersiap untuk pergi. Namun sebelum keluar dari rumah, ia berhenti sejenak, menatap bayangannya di cermin.

"Aku bisa melakukannya," gumam Nina pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

***

Perjalanan ke kampus terasa lebih panjang dari biasanya. Nina duduk di dalam angkutan umum, dikelilingi oleh suara hiruk pikuk jalanan yang mulai dipadati kendaraan. Namun, pikirannya masih melayang ke tempat lain—ke hotel, ke Andi, dan ke keputusan yang telah ia buat.

Sesampainya di kampus, Nina segera menuju ke kelasnya. Kampus mulai ramai dengan mahasiswa yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Beberapa teman sekelasnya menyapa Nina, namun ia hanya membalas dengan senyuman kecil, berusaha untuk tidak menunjukkan perasaan kacau yang ia rasakan. Ia berusaha memasang wajah tenang, meskipun di dalam hatinya, badai emosi masih bergejolak.

Di dalam kelas, Nina berusaha fokus pada mata kuliah yang sedang berlangsung. Dosen menjelaskan materi dengan penuh semangat, namun kata-katanya hanya masuk ke telinga kiri dan keluar dari telinga kanan Nina. Ia merasa sulit untuk benar-benar fokus, pikirannya masih terganggu oleh bayangan Andi dan apa yang telah terjadi semalam.

Setelah beberapa jam, kelas akhirnya selesai. Nina merasa lega bisa keluar dari ruangan itu, berharap udara segar bisa sedikit menghilangkan kekacauan di pikirannya. Ia berjalan keluar dari gedung kuliah, menuju taman kampus yang biasa ia kunjungi untuk menenangkan diri.

Nina duduk di bangku taman, membiarkan angin sepoi-sepoi menyapu wajahnya. Ia memejamkan mata, mencoba untuk tidak memikirkan apa pun. Namun, bayangan Andi dan suara bisikan lembutnya masih terus menghantuinya. Ia merasa bingung dengan perasaannya sendiri—di satu sisi, ia merasa bersalah, namun di sisi lain, ada rasa nyaman yang tak bisa ia pungkiri.

Beberapa saat kemudian, ponselnya berbunyi, memecah keheningan di sekitarnya. Nina membuka pesan yang masuk dan melihat nama Andi tertera di layar. Pesan singkat itu membuat jantungnya berdebar lebih kencang.

*"Nina, bagaimana kabarmu? Apakah kau sudah pulang dengan selamat? Aku harap kau baik-baik saja."*

Nina menatap layar ponselnya, merasa ragu untuk menjawab. Namun setelah beberapa detik, ia memutuskan untuk mengetik balasan.

*"Saya baik-baik saja, Pak Andi. Terima kasih atas perhatiannya."*

Pesan itu dikirimkan, dan Nina menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk. Ia tahu bahwa ini baru permulaan dari hubungan mereka yang rumit. Namun, Nina juga sadar bahwa ia telah memilih jalan ini, dan kini tidak ada jalan untuk kembali.

***

Hari-hari berikutnya terasa seperti mimpi yang berlalu begitu saja. Nina berusaha menjalani kehidupan sehari-harinya dengan normal, namun bayangan Andi terus menghantui pikirannya. Setiap kali ponselnya berbunyi, ia selalu berharap itu adalah pesan dari Andi, meskipun ia tahu bahwa perasaan ini tidak seharusnya ada.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bos, Istri Anda Minta Cerai
9.1
Sella Wisara akhirnya diusir oleh Wildan Bramantio demi Aisha, setelah enam tahun bertahan dalam pernikahan yang menyiksa. Tanpa tangis, Sella langsung menyetujui perceraian tersebut. Namun, Wildan justru meradang saat mendapati mantan istrinya itu hidup bahagia bersama lelaki lain. Meski terus mendapat hinaan, Sella tetap tegas menolak kehadiran Wildan. Menyaksikan tatapan mesra Sella pada pria baru tersebut membuat Wildan kehilangan akal sehatnya karena terbakar cemburu.
Sampul Novel BUKAN ANAK HARAM
9.2
Terinspirasi kisah nyata, novel ini mengisahkan kepedihan Kartika yang dijual ibu kandungnya ke prostitusi. Di tengah nestapa, ia jatuh cinta lalu mengandung Dania. Kelahiran putrinya membawa babak baru yang penuh rintangan. Ikuti perjuangan hidup dua generasi perempuan ini melawan takdir kejam demi meraih kebahagiaan. Kisah menyentuh tentang keteguhan hati dr. Dania yang kini telah meraih sukses besar di Singapura.
Sampul Novel Dua Pria, Satu Permaisuri
9.6
Meskipun kehilangan penglihatannya sejak kecil, Wulan berhasil tumbuh menjadi terapis pijat terkenal berkat bimbingan ibu asuhnya. Namun, rutinitasnya di tempat kerja mendadak berubah drastis saat seorang pelanggan penting dan berpengaruh datang berkunjung. Pria misterius yang menginginkan sensasi berbeda tersebut secara mengejutkan menarik pakaian Wulan, lalu menuangkan minyak pijat ke dadanya demi mendapatkan layanan yang tidak biasa.
Sampul Novel Fantasi Gilaku
8.0
Alice, istri yang selama tujuh tahun pernikahannya belum pernah merasakan kepuasan dari David, suaminya yang diam-diam ternyata gay dan berselingkuh dengan mantan pacarnya. Alih-alih marah, Alice justru menikmati melihat suaminya bersama pria lain. Pertemuannya dengan Jane, wanita yang trauma karena pernah dilecehkan dan diperkosa oleh pria, membuat keduanya menemukan kecocokan yang tak terduga. Mereka menjalin hubungan terlarang yang menggetarkan, hingga Alice memutuskan menceraikan David demi Jane. Namun, hadirnya Steve membuat Alice jatuh cinta lagi, memicu kecemburuan Jane. Bisakah tiga hati menemukan bahagia? Sebuah kisah tentang tabu, hasrat, dan cinta yang tak biasa.
Sampul Novel Real or Dream
9.0
Clarista terkejut saat dicium tiba-tiba oleh Augfar, pria asing tampan nan kaya yang mengklaimnya sebagai calon istri di pesta tunangan sahabatnya. Rupanya, Augfar sengaja menjaga reputasinya dari skandal sejak SMA demi menanti Clarista, cinta pertamanya. Pertemuan tak terduga ini memicu berbagai kejutan manis yang menguji perasaan mereka. Ikuti kisah cinta dewasa yang penuh gairah antara Augfar dan Clarista untuk menemukan semua jawaban dalam Real or Dream.
Sampul Novel TERTAWAN CINTA PERTAMA
8.8
Demi menutupi rasa sukanya, Gian kerap menjahili Briani semasa sekolah. Namun, kesalahpahaman fatal membuat Gian mengira Briani wanita panggilan hingga tega menodainya saat mabuk. Mereka pun berpisah tanpa Gian sadari Briani tengah hamil. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi di kantor rekan kerja Gian. Akankah Gian mampu mendapatkan kembali cinta pertamanya, ataukah kepedihan masa lalu justru membuat Briani kian membencinya?