
Suamiku yang Tergila-gila Pada Asistennya
Bab 4
Setelah kode sandi yang kumasukkan tiga kali gagal, pintu tiba-tiba terbuka dari dalam. Nikki muncul di depanku dengan mengenakan piamaku. Piama ini adalah piama pasangan milikku dan Andy.
Begitu melihatku, raut provokatif itu muncul lagi di wajah Nikki. Dia mengangkat alisnya dan berkata dengan centil, "Oh, Kak Poppy rupanya. Kak Andy bilang kamu nggak akan pulang, jadi aku datang. Untung saja kami sudah selesai, tapi kamar jadi agak berantakan. Mau tunggu sebentar di sini? Biar aku beres-beres dulu."
"Kamu benar-benar membuat Kak Andy marah hari ini. Dia melampiaskan semuanya padaku. Tubuh rapuhku ini hampir nggak sanggup bertahan ...."
Sebelum Nikki selesai bicara, aku tiba-tiba meninju wajahnya. Dia langsung terjatuh dan memegangi hidungnya sambil mengerang kesakitan.
"Poppy! Apa kamu gila? Bagaimana kamu bisa memukul orang tanpa alasan?" bentak Andy sambil bergegas mendekat. Piamanya belum dipakai dengan benar dan rambutnya bahkan masih basah.
Alih-alih menjawab, aku hanya melirik Andy dengan dingin sambil merapikan piamanya.
Kilat panik terlihat di matanya. Andy tidak lagi menenangkan Nikki, melainkan meraih tanganku dan berkata dengan ekspresi serius, "Jangan salah paham, besok ada seminar di dekat sini. Jadi, aku menyuruh Nikki menginap semalam agar kami bisa berangkat bersama besok. Di tengah jalan, ada anak kecil yang bermain pistol air dan membuat pakaian kami basah. Kami pun mandi dan berganti pakaian."
Sambil menatap Andy dengan dingin, aku merogoh saku mantel dan menyentuh surat cerai di sana. Aku berkata tanpa sedikit pun emosi, "Aku nggak peduli, tapi apartemen ini akan segera kujual. Kalian bisa pindah ke hotel terdekat. Selain itu ...."
Andy terbelalak tidak percaya dan menyelaku dengan suara tinggi, "Kenapa kamu tiba-tiba menjual apartemen? Ini satu-satunya rumah kita. Kalau dijual, kita akan tinggal di mana?"
Aku menatap Andy, merasakan lonjakan perasaan sedih di dada. Ketika hubungan kami sudah mencapai titik ini, apalah artinya kata "kita" di antara kami?
Namun, aku tidak sempat menjelaskan padanya. Sebuah gagasan tampaknya terlintas di benak Andy. Dia berkata dengan raut senang, "Apa kamu diam-diam membelikanku apartemen di pusat kota yang kita lihat sebelumnya?"
Pria itu sok jual mahal dan melanjutkan, "Biar kuberi tahu, jangan pikir aku akan memaafkanmu semudah itu hanya karena sebuah apartemen ...."
Aku mendorong pelan Andy yang mencondongkan tubuhnya, lalu membalas dengan datar, "Jangan terlalu percaya diri. Maksudku, apartemen ini bukan rumahmu lagi. Sudah nggak ada kata kita di antara aku dan kamu."
Andy terdiam sejenak, lalu berkata dengan cepat, "Apa maksudmu ini bukan rumahku lagi? Poppy, apa ada yang salah dengan otakmu? Jangan-jangan kamu mau menjual apartemen ini untuk menghidupi simpananmu? Kuperingatkan kamu, sebaiknya kamu memberiku penjelasan yang masuk akal!"
Andy menjeda sejenak kata-katanya, lalu menoleh dan memandang Nikki yang masih memegangi hidungnya. Dia lantas melanjutkan, "Kalau nggak, aku akan melaporkanmu atas tuduhan penyerangan dan masuk tanpa izin!"
Aku terdiam sejenak melihat Andy yang seperti hilang akal. Kemudian, aku membalasnya tanpa takut, "Oke, panggil saja polisi. Aku mau lihat apa polisi akan menangkapku atau dia."
Tanpa memberi Andy kesempatan bicara, aku menunjuk Nikki dan melanjutkan, "Apartemen ini milikku. Kalian berdualah yang masuk tanpa izin."
Kemudian, aku mengambil surat cerai dengan tanganku yang lain dan menunjukkannya. Aku memberitahunya, "Ngomong-ngomong, kita sudah bercerai."
Anda Mungkin Juga Suka





