APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel SUAMIKU BULE BRONDONG

SUAMIKU BULE BRONDONG

David, seorang ateis, jatuh hati pada sosok Hania yang bercadar dan anggun. Upayanya untuk memenangkan hati Hania justru membongkar berbagai rahasia kelam dari masa lalu perempuan tersebut. Walau takdir akhirnya mempersatukan mereka dalam pernikahan, ujian berat segera datang melanda. Di tengah situasi rumit yang seakan tanpa jalan keluar, akankah cinta mereka bertahan, atau mereka justru memilih menyerah pada garis takdir yang kejam?
Bab
Bagikan

Bab 2

Dia terus meyakinkanku untuk meraih tangannya dan membatalkan niatku untuk bunuh diri. Saat aku mulai lengah, buru ia menarik tubuhku hingga aku terjatuh. Kondisiku lebih aman karena aku tersungkur di tepi jembatan tak lagi naik di besi pinggir jembatan. Tangisku pecah. Laki-laki itu membisu tanpa memindahkan pandangan dari ku.

Sesaat kemudian sebuah jaket melingkar di tubuhku. Ia berusaha menutup dadaku yang terbuka karena kancing yang lepas, serta baju di lenganku yang sobek. Sepertinya ia paham peristiwa apa yang menimpaku.

"Dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang ?" Aku menggeleng dengan cepat tanpa berani bersitatap dengannya. Keheningan tercipta beberapa saat lamanya.

"Ikutlah dengan ku. Kau aman bersamaku." Aku beranikan diri untuk menatapnya. Baju koko yang melekat padanya membuatku percaya jika dia laki-laki yang baik.

Dengan motor matic, dia membawaku pergi. Aku pasrah karena pikiran kalut tengah menguasaiku.

Kami berhenti di sebuah rumah berlantai dua yang tidak terlalu besar. Rumput hijau nampak menutupi halaman rumah. Beberapa bunga bougenvil berwarna merah muda dan putih serta bunga mawar meramaikan halaman rumah yang tidak terlalu luas itu. Aku masih bergeming di tempatku saat laki laki itu mengajakku masuk ke dalam rumah.

Dia meninggalkanku di luar. Beberapa saat kemudian seorang wanita paruh baya datang menghampiriku.

"Ayo masuklah Nak ! Jangan takut." Wanita dihadapanku mengulum senyum tulus padaku.

Ia memegang lenganku dan membimbingku masuk ke dalam rumah. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling hingga tanpa sadar mataku berhenti pada sesosok laki-laki yang berdiri di dekat jendela. Dia menatapku dengan pandangan tak terbaca. Berlalu pergi dan menghilang dibalik pintu kamar mandi. Ujung bajunya meneteskan sisa-sisa air hujan hingga membasahi lantai tempatnya berdiri. Hal yang sama terjadi padaku.

"Minumlah Nak. Teh hangat ini akan mengurangi dingin di tubuhmu." Wanita yang meminjamiku baju tengah duduk di tepi tempat tidur dengan menyodorkan secangkir teh yang masih mengepulkan asapnya. Aku tetap abai, tak menyentuh piring yang berisi nasi dan lauk, ataupun teh yang disajikan untukku. Aku terus duduk meringkuk di atas kasur dengan airmata yang masih setia menetes.

"Setidaknya hubungilah keluargamu agar tak khawatir. Besok, Putraku akan mengantarmu pulang. Istirahatlah!"

Wanita itu hendak melangkah keluar kamar namun kutahan dengan sebuah pertanyaan.

"Bu, bolehkah aku meminjam hp?" Aku memberanikan diri bicara.

Benar, aku harus mengabari ibuku. Beliau pasti mengkhawatirkanku yang belum pulang hingga malam. Sedangkan Hpku mati, mungkin karena batrerainya habis atau karena kehujanan. Aku tak tahu pasti.

Wanita itu mengulurkan Hp padaku dengan tersenyum. Buru ku tulis nomer Hp ibuku yang sudah ku hafal diluar kepala. Aku berpikir sejenak, akan lebih baik jika aku mengirimkan pesan saja. Jika aku telepon yang ada adalah tangisku yang tak terbendung akan didengar ibu. Wanita yang melahirkan ku itu akan khawatir dan sedih, lalu kesehatannya akan memburuk.

Bu, malam ini aku tidak bisa pulang karena menginap di rumah Sisil. Ada tugas kantor yang harus aku selesaikan bersamanya.

Ibu jangan khawatir, besok aku pulang.

Aku mengembalikan Hp itu kepada pemiliknya.

"Istirahatlah Nak, jangan lupa makan ya!"

Wanita itu mengusap lembut pungguku dengan tersenyum. Senyum yang menghadirkan perasaan hangat seperti senyum ibuku. Aku kembali tertunduk dengan tangis yang masih meleleh. Aku mengangkat wajah untuk menatap kembali wanita baik itu, namun aku juga menemukan laki-laki yang tadi menolongku tengah berdiri di balik pintu menatapku. Ia telah berganti pakaian dengan kaos putih dan sarung. Sesaat kemudian pintu kamar tertutup sempurna, aku kembali sendirian di sebuah kamar yang asing. Membaringkan tubuh diatas kasur, menikmati tangis yang tak mau berhenti.

Suara adzan subuh membangunkanku. Mataku terasa tak nyaman saat ku buka. Mungkin bengkak karena terlalu lama menangis. Saat kesadaranku pulih, aku ingat dimana aku sekarang.

Piring beserta isinya masih utuh, hanya teh di gelas yang kini tinggal setengahnya. Mataku kembali basah mengingat peristiwa yang menimpaku kemarin. Setelah ini, aku harus bagaimana? Masa depanku hancur. Ibuku, bagaimana aku harus bercerita padanya? Beliau menaruh harapan besar padaku, tapi kini, tak ada yang tersisa. Tak akan ada laki-laki yang mau menikahiku, dan___ jika aku sampai hamil maka aku akan mempermalukan ibuku. Kami akan dihina kembali. Sebelumnya kami jadi olonakan orang karena kelakuan ayah. Aku akan memiliki anak di luar nikah, lalu bagaimana aku harus merawatnya?

Kepalaku kembali berdenyut dan berat. Dada yang sesak belum berkurang sejak kemarin. Mataku tetap basah, meski aku lelah menangis. Aku memeluk lutut dan menenggelamkan wajahku disana. Bayangan masa depan begitu menakutkan bagiku. Aku ingin menyalahkan Tuhan yang telah menghadirkanku ke dunia ini. Untuk apa manusia dilahirkan dan di biarkan hidup jika hanya untuk menderita?

Terdengar decitan pintu, dan wanita baik itu duduk di sampingku. Aku masih enggan untuk merubah posisiku.

"Apa yang terjadi padamu Nak? Kau bisa bercerita padaku." Wanita baik itu mencoba mengajakku bicara.

Aku masih tetap abai. Keheningan tercipta diantara kami. Setelah cukup lama aku hanya membisu, dia melangkah pergi. Ketika tubuhnya hendak meninggalkan pintu aku memanggilnya.

"Aku ingin pulang ! " Ujarku lirih .

"Baiklah, tapi kau harus sarapan dulu! Setelahnya putraku akan mengantarmu."

Beberapa saat kemudian wanita baik itu masuk dengan membawa sepiring nasi dan lauknya serta segelas air putih.

"Makanlah dulu Nak! " Wanita itu duduk di tepi tempat tidur.

"Dulu, ada perempuan yang bernasib sama denganmu. Dia, kehilangan makhkotanya karena seseorang merenggut paksa." Kudengar suaranya berat .

"Dia putus asa dan takut memikirkan segala hal. Butuh waktu yang tak sebentar untuk sembuh dari luka batin trauma itu. Namun, perempuan itu mencoba menghadapi luka yang menderanya tak menghindarinya. Hingga pada waktunya luka itu sembuh dengan sendirinya." Dia bercerita dengan mata berembun.

"Coba memberi waktu bagi diri sendiri untuk menerima dan sembuh. "

Aku terpaku pada sorot mata wanita dihadapanku. Begitu teduh, hingga tanpa sadar aku terisak dalam pelukannya. Air mataku membasahi jilbabnya. Tanpa diperintah mulutku berkisah akan kejadian menyakitkan kemarin. Berkali-kali wanita itu mengusap punggung tanganku. Dia menatapku iba dibalik senyum yang ia berikan padaku.

Dengan sebuah taksi aku kembali ke rumah. Laki-laki yang menolongku ikut mengantar. Dia duduk di sebelah sopir dan aku di belakang. Sepanjang perjalanan kami hanya saling diam. Taksi berhenti di depan gang kecil sesuai alamat yang kuberikan, aku menapakkan kaki keluar dari taksi.

Kakiku terasa berat untuk mengayun. Memikirkan apa yang harus kujawab jika ibu bertanya tentang diriku. Tapi ibu adalah tempat pulang bagiku. Aku harus kuat dan menyimpannya seorang diri sampai waktu yang tepat untuk bercerita. Atau bila mugkin aku akan memendamnya seorang diri selamanya.

Aku menatap laki-laki yang mengantarku, tengah berdiri disamping taksi. Ingin mengucapkan terima kasih padanya. Namun kata-kata itu berhenti di tenggorokan saja. Ku ayunkan langkah meski kakiku terasa dibebani batu besar di sana.

Aku masih mengingat kata-kata wanita baik itu, wanita yang kuketahui bernama Diana setelah dia menyebutkannnya. Dialah perempuan yang diceritakannya padaku. Perempuan yang senasib denganku. Kehilangan makhkotanya oleh laki-laki biadap.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Be Your Pet
9.2
Erick, pemuda berusia dua puluh tahun, terpaksa mengambil langkah ekstrem demi melunasi biaya rumah sakit ibunya. Ia bersedia menjadi 'peliharaan' bagi Jason, seorang pria penyuka sesama jenis yang sangat dominan dengan kecenderungan BDSM. Kini, hidup Erick dipenuhi kekerasan, makian, serta penghinaan. Sanggupkah Erick bertahan melewati hubungan dewasa yang sangat ekstrem ini demi menyelamatkan sang ibu?
Sampul Novel Cinta masa kecil
9.0
Terpisah jarak dan ambisi sejak kecil, Dina dan Arga kembali dipertemukan takdir di kota besar setelah sekian lama. Dina kini berjuang keras sebagai desainer, sedangkan Arga telah menjelma menjadi pebisnis sukses yang kaya raya. Pertemuan tak terduga ini perlahan membangkitkan kembali perasaan lama yang sempat terkubur. Di tengah bayang-bayang keraguan masa lalu, keduanya kini harus mencari tahu apakah rasa yang tersisa ini merupakan takdir cinta sejati mereka.
Sampul Novel Harga Diri Seorang Suami
9.0
Kehilangan jabatan kepala pengawas pabrik membuat hidup Gunawan runtuh. Nasibnya kian tragis saat sang istri tega menggugat cerai dan mengusirnya begitu saja. Meski terpuruk dan harga dirinya diinjak-injak, Gunawan menolak menyerah pada kenyataan pahit ini. Ia bertekad bangkit dari kehancuran untuk membuktikan kekuatan sejatinya, sekaligus membalaskan dendam kepada setiap orang yang dahulu pernah meremehkan dan merendahkannya.
Sampul Novel Hubungan Cinta Terlarang dengan Ibu Rina
8.7
Rina adalah seorang guru sejarah di sebuah SMA. Dia berusia 30 tahun, bercerai tanpa anak. Orang bilang dia mirip Demi Moore di film "Striptease". Tingginya 170 cm, berat 50 kg, dan payudara 36B. Semua muridnya, terutama yang laki-laki, sangat ingin melihat tubuh polosnya. Suatu hari, Rina harus memanggil salah satu muridnya ke rumahnya untuk tes rias wajah. Anto harus mengulang ulangan karena ketahuan menyontek di kelas. Anto juga dikenal dengan tubuhnya yang kekar karena sudah berlatih bela diri sejak SD sehingga harus menjaga kebugaran fisiknya. Bagi Rina, kedatangan Anto ke rumahnya juga merupakan suatu kebetulan. Dia diam-diam naksir dia. Itu sebabnya dia bermaksud memberinya beberapa "pelajaran tambahan" pada Minggu sore ini. "Sudah selesai, Anto?" Rina kembali ke ruang tamu setelah meninggalkan Anto sendirian selama satu jam untuk mengerjakan soal-soal yang dilontarkannya. "Hampir, Nona." "Kalau sudah selesai, datanglah ke ruang tamu. Aku akan berada di belakang." "Oke." "Mbak Rina, aku sudah selesai," Anto memasuki ruang tamu dengan pekerjaannya. "Dimana Kak Rina?" "Dia di kamarnya Anto, sebentar," Rina mencoba membetulkan kausnya. Ia sengaja melepas branya untuk membangkitkan gairah muridnya. Di balik baju longgarnya, bentuk payudaranya terlihat jelas, terutama putingnya yang menonjol. Begitu dia pergi, mata Anto hampir melotot melihat tubuh gurunya. Rina membiarkan rambut panjangnya tergerai, tidak seperti penampilannya biasanya di depan murid-muridnya. “Kenapa kamu tidak duduk dulu, biar aku periksa…” Wajah Anto memerah karena malu saat Rina tersenyum saat tatapannya terfokus pada payudaranya. "Bagus... bagus... Kamu bisa berbuat curang seperti itu?" “Maaf, Nona. Saya lupa belajar hari itu.” "Ah, benarkah?" "Anto, bisakah kamu membantuku?" Rina mendekat padanya di atas karpet. “Ada apa, Nona?” Tubuh Anto gemetar saat tangan gurunya memeluknya, sementara tangan Rina yang lain membelai area miliknya. "Tolong, bantu aku, dan berjanjilah untuk tidak memberitahu siapa pun." "Tapi...tapi...aku..." "Kenapa? Oh...kamu masih perawan?" Wajah Anto memerah mendengar perkataan Rina. "Ya." "Tidak apa-apa. Biarkan aku membimbingmu." Rina lalu duduk di pangkuan Anto dan Anto hanya menurut saja saat tubuh hangat gurunya menempel di tubuhnya. Dia bisa merasakan dada Rina mengeras. Keduanya berciuman mesra. Setelah memuaskan diri, Rina berdiri di hadapan muridnya yang masih tertegun. Rambut panjangnya tergerai seperti sutra di tubuhnya. "Ah, cepatlah Anto," erang Rina tak sabar. Anto kemudian berlutut di samping gurunya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. "Anto...letakkan tanganmu di dadaku," dengan gemetar Anto meletakkan tangannya di dada Rina, merasakannya naik turun.
Sampul Novel Jebakan Cinta Sang Miliarder (Amata: Beloved).
7.9
Kepulangan Hwanhee setelah tiga tahun justru berujung pada paksaan sang ayah untuk menikahi Ayda Hannah Elsworth demi ambisi keluarga. Di sisi lain, Hannah yang keras kepala curiga rahasianya dimanfaatkan sebagai alat kendali, sehingga ia menolak menjadi menantu boneka. Meski kewalahan menghadapi sikap Hannah yang rumit dan liar, kemandirian wanita itu perlahan memicu dinamika benci jadi cinta yang tak terduga di antara keduanya.
Sampul Novel Married to the Scandalous Billionaire
9.5
Pasca berseteru dengan sang ibu tiri, Beverley Holmes tak menyangka namanya tertulis di undangan pernikahan sendiri. Ia rupanya telah dijual untuk melunasi utang bernilai jutaan dolar. Brent Oliver, sang suami miliarder, awalnya bertekad mengabaikan pesona Beverley. Namun, kepolosan sang istri perlahan mulai meruntuhkan pertahanannya. Kini Brent terjebak dalam dilema besar: tetap setia pada kekasih rahasianya atau sepenuhnya menyerah pada daya tarik Beverley.