
Suamiku, Bukan Suamiku!
Bab 2
Ketakutan
Ternyata ini tujuannya! Masalah ini dimulai dari minggu lalu.
Minggu lalu, aku mendapat telepon dari pengacara yang mengatakan bibiku meninggal. Bibiku tinggal sangat jauh dan tidak punya keturunan. Sebelum meninggal, dia menulis surat wasiat, menyatakan seluruh hartanya akan diberikan kepada satu-satu kerabatnya, yaitu aku.
Selama beberapa tahun ini, bibiku menghasilkan banyak uang dengan berbisnis. Warisannya senilai puluhan miliar. Pengacara mencariku, menyerahkan kartu ATM dan sepucuk surat.
Di atas surat itu, bibiku berpesan bahwa hanya aku yang boleh mengambil uang. Tidak boleh ada yang tahu tentang uang itu, termasuk Jeffrey. Nahasnya, Jackson kebetulan melihat surat itu, lalu memberi tahu Jeffrey dan Sarah.
Masalah ini membuat Jeffrey dan Jackson terus bertengkar. Jeffrey merasa uang itu adalah aset kami, tidak ada hubungannya dengan Jackson dan Sarah.
Sementara itu, Jackson malah mengatakan aku adalah bagian dari keluarga ini sehingga aset bibiku harus dibagi rata. Ketika melihat Jackson yang biasanya hanya diam tiba-tiba bertengkar dengan Jeffrey karena masalah ini, aku buru-buru mencairkan suasana.
"Sudahlah, totalnya adalah 40 miliar. Aku ambil 20 miliar. Sisanya kalian bagi bertiga. Gimana?" usulku.
Jackson malah mencela, "Kalau seorang mendapat 6 miliar, masih ada sisa 2 miliar. Gimana cara membagikannya?"
Sejak saat itu, suasana di rumah ini menjadi aneh. Jeffrey dan Jackson bertengkar setiap hari, bahkan hampir main tangan.
Selain itu, aku beberapa kali menangkap basah tiga bersaudara ini menggeledah kamarku dan diam-diam menanyakan kode sandi kartu ATM. Demi berjaga-jaga, aku menyimpan kartu ATM itu dan tidak memberi tahu siapa pun kode sandinya.
Pada akhirnya, aku tidak bisa menahan bujukan Jeffrey. Aku setuju membawa mereka pergi ke bank bersamaku. Sebentar! Sesuatu tiba-tiba berkelebat di benakku.
Jeffrey dan Jackson adalah saudara kembar. Wajah dan suara keduanya sama persis. Jangan-jangan orang di depanku adalah Jackson? Pasti benar seperti itu!
Jeffrey kemungkinan besar dalam bahaya. Itu sebabnya, aku yang di masa depan tiba-tiba mencariku. Karena situasi sudah seperti ini, aku terpaksa bersandiwara. "930 ...."
Saat berikutnya, aku memegang kepalaku dan berguling-guling di ranjang, berpura-pura kesakitan.
Jackson terperanjat. Dia mundur beberapa langkah, tidak sengaja menjatuhkan gelas di nakas hingga pecah.
Ketika merasa sandiwaraku sudah cukup meyakinkan, aku berhenti meratap dan duduk di ranjang dengan terengah-engah. "Obat apa ini? Kenapa kepalaku tiba-tiba sakit setelah makan?"
Ekspresi pria di depanku tampak agak panik. Dia menyahut, "Obat ini direkomendasikan temanku yang bukan dokter. Memang nggak bisa dipercaya!"
Aku terkekeh-kekeh dalam hati. Tadi katanya ini adalah obat baru dari dokter, sekarang katanya direkomendasikan teman. Benar-benar alasan yang konyol!
Jackson memegang nampan dengan tangan kirinya dan mulai memungut pecahan gelas tanpa berbicara sepatah kata pun. Kemudian, dia bilang masih ada pekerjaan sehingga harus kembali ke ruang kerjanya.
Aku mengangguk sambil tersenyum, lalu pura-pura memejamkan mata. Sementara itu, Jackson pun pergi dengan tenang setelah melihat tidak ada kejanggalan apa pun.
Setelah Jackson pergi, aku mengeluarkan ponselku dan mengetik pesan dengan tangan bergetar.
[ Kamu adalah aku di masa depan? ]
Orang itu membalas dengan cepat dan singkat.
[ Ya. ]
Otakku sontak tidak bisa mencerna apa yang terjadi. Larut malam, aku diam-diam pergi ke ruang bawah tanah. Begitu mendekati pintu, aku langsung mencium bau amis darah.
Aku mencoba mengetuk pintu, tetapi tidak ada respons apa pun. Jadi, aku menggunakan kunci cadangan untuk membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, aku langsung dikejutkan dengan pemandangan di depanku. Aku tak kuasa berteriak, tetapi segera menutup mulutku agar tidak menarik perhatian orang.
Di dalam sana, terlihat seorang pria terkapar di lantai. Punggungnya ditikam gunting. Darah menodai seluruh karpet, bahkan sudah kering.
Wajahnya memandang ke arah pintu. Orang itu tidak lain adalah Jeffrey. Aku sontak merasa mual. Untungnya, aku belum makan apa pun. Kalau tidak, lantai sudah pasti kotor karena muntahanku.
Aku duduk dan bersandar di dinding untuk menenangkan diri. Kemudian, aku memberanikan diri untuk mendekati jasad Jeffrey. Ada bau busuk yang samar. Sepertinya, Jeffrey sudah mati cukup lama.
Jarum jam di pergelangan tangannya berhenti pada pukul 10.35. Tangan kirinya terkepal, seolah-olah sedang memegang sesuatu. Aku membuka tangannya, mendapati ada serpihan kertas yang menuliskan kata "R".
Saat ini, aku melihat sebuah kartu karyawan di tubuh Jeffrey. Aku menjulurkan tangan untuk mengambilnya, lalu merasa pusing saat melihat nama di atasnya. Ternyata itu adalah kartu Jackson!
Anda Mungkin Juga Suka





