APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suami Yang Menolak, Hati Yang Hancur

Suami Yang Menolak, Hati Yang Hancur

Akibat kesalahpahaman di hotel, Almira terpaksa menikah dengan Adrian Elvano karena desakan keluarga besar. Meski Adrian menolak keras dan bersikap dingin akibat trauma masa lalu, pernikahan tetap terjadi. Almira yang bekerja sebagai guru les anak Adrian pun dianggap sebagai beban tak kasat mata. Di tengah kepedihan batin tinggal di rumah asing tersebut, Almira mendapat peluang emas untuk kuliah di luar negeri. Kini ia dilema: bertahan dalam luka atau pergi demi lembaran baru.
Bab
Bagikan

Bab 2

Hujan deras mengguyur halaman rumah Adrian Elvano malam itu. Air jatuh membentuk tirai tipis di luar jendela, dan suara gemericiknya menjadi latar bagi kesunyian yang membungkus ruang makan.

Almira duduk di kursi ujung meja panjang itu, menunggu. Di hadapannya, dua piring makan sudah tersaji-satu untuknya, satu untuk Adrian. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

Dia sudah terbiasa menunggu, tapi tetap saja, ada rasa getir setiap kali waktu berlalu tanpa tanda-tanda pria itu akan pulang.

Langkah kaki pelan terdengar dari arah tangga. Bukan Adrian. Keira muncul dengan piyama bergambar bintang-bintang, rambutnya tergerai.

"Tante belum makan?" tanya Keira sambil mengusap matanya.

Almira tersenyum tipis. "Tante mau makan bareng Papa kamu. Tapi sepertinya Papa masih di kantor."

Keira mengangguk, lalu duduk di kursi sampingnya. "Papa selalu pulang malam. Dulu Mama juga suka nungguin, tapi..." suara Keira melemah.

Almira mengelus rambut Keira dengan lembut. Ia tak ingin menggali luka anak itu lebih dalam. "Kalau begitu, malam ini kita makan berdua saja, ya."

Sekitar satu jam kemudian, pintu utama berderit terbuka. Adrian masuk, basah kuyup. Jaket hitamnya meneteskan air ke lantai marmer, rambutnya berantakan.

"Kau basah sekali," ujar Almira refleks. "Aku ambilkan handuk."

"Tidak usah." Adrian melewati meja makan tanpa menoleh. "Aku sudah makan di luar."

Almira mematung. Piring yang ia siapkan tetap utuh di meja.

Ia tak tahu kenapa, tapi ucapan singkat itu menyisakan rasa ditolak yang lebih tajam daripada biasanya.

Beberapa hari berikutnya, Almira mulai memahami pola hidup Adrian. Pria itu berangkat pagi-pagi sekali, jarang sarapan di rumah, dan pulang larut malam. Bahkan di akhir pekan, ia sering mengurung diri di ruang kerja atau pergi tanpa penjelasan.

Jika pun mereka bertemu di lorong atau ruang makan, interaksi mereka tak pernah lebih dari salam singkat atau pertukaran kata-kata seperlunya.

Almira mencoba memaklumi. Ia tahu Adrian punya alasan. Ada masa lalu yang membentuk dinding tebal di sekelilingnya.

Suatu sore, ketika Almira sedang menyiapkan camilan untuk Keira di dapur, ia mendengar suara Mami Adrian dari ruang tamu.

"Bagaimanapun, kalian sudah menikah, Adrian," suara itu terdengar tegas. "Kau tak bisa terus memperlakukannya seperti orang asing."

"Aku tidak meminta pernikahan ini terjadi," balas Adrian, suaranya rendah namun sarat tekanan. "Kau dan Nenek yang memaksanya."

"Kalau begitu, setidaknya hargai posisinya di rumah ini."

Almira menahan napas di balik pintu dapur. Ia tahu mendengar percakapan ini tanpa izin salah, tapi setiap kata yang keluar dari mulut Adrian terasa seperti cambuk yang mengenai punggungnya sendiri.

"Aku tidak bisa," jawab Adrian singkat. "Aku sudah cukup terluka sekali. Tidak akan ada perempuan lain yang kuizinkan masuk dalam hidupku."

Kata-kata itu diucapkan dengan nada final, seperti vonis.

Malamnya, Almira duduk di kamarnya sambil menatap layar laptop. Email tawaran pertukaran pelajar dari universitas luar negeri masih terbuka. Jari-jarinya melayang di atas keyboard, siap menekan tombol "Reply".

Tapi wajah Keira terlintas di pikirannya. Gadis kecil itu mulai terbuka padanya, meski perlahan. Ia ingat senyum malu-malu Keira saat Almira mengajari cara membuat origami, atau saat mereka memanggang kue bersama di dapur.

Jika ia pergi, siapa yang akan mengisi ruang kosong itu?

Hari Sabtu pagi, udara cerah. Keira memaksa Adrian untuk ikut sarapan bersama mereka di teras belakang. Entah karena lelah membantah atau karena tak ingin membuat anaknya kecewa, Adrian duduk di meja bundar bersama mereka.

"Papa, coba deh roti buatan Tante Almira," pinta Keira sambil menyodorkan piring.

Adrian melirik roti itu sekilas, lalu mengambilnya tanpa komentar. Ia menggigit sedikit, lalu meletakkannya kembali.

"Enak?" tanya Keira antusias.

"Hm," jawab Adrian singkat.

Bagi Keira, jawaban itu cukup. Ia tersenyum lebar. Tapi bagi Almira, jawaban itu hanya menguatkan bahwa ia tetap tak berarti di mata pria itu.

Siang harinya, Almira memutuskan pergi ke perpustakaan kota untuk mencari bahan ajar baru. Saat ia berjalan menuju gerbang rumah, ia melihat Adrian di halaman, berbicara dengan seorang wanita cantik berambut cokelat bergelombang.

Wanita itu tertawa kecil, lalu menepuk lengan Adrian dengan akrab. Almira tak sengaja memperlambat langkahnya. Ada sesuatu di cara wanita itu menatap Adrian-campuran rindu dan kepemilikan.

Mereka berdua akhirnya menyadari kehadirannya. Wanita itu menatap Almira dari ujung kepala hingga kaki, lalu tersenyum tipis. "Oh, jadi ini istrimu sekarang?"

Nada suaranya terdengar manis, tapi matanya mengandung penilaian yang tajam.

Adrian tidak langsung menjawab. Hanya ada jeda singkat sebelum ia berkata, "Ya." Satu kata, tanpa ekspresi, seolah hanya formalitas.

Wanita itu mengangguk kecil, lalu pamit dengan tatapan yang masih menusuk ke arah Almira.

Begitu wanita itu pergi, Adrian berjalan melewati Almira tanpa memberi penjelasan apa pun.

Malam itu, di kamarnya, Almira memikirkan tatapan wanita tadi. Ada sesuatu di sana-semacam kepastian bahwa hubungan Adrian dengan perempuan itu belum benar-benar berakhir.

Untuk pertama kalinya, Almira bertanya-tanya, apakah keputusan untuk tetap tinggal di rumah ini adalah kesalahan besar.

Keesokan harinya, ia menemukan Keira duduk sendirian di taman belakang, menatap buku gambar yang belum selesai diwarnai.

"Kenapa murung?" tanya Almira sambil duduk di sampingnya.

"Papa marah sama Tante kemarin?" tanya Keira tiba-tiba.

Almira tersenyum hambar. "Tidak, sayang."

"Tapi Papa bilang ke Mama dulu kalau... dia tidak akan menikah lagi." Keira menunduk. "Mungkin itu sebabnya Papa jarang bicara sama Tante."

Hati Almira seperti diremas. Kata-kata polos itu menyakitkan, karena berasal dari mulut anak kecil yang bahkan belum mengerti sepenuhnya situasinya.

Malamnya, hujan kembali turun. Adrian pulang lebih awal, sesuatu yang jarang terjadi. Almira memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruang kerjanya.

Saat pintu dibuka, ia melihat Adrian duduk di belakang meja, menatap layar laptop dengan wajah tegang.

"Ada apa?" suaranya datar.

"Aku... hanya ingin bilang kalau aku tidak ingin membuat hidupmu semakin sulit. Kalau memang kehadiranku-"

"Berhenti," potong Adrian. Tatapannya menusuk. "Jangan mengasihani dirimu sendiri. Kau memilih untuk tinggal di sini."

"Aku tidak memilih," balas Almira lirih. "Kita berdua sama-sama dipaksa."

Adrian terdiam sejenak. Ada kilatan emosi di matanya-marah, sedih, dan sesuatu yang lebih dalam-sebelum ia mengalihkan pandangannya. "Pergilah sebelum aku mengatakan hal yang akan kau sesali."

Almira menelan ludah, lalu berbalik.

Di balik pintu yang tertutup kembali, Adrian memejamkan mata. Bayangan wajah seorang wanita lain-mantan istrinya-muncul di pikirannya. Suara tawa, janji manis, dan akhirnya pengkhianatan. Luka itu belum sembuh. Dan ia tidak ingin terluka lagi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO lumpuh itu, suamiku
9.5
Demi melunasi utang keluarganya, Rachel Martinique terpaksa menikahi seorang CEO lumpuh yang asing baginya. Kehidupan dokter bedah ini berubah drastis saat memasuki pernikahan tanpa cinta tersebut. Alih-alih kebahagiaan, ia justru disambut kebencian mendalam dari sang suami baru. Di tengah ketegangan dan ketidakpastian rumah tangga, akankah benih cinta perlahan tumbuh di antara mereka, ataukah takdir buruk yang akan menyudahi hubungan ini?
Sampul Novel Cinta Berujung Duka atau Suka
7.9
Saat sang putri terbaring lemah karena demam tinggi, Jeffry Aryadi justru sibuk menghadiri pertemuan sekolah untuk anak dari cinta sejati masa lalunya. Ketika sang istri mencoba menghubungi, panggilan tersebut justru dijawab oleh wanita lain yang menangis meminta maaf. Jeffry yang merebut ponsel tersebut malah memarahi istrinya, berdalih hanya menolong seorang janda dan anak yatim. Kecewa dengan sikap suaminya, sang ibu akhirnya menawarkan pilihan kepada putrinya untuk hidup berdua saja dengannya mulai sekarang.
Sampul Novel Dihina Miskin, Aku Istri Konglomerat
8.5
Ziva mengakhiri hubungan lima tahunnya setelah Luis Loren memberikan hadiah murah sementara membelikan kapal pesiar mewah untuk cinta pertamanya, Paula. Lima tahun kemudian, mereka bertemu kembali di sebuah konferensi bisnis. Luis yang kini sukses menggandeng Paula, mengejek Ziva yang berpenampilan berantakan di dekat air mancur hotel mewah. Luis mengira Ziva hidup menderita dan mengemis belas kasihan. Padahal, Ziva hanya sedang mencari berlian biru milik putranya yang tidak sengaja terjatuh ke air.
Sampul Novel Jodoh Wasiat Nenek
9.4
Wasiat sang nenek memaksa dua sahabat kecil, Jingga dan Davin, terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Davin memilih pergi ke luar negeri demi karier, lalu pulang membawa wanita lain serta tuntutan cerai. Dengan hati hancur, Jingga merelakan perpisahan mereka. Bertahun-tahun berlalu, takdir kembali mempertemukan keduanya. Namun kini, Jingga tidak lagi sendiri; ia bersama seorang anak kecil yang sangat mirip dengan Davin. Siapakah sebenarnya bocah misterius itu?
Sampul Novel Keputusasaan Di Balik Pernikahan
7.9
CEO dingin Jerald Lucas sangat mencintai Clara Rernald, istrinya. Namun, citra suami idaman itu runtuh seketika saat skandal perselingkuhan akibat pengaruh racun menjebak Jerald tepat di hari jadi pernikahan ketujuh mereka. Walau Jerald bersujud memohon maaf dan berjanji setia, hati Clara terlanjur hancur melihat bukti pengkhianatan di kamar mereka. Upaya penebusan dosa sang CEO pun sia-sia karena sebuah foto misterius akhirnya memicu Clara untuk pergi selamanya.
Sampul Novel Mr. Ergan Obsession
8.5
Kehidupan mapan sebagai pewaris tunggal dan CEO di Jakarta tak membuat Ergan Tirta Alviano mudah mendapatkan segalanya. Ia justru terobsesi pada Andira, perempuan sederhana yang berani menolak cintanya demi menjaga kesetiaan pada sang kekasih. Meski ada jurang pemisah status sosial, Ergan yang berwatak keras tidak menyerah. Melalui berbagai siasat halus hingga pemaksaan, ia bertekad merebut hati Andira. Akankah ambisi yang penuh emosi ini mampu berubah menjadi cinta yang tulus?