
Suami yang Berjanji Setia, Malah Berpaling
Bab 4
Darius bergegas ke sisiku.
Dia melihat mataku yang berkaca-kaca dan kotak musik yang pecah berkeping-keping di lantai. Rasa pilu memenuhi wajahnya. "Nia, apa yang terjadi? Tanganmu ...."
Dia meraihku, tetapi aku tersentak menjauh karena merasa jijik.
Saat itu, Shanti berlari menyusulnya.
Dia menghambur ke pelukan ibunya, menangis sejadi-jadinya. "Mama, Mama baik-baik saja? Ini semua salahku, seharusnya aku nggak minta bantuan Mama .... Bu Ivania, maafkan kami, kami nggak bermaksud begitu!"
Emira langsung bersandiwara, menatapku dengan ketakutan palsu di matanya. "Darius, kamu harus bicara sama Ivania. Dia seperti orang gila tadi, dia bilang mau bunuh kami ...."
"Aku cuma suruh dia untuk nggak menyentuh barang-barang ibuku!" Aku menunjuk pecahan-pecahan di lantai, suaraku sedingin es.
Mata Darius melirik antara Shanti yang menangis, ibunya Shanti, dan aku.
Alisnya berkerut. Kepiluan di matanya digantikan oleh rasa tidak sabar dan keraguan.
"Nia, sudah cukup." Suaranya menyiratkan sesuatu yang belum pernah kudengar sebelumnya. Itu adalah kekecewaan. Terhadap diriku.
Aku menatap suami yang kini seperti orang asing. Di rumahku sendiri. Dia bahkan menyebutku penjahat karena membela ibuku sendiri.
Rasanya sulit dipercaya. Rasanya menggelikan. Rasanya sungguh tragis.
"Darius," kataku lirih. "Aku mau cerai."
Kata-kata itu menghantamnya bagai bom.
Wajahnya memucat. Dia mencengkeram bahuku. "Nggak boleh! Kamu ini ngomong apa sih? Nia, kamu nggak bisa bertingkah seperti ini!"
"Kenapa nggak?" Aku menatapnya, wajahku seperti topeng yang terbuat dari es.
"Aku cinta sama kamu! Aku cuma cinta sama kamu!" raungnya. Ada sedikit rasa panik dalam suaranya yang bahkan dia sendiri tidak menyangkanya. "Shanti dan ibunya ... mereka nggak berarti apa-apa bagiku! Keluarga mereka mengusir mereka berdua, aku cuma ... membantu saja."
Di belakangnya, tangisan Shanti berhenti sejenak. Kilatan kebencian melintas di wajahnya.
"Kamu sadar, 'kan?" kataku sambil tersenyum mengejek. "Kamu bahkan nggak percaya sama kebohonganmu sendiri."
Aku menepis tangannya dan berjalan menuju pintu tanpa menoleh ke belakang.
"Ivania!"
Dia mulai mengejarku, tetapi kemudian aku mendengar suara memuakkan itu lagi.
"Darius, aku merasa nggak enak badan. Hatiku ... sakit."
Langkah kaki Darius berhenti di belakangku.
Sudah jelas siapa yang dia pilih.
Aku keluar dari rumah yang kini terasa seperti makam dan pergi ke satu-satunya tempat yang masuk akal, yaitu sebuah bar.
Wiski tidak menghilangkan rasa sakit. Justru semakin mempertajamnya.
Temanku sudah tidak sadarkan karena mabuk. Aku sedang terhuyung-huyung ke kamar mandi ketika menabrak dada yang kekar.
Aroma wiski yang kuat menusuk hidungku. Aku mendongak dengan mata sayu dan melihat wajah yang merupakan cerminan Darius, tetapi lebih tajam. Tatapannya lebih dalam, lebih berbahaya.
Minuman keras telah memperkuat semua rasa sakit dan amarahku.
"Bajingan!" Aku menarik dasinya dan menamparnya sekuat tenaga. "Darius Fontana, kamu bajingan! Mendingan kamu dan pelacurmu pergi saja ke neraka!"
Kepala pria itu tersentak ke samping. Dia tidak marah. Senyum gelap tersungging di bibirnya, seakan-akan ini semua adalah hiburan.
Dia menangkap pergelangan tanganku, suaranya yang dalam berdengung pelan di telingaku. "Lihatlah lebih dekat. Aku bukan suamimu."
"Kamu masih Keluarga Fontana," kataku melantur. "Nggak beda jauh."
Sisa malam itu terasa kabur.
Aku ingat aroma kayu yang kaya dari cologne-nya. Aku ingat lengannya lebih kuat daripada Darius.
Aku ingat saat kehilangan diriku sepenuhnya, mencurahkan semua rasa sakit dan amarahku hingga tak bersisa.
Keesokan paginya, aku terbangun di kamar tamu di rumah utama Keluarga Fontana. Kepalaku terasa pening.
Sinar matahari terasa menyilaukan. Aku bangun, menyadari bahwa tubuhku telanjang di balik selimut di atas ranjang yang asing.
Dan di sisi lain ranjang itu terbaring seorang pria. Dia membelakangiku, lekuk wajahnya terlihat tegas. Itu pria yang kulihat tadi malam.
"Siapa kamu?!" Aku menyambar selimut dan membungkus tubuhku dengannya.
Pria itu terbangun.
Dia membalikkan badan perlahan. Matanya yang dalam tidak menunjukkan rasa terkejut, hanya sedikit geli. "Kamu sudah bangun?"
Aku tidak berpikir dua kali. Aku bergegas mengambil pakaianku yang berserakan di lantai, memakainya, lalu berlari keluar ruangan.
Aku lari menuruni tangga seperti buronan.
Dan di tengah aula besar, aku langsung bertemu Darius. Tampaknya dia telah terjaga semalaman untuk mencariku, matanya merah.
Dia melihatku dalam keadaan berantakan dan panik. Untuk sesaat, harapan menerangi wajahnya. "Nia, kamu sudah kembali! Aku ...."
Kata-katanya tercekat di tenggorokan.
Itu karena dia melihat pria itu perlahan mengikutiku menuruni tangga.
Dia menuruni tangga di belakangku, kemejanya setengah terbuka, memperlihatkan cakaran bekas merah membara yang ditorehkan kuku jariku di lehernya.
Wajah Darius memucat.
Dia menatap kami, suaranya bergetar tak terkendali.
"Ivania ... kenapa kamu bersama pamanku?"
Anda Mungkin Juga Suka





