
Suami Polisi Menjadi Gila Karena Kematianku
Bab 2
"Kak Alvin, betapa besar dendam pelakunya sampai menghancurkan lengan seseorang!" ujar seorang pria sambil menutup hidungnya dan menunjuk ke arah lengan yang bentuknya sudah aneh, meminta Alvin untuk ikut melihat.
Alvin mengenakan sarung tangan steril dengan ekspresi tenang dan merogoh tong sampah untuk mencari sisa daging lengan tersebut.
Bau busuk tong sampah bercampur bau busuk daging dan darah, menarik para lalat untuk berputar-putar di sekitarnya.
Petugas polisi yang bernama Reno Yastra sedang berbicara di samping.
"Kak Alvin, kudengar kalau daerah ini akhir-akhir ini nggak aman. Di awal bulan, orang-orang di sekitar sini mengatakan kalau ada yang berteriak di malam hari, seperti tangisan hantu."
"Mereka sempat ingin melaporkan hal tersebut ke polisi, tapi nggak jadi karena keesokan harinya sudah hilang."
Saat mengatakan itu, Reno melirik ke arah sebuah kompleks.
"Kak Alvin, hmm .... Bagaimana kalau kamu beri tahu Kak Emilia?"
Mendengar itu, Alvin melirik Reno, lalu melihat ke arah tempat tinggalku dan berkata dengan nada dingin.
"Hmph, semua orang di dunia ini dalam bahaya, tapi hanya dia satu-satunya yang nggak akan dalam bahaya!"
"Dia nggak akan mati. Dia bahkan berani mengonsumsi narkoba, jadi apa lagi yang perlu dikhawatirkan!"
Meskipun hari ini cerah, sinar matahari tidak bisa menyinari tubuhku.
Aku melihat Reno tersenyum canggung dan menutup mulutnya. Aku tiba-tiba merasa sangat sedih dan terharu.
Aku ingin memberi tahu Reno bahwa dia tidak perlu membantuku lagi, karena suara teriakan seperti tangisan hantu dia awal bulan itu adalah suara aku.
Lengan hancur yang kalian sedang lihat itu juga adalah lenganku.
Kalian tidak perlu lagi dimarahi karena aku.
Dalam perjalanan pulang, Alvin menelepon Yanita.
"Akhir-akhir ini nggak aman, jaga diri kalian baik-baik, jangan bawa putraku ke mana-mana dulu!"
Seperti mengancam, tetapi terdengar seperti rayuan. Lawan bicaranya lali menjawab dengan nada kesal tetapi juga manis.
"Ya, aku tahu! Aku tahu! Lakukan pekerjaanmu, Pak Polisi Besar Alvin!"
Suara manis itu membuat kerutan di dahi Alvin menghilang.
Namun, saat melewati tempat tinggalku, rasa kesalnya muncul dalam sekejap.
Alvin membuka riwayat obrolan kami di ponselnya, yang terhenti pada awal bulan ketika aku bertanya apa makanan kesukaan putra kami akhir-akhir ini.
Namun, dia tidak membalasnya.
Alvin kemudian memeriksa catatan panggilan telepon.
Terhenti juga di awal bulan.
Pada saat itu, dia mengangkatnya.
Akan tetapi, panggilan itu terputus setelah tiga menit berlalu.
Kalau dia mendengarkan dengan serius, dia pasti bisa mendengar suara tangisan dan teriakanku. Pada saat itu, aku ditahan oleh pengedar narkoba di area kompleks dan disuntik dengan narkoba.
Namun, Alvin tidak peduli padaku, dia hanya peduli apakah Yanita ingin makan kue kecil hari ini.
Alvin menatap kotak obrolan, mengetik beberapa kata, lalu menghapusnya. Jarinya terus mengetuk-ngetuk layar ponsel hingga dia tiba-tiba melempar ponselnya ke samping dengan kesal.
Dia tiba-tiba merasa cemas tanpa alasan yang jelas.
"Reno, periksa apakah ada orang hilang akhir-akhir ini, terutama di daerah ini!" ujar Alvin sambil melirik ke arah kompleks.
Reno duduk di jok penumpang depan, berkata dengan ragu-ragu.
"Beberapa hari lagi, ayah dan ibumu sempat datang."
"Mereka bilang, Kak Emilia ... menghilang."
Setelah mendengar ini, Alvin hanya mendengkus dingin.
Suasana di dalam mobil seketika ikut menjadi dingin.
Aku tahu, Alvin pasti mengira aku meminta bantuan orang tuanya agar bisa bertemu dengannya.
Setelah kembali ke kantor, Alvin langsung fokus pada kasus tersebut. Dia menghubungi tim forensik untuk melakukan perbandingan DNA dan menyelidiki area aktivitas para pengedar narkoba akhir-akhir ini.
Dia terus sibuk pada pekerjaannya, baru berhenti ketika orang tuanya menelepon.
"Alvin, apa kamu sudah menemukan Emilia?"
"Dia biasanya datang menemui kami dua minggu sekali, tapi dia nggak datang terakhir kali. Kalaupun ada urusan, dia pasti akan mengabari kami dulu, tapi sekarang kami nggak bisa menghubunginya sama sekali."
Saat ibunya mengatakan itu, suaranya sengaja dikecilkan, seolah-olah takut membuat Alvin marah.
"Yang paling ingin ditemui Emilia adalah kamu dan Yano, bisakah kamu membawa Yano pergi menemuinya dan beri tahu dia kalau Ibu merindukannya, oke?"
Jelas-jelas hanya kalimat yang sangat biasa, jelas-jelas hanya membantu mencari seseorang, tetapi semua itu langsung membuat Alvin marah.
"Ibu! Harus berapa kali kubilang! Aku memang seorang polisi, tapi bukan berarti harus pergi mencari siapa pun!"
"Lagi pula, bukankah dia punya kaki? Kalau nggak dipakai, potong saja kakinya!"
Seakan-akan menyadari nada bicaranya yang salah, Alvin menghela napas dan memperlambat nada bicaranya.
"Bu, kamu tahu ...."
Anda Mungkin Juga Suka





