
Suami Polisi Menjadi Gila Karena Kematianku
Bab 3
Ya, semua orang tahu bahwa ....
Orang yang paling tidak disukai, bahkan dibenci Alvin adalah Emilia.
Ini adalah fakta yang diketahui oleh orang-orang di sekitar kami.
Aku hanya jatuh cinta pada seseorang yang bersinar cerah pada saat masih remaja.
Hanya saja, orang itu mencintai orang lain.
Orang tua Alvin tidak setuju hubungannya dengan Yanita.
Pada saat itulah Alvin pertama kali bertengkar dengan mereka.
Pertama kali bagiku melihat Alvin bersikap seperti itu. Dia kemudian terlihat tertekan dan menyedihkan, seperti bunga teratai yang sengaja diletakkan di air yang kotor, perlahan-lahan menjadi layu.
Aku merasa sedih melihatnya seperti itu, jadi membantunya mencuri paspornya, memberinya semua uang yang aku tabung, membantunya melarikan diri untuk menemukan Yanita.
Saat dia akan melompat keluar dari jendela, matanya berbinar. Dia berterima kasih padaku, mengatakan akan mengajakku makan bersama setelah dia kembali.
Itu terakhir kalinya kami berbicara dengan ramah ... seperti teman.
Pada akhirnya, dia gagal menemukan Yanita.
Setelah kembali, dia berubah, terus bersembunyi di kamar sambil minum banyak.
Pada hari dia minum paling banyak, dia mengira aku adalah Yanita.
Hari itu adalah pertama kalinya aku memiliki dirinya.
Setelah ketahuan orang tuanya, mereka memaksa Alvin untuk menikahiku dan aku menyetujuinya.
Alvin meraih bahuku dengan mata merah, dia begitu marah sambil bertanya mengapa aku setuju.
Aku menjawabnya, karena aku hamil, aku ingin anakku memiliki keluarga yang utuh.
Dia seperti menggila, menghancurkan apa pun yang ada di sekitarnya, termasuk hadiah ulang tahun yang kuberikan padanya ketika berumur delapan belas tahun.
Setelah lelah, dia bersandar ke dinding, menatapku dengan tatapan kosong dan berteriak, "Emilia! Kamu sungguh nggak tahu malu!"
Aku tahu bahwa Alvin mencintai Yanita selama lima tahun.
Sementara diriku, Emilia mencintai Alvin selama sepuluh tahun.
Aku ingin lebih dekat dengannya, tetapi dia mendorongku dengan kasar. Sebuah kaca menancap di telapak tanganku dan cairan merah mengalir, berkilau di bawah cahaya.
Sangat mirip dengan matanya yang terlihat merah saat bertanya padaku.
....
"Kak Alvin! Cepat kemari! Kami menemukan sebuah kaki di lokasi lain!" Suara dari arah pintu itu membuyarkan lamunanku.
Alvin buru-buru menutup teleponnya, ibunya masih ingin mengatakan sesuatu.
Namun, disela Alvin terlebih dahulu, "Dia punya kaki, bisa pergi sendiri menemui Ibu! Kalau Ibu terus mengkhawatirkannya, ingat untuk potong kakinya dulu lain kali! Kalau nggak, berhentilah menggangguku dengan hal-hal kecil mengenainya seperti ini!"
Aku melihat ke arah Alvin berlari.
Oh, tidak perlu memotong kakiku lagi ....
Karena itu adalah kakiku.
"Kak Alvin, kaki ini dan lengan itu berasal dari orang yang sama." Reno mengenakan sarung tangan steril dan melihat-lihat kaki yang baru saja dikeluarkan dari saluran pembuangan.
Kaki itu sudah terendam air limbah cukup lama hingga terlihat begitu bengkak. Kotoran meresap ke dalam luka hasil sayatan pisau, mengeluarkan bau busuk yang masih bisa tercium meskipun dua meter jauhnya.
"Hasil tes DNA lengan itu sudah keluar?" tanya Alvin mengernyit sambil menatap kaki itu.
"Identifikasi awal menunjukkan bahwa korban seharusnya berasal dari keluarga Soveri di Kota Aneru."
Alvin tertegun sejenak, nama tempat dan nama keluarga yang tidak asing itu membuatnya lupa untuk berpikir sejenak.
Setelah aku diadopsi oleh keluarga Caros, aku tidak pernah punya kesempatan untuk kembali ke tempat orang tuaku dimakamkan.
Waktu kecil, aku sering menangis mencari orang tuaku, Alvin saat itu akan mengelus kepalaku sambil berkata, "Jangan takut, saat kamu sudah besar, aku akan membawamu pulang ke sana."
Kemudian, saat aku sudah tumbuh besar, dia sudah melupakan janji itu.
Aku pernah memohon padanya saat kami akan menikah, "Temani aku pulang untuk menemui ayah dan ibuku, ya?"
Dia hanya mengernyit, memasang ekspresi dingin sambil mengatakan aku terlalu banyak mau dan tidak pantas menemui orang tuaku.
Setelah dipikir-pikir, mungkin makan orang tuaku sekarang sudah dipenuhi rumput liar, bukan?
....
"Aku akan pergi ke Kota Aneru dalam beberapa hari. Kamu terus periksa perdagangan narkoba baru-baru ini."
Setelah memberi isyarat "oke" dengan tangannya, Reno kemudian bertanya dengan ragu-ragu.
"Kak Alvin, kamu benaran nggak pergi mencari Kak Emilia? Bagaimanapun, dia sebelumnya memperlakukan kami ...."
Ucapannya terpotong oleh dering ponsel Alvin.
"Alvin, kalung yang baru kubeli hilang, bisakah kamu pulang dan bantu aku mencarinya?"
Mendengar suara itu, kening Alvin terlihat lebih rileks dan dia tertawa kecil.
"Kamu sudah pikun ya. Nona Yanita, jangan khawatir, tunggu aku pulang."
Bagai sinar mentari yang tiba-tiba muncul di tengah musim dingin, lengkungan sudut mulut Alvin menunjukkan rasa cintanya.
Setelah dia menutup telepon, Reno ingin melanjutkan ucapannya, tetapi terpotong lagi, kali ini oleh Alvin.
"Reno, sudah kubilang, aku nggak ingin mendengar nama itu!"
"Berhenti mengungkitnya di hadapanku, nggak akan lama lagi kami akan bercerai!"
....
Jelas-jelas ucapan itu sudah kudengar berkali-kali, aku juga sudah siap untuk bercerai. Namun, mendengar secara langsung dari mulut orang yang paling kucintai ....
Tetap saja membuat hatiku sedih.
Aku melihat Reno menundukkan kepalanya, memainkan ponselnya dengan ekspresi serbasalah.
Sungguh bodoh. Aku hanya memasakkan makanan untukmu saat kamu lapar, mengapa kamu masih mengingatnya sampai sekarang?
Anda Mungkin Juga Suka





