APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suami Pengganti

Suami Pengganti

Kepergian Rian akibat kecelakaan tragis demi melindunginya membuat dunia Tania runtuh. Di tengah duka mendalam, ia dihadapkan pada tuntutan orang tuanya untuk menikahi Andre, sahabat lamanya sendiri. Pernikahan ini harus terjadi demi memulihkan kondisi kesehatan sang ayah yang memburuk. Tania merasa dikhianati oleh kesediaan Andre menerima perjodohan sepihak ini. Tanpa landasan cinta, akankah rumah tangga paksaan ini berujung bahagia, atau justru membawa luka baru bagi mereka?
Bab
Bagikan

Bab 2

Dua keluarga itu melaksanakan kewajiban untuk memakamkan jenazah Almarhum Rian.

"Nak, ayo kita pulang!" ajak Sari, terlihat khawatir dengan keadaan Tania yang merupakan calon istri Almarhum anaknya.

"Nanti ya, Ma. Tania akan pulang kalau sudah waktunya," jawab Tania sambil memegang batu nisan milik Rian.

Semua orang mencoba menahan air mata agar tidak keluar. Lagi dan lagi mereka berusaha untuk menenangkan Tania.

"Nak, kalau kamu terus begini, Rian tidak akan bahagia disana. Kalau kamu sayang Rian, maka jangan seperti ini ya!" seru Tiya, mamanya.

Mendengar itu, Tania hanya diam dan melangkahkan kaki dengan pelan ikut bersama mereka. Sesekali Tania melirik ke belakang karena tak sanggup dengan semua kenyataan yang terjadi. Sungguh, ia masih belum sanggup kehilangan kekasihnya.

Sampai di rumah, Tania merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan air mata yang terus saja jatuh membasahi pipi mulusnya itu.

"Kenapa seperti ini akhirnya, Rian? Aku nggak sanggup menghadapi dunia tanpa kamu." Tania mengacak-acak rambutnya, frustasi.

Ia melihat sekeliling kamarnya dan melihat beberapa foto yang terpajang di dinding. Foto itu adalah fotonya saat bersama Rian dulu.

"Aaaaaaaaaa." Teriakan Tania sukses membuat semua orang terkejut.

"Nak, ada apa?" tanya Tiya sambil duduk di samping kiri anaknya.

Tania tak menjawab perkataan mamanya. Ia hanya terisak, tak sanggup menjelaskan dengan kata-kata kepada Tiya, mamanya.

"Mama dan Papa paham isi hati kamu. Demi Papa dan Mama, tolong jangan seperti ini." Tania hanya terdiam menundukkan kepala ke bawah dengan menyembunyikan air mata yang terus saja tumpah.

Kedua orang tua Tania mengerti dan mencoba meninggalkan Tania di kamar. Biarkan saja Tania untuk tenang dengan sendirinya.

"Nak, ayo kita makan bersama!" ajak Tiya, mamanya.

"Duluan saja, Ma. Nanti Tania nyusul kok," jawab Tania tanpa melihat wajah mamanya.

"Tapi kamu belum makan sayang. Ayolah, jangan buat Papa dan Mama khawatir!" seru Tiya sambil memegang bahu anaknya itu.

"Ma, duluan saja ya! Nanti Tania makan kok," jawab Tania dengan pelan.

Tiya tak menjawab apa-apa lagi, ia keluar dari kamar anaknya dengan air mata yang jatuh membasahi pipi. Sang suami terkejut melihat istrinya yang tiba-tiba menangis dan sontak mempertanyakan.

"Kamu kenapa? Ada apa?" tanya Bram sambil berdiri dari kursi yang berada di meja makan sambil memegang bahu sang istri.

"Tania, Mas." Tiya menundukkan kepala ke bawah sambil menutup mulutnya.

"Dia kenapa?" tanya Bram, khawatir.

"Dia tidak mau diajak makan, aku harus bagaimana?" tanya Tiya dengan isakan yang terus saja terdengar.

"Kita tunggu sekitaran seminggu lagi, mungkin saja ada perubahan nanti. Tapi, tugas kamu terus mengajak Tania untuk makan dan bisa melupakan Rian, ya! seru Bram, papanya Tania.

Tiya hanya mengangguk mengiyakan perkataan Bram. Mereka kemudian melahap makanan yang sudah disediakan bi Iyum di atas meja makan.

Satu Minggu lamanya setelah kematian Rian. Namun, kondisi Tania masih sangat memprihatinkan. Tania hanya mengurung diri di kamar dan tak berselera untuk makan.

"Sayang, kamu siap-siap ya!" seru Bram yang mendatangi anaknya yang sedang duduk di jendela dengan matanya yang hanya tertuju pada satu tatapan.

"Siap-siap kemana, Pa?" tanya Tania melihat ke arah papanya.

Bram kaget melihat putrinya yang sudah sangat pucat itu.

"Nak, kamu pucat banget. Kamu makan ya!" seru Bram dengan matanya yang sudah berkaca-kaca melihat putri semata wayangnya sangat pucat.

Tania tersenyum paksa melihat papanya. Ia tidak ingin papanya bersedih karena Tania tahu bahwa papanya punya riwayat penyakit stroke.

"Tania tidak apa-apa, Pa." Tania tersenyum lebar dan mendekati papanya.

"Nak, Papa minta kamu makan sekarang ya! Please, demi Papa!" seru Bram dengan pelan pada putri semata wayangnya.

"Iya, Papa." Tania menjawab dengan pelan.

Tania turun ke bawah bersama Bram. Sudah seminggu ia tidak turun ke bawah karena terus-menerus mengurung diri di kamar.

"Nah, kali ini Tania makan khusus ya!" ucap mamanya yang sedang menyeduh nasi ke dalam piring.

"Makan khusus, maksud Mama?" tanya Tania dengan menaikkan bola matanya ke atas.

"Mama dan Papa mau nyuapin kamu, Nak." Tiya menjawab dengan pelan sambil menyuapi putri cantiknya itu.

Tania membuka mulut dan menerima suapan dari mamanya meski rasa makanan yang ia makan terasa hambar dan sulit untuk ia kunyah.

"Rian, aku jadi teringat kamu. Aku kangen kamu," batin Tania menjerit.

"Nah, sekarang giliran Papa," ucap Bram membawa sendok dari tangan istri dan menyuapi anaknya.

Air mata tak bisa Tania tahan lagi, dadanya begitu sesak.

"Nah, makan khususnya sudah selesai. Tania pamit ke kamar lagi, ya!" ucap Tania dengan pelan.

"Tapi makannya belum habis sayang," jawab Tiya menatap putrinya.

"Tania abisin di kamar aja ya," jawab Tania.

Tania membawa piring dan membawa segelas air. Ia berjalan menuju kamar.

"Tania!" panggil Bram hingga Tania menghentikan langkahnya.

Tania melihat ke belakang, "Ada apa, Pa?" tanya Tania.

"Pukul 20:00 WIB kamu harus sudah selesai siap-siap ya! Ada tamu yang akan datang ke rumah," seru Bram pada Tania.

"Tania nggak bisa, Pa." Tania menjawab dengan malas karena ia masih belum siap bertemu dengan orang lain.

"Demi Papa!" seru Bram dengan pelan pada anaknya.

Tania menghela napas kasar. Ingin menolak tapi tak ingin mengecewakan papanya. Dengan berat hati, ia terpaksa mengiyakan perkataan papanya.

"Baiklah, Tania usahakan." Tania berjalan ke atas dengan air mata yang kini sudah jatuh membasahi pipinya.

Tania membuka almarinya, ia memilih baju yang akan ia kenakan.

"Baju ini, aku pakai ini saja deh." Tania tersenyum lebar ketika mengenakan baju hijau lumut yang pernah diberikan Rian padanya.

"Aku kangen kamu Rian, kamu apa kabar disana?" tanya Tania sambil menyanggul rambutnya itu.

Tania memakai make up seadanya dan tepat pukul 20:00 WIB, Tania turun ke bawah. Semua orang memandangnya sedangkan ia sendiri kaget melihat siapa tamu yang datang.

"Om, Tante, Andre?" Tania menyapa dengan nada suara yang penuh pertanyaan.

"Eh, Tania sudah datang. Ayo duduk!" seru Tiya, mamanya.

Tania duduk di samping mamanya. Ia mulai mendengar percakapan mereka.

"Hi, Tania! Apa kabar?" tanya Andre yang sudah lama tak berjumpa dengannya.

Sejak lulus SMA mereka berdua dipisahkan karena dunia perkuliahan hingga malam ini mereka bertemu kembali.

"Aku baik-baik saja," jawab Tania mencoba memberikan senyum terbaik kepada Andre.

Bram menarik napas panjang dan mencoba memulai percakapan.

"Nak, jadi tujuan Andre bersama kedua orang tuanya kesini untuk menjodohkan Andre dengan kamu. Papa dan Mama juga setuju jika Andre menjadi pendamping hidup Tania."

Bram tersenyum lebar pada putrinya, sementara Tania panas mendengar hal yang baru saja terucap dari bibir papanya.

"Jadi, Papa mau jodohin Tania?" tanya Tania dengan dadanya yang mulai sesak.

"Iya sayang, Papa rasa kamu sudah bisa membuka hati kembali. Kamu mau kan menerima permintaan Papa dan Mama!" seru Bram dengan pelan pada putri semata wayangnya itu.

"Harus secepat ini, Pa?" tanya Tania yang sudah mulai panas karena tak memberitahu Tania sebelum dijodohkan.

"Iya sayang, Papa dan Mama merasa ini sudah waktu yang tepat."

Batin Tania menjerit, rasanya ia ingin pergi menyusul Rian, kekasih yang sangat ia cintai. Matanya mulai memerah, ia sangat kesal kepada papa dan mamanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Sendal Jepit
7.8
Kehidupan Amara hancur sejak kepergian ibunya dan kehadiran ibu tiri yang kejam. Ia pun memilih kabur dari rumah hingga tak sengaja bertemu Agung saat melarikan diri dari kejaran polisi. Sialnya, warga desa menuduh mereka berbuat asusila hingga dipaksa menikah hari itu juga. Walau diawali dengan kecanggungan, benih asmara perlahan tumbuh di tengah badai ujian yang menerpa. Lewat perjuangan bersama, Amara dan Agung akhirnya berhasil meraih kebahagiaan sejati.
Sampul Novel Damn! Dia Bosku
8.1
Alexandre Geraldo pulang dari Amerika demi mendapatkan kembali cinta Dara. Namun, sikap sang kekasih masa lalu kini berubah drastis menjadi sangat dingin. Di tengah penolakan tersebut, Alex juga harus menghadapi desakan orang tuanya untuk menikahi perempuan pilihan mereka. Terhimpit keadaan sulit ini, Alex pun mengambil langkah nekat. Mampukah ia membongkar rahasia besar yang disimpan Dara sekaligus merebut kembali hatinya di tengah segala konflik yang melanda?
Sampul Novel Ibuku Memilih Murid dan Mengorbankanku
8.5
Lahir dari ketidaksengajaan membuat tokoh utama novel remaja ini dibenci ibu kandungnya. Sang ibu lebih menyayangi muridnya, namun murka dan menampar anaknya saat murid kesayangan menyatakan cinta. Bahkan ketika mengidap Alzheimer, sang ibu melupakan darah dagingnya sendiri dan hanya mengingat sang murid. Sayangnya, tidak ada satu pun murid yang datang menjenguk di masa tuanya. Mereka semua menyimpan kebencian mendalam yang sama seperti yang dirasakan sang anak selama ini.
Sampul Novel Jadikan Aku Budakmu, Nona
9.7
Setelah menghirup udara bebas dari penjara, Jade menerima warisan berupa rumah tua peninggalan sang kakek. Di dalam bangunan misterius itu, ia terpikat oleh sebuah lukisan kuno bergambar wanita cantik. Jade awalnya berniat menjual lukisan tersebut demi menyambung hidup. Namun, situasi berbalik saat sosok wanita di dalamnya mendadak hidup kembali. Alih-alih kaya, Jade kini justru terjerat nasib buruk dan dipaksa menjadi budak darah abadi bagi sang wanita.
Sampul Novel Misi pangeran mermaid
8.2
Tirta, pangeran duyung berumur enam belas tahun, mengemban tugas penting ke daratan demi memenuhi ramalan kuno berusia seratus tahun. Ditemani kakaknya, Natasya, ia harus beradaptasi di dunia manusia. Namun, rencana itu terusik saat Tirta terpikat oleh Bella pada pertemuan pertama mereka. Kini, ia dihadapkan pada rintangan perbedaan dunia yang sulit ditembus. Bisakah jalinan asmara ini bertahan di kala misi besar mengancam takdir mereka?
Sampul Novel SUGAR BEBS
8.6
Sebagai putri bungsu di keluarga Dirdja, Xena hanya hidup demi satu tujuan, yaitu membalas dendam. Ia bertekad mewujudkan misi tersebut dengan segala cara. Targetnya adalah Riga, pria dingin yang ternyata memiliki banyak kemiripan sifat dengannya. Di balik parasnya yang lugu, Xena menyembunyikan sisi liar, sementara Riga menyimpan amarah membara. Pertemuan dua kepribadian ini justru membuat benih cinta dan dendam tumbuh bersamaan di tengah konflik mereka.