APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel SUAMI LANSIAKU TERNYATA CEO

SUAMI LANSIAKU TERNYATA CEO

Hidup Sova hancur setelah ibu tirinya menjualnya seharga satu juta demi pernikahan dengan pria yang ia duga sudah lansia. Di tengah keputusasaan karena impiannya pupus, ia mencoba pasrah. Namun, sosok sang suami justru di luar dugaan. Bukan kakek lemah, pria itu adalah CEO tampan nan gagah yang mencari istri tulus untuk mewarisi seluruh hartanya. Terpikat oleh pesona matang sang suami, sanggupkah Sova menahan debaran di dadanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

1 Bulan Kemudian...

Sova menutup resleting tas barunya dengan riang. Ia begitu senang karena bu Halimah mengatakan bahwa perlombaan debat bahasa Inggris di Kabupaten dilaksanakan hari ini. Ia selalu bermimpi untuk mewujudkan masa depan yang lebih cerah.

“Va, ini Ibu bawakan sesuatu untuk kamu,” ucap bu Halimah di hari kemarin seraya menyodorkan sebuah bingkisan plastik hitam.

Sova menatap bingkisan itu dengan penuh haru, tapi juga berbarengan dengan rasa tak enak hati.

“Ambillah, Nak!” titah bu Halimah seolah paham apa yang ada di pikiran anak didiknya.

“Buat Saya, Bu?” tanya Sova sekali lagi. Ia ingin memastikan bahwa pendengarannya masih berfungsi dengan baik.

“Iya. Alhamdulillah Ibu ada rezeki. Besok pas lomba, pakai baju seragam dan tas yang baru ini ya!” titah bu Halimah sekali lagi.

Dengan senyum yang mengembang, Sova pun menerima bingkisan itu seraya menciumi tangan gurunya dengan bahagia. Bahkan, ia ingat bahwa kemarin ia menciumi tangan bu Halimah sampai dibolak-balik. Gurunya itu tak tahu saja, saat Sova di perjalanan pulang, ia sempatkan untuk melipir di semak dekat pohon bambu untuk menangis. Bukan karena derita yang ia rasa, tapi ia bahagia karena perhatian gurunya, bahagia karena akan ikut lomba dan rindu yang membuncah kepada ibu kandungnya yang telah tiada. Ia tak pernah memperlihatkan tangisnya kepada siapapun, termasuk kepada ayahnya.

Hari ini, ia mematut dirinya di depan cermin yang telah memudar, memamerkan betapa indahnya baju seragam baru yang dihadiahkan oleh bu Halimah. “What a beautiful I am!” Ia terkekeh sendiri saat mengatakannya.

Setelah dirasa cukup, ia pun segera meraih tas dan menggendongnya dengan bangga. Rencananya, sebelum berangkat ke Sekolah, ia akan mampir ke warung seblak Ceu Salma untuk mengambil uang gajinya seminggu ini. Pekerjaan yang ia lakoni untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Krekkk...

Pintu kamarnya berbunyi sangat nyaring jika ia buka. Untungnya, kamar yang ia tempati berada di belakang, lebih belakang dari dapur yang dihiasi oleh tungku sebagai alat untuk memasak sehari-hari.

Ia menuju ke bufet (lemari untuk menyimpan makanan) dan menyendok nasi dari rice cooker yang terletak di sebelah bufet. Matanya melirik ke isi bufet yang tadi subuh ia masak semua, tentunya setelah selesai shalat. Rutinitas setiap habis shalat subuh, memasak dan membersihkan seluruh rumah, serta memberi makan ayam.

“Eh, Sova. Enggak usah lirik-lirik ke bufet ya! Makanan itu enggak bakalan cukup kalau kamu makan,” teriak Yulia dengan suara lengkingan yang khas.

“Eh, enggak kok. Aku lagi ngambil nasi aja!” sahut Sova dengan senyuman khas nya. Ia pun segera menarik kakinya untuk mundur dan menjauh.

“Nih, bajuku harus bener-bener bersih! Kemarin aku nembus!” ucap Yulia seraya melemparkan beberapa baju dan celana dalam yang masih bernoda merah ke wajah Sova. Bahkan, celana kotornya itu nyangkut di atas piring Sova.

“Yuli!” kesal Sova seraya melemparkan celana dalam milik saudara tirinya itu ke sembarang arah.

“Cuci makanya!” teriak Yulia sambil tertawa terbahak.

“Iya, taro aja di tempat biasa. Nanti aku cuci kalau pulang sekolah,” sahut Sova sambil duduk di sisi pintu belakang. Ia pun segera melahap nasi putih tanpa lauk apapun.

“Awas kalau lupa!” Yulia memperingatkan Sova agar tak lupa mencuci baju miliknya.

“Iya... iya. Lagian, kamu enggak sekolah hari ini? sama kemaren? sama kemarennya lagi dan seterusnya?” tanya Sova yang sebenarnya sudah tahu jawaban apa yang akan dikatakan oleh Yulia.

“Ya elah, tibang juga sekolah seatap, enggak perlu ke sekolah juga lulus. Sombong amat baru sekolah di situ juga!” ucap Yulia seraya pergi meninggalkan Sova yang menghentikan aktifitas mengunyah nasi putihnya, demi menggerakkan mulutnya sesuai dengan ucapan Yulia. Ya, gadis cantik itu sudah hafal diluar kepala jawaban dari saudara tirinya.

Setelah menyelesaikan aktifitas makannya, Sovia pun segera meletakkan piring bekas ia pakai di ember, kemudian ia mencuci tangannya dengan sedikit air yang ada di ember. Air hasil dari menimba di sumur umum. Sova memang terbiasa menumpuk piring cucian karena sumur yang biasa ia mencuci piring dan mencuci pakaian, merupakan sumur umum dan letaknya terhalang tiga rumah dan sepetak kebun pisang.

“Pamit dulu ke Ayah!” ucapnya dengan langkah ragu-ragu. Ia khawatir ibu tirinya akan ikut terbangun jika ia masuk ke kamar ayahnya. Walaupun sakit, Ayah dan ibu tirinya masih tidur sekamar, meskipun di tengahnya, dibikinkan penghalang agar terpisah. Yulia enggak mau kalau kamarnya direcoki ibunya sendiri.

Saat ia membuka pintu kamar ayahnya, ia tak menemukan ibu tirinya di kamar. Hanya ada ayahnya yang sudah sebulan ini tak berdaya di atas kasur karena terserang stroke dan tak mampu berobat. “Tumben,” lirih Sova karena tidak mendapati ibu tirinya yang biasanya masih tertidur pulas di jam segini.

Sova segera menghampiri ranjang kapuk ayahnya. “Yah!” panggil Sova seraya duduk di tepi ranjang.

Lelaki tua itu melirikkan bola matanya ke arah dimana Sova duduk. “Yah, do’ain Sova ya! Hari ini Sova mau ikut lomba debat bahasa Inggris di tingkat kabupaten. Kalau nanti juara, masuk ke tingkat provinsi, terus ke nasional. Nah, kalau di nasional juara, Sova bisa dapat beasiswa kuliah di jurusan bahasa Inggris atau hubungan internasional di kampus incaran Sova. Cita-cita Sova ingin jadi diplomat Yah! Kalau nanti Sova jadi diplomat, Sova janji akan mengobati Ayah dengan pengobatan terbaik. Enggak... enggak, kalau dalam waktu dekat Sova punya uang juga, Sova mau obatin Ayah biar sembuh.”

Sova mendekatkan mulutnya ke telinga sang ayah dan berkata “Sova selalu nyisihin uang gaji dari Ceu Salma sebelum dikasih ke Mama. sova kumpulin buat Ayah berobat,” ucapnya dengan suara lirih, kemudian ia pun duduk kembali dengan tegak. “Do’ain ya Yah! Doa Ayah yang membuat Sova masih berdiri kuat sampai hari ini,” lanjutnya lagi sambil tersenyum manis.

Ada air mata yang jatuh di kedua sudut mata pak Harun. Ucapan anaknya barusan berhasil meluluhlantakkan hatinya yang semakin hari semakin berdenyut nyeri. Bagaimana tidak? Semua beban dipikul oleh anaknya sendiri. Anak perempuan yang waktu itu sempat membolos sekolah selama satu bulan karena tuntutan ibu tiri. Sampai akhirnya, bu Halimah dan beberapa guru datang untuk mempertanyakan mengapa Sova tak lagi masuk sekolah. Berkat rayuan gurunya, bu Devi akhirnya memberikan izin Sova kembali sekolah dengan syarat agar ia bisa memberikan uang nafkah kepadanya, sebagai tambahan nafkah dari pak Harun yang tak selalu dikatakan tak cukup. Bahkan, pak Harun sendiri tak pernah benar-benar membela anak kandungnya di depan istri barunya. Untung saja, Ceu Salma yang kerepotan melayani pelanggan seblaknya, mau mempekerjakan Sova sepulang ia bersekolah, meskipun gajinya kecil.

“Ya sudah, Yah. Sova berangkat sekolah dulu!” pamit Sova seraya mengambil tangan ayahnya yang tak dapat digerakkan sama sekali, kemudian ia cium beberapa lama. Ia pun meletakkan kembali tangan ayahnya dengan hati-hati.

“Heh, mau kemana kamu?” tanya bu Devi yang tiba-tiba berada di ambang pintu kamar dengan dandanan menornya. Gadis itu merasa heran karena tidak biasanya bu Devi sudah nampak rapi dari pagi.

Sova segera bangun dari duduknya dan berbalik menghadap ibu tirinya, kemudian ia raih tangan bu Devi untuk ia cium. Namun, dengan angkuhnya wanita itu menepis tangan Sova sehingga terhempas.

“Aku mau ke sekolah, Ma. Mau lomba debat bahasa Inggris tingkat kabupaten. Nanti diantar sama guru-guru di sekolah, naik mobil pak Heru,” jelas Sova masih dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.

“Jangan berani-berani kamu keluar dari rumah ini. Ayo, kamu tunggu kakek tua itu di kamar. Hari ini kamu mau dinikahi si kakek!” teriak bu Devi seraya menarik kasar lengan Sova, mengarahkannya agar masuk kembali ke kamarnya.

“Apa? Enggak Ma, enggak mau. Sova mau sekolah. Sova mau lomba!” rengek gadis itu yang kini mampu mengobral air matanya. Petir itu kini benar-benar datang, harapannya seolah hancur dengan ucapan ibu tirinya. Pikirannya seolah kembali ke satu bulan lalu, dimana Ia menemukan foto candidnya yang tergeletak di atas meja tamu. “Apakah pengantinnya dirinya? Dia yang sebulan lalu dilamar, bukan Yulia?” gumamnya dalam hati.

*Bersambung*

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DICERAI SUAMI DINIKAHI BOS KEJAM
9.3
Tiga tahun Hana menjadi istri penurut yang diabaikan Bima tanpa kehangatan. Begitu sang kakek berpulang, ia langsung diceraikan agar suaminya bisa bersama wanita idaman lain. Saat terpuruk, Hana malah dipertemukan dengan Matheo. Kesalahpahaman besar membuat bos yang kejam itu menuduhnya sebagai mata-mata. Pertemuan tak terduga dengan pria dingin tersebut seketika mengubah total seluruh garis kehidupan Hana selanjutnya.
Sampul Novel Hati Terjerat: Jatuh Cinta pada Istriku yang Jelek
8.5
Viona sengaja menyamar jadi perempuan berwajah buruk dan tidur dengan Daniel, paman tunangannya, demi membatalkan pernikahan dengan pria yang berselingkuh. Namun, setelah malam itu, Daniel yang sangat disegani justru enggan melepaskan Viona. Meski diterpa berbagai gosip miring tentang hubungan mereka, Daniel tetap menunjukkan kesetiaannya. Pria terpandang itu bahkan tak ragu berlutut untuk memakaikan sepatu Viona demi memperoleh kecupan manis dari sang istri.
Sampul Novel I am Your Boss
8.2
Dulu dicampakkan karena miskin, Andra bangkit hingga sukses mendirikan imperium bisnis raksasa dalam enam tahun. Kini ia menjadi bos kejam berhati dingin dengan aturan super ketat. Namun, pertahanan kokohnya mulai goyah saat bertemu seorang pelamar wanita baru. Kehadiran perempuan tersebut perlahan mengikis kebekuan hati sang miliarder, membangkitkan kembali secercah harapan akan cinta sejati yang sempat ia kubur dalam-dalam.
Sampul Novel ISTRI LUMPUH TUAN NATHAN
8.0
Pernikahan Violetta dan Nathan diselimuti keheningan yang menyakitkan. Meski Violetta telah menyerahkan seluruh jiwa dan raganya demi sang suami, ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. Nathan terus membangun dinding pemisah yang tebal, memperlakukan Violetta layaknya orang asing di hidupnya. Harapan Violetta untuk bersatu seutuhnya kini pupus, menyisakan kepedihan mendalam akibat sikap dingin dan pengabaian Nathan yang tak berujung.
Sampul Novel Kontrak Pewaris Lima Miliyar
8.0
Demi memenuhi tuntutan sang ayah, miliarder dingin Narendra Adipradana harus segera mencari penerus tanpa mau terikat pernikahan. Ia pun menawarkan kesepakatan senilai lima miliar rupiah kepada Kirana Maheswari, gadis desa yang terlilit utang besar, untuk melahirkan anaknya tanpa melibatkan perasaan. Namun, begitu kehamilan Kirana berjalan, keteguhan hati Narendra mulai goyah. Akankah ikatan bisnis ini berujung pada cinta, atau Kirana justru pergi setelah tugasnya selesai?
Sampul Novel Mutiara Istri Yang Dijual
8.5
Hidup Tiara hancur setelah Andre, sang suami, tega menjual dirinya kepada pengusaha kaya bernama Dewa untuk melunasi utang. Di tengah kepahitan itu, benih cinta perlahan tumbuh di antara Tiara dan Dewa. Namun, Dewa justru mengusirnya saat sedang hamil demi kembali pada sang mantan kekasih. Bertekad membesarkan bayinya sendiri, Tiara pun menata hidup baru. Saat kandungannya berusia tujuh bulan, Dewa datang memohon untuk kembali, tetapi Tiara tidak akan menyerah begitu saja.