APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel SUAMI LANSIAKU TERNYATA CEO

SUAMI LANSIAKU TERNYATA CEO

Hidup Sova hancur setelah ibu tirinya menjualnya seharga satu juta demi pernikahan dengan pria yang ia duga sudah lansia. Di tengah keputusasaan karena impiannya pupus, ia mencoba pasrah. Namun, sosok sang suami justru di luar dugaan. Bukan kakek lemah, pria itu adalah CEO tampan nan gagah yang mencari istri tulus untuk mewarisi seluruh hartanya. Terpikat oleh pesona matang sang suami, sanggupkah Sova menahan debaran di dadanya?
Bab
Bagikan

Bab 3

“Diam kamu di sini! Berani keluar, tamat riwayat Ayahmu yang pesakitan itu!” ancam bu Devi dengan gerakan tangan seolah memotong leher. “Ingat itu! Selangkah saja kamu pergi, Ayahmu mati!” Wanita itu mengulangi ancamannya. Bola matanya membulat seolah mau keluar.

Bu Devi tak sedikitpun merasa iba melihat Sova yang sudah rapi memakai seragam sekolah, kini duduk bersimpuh dengan berurai air mata. “Ma, tolong kasih Sova kesempatan. Sova harus berangkat ke sekolah. Ma, tolong Sova!” rengek gadis berseragam SMA itu sambil memegangi kaki bu Devi yang hendak keluar. Tangisnya terdengar sangat pilu bagi orang yang memiliki hati selembut sutera, tapi tidak bagi ibu tirinya itu.

“Heh, anak tak tahu diuntung! Silakan kamu pergi dari sini, tapi Ayahmu mati. Kamu tentu tahu kalau ancaman Mama tidak pernah main-main.” Bu Devi berusaha melepaskan kakinya dari Sova dengan menendang-nendangkan kakinya ke tubuh Sova, tapi gadis itu bertahan.

“Ma, izinin Sova sekolah hari ini. Sova janji, Sova akan ikuti perintah Mama, apapun itu! Tapi tolong, izinkan Sova sekolah dan jangan celakain Ayah. Tolong Ma!” rengek Sova untuk ke sekian kalinya. Bahkan, dari ucapannya tersirat bahwa gadis yang selalu ceria dan tak pernah ambil pusing dengan keadaannya itu, kini sedang putus asa. Sangat putus asa sehingga ia mengucapkan ikrar janji yang hanya muncul dari ketakberdayaannya.

“Heeuuuhhh...!” teriak bu Devi sambil mencubit bahu Sova sekencang-kencangnya.

“Aaaa... aa.. awww... “ lirih Sova yang berusaha bertahan, namun akhirnya menyerah dan melepaskan kaki bu Devi.

“Enggak ada tawar menawar. Yang ada, kamu kawin sama si kakek, Ayahmu selamat. Kalau enggak, jangan harap kamu bisa ikut menguburkannya hari besok. Bahkan, kamu yang akan saya kambing hitamkan sebagai pembunuh ayahnya sendiri. Tamat!” ucapnya seraya menatap tajam ke arah Sova yang kini terduduk di lantai, masih dengan isak tangisnya.

Wanita itu pun segera keluar dari kamar Sova dengan membanting pintu, sehingga pintu itu pun rusak di bagian bawahnya. Saat berbalik, ia kaget karena di belakangnya ada Yulia yang sedang menatapnya terpaku.

“Ada apa sih, Ma?” tanya Yulia yang kini tengah berdiri di sebrang tungku. Gadis itu tak pernah mau masuk ke kamar Sova karena tak ingin menginjak lantai hitam, akibat terkena tumpukan asap dari tungku.

“Yuli, dari kapan kamu berdiri di situ, Sayang?” tanya bu Devi dengan lemah lembut, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan apa yang diucapkannya kepada Sova.

“Dari tadi. Aku denger Mama mau kawinin si Sova? Sama bandot tua yang baru datang ke kampung ini?” tanya Yulia dengan senyum yang merekah di bibirnya. Rasanya, derita Sova merupakan anugrah baginya.

“Iya. Kamu cepetan siap-siap, kamu harus tampil lebih cantik daripada pengenten. Orang pengantennya tua renta, hahahaha...!” tawa bu Devi yang membuat hati Sova semakin berdenyut nyeri.

“Ma, masa aku harus nikah sama orang tua? Mungkin usianya sama kaya Ayah. Bagaimana aku harus mengurusi Ayah dan suami bersamaan? Bagaimana dengan cita-citaku, Ma?” lirih Yulia memeluk kedua lututnya. Bibirnyapun bergetar saat mengatakan hal itu. Ia membayangkan jika dirinya harus menghapus segala langkah dan tujuan yang sudah Ia susun untuk diperjuangkan. Dimulai dari hadiah debat bahasa Inggris yang merupakan beasiswa kuliah di Universitas ternama dengan jurusan hubungan internasional, Ia harus hapus dari daftar yang harus Ia perjuangkan. Belum lagi hal-hal lain yang sudah Ia tulis di buku catatannya.

“Berisik!” ketus bu Devi sambil membanting pintu kamar Sova. “Ayo, Sayang! Kamu harus tampil cantik!” Terdengar suara lirih bu Devi yang menjauh dari kamar Sova.

Rasanya, pengorbanan yang sudah Ia lakukan untuk keluarga ini sia-sia saja. Apalagi saat mendengar perhatian bu Devi pada Yulia yang mengharuskannya tampil cantik. Bukankah dirinya yang dipaksa menjadi pengantin? Lalu mengapa Yulia yang akan didandani? Bukan dirinya menginginkan pernikahan ini, tapi perhatian bu Devi-lah yang menjadi penyebabnya menyunggingkan senyum smirk di wajah cerianya.

“Aku baru sadar kalau hidupku semenyedihkan ini. Semasa Ayah sehat, aku dinomor duakan sama Ayah. Setelah Ayah sakit, Aku yang harus rawat. Aku juga harus bantu banting tulang, di sela-sela Aku belajar. Saat kakek tua yang datang melamar, Aku yang harus jadi pengantin karena Mama akan mendapatkan uang. Lalu Aku dapat apa? Hikshikshiks... Aku bukannya tak sadar sama perlakuan mereka, tapi Aku hanya berharap masih memiliki keluarga yang utuh. Bahkan, makam Ibu kandungku aja Aku enggak tahu, karena Ibu meninggal di luar negri, karena disiksa majikannya. Ibu... hikshikshikahiks. Ini enggak adil!” racau Sova sambil menarik-narik ujung roknya, yang sejajar dengan tangan karena posisi duduknya yang memeluk lutut.

“Aku harus pergi. Ya, Aku harus pergi. Aku bisa minta bantuan bu Halimah. Ya, Aku harus pergi... “ Sova terdiam sambil memikirkan sesuatu. “Jangan, jangan minta bantuan bu Halimah, Aku malu. Bu Halimah udah baik banget sama Aku. Jangan manfaatin kebaikannya. Aku hanya perlu pergi dari sini,” ucap Sova sambil menghapus air matanya. Ia pun segera berdiri, dengan segera Ia mengganti baju seragam yang Ia kenakan dengan pakaian biasa dan melipatnya, kemudian memasukkannya ke dalam tas beserta dua pasang baju lainnya. Ia masih berharap bisa melanjutkan pendidikan yang sebenarnya bulan depan waktunya Ujian Akhir. Tapi, kalaupun Ia harus pergi hari ini, sedangkan nanti Ia mendapatkan rezeki untuk melanjutkan pendidikan, Ia berharap bisa menggunakannya lagi.

Sova berjongkok, mengangkat kasur kapuk yang tergeletak di lantai papan, mengambil sebuah kantong hitam yang Ia sembunyikan di sana. Ia langsung memasukkan kantong hitam itu ke dalam tas. Uang, ya... isinya merupakan tabungan yang Ia kumpulkan diam-diam selama ini. Jumlahnya sebanyak tiga ratus tujuh puluh enam ribu rupiah. Ia rutin menghitungnya setiap minggu, demi menjaga dari hilang dan mengetahui berapa kekurangannya untuk membawa Ayahnya ke rumah sakit.

Prang...

Terdengar sesuatu jatuh dari ruangan lain, Sova pun berhenti sejenak sebelum akhirnya Ia nekad menggendong tasnya. Ia pun segera berjalan menghampiri pintu dan membukanya secara perlahan.

“Sova...!” teriak bu Devi dengan suara stereo yang bisa terdengar sampai sekampung. Ya, semua tetangganya diam melihat tingkah keluarga itu kepada Sova. Bukan mereka tak tahu dengan perlakuan bu Devi kepada Sova, tapi mereka enggan memiliki masalah dengan bu Devi yang mendapat julukan tersembunyi dari warga sebagai nenek sihir. Mereka lebih banyak membantu Sova secara sembunyi-sembunyi, macam perang gerilya. Terlebih, perlakuan pak Harun selagi sehat pun tak jauh dari istrinya, padahal pak Harun merupakan Ayah kandung Sova, tapi Ia seolah lebih menyayangi Yulia. Yang membuat tetangga lebih segan lagi adalah sikap Sova yang seolah-olah tak mengambil pusing, bahkan terkesan membela.

“Sova...!” lengkingan itu pun kembali terdengar sampai tiga kali. Sova yang sudah bersiap dengan tas nya pun hanya terdiam dengan perasaan kesal yang membuncah. Haruskan Ia menggunakan ilmu bela diri yang selama ini Ia pelajari?

*Bersambung*

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Palsu, Luka Nyata
8.9
Sejak awal, aku menyadari kedekatan Karen dengan teman masa kecilnya yang telah terjalin belasan tahun, namun aku tetap memilih untuk mengejar cintanya. Keputusan ini berujung pahit di hari pertunangan kami. Saat menerima kabar sang teman pingsan, Karen tanpa ragu meninggalkanku di atas panggung. Tragedi memuncak ketika nenek yang berusaha mengejarnya justru tertabrak mobil hingga merenggut nyawanya. Kehilangan ini menyadarkanku bahwa memaksakan hubungan yang rapuh hanya akan mendatangkan luka.
Sampul Novel GREET'S WILDEST DREAM
9.3
Greet yang minder dengan fisiknya tak menyangka akan bersua lagi dengan cinta lamanya, Tristian Delmar. Sempat terpisah akibat salah paham saat kuliah, kini takdir menempatkan mereka sebagai bos dan karyawan. Hubungan ini makin pelik karena Luna, sahabat Greet, rupanya merupakan calon tunangan Tristian. Terjebak dilema batin dan rasa yang belum padam, akankah Greet berani mengakui perasaannya, atau justru merelakan Tristian demi sang sahabat?
Sampul Novel Ku Kira Setia Ternyata Mendua
9.1
Pernikahan hasil perjodohan dengan lelaki impian awalnya terasa begitu sempurna. Namun, ilusi kebahagiaan itu seketika sirna saat aku memergoki suamiku berselingkuh dengan perempuan lain di depan mataku sendiri. Janji setia yang selama ini kupercayai rupanya palsu. Di tengah hancurnya hati, kini aku dihadapkan pada kebimbangan besar dalam bersikap di depan keluarga serta menentukan kelanjutan takdir rumah tangga kami yang telah ternoda.
Sampul Novel Kuberi Segalanya, Tetapi Dia Berpaling
9.4
Saat disiram air oleh klien, Yoga hanya menerima makian dingin dari Raisa Gunawan, yang justru sibuk melindungi asistennya. Alih-alih membela, Raisa malah mencap Yoga sebagai pekerja tidak kompeten. Muak dengan ketidakadilan dan sikap dingin tersebut, Yoga memutuskan untuk membalas perlakuan kasar itu secara langsung sebelum akhirnya memilih pergi. Kisah drama modern dan romansa miliarder ini menyoroti keputusan berani Yoga untuk berhenti peduli dan meninggalkan posisinya.
Sampul Novel Menjadi Istri Dadakan Presdir Tampan
8.6
Embun terjebak dalam dilema besar ketika harus segera angkat kaki dari rumah kakak iparnya. Syaratnya berat: ia wajib menikah agar sang kakak tidak cemas, padahal ia sendiri tidak punya pasangan. Di tengah keputusasaan, seorang kakek yang merupakan pelanggan setia kafenya datang membawa solusi tak terduga. Sang kakek meminta Embun untuk menikahi putra bungsunya, Kaisar Rahardja, seorang presdir kaya. Meski pernikahan impian ini akhirnya terwujud, Embun dilingkupi tanda tanya besar mengenai alasan sebenarnya di balik kesediaan Kaisar menikahinya begitu saja.
Sampul Novel Saat semua Memihak Kakakku
9.5
Hidupku hancur setelah kakak perempuanku merebut novel karyaku yang viral dengan bantuan kakak laki-lakiku yang bertindak sebagai editor. Fitnah kejam itu membuatku dirundung, kehilangan suami miliarder asal Kota Bet yang memilih menikahi kakakku, hingga akhirnya aku diasingkan dan dibunuh olehnya. Di ambang kematian, ibuku bahkan tetap menyalahkanku. Namun, takdir memberiku kesempatan kedua. Aku terbangun kembali tepat di hari tuduhan plagiarisme itu pertama kali dilayangkan.