
Suami Labil
Bab 3
Anak yang dia maksud adalah Eza.
Menyadari hal ini, aku langsung mengerti bahwa dia sendiri pun tidak percaya bahwa Eza adalah anak kandungnya.
Aku menarik napas panjang. "Hamdi, kita sudah menikah selama empat tahun, sudah saling mengenal selama enam tahun, kamu masih nggak tahu aku ini orang seperti apa? Nggak masalah kalau kamu nggak percaya padaku, tapi jangan pernah meragukan Eza."
Suamiku terdiam sejenak. "Baru empat tahun, apa yang bisa dibuktikan? Terlebih lagi, Eza nggak mirip denganku sejak dia lahir. Semua orang juga bilang begitu. Kamu ingin aku berpikir bagaimana?"
Aku benar-benar tercengang, tidak tahu bagaimana akan melanjutkan pembicaraan dengan keluarga ini.
"Baiklah, karena kalian nggak percaya kalau Eza anak kandung Hamdi, ayo kita ke rumah sakit dan lakukan tes DNA. Kita pergi sekarang juga dan aku akan membangunkan Eza."
Setelah mengatakan ini, aku hendak melangkah ke kamar, tiba-tiba Hamdi menarik lenganku.
Dia melemparku ke samping dan berkata dengan penuh kemarahan, "Masih belum cukup? Kamu masih mau buat keributan di rumah sakit? Apa kamu nggak malu? Kamu ingin semua orang tahu tentang hal memalukan ini? Kamu ingin semua orang tahu kalau aku membesarkan anak orang lain?"
Aku merasa perkataannya sangat lucu. "Kenapa harus malu? Aku nggak melakukan kesalahan apa pun! Bukankah kalian nggak percaya? Kalau begitu lakukan tes DNA lagi saja!"
Dalam keheningan malam, suaraku terdengar sangat jelas dan tegas.
Tepat ketika suamiku akan berbicara, ibu mertua tiba-tiba menyela, "Mau ngapain ke rumah sakit? Bukankah hasil tes ini sudah bisa dijadikan jawaban? Apa kamu mau bilang kalau ayah mertuamu mengarang cerita dan ingin menjebakmu? Atau kamu sudah melakukan persiapan di rumah sakit, jadi tinggal menunggu kami masuk jebakan? Apa masih belum cukup kamu membodohi kami selama ini?"
Mendengar kata-kata yang tidak masuk akal ini, aku menatap ibu mertuaku dengan sorot tidak percaya.
Dia biasanya lembut dan sabar, tidak pernah bersikap kasar dan keras kepala seperti ini.
Apa yang salah dengannya?
Aku mengepalkan tangan, tahu bahwa apa pun yang aku katakan sekarang, mereka tidak akan mempercayaiku.
Suasana menjadi hening untuk waktu yang lama. Tiba-tiba, suamiku mengambil hasil tes DNA dan meliriknya sekilas.
Dia melemparkan kertas itu ke arahku. "Sudah jelas tertulis bahwa Eza nggak punya hubungan darah sama Ayah. Kalau dia memang anak kandungku, mana mungkin dia nggak punya hubungan darah sama Ayah? Apa lagi yang ingin kamu katakan? Atau menurutmu pihak rumah sakit memalsukan hasil ini?"
Aku menggertakkan gigi dan menjawab, "Aku nggak tahu kenapa hasilnya bisa seperti ini, tapi aku yakin kalau ada yang salah dengan laporan ini. Kalau kamu percaya padaku, pergi lakukan tes lagi sama Eza. Setelah hasilnya keluar, semuanya akan jelas."
Suamiku mencibir, "Kamu pikir antara kamu dan ayahku, aku akan lebih mempercayaimu?"
Mendengar hal ini, seluruh tubuhku menegang.
Meskipun aku sudah tahu bahwa dia tidak akan mempercayaiku, mendengarnya mengucapkan kata-kata ini secara langsung tetap membuat hatiku bergidik.
Aku tidak ingin berdebat lebih jauh, jadi aku langsung bertanya dengan terus terang, "Lalu, apa yang kamu mau sekarang? Mengusir kami dari rumah ini?"
Mendengar itu, ayah mertua berdiri dengan marah, "Kamu akhirnya ngaku juga! Kamu nggak bisa pura-pura lagi, ya? Harusnya sejak awal Hamdi nggak usah nikah sama kamu! Kamu bikin kita ngurus anak orang lain selama tiga tahun! Kamu mau kasih ganti rugi pakai apa?"
Ibu mertuaku juga menimpali, "Ya, dari pagi sampai malam aku memperlakukan seperti anak sendiri, sekarang kamu malah memperlakukan kami seperti ini? Di mana hati nuranimu?"
Aku tidak bisa menahan diri lagi dan membalas dengan suara keras, "Kapan aku mengakuinya? Kalian jangan main-main dan bicara omong kosong! Kalian hanya mau menyalahkanku tanpa mau tahu kebenarannya. Kalianlah yang nggak akan percaya dengan apa pun yang aku katakan!"
"Plak!"
Pipiku terasa panas dan sakit. Saat ini, tangan suamiku masih menggantung di udara.
Anda Mungkin Juga Suka





