
Suami dan Anak Membakarku Demi Wanita Lain
Bab 6
Karena tugas lebih penting, Alde yang ingin makan bersama Tasya terpaksa kembali ke Kompleks Emerald dengan tergesa-gesa.
Api belum padam sepenuhnya. Sebelum petugas pemadam kebakaran tiba, vila telah terbakar oleh lautan api. Jendela pecah dan hancur berkeping-keping. Perabotan di dalam pun rusak.
Teriakan para tetangga bersatu dengan sirene mobil pemadam kebakaran. Komandan yang datang lantas menghardik Alde karena tidak becus belakangan ini.
"Sebenarnya kamu ngapain saja belakangan ini? Banyak rekan bilang kamu nggak fokus bekerja! Memangnya kamu nggak tahu betapa bahayanya api yang belum padam? Apalagi, ini vilamu! Kamu seharusnya introspeksi diri!"
"Pak Alde nggak sengaja ...," bela Tasya saat melihat Alde yang disukainya dibentak habis-habisan.
"Kamu juga sama! Kamu lambat seperti kura-kura! Sebelum kamu datang, orang sudah mati duluan! Waktu adalah uang. Makin cepat, makin banyak orang yang tertolong," sergah komandan yang sama sekali tidak peduli pada tingkah manja Tasya.
Ketika melihat Tasya tidak berani mengangkat kepalanya, aku tertawa. Petugas pemadam kebakaran yang tidak profesional dalam bekerja tidak pantas disebut mulia.
Para petugas yang datang, bekerja dengan sangat gesit. Mereka memadamkan api dalam waktu sesingkat mungkin. Kemudian, seseorang mengangkat jasadku yang ditutupi dengan kain putih dan berkata, "Tubuhnya sudah hangus saat kami menemukannya ...."
"Dia mati terbakar, pasti sakit sekali. Andai saja kami datang lebih awal. Dia mungkin masih bisa diselamatkan ...," lanjut orang itu dengan terisak-isak. Dia adalah murid Alde, Max.
Max memiliki hati yang sangat baik. Aku pernah melihatnya beberapa kali saat mengantar makanan untuk Alde. Matanya selalu merah dan berkaca-kaca, membuatnya terlihat sangat kasihan.
Namun, aku tahu ini adalah rintangan yang harus dilewati oleh setiap petugas pemadam kebakaran. Hanya dengan menghadapi kematian dengan berani, mereka baru bisa bekerja dengan makin gesit dalam setiap operasi penyelamatan.
Setelah mendengar ucapan Max, Alde melirik kain putih itu. Tidak ada yang bisa dilihat. Akan tetapi, sebuah cincin tiba-tiba jatuh dari jari manisku yang hangus.
Terdengar suara dentingan yang kecil. Cincin itu berguling ke samping kaki Alde.
Anda Mungkin Juga Suka





