APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suami Berengsek, Istrimu Kini Hamil Anak Big Boss!

Suami Berengsek, Istrimu Kini Hamil Anak Big Boss!

Tiga tahun menikah, Shanaya menyadari Adrian hanya mencintai kakak iparnya. Sadar hanya dianggap istri penurut, ia diam-diam menyiapkan perceraian tanpa mengusik suaminya. Saat Shanaya sukses menciptakan obat kanker legendaris dan dipuja dunia, Adrian berlutut penuh penyesalan memohonnya kembali. Namun, segalanya terlambat ketika sosok pria paling berkuasa yang dingin dan tak tersentuh merengkuh pinggang Shanaya, menegaskan bahwa wanita itu kini siap melangkah ke pelaminan bersamanya.
Bab
Bagikan

Bab 6

Saat Shanaya melangkah keluar dari rumah tua Keluarga Wiraatmadja, kakinya makin pincang.

Selama tiga tahun ini, asal Adrian tidak ikut pulang bersamanya, pasti akan ada hukuman keluarga seperti ini.

Dia sudah terbiasa.

Hanya saja Adrian tidak tahu, setiap kali dia mencoba membuktikan ketulusannya pada perempuan yang dia cintai, itu sama saja mendorong Shanaya ke jurang.

Keluarga Wiraatmadja tidak butuh wanita yang bahkan tidak bisa menjaga hati suaminya sendiri.

Pak Etsa menghela napas. "Kenapa harus terus terang seperti itu? Setidaknya berbohonglah dengan alasan yang lebih meyakinkan, biar tidak sampai terluka separah ini."

"Pak Etsa."

Wajah Shanaya yang polos dan bersih sama sekali tidak menyiratkan kebencian. "Nenek telah membesarkan aku. Aku mungkin bisa berbohong pada siapa pun, tapi tidak pada beliau."

"Aduh."

Tatapan Pak Etsa jadi lebih tulus. Dia menatap telapak tangan Shanaya yang memerah bekas pukulan. "Jangan ditunda, cepat ke rumah sakit."

"Baik."

Shanaya mengangguk.

Dia pun tak berkata apa-apa lagi.

Pak Dani sudah lama disuruh pulang.

Setiap langkah Shanaya terasa menyiksa.

Sejak kecil, dia curiga Nenek Gayatri mungkin reinkarnasi dari salah satu tokoh antagonis di drama yang terkenal pada tahun 90-an.

Nyonya Ratna paling jauh hanya menyuruh Bianca berlutut di halaman.

Namun, Nyonya Gayatri akan menyuruh pembantu membawa Shanaya ke jalan berbatu untuk berlutut.

Di tengah hujan seperti ini, saat pertama kali berlutut, masih terasa nyaman.

Karena basah.

Walau dingin, tidak terlalu sakit.

Namun, makin lama, air yang membasahi tanah, menyisakan batu-batu tajam yang menusuk lutut.

Saat tubuhnya sudah nyaris membeku, para pelayan akan datang membawa tongkat rotan untuk memukul telapak tangannya.

Di saat seperti itu, rasanya paling menyakitkan.

Kulit bisa robek dan berdarah.

Rumah tua Keluarga Wiraatmadja terletak di pinggir jalan pegunungan, menghadap danau, dikelilingi alam yang indah.

Dengan susah payah, Shanaya berhasil memesan Go-Car dengan tarif lebih mahal. Tapi karena malam hari dan hujan turun, sopir hanya bersedia menunggu di kaki bukit.

Setiap langkah turun gunung terasa berat bagi Shanaya.

Padahal sedang musim hujan, tetapi punggungnya basah oleh keringat karena menahan sakit.

Di kejauhan, sebuah mobil Bentley hitam panjang melaju perlahan di jalan becek yang licin.

Sopir yang jeli langsung mempercepat laju mobil. "Tuan, sepertinya itu Nona di depan."

Di kursi belakang, seorang pria bersandar santai. Kakinya yang panjang bersilang acak, wajahnya tersembunyi di balik cahaya malam yang redup, terlihat tajam dan dingin.

Aura kekuasaan sangat kuat darinya.

Mendengar suara sopir, dia bahkan tidak membuka matanya. Hanya menjawab singkat, "Hmm."

Membuat orang tak bisa menebak emosinya.

Asisten yang duduk di kursi depan akhirnya tak bisa menahan diri. "Tuan, apa kita benar-benar akan membiarkan Nona begitu saja?"

"Kamu ingin ikut campur?"

Suara rendahnya terdengar dalam, mengandung hawa dingin yang menusuk.

Asisten langsung bungkam.

Beberapa saat kemudian, pria itu akhirnya melirik lewat kaca depan.

Matanya menyipit melihat sosok lemah yang hampir tumbang. "Cari tahu, Adrian malam ini ke mana."

"Sudah dicek. Kemungkinan besar sedang bermesraan dengan Bianca."

Asisten cepat menjawab, lalu menambahkan, "Tuan, sepertinya Nona sudah berlutut di tengah hujan selama berjam-jam. Dia mungkin tak akan kuat lagi."

Begitu kalimatnya selesai, sosok itu langsung jatuh tersungkur ke tanah.

"Tuan, aku sudah bilang..."

Brak!

Tiba-tiba pintu mobil terbuka keras. Pria itu turun dengan wajah dingin, menyelimuti Shanaya dengan mantel wol dan langsung mengangkat tubuhnya.

Asisten buru-buru turun dan membuka pintu belakang. "Kita ke rumah sakit atau ke mana, Tuan?"

"Ke rumah dulu."

"Baik."

"Panggil dokter untuk datang."

"Sudah aku hubungi."

Sopir yang peka langsung menaikkan suhu AC mobil.

Lampu dalam mobil menyala. Saat pria itu menurunkan pandangan ke lutut Shanaya, mata hitamnya menampakkan sorot tajam. Namun suaranya tetap datar seperti biasa. "Cukup kejam."

Asisten berbisik, "Nyonya Gayatri memang selalu begitu…"

"Gian akan kembali dalam beberapa hari, 'kan?"

"Benar."

"Atur semuanya."

"Perlu diatur sampai sejauh mana?"

Pria itu melirik sekilas dengan ekspresi mengandung kemarahan. "Menurutmu?"

……

Saat Shanaya terbangun, tubuhnya terasa lemas tak bertenaga.

Namun, dia tidak merasa terlalu kesakitan.

Telapak tangan dan lutut yang seharusnya bengkak dan nyeri parah, kini sudah tidak terlalu sakit. Hanya terlihat menyeramkan.

Tulang ekornya yang sakit dua hari belakangan juga terasa lebih ringan sekarang.

Namun, dia merasa aneh. Seharusnya dia tidak berada di sini.

Shanaya mengernyit, hendak menelepon resepsionis hotel untuk bertanya, tetapi saat bergerak, dia mencium aroma samar cendana dari tubuhnya sendiri.

Dia sempat linglung.

Setelah sadar, dia tersenyum hambar, lalu meraih salep obat khusus yang familier di meja samping tempat tidur dan segera keluar.

Sesampainya di rumah, suasana terasa sangat harmonis.

Seolah-olah, semua keanehan dua hari terakhir hanyalah karena keberadaannya yang tidak diinginkan.

"Shanaya, kamu sudah pulang?"

Bianca menyapa dengan senyum manis.

Jelas, semalam Adrian berhasil membujuknya sampai hatinya kembali cerah.

Shanaya tidak tertarik menanggapi.

Namun Bianca tidak mau melepaskannya begitu saja. Dia melangkah mendekat, menyingkap rambutnya ke belakang telinga, memperlihatkan sepasang anting berlian merah muda yang memesona.

Itu adalah anting berlian merah muda langka, kualitas koleksi.

Shanaya sudah lama menyukai set perhiasan itu.

Dengan susah payah, akhirnya kembali dilelang di pelelangan, dan Adrian pernah berjanji akan membelinya untuknya.

Katanya, warna merah muda lembut itu sangat cocok untuk Shanaya, dan dia pasti akan terlihat menawan saat memakainya.

Tampaknya, saat dia memberikannya pada Bianca, Adrian juga mengucapkan kalimat yang sama.

Bianca tidak melewatkan perubahan ekspresi Shanaya yang meredup, lalu mengangkat wajah cantiknya. "Aku dengar Nenek bilang, kamu cukup paham soal perhiasan. Coba lihat, bagaimana menurutmu anting ini? Adrian beli dengan harga lebih dari 20 miliar. Kira-kira sepadan atau tidak?"

"Lumayan."

Shanaya menekan perasaan pahit dalam hati, tersenyum tipis. "Oh, ya, aku dan Adrian masih berstatus suami istri sah. Jadi dari total 20 miliar lebih itu, separuhnya adalah harta bersama."

"Kalau aku tidak salah ingat, harganya tepatnya 24 miliar."

Dia mengeluarkan ponsel dan mulai mengetik. "Kakak ipar, sebelum tengah malam nanti tolong transfer 12 miliar ke rekening ini. Kalau tidak, aku akan minta langsung pada Nenek."

Baru saja ucapan itu selesai, sebuah pesan WhatsApp masuk ke ponsel Bianca.

Saat dia melihatnya, ternyata itu adalah nomor rekening bank.

Bianca sampai pusing melihatnya!

Perempuan murahan!

Sepanjang hari kerjaannya cuma bisa mengancam pakai nama si nenek tua itu!

Dua belas miliar?!

Keluarga Pranadipa belum bagi warisan, Darren sudah meninggal, dan total yang dia dapatkan saja cuma sepuluh miliar!

Shanaya sama sekali tidak peduli apakah dia punya uang atau tidak.

Setelah mandi, Shanaya mulai membereskan barang-barang.

Dia menata dan menyortir barang lebih awal.

Agar saat pergi nanti, tidak perlu repot.

Dengan tempat sampah di tangan, dia membuang barang-barang dengan tegas. Shanaya memang bukan tipe orang yang suka ragu-ragu.

Bahkan gaun pengantin saat pernikahannya dulu pun dia masukkan ke dalam kotak dan minta Bi Santi untuk membawanya turun dan membuangnya.

Saat Adrian pulang, dia langsung melihatnya.

Pandangan matanya tertumpuk pada gaun pengantin yang tergeletak begitu saja, dikemas dengan asal. Hatinya langsung terasa tidak tenang. "Kenapa kamu mengeluarkan gaun pengantin itu?"

Tapi tatapan Shanaya lurus, tak menghindar sedikit pun. Nada bicaranya tenang. "Mau dibuang."

Barang yang sudah tidak berguna, memang seharusnya dibuang.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Benihku Bukan Cintamu
9.4
Aluna Callysta, pengusaha sukses yang kaya raya, tak lagi memercayai cinta setelah dikhianati oleh Elian Dharma. Mantan kekasihnya itu justru memilih menikahi kakak tirinya. Enggan menjalin hubungan emosional namun mendambakan seorang pewaris, Aluna memanfaatkan kekayaannya untuk menggelar sayembara mencari donor pria terbaik. Lewat cara ini, ia berhasil melahirkan dan membesarkan tiga anak tanpa harus membuka hatinya kembali pada pria mana pun.
Sampul Novel Dilema Sang Sekretaris
9.2
Kehidupan profesional Grace, seorang sekretaris berdedikasi, berubah total sejak kakak atasannya gencar mendekat. Walau awalnya dingin, sebuah malam tak terduga membuat Grace sulit mengabaikan daya tarik pria itu. Kini ia menghadapi dilema berat antara mempertahankan karier profesional atau menyerah pada perasaan cintanya. Di tengah dunia elite yang penuh rahasia, Grace harus menentukan pilihan hidupnya dalam jalinan asmara yang kian rumit.
Sampul Novel Pasangan Pengganti
8.5
Alana Nefertari selalu berharap suaminya, Vicky Xavier, berubah demi anak mereka. Namun, Vicky justru tega menjadikannya jaminan utang kepada bosnya, Bryan. Akibat tindakan kejam sang suami, Alana kini terpaksa bekerja menjadi pelayan di kediaman Direktur tersebut. Di tengah pengkhianatan yang begitu menyakitkan, mampukah Alana bertahan menghadapi cobaan ini, ataukah pernikahan beracun mereka akan benar-benar hancur tanpa sisa?
Sampul Novel Pernikahan Janda Kembang
8.3
Ayu, seorang janda menawan, dituduh memakai ilmu hitam karena empat mantan suaminya tewas mendadak secara misterius. Di tengah gosip miring yang beredar, Ruben, seorang miliarder muda yang tampan, tetap bertekad untuk menikahinya. Meski ditentang keras oleh sang ibu dan menghadapi penolakan sengit dari keluarganya, Ruben tidak gentar. Ia siap mempertaruhkan nyawanya demi cinta tulusnya kepada sang janda kembang.
Sampul Novel SKANDAL CEO MESUM
8.4
Axel Biantara Wijaya, CEO sukses PT. Wijaya Karya Reality yang tampan, kerap menjadi sorotan karena skandalnya dengan model-model ternama. Di balik kemewahan dan dominasinya di bisnis properti, takdir mempertemukannya dengan Aulia Putri. Aulia adalah perempuan mandiri dari keluarga sederhana yang terbiasa bekerja keras sejak kuliah. Pertemuan tak terduga ini mulai mengubah hidup sang miliarder. Akankah Axel rela melepas masa lalunya yang liar demi mengejar cinta sejati Aulia?
Sampul Novel Terjebak Cinta Ketua Preman
8.9
Malam kelulusan Amelia berakhir tak terduga setelah ia tidak sengaja tidur bersama Handoko, pria misterius yang selalu melajang. Tak disangka, Amelia hamil dan memilih menyembunyikan kandungannya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa sosok Handoko adalah ketua organisasi preman yang paling ditakuti. Apakah rahasia besar ini akan menyeret Amelia ke dalam penderitaan, atau justru berujung pada takdir manis yang membuat semua orang iri?