APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sonia ( Pasangan Jiwa )

Sonia ( Pasangan Jiwa )

Satu malam intim bersama Hendra menjadi kenangan yang terus membelenggu hidup Sonia. Ketika pria itu tampaknya sudah melupakan segalanya, Sonia justru terjebak dalam rasa rindu yang mendalam selama bertahun-tahun. Meski sadar bahwa perasaan tulusnya tidak terbalas, ia memilih tetap setia menanti dalam sepi tanpa pernah mencari pengganti. Di tengah ketidakpastian ini, mampukah Sonia memenangkan hati Hendra, atau ia ditakdirkan selamanya hidup dalam kesendirian?
Bab
Bagikan

Bab 2

Kini aku telah mengenakannya, dres cantik bersiluet H dengan warna hijau tosca polos yang jatuhnya tepat menutupi bagian lututku. Bagian atasnya cukup sederhana, dengan kerah shanghai serta lengan yang tidak terlalu pendek. Sedikit kerutan pita pada bagian pinggang dres menambah kesan manis pada dres yang ku kenakan saat ini. Rambutku, ku biarkan terurai apa adanya. Cukup dengan riasan wajah tipis serta tambahan giwang berwarna senada dengan dresku, aku telah siap untuk berangkat. Kali ini aku juga mencangklokkan pada bahuku sling bag persegi panjang yang berukuran cukup kecil, berwarna hitam.

Ah, aku tidak pernah lupa mengenakan arloji di pergelangan tangan kiriku.

“Bu, temenin ke depan yuk nyetop taksi.”, ucap ku setengah berteriak memanggil ibu di ruang televisi, sementara aku sedang mengenakan sepatu sambil duduk di ruang tamu.

Ibuku menyahut seraya menghampiri ku, “Iya, kamu sudah siap?”

"Sudah.”

Kini ibu sudah berdiri di hadapanku, “Lho kok pakai sepatu itu?”. Beliau heran karena aku mengenakan sepatu tanpa hak alias sepatu ceper.

Aku tersenyum sangat lebar, “Ibu kan tahu, aku paling anti pakai sepatu tinggi-tinggi, begini saja sudah nyaman Bu.”

“Hmm. Oke lah. Cantik kok.”, beliau tersenyum memandangi wajahku.

Ibu pun melangkah keluar rumah beriringan denganku, hendak menemani diriku hingga mendapatkan taksi di depan kompleks perumahan kami. Tidak perlu takut menunggu lama, karena sangat banyak taksi yang biasa lewat di depan sana. Sementara jarak dari rumahku ke depan kompleks juga tidaklah jauh, hanya sekitar dua

ratus meter saja.

“Bu, aku naik ya.”, seraya tangan kiriku menyetop taksi berwarna biru yang tampak akan melintas.

“Iya, hati-hati ya. Kabarin kalau sudah sampai.”, ucap ibu seraya melambaikan tangannya padaku setelah memperhatikanku naik ke dalam taksi.

Aku tersenyum dari balik jendela dan membalas lambaian tangan jbu. Ku lihat beliau telah kembali melangkah menuju ke dalam kompleks lagi. Aku langsung mengabari Vina lewat pesan singkat, setelah menyebutkan tujuanku malam ini pada pak sopir.

“Vin, gue sudah di taksi nih.”

“Oke Ni. Gue juga belum lama berangkat.”

Sebetulnya Vina sudah memiliki seorang kekasih, namun malam ini dia mengatakan akan hadir seorang diri. Karena kekasihnya sedang bertugas dinas keluar kota. Sedangkan Vina sendiri, saat ini selain bekerja dia juga masih tercatat sebagai mahasiswi program karyawan pada salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Situasi jalan raya malam ini sudah mulai padat kendaraan, aku menoleh keluar jendela memandangi indahnya lampu-lampu kendaraan yang saling beradu depan belakang dengan lampu kendaraan lainnya. Aku tidak tahu bagaimana rasanya menghabiskan waktu malam minggu dengan seorang kekasih, aku tidak mampu membayangkan hal itu. Dulu aku terlalu fokus mengejar prestasiku di sekolah, sehingga beberapa kali aku tidak mengacuhkan teman lelaki yang sempat menyatakan cintanya kepadaku.

Mungkin kini aku telah terbiasa melakukan semua hal seorang diri, sehingga rasanya aku tidak perlu terburu-buru untuk memiliki seorang kekasih. Meski terkadang

keinginan itu tetaplah ada, jauh di lubuk hatiku yang terdalam.

Lamunan telah membawa ku sampai di lokasi acara resepsi pernikahan Cintya. Ponselku berdering, namun aku hanya mengintip layarnya dari luar tas. Lantas aku tidak menjawab panggilan dari Vina itu. Aku langsung saja menghentikan taksiku tepat di depan loby gedung seraya buru-buru menyodorkan uang taksinya.

“Mba, kembalinya..”

“Ngga usah Pak, ambil saja.”, seraya ku turunkan satu per satu kakiku menapaki aspal di depan loby.

Aku telah menangkap keberadaan Vina di dekat pintu masuk yang cukup besar itu, tampak Vina mengurai rambut hitam panjangnya dan mengenakan dres berwarna merah muda. Aku pun segera menghampiri tempatnya berdiri.

“Vina!”, aku memanggilnya seraya mendekat, dia pun mendongak mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke arah datangnya aku.

“Hai Ni..!”, dengan mata berbinar Vina memandang kedatanganku.

“Yuk!”, aku tersenyum seraya melingkarkan tanganku ke bahunya agar kami dapat melangkah beriringan menuju ke dalam aula gedung.

Teman-teman lama dan seluruh anggota keluarga biasa memanggilku “Nia”. Hanya rekan-rekan kerja dan orang-orang yang baru mengenalku saja yang memanggil diriku dengan sebutan lengkap “Sonia”.

Memasuki ruang aula yang megah, kedua pasang mata kami langsung tertuju ke arah pelaminan di tengah sana. Nuansa warna ungu violet mendominasi seisi ruangan.

Bunga-bunga yang terangkai cantik terdapat di setiap sudut ruangan. Sorot lampu berwarna warm white menambah kesan romantisme di dalamnya. Aku dan Vina tertegun sejenak. Biasanya, Vina tahu apa yang sedang ku pikirkan kalau sedang termangu begini.

“Gue tahu apa yang lo pikirin.”, ucapnya seraya menoleh kepada ku.

“Hmm. Sok tahu nih..”

“Lo lagi ngebayangin kan, duduk di sana?”

“Hahaha ngga juga..”

“Hahaha, cari pacar makanya!”

“Sialan lo. Sudah yuk!”, ucapku seraya melangkah mendului Vina yang masih terdiam.

Tanpa berlama-lama lagi, aku dan Vina segera menuju ke atas pelaminan untuk memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai pengantin dan keluarganya. Kami harus berjalan melewati sisi pinggir aula untuk menuju ke atas pelaminan, karena di tengah-tengah ruangan ini terdapat beberapa kelompok meja makan lengkap dengan kursi-kursi yang tersedia untuk para tamu undangan.

“Selamat ya Cin..”, ucapku tersenyum seraya menjabat tangan Cintya.

“Makasih ya Ni, sudah datang.”, tampak wajah Cintya dipenuhi kebahagiaan.

Sementara di belakangku, Vina sedang berjabat tangan dengan mempelai prianya.

“Nia, Vina, makan dulu ya silahkan.”, ucap Cintya tersenyum ketika kami hendak menuju anak tangga untuk turun dari atas pelaminan. Aku dan Vina hanya

mengangguk dan tersenyum kepadanya lalu melanjutkan langkah kami menuju kursi para tamu.

Aku dan Vina masing-masing mengambil seporsi makanan serta minuman dari meja panjang yang tersedia pada salah satu sisi aula. Lalu dari kejauhan kami telah menangkap keberadaan dua buah kursi yang masih kosong di tengah sana. Meski tampaknya di meja yang sama terlihat dua orang lelaki yang sedang menyantap makanan ringannya.

Hmm. Semua kelompok meja makan yang tersedia di tengah-tengah ruangan aula ini berkapasitas empat orang. Banyak meja yang sudah penuh, beberapa lainnya diisi oleh tiga orang. Sementara aku dan Vina harus duduk satu meja. Terpaksa kami melangkah menuju meja yang diisi oleh dua orang lelaki disana.

“Bilang Vin!”, seraya menyikut Vina, aku menyuruhnya mengatakan permisi.

“Ngga ah, lo saja!”

Aku menghela nafas, sudah tak sabar karena kedua tanganku sudah penuh oleh piring dan gelas. Terpaksa aku mengalah pada Vina, berbicara lebih dulu pada salah satu lelaki itu.

“Maaf Mas, ini ada orangnya?”, aku bertanya pada lelaki yang sedang menatapi layar ponselnya.

Dia pun mendongak, tersenyum dan menjawab pertanyaanku, “Ngga Mba, duduk saja.”

“Hmm. Iya duduk saja.”, timpal lelaki yang satunya seraya mengunyah makanannya.

“Makasih.”, aku tersenyum seraya menjatuhkan diriku di kursi yang dilapisi oleh kain putih tersebut, nyaris berbarengan dengan Vina yang juga mengambil posisi duduk di sampingku.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 MINGGU MENGEJAR CINTA
8.7
Perjalanan bisnis Anya mendadak kacau karena kendala teknis yang memaksanya tinggal selama tiga minggu. Masalah kian pelik saat keponakan rekan bisnisnya melamar secara tiba-tiba, bahkan mengancam nyawa Anya setelah penolakan tersebut. Di tengah bahaya, Dastan yang merupakan mantan teman sekelasnya hadir menyelamatkan. Namun, Anya mulai mencurigai motif asli Dastan. Apakah ini ketulusan masa lalu atau ada niat lain? Anya harus menyelesaikan semua sebelum waktunya habis.
Sampul Novel Aku Bukan Orang Ke 3 (Tak Kuasa Menolak Takdir Cinta)
8.6
Almira Mayangsari fokus mengasuh kedua keponakannya tanpa memikirkan asmara. Namun, hidupnya berubah sejak Bastian Navarell, seorang miliarder, menyelamatkannya dari ancaman bahaya. Benih cinta pun tumbuh di antara mereka. Begitu tahu Bastian telah memiliki istri, Almira memilih pergi demi menghindari posisi sebagai orang ketiga. Bastian yang terobsesi tak mengetahui rahasia kesucian Almira. Akankah takdir menyatukan mereka kembali dalam kisah cinta yang mengharukan?
Sampul Novel Asa di Ujung Sajadah#bukuke-2
9.2
Dalam sekuel Women Power Series, Jihan Khairiyah harus menghadapi cobaan berat saat hamil tua. Rumah tangganya hancur setelah sang suami, Tommy Wiranata, terjebak cinta lama bersemi kembali dengan Diana, tetangga dekat yang sudah dianggap saudari sendiri. Walau Tommy berkilah itu cuma kekhilafan, Jihan menganggap pengkhianatan batin tersebut sebagai perselingkuhan nyata. Jihan pun bimbang untuk bertahan demi materi atau melangkah pergi mempertahankan martabatnya.
Sampul Novel Ke(m)bali Mengejar Cinta Pelangi
8.3
Sebuah peristiwa tak terduga menghubungkan takdir Laskar dan Pelangi, walaupun penolakan demi penolakan terus terjadi. Pelangi sadar perasaan ini sulit bersatu karena Laskar telah bertunangan dengan Natalia. Di tengah kebimbangan, apakah tautan misterius ini sanggup mendekatkan mereka atau malah memisahkan keduanya selamanya? Meski Pelangi mencoba ikhlas untuk merelakan Laskar pergi, batinnya tetap tidak mampu berbohong bahwa melepaskannya adalah hal yang sangat berat.
Sampul Novel Seranjang Dengan Aktor Tampan
9.4
Demi mengubah nasib, Hana Ayudia Inara nekat merantau dari desa ke Jakarta. Takdir membawanya bekerja di rumah Dave Darian, aktor tampan yang selama ini ia idolakan. Namun, Hana sangat kecewa saat tahu bahwa Dave aslinya sangat angkuh, berbeda jauh dengan citranya di televisi. Kebencian pun muncul, hingga suatu kejadian tak terduga memaksa keduanya menikah. Dave enggan beristri gadis desa, dan Hana pun ogah bersuamikan pria sombong. Akankah pernikahan paksa ini mengubah benci jadi cinta?
Sampul Novel THE BRIDAL SHOWER
9.6
Arsenio Malik Akbar, prajurit tangguh, kini terjerat obsesi cinta mendalam pada Mitha. Meski tahu wanita impiannya telah bersuami, tekad Arsenio tak goyah untuk merebut dan memenangkan hatinya. Ia mengabaikan segala rintangan dan risiko demi memiliki Mitha seutuhnya. Kisah ini menyoroti perjuangan nekat seorang tentara yang rela menerobos batas demi mengejar cinta terlarangnya yang penuh rintangan.