APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sonia ( Pasangan Jiwa )

Sonia ( Pasangan Jiwa )

Satu malam intim bersama Hendra menjadi kenangan yang terus membelenggu hidup Sonia. Ketika pria itu tampaknya sudah melupakan segalanya, Sonia justru terjebak dalam rasa rindu yang mendalam selama bertahun-tahun. Meski sadar bahwa perasaan tulusnya tidak terbalas, ia memilih tetap setia menanti dalam sepi tanpa pernah mencari pengganti. Di tengah ketidakpastian ini, mampukah Sonia memenangkan hati Hendra, atau ia ditakdirkan selamanya hidup dalam kesendirian?
Bab
Bagikan

Bab 3

Kini semua benda yang berada di kedua tanganku tadi telah berpindah tempat ke atas meja makan di hadapan kami. Begitu pun dengan Vina yang tampaknya telah siap menyantap makanan miliknya.

“Mari Mas, makan.”, aku berbasa-basi kepada dua orang lelaki di hadapan kami.

“Iya Mba, silahkan.”, ucap mereka mengangguk, hampir berbarengan.

Ketika piringku sudah hampir kosong, lelaki yang pertama kali mempersilahkan kami duduk disini, bertanya padaku dan Vina, “Mba temannya Cintya?”

Kami pun mengangguk, lalu aku menjawabnya, “Iya, teman sekolah.”

“Oh. Kalau kita temannya Reno.”, ucap lelaki yang satunya.

“Boleh kenalan?”, lelaki yang pertama tadi memandang kepadaku.

Mendengar itu, aku hampir tersedak oleh minumanku. Aku menguasai diri dan balas memandang wajahnya, seraya tersenyum aku pun mengangguk. Dia lantas menyodorkan tangannya kepadaku.

“Hendra.”, dia tersenyum seraya menjabat tanganku, lalu kemudian berjabatan pula dengan Vina.

“Ini Ferdi.”, Hendra melanjutkan ucapannya dengan memperkenalkan teman di sampingnya. Sementara Ferdi sendiri tersenyum mengangguk kepada kami.

“Sonia.”, aku sedikit tersipu malu berjabatan tangan dengan Hendra.

Ternyata jika dilihat lebih jelas, Hendra bisa dibilang tampan juga. Dengan rambut yang disisir rapi ke samping, senyumannya benar-benar indah. Alisnya tebal dan matanya kecil. Hidungnya juga mancung, tampak sempurna dari segala sisi, sangat menarik. Bibirnya tipis dan warna kulitnya jelas lebih putih dibanding kulitku sendiri.

Astaga! Aku bisa memperhatikannya sedetil ini hanya dalam waktu yang singkat.

“Tinggal dimana Sonia?”, tanya Hendra padaku.

“Kalimalang.”

“Wah, ngga begitu jauh dong dari tempat aku. Aku di Pulomas. Tadi kamu kesini naik apa?”

“Taksi. Kita tinggalnya jauh, jadi masing-masing berangkat sendiri kesini.”, ucapku seraya menunjuk dengan jempol ke arah diriku dan Vina.

“Hmm. Nanti aku antar pulang saja. Gimana?”

Astaga! Aku hampir kena serangan jantung dibuatnya. Lelaki tampan di hadapanku ini menawarkan diri untuk mengantarkan pulang ke rumah. Aku belum menjawab

pertanyaannya dan menoleh ke arah Vina. Vina pun mengerti dengan maksudku yang menoleh padanya yaitu untuk menanyakan pendapatnya, Vina tersenyum mengangguk tandanya dia menyuruhku untuk menerima tawaran itu.

“Hmm. Iya, kalau ngga ngerepotin.”

“Oh ngga kok, kan aku yang nawarin.”

Kami semua lanjut berbincang-bincang, bertukar informasi seputar aktivitas harian kami masing-masing. Tidak lama, aku memandang arloji hitam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Mungkin Hendra masih memperhatikan gerak gerikku.

Sehingga dia mengajakku untuk pergi meninggalkan aula gedung itu saat ini juga.

“Sudah? Mau pulang sekarang?”

“Iya, boleh..”, aku menyetujuinya karena ku rasa sudah cukup lama juga kami berada disana. Aku pun lantas pamit kepada Vina dan Ferdi, yang tampaknya mereka juga sedang bersiap-siap untuk bangkit dari kursi mereka.

Kami berempat berdiri nyaris bersamaan, aku sangat terkejut karena ternyata Hendra memiliki postur tubuh yang tinggi. Ketika sama-sama berdiri, wajahku hanya

sejajar dengan dadanya. Tubuhnya juga padat berisi meski dibalut oleh kemeja batik berlengan panjang yang sedikit longgar namun mataku pasti tidak salah mengira-ngira.

Kami bersama-sama melangkah menuju pintu keluar masuk aula gedung. Di ambang pintu, Vina meminta tolong kepada sekuriti gedung untuk memanggilkan taksi yang tampak parkir di ujung sebelah kanan sana. Sementara Ferdi pamit duluan hendak menuju area parkir.“Duluan ya Ni.”, ucap Vina seraya melangkah masuk ke dalam taksi. “Mari, Mas Hendra.”, lanjutnya seraya mengangguk.

Aku dan Hendra mengamati laju taksi yang membawa Vina hingga menjauh dari hadapan kami.

“Yuk, aku parkir disana.”, ucap Hendra seraya melangkah dan menunjuk ke arah sebelah kiri kami. Aku pun mengekor di belakang tubuhnya yang nyaris sempurna itu.

Kini kami sudah berada di dalam mobilnya. Dan siap meninggalkan area parkir. Selama perjalanan, kami melanjutkan obrolan kami yang tadi sempat terputus di meja makan.

“Jadi kalau berangkat kerja naik apa?”

“Kereta.”, ucapku seraya tersenyum.

“Wah, penuh ngga tuh?”

“Lumayan. Kamu sudah pernah naik kereta?”

Hendra menggeleng dan tersenyum, “Belum."

Aku tertawa kecil mendengar jawabannya. “Kamu sih enak kerjanya dekat, Pulomas – Sunter paling berapa menit kan?”

“Iya, cuma macetnya tetap saja. Ngomong-ngomong kamu sebaya ya sama Cintya?”

“Iya, aku dua satu. Kamu?”

“Dua enam.”

Aku menimpalinya dengan mengangguk dan sesekali mengarahkan jalannya kepada Hendra hingga tidak terasa kami sudah memasuki sekitar area tempat tinggalku.

“Oh iya, aku boleh minta nomor HP kamu, Sonia?”

“Iya, boleh. Hmm. Coba sebutin nomor kamu, biar aku misscall.”

Aku mengambil ponsel dari dalam sling bag yang ku pangku sejak tadi, aku telah siap mengetikkan nomor ponsel Hendra pada ponselku. Aku pun meminta Hendra

menyebutkan nomornya seraya aku mengikuti ucapannya dengan ketikan tanganku.

Setelah ku tekan tombol panggil, terdengar ponsel dalam saku celana Hendra berdering. Lantas aku mengakhiri panggilan itu.

"Sudah ya, yang belakangnya tiga delapan tiga sembilan. Nanti dilihat saja.”

“Oke, makasih ya Son.”

“Iya. Nah.. Gerbang perumahan depan itu, masuk ke dalem ya.”, ucapku menunjuk kepada gerbang yang tampak sudah tidak jauh lagi.

Aku pun turun dari mobil Hendra, tepat di depan pagar rumahku.

“Makasih banyak ya Mas. Putar di depan situ saja.”, seraya aku menunjuk kepada lapangan luas yang berada di seberang rumahku.

Hendra tersenyum mengangguk, “Iya, sama-sama.”

“Hati-hati ya!”, aku melambaikan tangan dan memperhatikan dia memutar balik mobilnya di lapangan yang ku tunjukkan tadi. Sekali lagi aku tersenyum dan melambaikan tangan padanya melepas kepergiannya.

Terdengar ibuku membuka pintu dari dalam, sedangkan aku baru saja membuka pagar untuk dapat masuk.

“Pulang sama siapa Kak?”

“Teman.”, ucap ku singkat seraya menghampiri beliau. “Yuk masuk.”, aku merangkul ibu, mensejajarkan langkahnya denganku untuk masuk ke dalam rumah.

Setelah mengunci pintu dengan teliti, aku dan Ibu menuju ke ruang televisi. Kemudian aku membersihkan diri di kamar mandi, setelahnya aku pun pamit untuk langsung istirahat ke kamar.

“Bu, aku tidur ya..”

"Sudah ngantuk? Ini malam minggu lho.”

Aku lantas mengangguk, “Capek Bu..”

“Okelah, besok kan santai, jangan bangun pagi-pagi makanya. Biar cukup dulu tidurnya."

Aku melangkah ke kamar, meninggalkan Ibu yang tampaknya hendak menuju ke dapur. Entah apa yang akan dilakukannya di dapur malam-malam begini. Atau mungkin beliau hanya ingin mengambil sesuatu dari dalam kulkas. Kini aku sudah berada di dalam kamar, ku salin pakaian yang ku kenakan selama acara tadi dengan setelan piyama berwarna kuning.

Aku mengeluarkan ponsel dari dalam sling bag hitamku. Pikiranku mulai melanglang buana memikirkan Hendra. Apa aku harus bertanya apakah sekarang dia sudah

sampai di rumah? Ah, tidak perlu. Aku tidak ingin menghubungi dirinya lebih dulu. Aku akan menunggunya saja menghubungiku. Tapi, bagaimana kalau dia tidak

menghubungiku dan tadi hanya berbasa-basi menanyakan nomor ponselku?

Ponselku malah berbunyi, tanda satu pesan telah masuk. Itu dari Hendra. Aku sangat senang menerima pesannya.

"Sudah tidur ya Son?”

“Belum. Kenapa Mas?”

“Syukurlah, aku kira sudah tidur. Jangan panggil mas ya. Nama saja, kita kan ngga begitu jauh umurnya. Aku boleh tanya sesuatu?”

“Oke deh. Kamu mau tanya apa Hen?”

“Kamu sudah punya pacar? Maaf ya, kalau aku kurang sopan. Aku penasaran saja sih.”

Wah, aku tidak menyangka Hendra akan menanyakan hal ini kepadaku. Aku cukup bersemangat menjawab pertanyaan itu. “Belum. Kalau kamu?”

“Sama, aku juga belum. Kapan-kapan boleh kita ketemu lagi?”

“Boleh. Nanti kita atur waktunya.”

Setelah menunggu beberapa menit, tampaknya Hendra memang tidak membalas lagi pesan terakhir dariku. Aku pun memutuskan untuk segera tidur.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Bersemi Di Lokasi Proyek
8.1
Kehadiran seorang wanita di lokasi proyek memicu kesalahpahaman besar di antara para pekerja. Karena prasangka sepihak, semua orang di sana salah mengira dirinya sebagai wanita murahan yang bisa dipermainkan. Anggapan keliru tersebut membuat para pria di tempat kerja itu mencoba mendekatinya hanya demi mencari kesenangan pribadi. Di tengah lingkungan yang keras ini, ia harus bertahan menghadapi berbagai pandangan merendahkan dan godaan dari orang-orang di sekelilingnya.
Sampul Novel Gairah di Kota kecil
8.2
Nikmati kisah asmara modern yang hangat dengan latar sebuah kota kecil yang sunyi namun sarat emosi. Lembar demi lembar novel ini menyajikan kedekatan emosional dan interaksi intim yang membara di antara para tokohnya. Pembaca diimbau bersikap bijaksana, karena alur cerita yang disajikan secara mendalam ini dirancang untuk memicu imajinasi serta fantasi romantis tentang hubungan fisik yang sangat mendalam dan terasa begitu nyata.
Sampul Novel Hati Yang Terpilih
8.2
Setelah dua belas tahun menikah, Nazwa Rengganis harus menghadapi kenyataan pahit saat Rafi menceraikannya secara tiba-tiba. Di tengah keterpurukan, ibu dua anak ini mencoba bangkit dan mulai membuka hatinya untuk Kafka, pria yang ia kenal sejak masa konseling. Namun, situasi menjadi rumit ketika alasan perceraian Rafi terungkap dan sang mantan suami memintanya kembali. Enggan terjebak di antara keduanya, Nazwa memilih pergi demi kedamaian hidup bersama anak-anaknya.
Sampul Novel Jodoh yang ditakdirkan
9.3
Perceraian orang tua memisahkan Yunara dan Lunara sejak kecil. Mereka akhirnya bersua kembali tepat di hari pernikahan Yunara, saat Lunara datang mencari ayah mereka. Namun, pertemuan ini malah memicu kekacauan. Yunara terikat dengan pria asing yang sangat obsesif, sedangkan Lunara justru terlibat hubungan rumit dengan suami kakaknya. Akibat salah paham, rencana pernikahan Lunara pun batal. Kini, si kembar harus menentukan sikap: menyerah pada keadaan atau memperjuangkan cinta sejati mereka.
Sampul Novel MEMBAKAR GAIRAH
9.4
Tragedi hotel sepuluh tahun lalu memisahkan cinta Joshua dan Reinata. Kini, takdir mempertemukan mereka lagi dalam situasi rumit: Joshua kembali sebagai kekasih Kayla, putri tiri Reinata. Didorong cemburu dan rasa cinta yang belum mati, Reinata berniat menggoda Joshua untuk merebutnya kembali. Akankah Joshua terjerat gairah terlarang dengan calon ibu mertuanya? Bagaimana nasib hati Kayla jika rahasia kelam masa lalu calon suaminya ini terbongkar?
Sampul Novel Salsa Untuk Darren.
9.6
Trauma masa lalu membuat Darren, pria 32 tahun, menutup rapat hatinya dari wanita. Namun hidupnya berubah setelah bertemu Salsa, pembuat kue berusia 20 tahun yang hidupnya kacau akibat perbuatan Darren. Saat benih cinta mulai tumbuh di antara mereka, mantan kekasih Darren tiba-tiba kembali dan memicu konflik baru. Kini, Darren dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan demi Salsa dan putra mereka, atau justru kembali ke pelukan masa lalu yang pernah menghancurkannya.