APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Skandal Mertua

Skandal Mertua

Pasca kecelakaan maut yang merenggut Erlangga, Ratna berjuang sendirian membesarkan putrinya selama lima tahun. Tragedi pilu tersebut juga merenggut salah satu anak kembarnya, yang direbut paksa oleh sang mertua karena Ratna dituduh sebagai pemicu kematian suaminya. Di tengah kepedihan, Erlang tiba-tiba muncul kembali. Sayangnya, kepulangan ini menyisakan tanda tanya besar karena pria itu sama sekali tidak mengenali Ratna, menyembunyikan misteri yang belum terungkap.
Bab
Bagikan

Bab 2

Seketika Sabrina mematung dan larut dalam keterkejutannya. Tubuhnya terasa disengat oleh ribuan volt tegangan listrik. Wanita yang masih memiliki darah keturunan putri keraton itu tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana mungkin orang yang sudah mati bisa berdiri di hadapannya sekarang? Pikiran Sabrina benar-benar buntu.

Pria yang disebut Erlang oleh Sabrina dan anak kecil yang bersamanya melangkah mendekati mereka. Namun mata Sabrina masih tertuju dimana pria itu berdiri dan mengucap salam.

"Ehh, Pak Erlangga dan Nak Bulan. Mari silahkan duduk!" sambut wanita sedikit subur itu yang kemudian berdiri dan menunjuk sofa yang di sebelah Sabrina dan Tari. Sofa itu berbentuk leter u dan Sabrina duduk di bagian tengah.

Sedangkan pintu ruangan itu berada di belakang sofa tunggal tempat duduk Bunda Asih.

Sabrina semakin terkesiap saat Bunda Asih menyebut pria itu dengan nama 'Erlangga'.

"Nyonya, anda baik–baik saja?"

Deg!

Jantung Sabrina seakan hendak lari dari tempatnya saat mendengar suara itu. Wajahnya begitu pucat dan deru napasnya masih tak beraturan.

Otaknya kembali traveling saat Erlangga memanggilnya 'Nyonya'. Benarkah dia bukan Erlangga? Tapi kenapa wajah, suara, dan namanya sama. Dan jika dia Erlangga, kenapa dia memanggilnya nyonya dan tidak mengenalinya?

Lalu, kenapa lima tahun yang lalu dia dikabarkan meninggal? Apakah itu sebuah kebohongan, semacam skandal? Tapi siapa yang kurang kerjaan melakukan drama murahan seperti itu? Apakah Erlang yang melakukan itu? Jika dia bosan dengannya, kenapa tidak mengatakannya langsung?

Masih banyak lagi pertanyaan yang berproduksi di otaknya. Semakin dipikirkan, semakin berdenyut kepalanya.

"Eh, i–iya. Saya baik–baik saja," jawab Sabrina tergagap seraya menetralkan gemuruh dalam dada.

"Bu Sabrina , jika kurang enak badan sebaiknya istirahat dulu!" ujar Bunda Asih yang kembali membuatnya terhenyak.

"Ti–tidak kok, Bun. Cuma kepala saya sedikit pusing," jawabnya tidak sepenuhnya berbohong karena memang kepalanya pening melihat pria yang memiliki wajah, suara, dan nama yang sama.

Tidak mungkin Sabrina salah mengenali pria di depannya. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan suara seseorang yang telah mengisi sepenuh hatinya.

"Wahh kebetulan kalian satu kelas. Ehh tapi, wajah Tari dengan Bulan kok mirip ya, Pak, Bu. Seperti pinang dibelah dua," ujar Bunda Asih setelah mengecek daftar peserta didiknya.

Perkataan Bu Asih semakin membuat kepala Sabrina berdenyut. Dia segera pamit sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Kemudian Sabrina pamit sekaligus menitipkan Tari pada Bunda Asih.

Di dalam taksi pun Sabrina tetap pusing memikirkan kejadian beberapa menit lalu.

Dia yakin jika itu benar Erlangga suaminya yang dikabarkan meninggal lima tahun silam. Apalagi setelah Bunda Asih mengatakan kalau Tari dan Bulan mirip.

Apakah Erlangga amnesia?

"Tapi kenapa Mas Erlang melakukan itu?" teriak Sabrina yang membuat sang driver terlonjak kaget. Bahkan dia mengira jika penumpangnya itu gila.

"Ehh, maaf Pak!" ujar Sabrina saat mengetahui tatapan aneh sang driver. Sang driver hanya tersenyum kaku dan setelahnya bergidik.

Bahkan saat sampai depan rumah, saat sang driver memanggilnya. Sabrina masih melamun.

"Mbak, sudah sampai!" teriak sang sopir hingga membuat Sabrina tersadar.

"Ehh, iya Pak. Maaf ya!" ujar Sabrina meminta maaf lalu menyodorkan uang sesuai yang tertera di aplikasi.

Setelah Sabrina turun dia masih terus kepikiran. Hingga membuat karyawannya menatap aneh

Sabrina memilih mengalihkan pikirannya dengan mengecek dokumen–dokumen mengenai tokonya.

Beberapa hari yang lalu, ada seseorang yang mengaku investor dan ingin mengajak Sabrina untuk membangun cabang dari toko tanaman hiasnya.

Setelah dirasa semua oke dan tidak ada hal yang janggal, Sabrina menghubungi orang itu. Mereka berencana membahas bisnis lebih lanjut di kafe dekat dengan sekolah Tari. Sabrina yang memilih agar nanti sewaktu Tari pulang tidak lama menunggu.

Hanya beberapa menit Sabrina dan partnernya selesai membahas hubungan kerja sama.

Sabrina melirik pergelangan tangannya. Lalu mengaktifkan mode data di ponselnya.

Ada pesan masuk dari Bunda Asih di ponselnya yang memberitahu kalau Tari pulang diantar oleh Erlangga. Tanpa disadari Sabrina memegang kepalanya.

Diam-diam partner Sabrina melirik ke arahnya. "Maaf, apakah Bu Sabrina sakit?"

"Ehh, tidak, saya baik-baik saja. Kalau begitu saya permisi," pamit Sabrina lalu bergegas pulang.

Sesampainya di rumah, Sabrina kembali sakit kepala karena Tari belum pulang. Dia mondar–mandir di gerbang tokonya setelah ganti baju dengan daster.

"Seharusnya sudah sampai rumah 'kan?" Sesekali dia mengigit kukunya saat mondar–mandir, juga mengambil ponselnya untuk melihat waktu.

Lima puluh menit menunggu, ada sebuah mobil Lexus hitam berhenti tepat di depannya.

"Mama!" seru Tari, tiba-tiba nongol dari pintu kaca mobil itu yang dibuka.

"Darimana kamu? Kenapa baru pulang?" tanya Sabrina. Bersamaan dengan itu, kaca pintu mobil bagian depan terbuka dan menyembul sosok kepala pria dan kepala anak kecil yang tersenyum ke arahnya.

Sontak membuat Sabrina beku. Meskipun dia sudah mempersiapkan mental untuk bertemu dengan Erlangga lagi, Sabrina tetap saja terkejut dan membeku.

"Hai. Maaf ya! Saya tadi mengajak Tari pergi makan es krim sebentar," jawab Erlangga. Dia menyembulkan kepalanya di sebelah kepala Bulan yang juga menyembul keluar.

Gadis kecil yang serupa dengan Tari itu juga menyapa Sabrina. Akan tetapi, Sabrina tidak menanggapi karena terbengong.

Kemudian terdengar pintu mobil belakang terbuka. Tari turun dan memeluk Sabrina. Bahkan saat Tari dan Bulan berbincang pun, Sabrina sama sekali tidak mendengar. Suara pintu mobil yang terbuka dan menutup pun tak menggoyahkan kebekuan Sabrina.

"Kalau begitu kami permisi dulu ya? Daaahh, Tari!" Erlangga dan Bulan melambaikan tangan lalu menutup pintu kacanya otomatis. Tak lama mobil itu melaju dan Ratna masih bergeming dan mematung.

Pria itu hanya tersenyum melihat Sabrina yang masih mematung dari kaca mobilnya. "Dasar wanita aneh," gumannya.

Pandangan Sabrina masih lurus ke depan, bahkan saat mobil sudah tak terlihat.

"Ma," panggil Tari seraya mengguncang tubuh mamanya.

Tidak ada respon, anak kecil itu mencubit lengan mamanya hingga Sabrina menjerit. Baru dia tersadar.

"Aaauwww!" pekik Sabrina. "Apaan sih, Nak? Nyubit–nyubit Mama. Sakit tahu," keluhnya yang ditanggapi Tari dengan mengangkat kedua bahunya seraya menggeleng.

Kemudian gadis kecil itu masuk gerbang pekarangan rumah yang tekesan seperti lorong taman penuh bunga warna-warni.

"Ehh, anak itu main nyelonong aja. Heii, Tari, tungguin Mama!" teriak Sabrina lalu mengejar putrinya.

Sabrina berhasil mengejar putrinya dan menangkapnya dalam pelukan. Kemudian gelak tawa memenuhi toko dengan konsep terbuka itu.

Tanpa disadari, ada sepasang mata yang mengamati mereka sedari mobil Erlangga berhenti di depan gerbang toko. Lalu pria itu mengutik ponsel dan menghubungi seseorang.

"Nyonya, saya sudah menemukan persembunyian wanita itu."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Adhiti
9.6
Kehidupan tenang Adhiti terusik saat takdir mempertemukannya dengan seorang pria misterius yang menyimpan dendam mendalam. Tanpa disadari, pria penuh luka tersebut memegang kunci atas tragedi masa lalu yang selama ini disembunyikan rapat oleh ayah Adhiti. Ketika misteri kelam ini mulai terkuak, hubungan asmara yang baru terjalin di antara mereka langsung didera cobaan berat. Adhiti kini harus memikul konsekuensi dari rahasia kelam yang sebenarnya bukan kesalahannya.
Sampul Novel Istri Di Atas Kertas Sang CEO
8.1
Shania, gadis 19 tahun, terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan Steven demi biaya pengobatan ibunya. Steven adalah CEO perusahaan limbah kimia yang dingin dan enggan berurusan dengan wanita. Namun, demi memenuhi tuntutan adiknya, ia menawarkan satu miliar rupiah kepada Shania. Imbalannya, Shania harus bersedia diperbudak lewat kesepakatan tertulis. Kini, Shania harus bertahan menghadapi berbagai taktik kejam Steven dalam ikatan formalitas tersebut.
Sampul Novel Malam Gairah: Cinta Adalah Game Pemberani
7.9
Pernikahan impian Camila hancur seketika saat sang calon suami tidak datang, menjadikannya bahan tertawaan para tamu. Dalam balutan amarah dan rasa kecewa, ia nekat melewati malam bersama seorang lelaki asing. Camila mengira kisah itu selesai begitu saja, tetapi pria misterius tersebut justru menolak pergi dari hidupnya. Kini, Camila dihadapkan pada pilihan sulit: mengabaikan godaan pria itu atau kembali membuka hatinya untuk asmara yang baru.
Sampul Novel Suamiku Menikahi Lagi Tanpa Sepengetahuanku
9.2
Selina sangat terpukul setelah melihat bukti pernikahan siri Daniel di ponselnya. Rasa sakitnya kian mendalam karena sang suami dan istri barunya berniat merebut seluruh kekayaannya. Padahal, Selina yang telah mengubah nasib Daniel dari miskin hingga bergelimang harta. Kini, kemarahan Selina tak terbendung. Ia bertekad mengambil kembali semua miliknya dan menyeret Daniel kembali ke kemiskinan. Aksi balas dendam yang kejam pun dimulai.
Sampul Novel Terjerat Cinta Duda Bucin
9.7
Nisya Kailandra, gadis berusia 26 tahun, harus menerima takdir dinikahkan dengan duda pilihan ayahnya. Seketika ia memikul tanggung jawab baru sebagai istri sekaligus ibu tiri. Walau siap berbakti, Nisya enggan memberikan cintanya. Namun, Ryan Ahmad Salim meyakinkan bahwa pernikahan bukan sekadar asmara, melainkan komitmen untuk selalu melindunginya. Mampukah ketulusan Ryan meluluhkan dinding pertahanan di hati Nisya yang dingin?
Sampul Novel Wanita Penakluk Direktur Muda
8.0
Demi memulihkan harga dirinya, Raellyn nekat mengancam Arnav, direktur hiburan ternama, memakai pisau lipat. Ia menuntut pertanggungjawaban atas pengkhianatan adik Arnav, Arsene, yang membatalkan janji pernikahan mereka. Namun, Arnav tidak mudah diintimidasi. Melihat peluang untuk memenuhi tuntutan mencari istri, ia justru menawarkan pernikahan kepada Raellyn. Meski motifnya uang, Arnav bertekad mendapat kompensasi setimpal dari wanita itu.