APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Skandal Cinta Pilot Angkuh

Skandal Cinta Pilot Angkuh

Senyum ceria Lara justru menyulut kebencian di hati Ardan Pradipta. Pilot berdarah dingin itu merasa terusik karena kebahagiaan Lara terus membangkitkan trauma masa lalunya. Namun, sebuah insiden tak terduga membuat keduanya terdampar di pulau terpencil. Di sana, keangkuhan Ardan perlahan terkikis oleh pesona Lara. Sayangnya, kepulangan Ardan sudah ditunggu oleh tunangan yang setia menantinya. Akankah perasaan ini bersemi atau terkubur menjadi skandal?
Bab
Bagikan

Bab 1

Lara mematut diri di depan cermin kecil di ruang ganti staf maskapai. Seragam pramugari berwarna biru tua yang ia kenakan terlihat rapi, membalut tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya yang hitam legam disanggul sederhana, menyisakan beberapa helaian kecil yang membingkai wajah ovalnya. Senyumnya, seperti biasa, terpampang lebar di wajahnya-senyum yang menjadi ciri khasnya.

"Lara, senyummu itu seperti obat penenang," ucap Nadine, salah satu pramugari senior yang bekerja bersamanya. "Jangan terlalu sering senyum seperti itu, nanti pilotnya jatuh cinta, lho."

Lara tertawa kecil. "Kalau begitu, aku harus hati-hati. Jangan sampai ada yang salah paham."

Namun, di balik tawa itu, Lara menyimpan sesuatu. Tidak semua orang tahu bahwa senyumnya yang menawan itu adalah tameng. Dia sudah terbiasa menghadapi hidup dengan optimisme palsu. Lara tahu bahwa hidup ini penuh dengan badai, tetapi dia selalu memilih untuk terlihat kuat. Itu caranya bertahan.

Hari itu, Lara bertugas di penerbangan Jakarta–Labuan Bajo. Rutenya cukup singkat, hanya sekitar dua jam lebih, namun rekan-rekannya sudah mengingatkan bahwa kapten yang akan memimpin penerbangan ini adalah Ardan Pradipta-seorang pilot yang terkenal karena sikap dinginnya.

"Ardan itu seperti tembok es," gumam Nadine dengan nada setengah bercanda. "Aku yakin dia hanya tahu tiga kalimat: 'Jangan ganggu saya', 'Lakukan pekerjaanmu', dan 'Diam'."

Lara hanya tersenyum mendengarnya. Dia bukan tipe orang yang mudah terganggu oleh sikap orang lain. Baginya, setiap orang punya alasan di balik sikapnya.

Ardan Pradipta memasuki ruang brifing dengan langkah mantap, tubuh tingginya menjulang di antara para kru. Seragam pilot yang ia kenakan terlihat sempurna tanpa cela. Wajahnya tampan, tetapi tatapan matanya dingin, seperti jurang yang dalam dan gelap. Semua orang di ruangan itu segera menghentikan percakapan mereka saat ia masuk, seolah-olah keberadaannya membawa aura yang memaksa semua orang untuk tunduk.

Lara memperhatikan Ardan dari kejauhan. Ada sesuatu yang aneh tentang pria itu. Bukan hanya sikapnya yang membuat orang lain merasa kecil, tetapi juga cara dia membawa dirinya sendiri, seolah dia sedang memikul dunia di bahunya.

"Kapten," sapa Nadine dengan sopan, mencoba mencairkan suasana.

Ardan hanya mengangguk singkat, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Pandangannya melintas ke seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti pada Lara. Dia menatapnya dengan tajam, membuat Lara sedikit bergeser di tempatnya. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuatnya merasa tidak nyaman, seolah-olah Ardan sedang menghakiminya.

"Pramugari baru?" tanyanya dingin, suaranya berat dan rendah.

Lara mencoba tetap tenang. "Saya Lara, Kapten. Sudah hampir enam bulan bekerja di maskapai ini."

"Hmm," gumam Ardan tanpa ekspresi. "Lakukan tugasmu dengan benar. Jangan jadi beban."

Kalimat itu menusuk Lara, tapi dia menelan rasa kesalnya. Dia tahu pria seperti Ardan tidak akan peduli dengan apa yang dia rasakan. Baginya, yang penting adalah profesionalisme. Namun, Lara tidak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya mengapa pria itu terlihat begitu penuh kebencian.

Penerbangan dimulai dengan lancar. Lara bekerja dengan efisiensi yang tinggi, melayani penumpang dengan senyum khasnya. Setiap kali dia berjalan melewati kokpit, dia merasa tatapan Ardan mengikuti gerakannya. Namun, pria itu tidak pernah mengatakan apa-apa, hanya sesekali memberikan instruksi singkat melalui interkom.

Di tengah penerbangan, cuaca mulai memburuk. Awan gelap menyelimuti langit, dan turbulensi mulai mengguncang pesawat. Penumpang mulai gelisah, beberapa dari mereka bahkan berdoa dengan suara pelan. Lara berjalan ke lorong, menenangkan para penumpang dengan suara lembutnya.

"Tenang saja, semuanya. Ini hanya turbulensi ringan. Kapten kami adalah pilot yang sangat berpengalaman, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan," katanya, mencoba memberikan rasa aman.

Namun, di dalam kokpit, situasinya jauh dari tenang. Ardan berkonsentrasi penuh pada instrumen di depannya, sementara co-pilotnya, Rizky, terlihat sedikit tegang.

"Mesinnya bermasalah," kata Rizky dengan nada cemas. "Kita harus mendarat darurat."

Ardan mengangguk. "Cari landasan terdekat."

"Tapi-tidak ada landasan di sekitar sini, Kapten. Satu-satunya opsi adalah laut atau pulau kecil itu."

Ardan menghela napas panjang, rahangnya mengeras. "Baik. Kita arahkan ke pulau itu."

Pesawat akhirnya berhasil mendarat darurat di sebuah pulau terpencil. Semua penumpang selamat, tetapi komunikasi dengan dunia luar terputus total. Lara membantu para penumpang keluar dari pesawat, memastikan semuanya baik-baik saja. Di saat yang sama, Ardan berdiri sedikit menjauh, memandang pesawat yang rusak dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Kita harus menunggu bantuan datang," kata Lara, mendekati Ardan dengan hati-hati. "Aku yakin tim SAR akan segera menemuk-"

"Apa kamu selalu seperti ini?" potong Ardan tiba-tiba, suaranya tajam. "Selalu mencoba terlihat ceria, seolah-olah semuanya baik-baik saja?"

Lara terkejut. "Aku hanya berusaha membantu semua orang untuk tetap tenang."

Ardan menatapnya dengan mata yang penuh kebencian. "Senyummu itu... membuatku muak."

Hati Lara mencelos. "Kenapa kamu begitu membenciku? Aku bahkan tidak mengenalmu."

"Karena kamu mengingatkanku pada seseorang," jawab Ardan, suaranya tiba-tiba melembut, tetapi tetap penuh kepahitan. "Seseorang yang aku ingin lupakan, tapi tidak bisa."

Lara tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya bisa berdiri di sana, merasa kecil di bawah tatapan tajam Ardan. Di balik rasa sakit itu, dia melihat sesuatu yang lain-luka yang begitu dalam, tersembunyi di balik tembok es yang Ardan bangun di sekelilingnya.

Malam itu, setelah semua penumpang tertidur, Lara duduk di tepi pantai, memandang bintang-bintang yang bersinar redup di langit. Angin laut berhembus lembut, membawa aroma asin yang menenangkan. Namun, pikirannya penuh dengan kebingungan.

"Kenapa kamu di sini?" suara Ardan tiba-tiba terdengar dari belakangnya.

Lara menoleh dan melihat pria itu berdiri, tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Wajahnya tetap dingin, tetapi ada sesuatu dalam matanya yang berbeda.

"Aku hanya butuh waktu untuk berpikir," jawab Lara pelan. "Kenapa kamu selalu bersikap seperti itu padaku, Ardan? Aku tidak pernah melakukan apa pun untuk menyakitimu."

Ardan terdiam, menatap laut sejenak sebelum akhirnya duduk di sebelah Lara. Untuk pertama kalinya, dia terlihat sedikit rapuh. "Karena senyummu itu... mengingatkan aku pada tunanganku."

"Tunanganku," lanjutnya dengan suara yang lebih pelan, "meninggalkanku setahun yang lalu. Dia mencampakkanku untuk pria lain, tapi sebelum itu, dia selalu tersenyum seperti kamu. Senyumnya adalah hal terakhir yang aku lihat sebelum dia menghancurkan hatiku."

Lara merasa hatinya berat mendengar pengakuan itu. Dia menyadari bahwa di balik keangkuhan Ardan, ada seorang pria yang terluka parah. Namun, dia juga tahu bahwa mereka berdua sekarang berada di jalan yang sama-sama berbahaya.

"Aku bukan dia, Ardan," kata Lara lembut. "Aku tidak akan menyakitimu."

Ardan menatapnya lama, seolah-olah mencoba mencari kebenaran dalam kata-katanya. Tapi di balik tatapan itu, ada sesuatu yang lain-sesuatu yang membuat Lara merasa jantungnya berdetak lebih cepat.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Lara merasakan bahwa kebencian dan gairah bisa berjalan berdampingan, membakar keduanya di bawah langit yang retak.

(Bersambung)

Bab ini bisa dikembangkan lebih panjang dengan memperdalam dialog, deskripsi, dan konflik emosional di antara karakter jika diinginkan. Apakah perlu lebih mendetail atau langsung ke bagian tertentu?Tentu, berikut adalah versi bab pertama yang lebih panjang dan penuh dengan emosi, mendalami konflik dan suasana hati kedua tokoh utama.

---

### **Bab 1: Langit yang Retak**

Lara mematut diri di depan cermin kecil di ruang ganti staf maskapai. Seragam pramugari berwarna biru tua yang ia kenakan terlihat rapi, membalut tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya yang hitam legam disanggul sederhana, menyisakan beberapa helaian kecil yang membingkai wajah ovalnya. Senyumnya, seperti biasa, terpampang lebar di wajahnya-senyum yang menjadi ciri khasnya.

"Lara, senyummu itu seperti obat penenang," ucap Nadine, salah satu pramugari senior yang bekerja bersamanya. "Jangan terlalu sering senyum seperti itu, nanti pilotnya jatuh cinta, lho."

Lara tertawa kecil. "Kalau begitu, aku harus hati-hati. Jangan sampai ada yang salah paham."

Namun, di balik tawa itu, Lara menyimpan sesuatu. Tidak semua orang tahu bahwa senyumnya yang menawan itu adalah tameng. Dia sudah terbiasa menghadapi hidup dengan optimisme palsu. Lara tahu bahwa hidup ini penuh dengan badai, tetapi dia selalu memilih untuk terlihat kuat. Itu caranya bertahan.

Hari itu, Lara bertugas di penerbangan Jakarta–Labuan Bajo. Rutenya cukup singkat, hanya sekitar dua jam lebih, namun rekan-rekannya sudah mengingatkan bahwa kapten yang akan memimpin penerbangan ini adalah Ardan Pradipta-seorang pilot yang terkenal karena sikap dinginnya.

"Ardan itu seperti tembok es," gumam Nadine dengan nada setengah bercanda. "Aku yakin dia hanya tahu tiga kalimat: 'Jangan ganggu saya', 'Lakukan pekerjaanmu', dan 'Diam'."

Lara hanya tersenyum mendengarnya. Dia bukan tipe orang yang mudah terganggu oleh sikap orang lain. Baginya, setiap orang punya alasan di balik sikapnya.

---

Ardan Pradipta memasuki ruang brifing dengan langkah mantap, tubuh tingginya menjulang di antara para kru. Seragam pilot yang ia kenakan terlihat sempurna tanpa cela. Wajahnya tampan, tetapi tatapan matanya dingin, seperti jurang yang dalam dan gelap. Semua orang di ruangan itu segera menghentikan percakapan mereka saat ia masuk, seolah-olah keberadaannya membawa aura yang memaksa semua orang untuk tunduk.

Lara memperhatikan Ardan dari kejauhan. Ada sesuatu yang aneh tentang pria itu. Bukan hanya sikapnya yang membuat orang lain merasa kecil, tetapi juga cara dia membawa dirinya sendiri, seolah dia sedang memikul dunia di bahunya.

"Kapten," sapa Nadine dengan sopan, mencoba mencairkan suasana.

Ardan hanya mengangguk singkat, tidak mengucapkan sepatah kata pun. Pandangannya melintas ke seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti pada Lara. Dia menatapnya dengan tajam, membuat Lara sedikit bergeser di tempatnya. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuatnya merasa tidak nyaman, seolah-olah Ardan sedang menghakiminya.

"Pramugari baru?" tanyanya dingin, suaranya berat dan rendah.

Lara mencoba tetap tenang. "Saya Lara, Kapten. Sudah hampir enam bulan bekerja di maskapai ini."

"Hmm," gumam Ardan tanpa ekspresi. "Lakukan tugasmu dengan benar. Jangan jadi beban."

Kalimat itu menusuk Lara, tapi dia menelan rasa kesalnya. Dia tahu pria seperti Ardan tidak akan peduli dengan apa yang dia rasakan. Baginya, yang penting adalah profesionalisme. Namun, Lara tidak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya mengapa pria itu terlihat begitu penuh kebencian.

---

Penerbangan dimulai dengan lancar. Lara bekerja dengan efisiensi yang tinggi, melayani penumpang dengan senyum khasnya. Setiap kali dia berjalan melewati kokpit, dia merasa tatapan Ardan mengikuti gerakannya. Namun, pria itu tidak pernah mengatakan apa-apa, hanya sesekali memberikan instruksi singkat melalui interkom.

Di tengah penerbangan, cuaca mulai memburuk. Awan gelap menyelimuti langit, dan turbulensi mulai mengguncang pesawat. Penumpang mulai gelisah, beberapa dari mereka bahkan berdoa dengan suara pelan. Lara berjalan ke lorong, menenangkan para penumpang dengan suara lembutnya.

"Tenang saja, semuanya. Ini hanya turbulensi ringan. Kapten kami adalah pilot yang sangat berpengalaman, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan," katanya, mencoba memberikan rasa aman.

Namun, di dalam kokpit, situasinya jauh dari tenang. Ardan berkonsentrasi penuh pada instrumen di depannya, sementara co-pilotnya, Rizky, terlihat sedikit tegang.

"Mesinnya bermasalah," kata Rizky dengan nada cemas. "Kita harus mendarat darurat."

Ardan mengangguk. "Cari landasan terdekat."

"Tapi-tidak ada landasan di sekitar sini, Kapten. Satu-satunya opsi adalah laut atau pulau kecil itu."

Ardan menghela napas panjang, rahangnya mengeras. "Baik. Kita arahkan ke pulau itu."

Pesawat akhirnya berhasil mendarat darurat di sebuah pulau terpencil. Semua penumpang selamat, tetapi komunikasi dengan dunia luar terputus total. Lara membantu para penumpang keluar dari pesawat, memastikan semuanya baik-baik saja. Di saat yang sama, Ardan berdiri sedikit menjauh, memandang pesawat yang rusak dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Kita harus menunggu bantuan datang," kata Lara, mendekati Ardan dengan hati-hati. "Aku yakin tim SAR akan segera menemuk-"

"Apa kamu selalu seperti ini?" potong Ardan tiba-tiba, suaranya tajam. "Selalu mencoba terlihat ceria, seolah-olah semuanya baik-baik saja?"

Lara terkejut. "Aku hanya berusaha membantu semua orang untuk tetap tenang."

Ardan menatapnya dengan mata yang penuh kebencian. "Senyummu itu... membuatku muak."

Hati Lara mencelos. "Kenapa kamu begitu membenciku? Aku bahkan tidak mengenalmu."

"Karena kamu mengingatkanku pada seseorang," jawab Ardan, suaranya tiba-tiba melembut, tetapi tetap penuh kepahitan. "Seseorang yang aku ingin lupakan, tapi tidak bisa."

Lara tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya bisa berdiri di sana, merasa kecil di bawah tatapan tajam Ardan. Di balik rasa sakit itu, dia melihat sesuatu yang lain-luka yang begitu dalam, tersembunyi di balik tembok es yang Ardan bangun di sekelilingnya.

---

Malam itu, setelah semua penumpang tertidur, Lara duduk di tepi pantai, memandang bintang-bintang yang bersinar redup di langit. Angin laut berhembus lembut, membawa aroma asin yang menenangkan. Namun, pikirannya penuh dengan kebingungan.

"Kenapa kamu di sini?" suara Ardan tiba-tiba terdengar dari belakangnya.

Lara menoleh dan melihat pria itu berdiri, tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Wajahnya tetap dingin, tetapi ada sesuatu dalam matanya yang berbeda.

"Aku hanya butuh waktu untuk berpikir," jawab Lara pelan. "Kenapa kamu selalu bersikap seperti itu padaku, Ardan? Aku tidak pernah melakukan apa pun untuk menyakitimu."

Ardan terdiam, menatap laut sejenak sebelum akhirnya duduk di sebelah Lara. Untuk pertama kalinya, dia terlihat sedikit rapuh. "Karena senyummu itu... mengingatkan aku pada tunanganku."

"Tunanganku," lanjutnya dengan suara yang lebih pelan, "meninggalkanku setahun yang lalu. Dia mencampakkanku untuk pria lain, tapi sebelum itu, dia selalu tersenyum seperti kamu. Senyumnya adalah hal terakhir yang aku lihat sebelum dia menghancurkan hatiku."

Lara merasa hatinya berat mendengar pengakuan itu. Dia menyadari bahwa di balik keangkuhan Ardan, ada seorang pria yang terluka parah. Namun, dia juga tahu bahwa mereka berdua sekarang berada di jalan yang sama-sama berbahaya.

"Aku bukan dia, Ardan," kata Lara lembut. "Aku tidak akan menyakitimu."

Ardan menatapnya lama, seolah-olah mencoba mencari kebenaran dalam kata-katanya. Tapi di balik tatapan itu, ada sesuatu yang lain-sesuatu yang membuat Lara merasa jantungnya berdetak lebih cepat.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Lara merasakan bahwa kebencian dan gairah bisa berjalan berdampingan, membakar keduanya di bawah langit yang retak.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dua Sahabat yang Bercerai
8.2
Mely dan Winda menikah dengan dua bersaudara dari Keluarga Wicaksono yang kaya raya. Hari pernikahan berubah menjadi petaka saat suami Mely, Riko, pergi demi menolong mantan kekasihnya. Kepergian Riko memicu serangan jantung fatal pada nenek Mely hingga meninggal dunia. Merasa dikhianati dan diabaikan, Mely memutuskan untuk berpisah. Keputusan ini didukung oleh Winda yang juga memilih menggugat cerai suaminya, menyisakan penyesalan mendalam bagi kedua pria Wicaksono tersebut.
Sampul Novel Hasrat Istri Ketiga
8.6
Masa depan Kiara hancur setelah lulus sekolah karena terpaksa menjadi istri ketiga bagi CEO bernama Andra. Meski awalnya hanya mendambakan keturunan, kini Andra menuntut pengabdian penuh dari Kiara. Di tengah gairah yang menyiksa, posisi Mimi sebagai istri pertama merasa terancam. Mimi pun berupaya memisahkan mereka dengan memanfaatkan teman masa lalu Kiara untuk menghasutnya, tepat ketika Andra mengabaikan kebutuhan batin sang istri. Akankah cinta mereka mampu bertahan?
Sampul Novel KANG CENDOL TERNYATA MILIARDER
8.4
Banyak orang meremehkan Irpan yang sehari-hari hanya terlihat sebagai penjual cendol biasa. Padahal, di balik kesederhanaan itu, ia adalah seorang miliarder yang menyembunyikan identitas aslinya. Takdir kemudian mempertemukannya dengan Putri dalam sebuah kejadian tak terduga, memicu benih cinta di antara mereka. Akankah Putri menyadari kekayaan melimpah yang dimiliki Irpan? Mampukah Irpan terus menjaga rahasia besarnya di tengah kisah cinta mereka yang penuh kejutan?
Sampul Novel Pengantin Bos Mafia
8.2
Dipilih sebagai tunangan Alexander sang pewaris mafia, Alana menghadapi kenyataan pahit saat Alexander terpikat oleh keliaran Kiara, putri pedagang senjata. Demi meredam pemberontakan Kiara yang menolak menjadi selir, Alexander meminta Alana menyerahkan gelar istrinya. Di tengah rusaknya gaun pengantin yang terkena darah, Alana mengambil keputusan ekstrem. Menolak tersingkir, ia bertekad merebut posisi yang lebih tinggi: jika tidak bisa menjadi istri sang pewaris, maka ia akan menjadi wanita dari sang Bos Mafia sendiri.
Sampul Novel Tarian Aksara
8.5
Sambil menangis di atas kursi roda, Ara meratapi kepedihan hidupnya di bawah langit senja. Ia merasa takdir begitu tidak adil padanya. Namun, Aksa hadir sebagai sahabat setia yang berjanji untuk selalu mendampingi gadis bermata hazel tersebut. Di tengah keputusasaan Ara yang mendalam, Aksa memohon agar ia tetap bertahan. Kisah ini menyoroti perjuangan berat menerima kenyataan hidup yang pahit dengan dukungan tulus dari orang terdekat.
Sampul Novel Terjebak Cinta Sang Casanova
8.9
Maisya Indira, gadis SMA berusia 17 tahun, tidak sengaja berpapasan dengan Zifran Alanta, seorang CEO Casanova mesum. Guna menghindari rencana perjodohan dari Mama Sarah yang sangat berambisi menikahkan putranya, keduanya sepakat berpura-pura pacaran. Namun, kedekatan yang intens justru menumbuhkan rasa nyaman yang mendalam. Sandiwara mereka perlahan berubah menjadi jeratan hasrat terlarang tanpa ikatan status yang berisiko. Akankah jalinan cinta palsu ini berujung nyata?