APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Silver Eyes

Silver Eyes

Kekalahan dalam pertarungan membuat Ciu San, putra Bun San dari keluarga Luk San yang lemah, sekarat dengan urat nadi hampir terputus. Namun, keajaiban terjadi saat mata Dewa Tata Surya yang jatuh ke bumi menyelamatkan nyawanya. Kini, Ciu San memiliki kekuatan baru, tetapi ia juga menjadi buruan para kultivator yang mengincar darahnya demi peningkatan kekuatan instan. Di tengah kejaran musuh, mampukah ia bertahan hidup sekaligus membalaskan dendam kematian orang tuanya?
Bab
Bagikan

Bab 1

“Ciu San! Kau sebaiknya turun saja dari panggung ini jika kamu tidak mau luka parah lagi seperti yang sudah-sudah!”

Mendengar suara ejekan itu semua orang tertawa terbahak-bahak.

Sedangkan ada satu keluarga yang tampaknya muram dan sedikit murka mendengar ejekan itu.

Satu keluarga itu sepertinya merupakan keluarga besar. Karena banyak sekali orangnya. Dan ada beberapa pasang orang yang sudah berumur pula.

Mendengar ejekan itu, salah satu orang tua itu berbisik kepada yang lain, “Sebaiknya kau suruh anakmu itu turun saja. Daripada semakin membuat malu keluarga kita.”

“Betul apa yang di ucapkan Twao Tiong San barusan, Ko Bun San!” kata seorang wanita menimpali ucapan orang tua tersebut.

Bun San berkata kepada mereka berdua, “Aku mendidik putraku agar tidak mudah menyerah. Kalau dia kalah. Dia harus kalah terhormat!”

Rupanya orang yang bernama Bun San adalah ayah dari orang yang sedang bertanding dan tubuhnya sudah terlihat babak belur semua.

Baru saja sang ayah berkata demikian, tampak seseorang telah terlempar dari atas panggung dan jatuh tepat di hadapannya.

Rupanya dia adalah putra dari Bun San yang bernama Ciu San.

Seorang perempuan segera mendekatinya dan tampaknya ia menangis sambil berkata. “Ciu San anakku, kamu baik-baik saja.”

Pemuda itu mencoba mengangkat tangannya untuk memberi tanda kalau dia baik-baik saja. Tetapi ketika ia mencoba bangkit berdiri, tubuhnya kembali ambruk.

Bersamaan dengan itu terdengar suara dari seseorang, “Pertandingan kali ini di menangkan kembali oleh Siau Lan dari keluarga besar Naga Terbang.

Pemuda yang bernama Siau Lan itu mendekati Ciu San.

Sesudah ia dekat dengan pemuda itu, ia pun mengejek lagi, “Sebaiknya untuk pertandingan berikutnya janganlah kalian mengikut sertakan dia lagi. Yang lain saja sudah kalah lebih dahulu. Kenapa dia harus ikut bertanding lagi. Sebaiknya dia di tinggal di rumah saja. Berlindung di balik ketiak ibunya!”

Kembali semua orang yang mendengar itu tertawa terbahak-bahak.

Sang ibu yang mendengar sindiran itu sepertinya terpancing juga emosinya dan Ia hendak melompat naik untuk memberi pelajaran kepada pemuda itu, tetapi tangan Bun San cepat mencegahnya sambil berkata, “Janganlah kamu buat keributan di tempat ini. Sebaiknya kita segera bawa pergi anak kita dahulu dari sini.”

“Tuan Bun San, anak ku tidak takut kepada keluargamu. Sebaiknya kamu maju sebagai wakil dari keluargamu. Aku ingin lihat sampai di mana kehebatan jurus pukulan telapak tangan dari keluargamu yang katanya sudah mencapai tingkat ke delapan itu!” terdengar suara tantangan yang cukup keras dari ujung seberang tempat duduk keluarga itu.

Mendengar suara tantangan itu terdengar suara sorak-sorai yang menyatakan kalau semua orang juga hendak melihat jurus tingkat ke delapan dari jurus pukulan telapak tangan milik Bun San.

Rupanya kedua orang tua itu tidak mengacuhkan ucapan tersebut, mereka tampaknya lebih memperhatikan keadaan putra mereka daripada tangan itu.

Sang Kaisar yang bernama Kaisar Kwok Lung juga ikut berteriak, “Perlihatkanlah jurus itu di hadapanku, Bun San! Jika kamu berhasil mengalahkan Siau Lan artinya kedudukan keluargamu di dalam Istana masih sangat besar pengaruhnya.”

Dengan demikian itu artinya, posisi keluarga Lok San yang sudah turun temurun berada di dalam Istana tidak akan tergeser kan walaupun keturunan generasi kelima Ciu San kalah pada pertandingan hari itu.

Mendengar ucapan dari Kaisar, dua orang yang tadi mengatai Bun San segera mendekati Bun San lalu membujuknya agar segera naik.

Istrinya yang bernama Mu Yung segera menyahut dengan sewot, “Kalian urus saja sendiri nama dan keluarga baik kalian. Aku dan Bun San lebih mementingkan putra kami daripada kedudukan itu!”

Tiong San segera berkata, “Baik! Jika kelak terjadi apa-apa dengan kalian. Termasuk dengan putramu, kalian berdua tidak perlu datang minta bantuan ke kami!”

Selesai berkata demikian, Tiong San melompat ke atas. Bersamaan dengan itu tampak seorang tua juga melompat ke atas sambil berteriak, “Siau Lan! Sebaiknya kamu mundur. Biar Ayah yang menghadapinya!” gerakan lelaki itu membentak kedua tangannya di udara. Dan kedua kakinya di lipat seperti orang duduk sila.

Mendengar teriakan dari sang ayah, pemuda bernama Siau Lan bergegas turun dari panggung. Sedangkan semua orang sudah kembali fokus dengan kedua orang itu di mana mereka di udara sudah saling bentrok satu sama lain.

Tiong San juga membuka kedua telapak tangannya. Dan dengan tenaganya ia mendorong ke arah Qui Lan yang menjadi ayah dari Siau Lan.

Sesungguhnya kemampuan Qui Lan tidaklah di bawah Tiong San, tetapi kali ini dia sepertinya tidak menanggapi dengan sungguh-sungguh serangan lawan, sehingga ia terlihat jatuh ke panggung dengan muntah darah.

Mendengar kedua orang itu cek-cok, Bun San menjadi serba salah. Ia tidak dapat membela keduanya. Karena yang satu adalah istri dan yang lain adalah saudara.

Begitulah kalau tinggal satu atap dengan saudara yang sudah berkeluarga. Bawaannya tidak enak. Mengalah tidak enak. Mau menang sendiri juga tidak enak. Tidak bisa membela keduanya.

Bun An pun tampaknya cepat sadar. Karena ia telah kehilangan dua orang anaknya yang terdahulu gara-gara pibu tersebut. Dan ia kali ini tidak mau kehilangan putranya lagi. Maka dari itu ia mengacuhkan apa yang di katakan sang kakak barusan sambil menarik tangan si istri dia berkata, “Sebaiknya kita bawa Ciu San dari sini sekarang juga.”

Sementara itu Tiong San yang tidak mau kedudukan keluarganya berkurang di dalam istana mau tidak mau segera melompat naik ke panggung sambil mengerahkan telapak tangannya ke depan. Ia langsung menggunakan jurus tingkat ke empat.

Tampak telapak tangan kanan Tiong San seperti memancarkan api. Lalu dengan kekuatan sedang ia mendorong telapak tangan kanan itu tepat ke bagian dada Siau Lan.

Pada saat mereka mulai melangsungkan pibu, tampak seorang biksu Saolin datang melompat dan mendekati mereka berdua seraya berkata, “Biar Pinceng coba untuk mengobati nya.”

Kedua orang itu tampak gembira sekali dan mereka pun membiarkan biksu itu memeriksa keadaan Ciau San putra mereka.

Sesudah memeriksa keadaan pemuda itu, si pendeta Shaolin segera mengalirkan tenangnya sejenak. Akhirnya ia menggelengkan kepala sambil berkata, “Sepertinya hampir sebagian urat nadi nya putus.”

Mendengar itu Mu Yung terlihat sangat marah sekali. Dan ia hendak melompat ke panggung untuk memberikan pelajaran kepada pemuda itu, tetapi di cegah oleh biksu sambil berkata, “Sekiranya nyonya lebih memperhatikan putra anda. Kalau telat sedikit saja, putra anda akan lumpuh total. Dan nantinya kalau dapat bertahan hidup akan seperti anak ideot.

Sebelum pergi kedua orang tua Ciu San sempat mendengar, “Pemenangnya adalah Tiong San!”

Lalu mereka pun sempat menoleh, dan terlihat Qui Lan di papah turun dari panggung oleh beberapa orang muridnya. Sedangkan Tiong San juga menoleh ke arah adiknya sambil tersenyum sinis. Seolah-olah dia mengatakan, “Tanpa kalian, keluarga kami mampu diandalkan oleh kerajaan.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DENDAM CINTA
9.8
Fanila tewas dikhianati kekasihnya saat misi maut. Beruntung, ia bereinkarnasi sebagai Ziana, gadis malang yang dikucilkan keluarganya. Di hidup baru ini, ia bertekad membalas dendam pada sang mantan. Namun, situasi menjadi rumit ketika ia tahu bahwa pria yang paling ia benci itu ternyata adalah kakak kandung dari kekasih barunya sekarang. Ziana pun terjebak dilema besar antara menuntaskan misi balas dendamnya atau melindungi cinta barunya yang tulus.
Sampul Novel IPRIT
7.9
Di Kampung Keris yang kental akan dunia persilatan dan mistis, Wisaka bertekad mengungkap misteri kematian tragis para pengantin baru. Para suami tewas setelah malam pertama, sedangkan para istri diperkosa hingga bungkam. Demi mencari kebenaran, Wisaka pun mempelajari ilmu kanuragan. Namun, ia harus menghadapi hadangan bandit, makhluk halus, hingga siluman yang menyamar sebagai manusia. Mampukah ia menang, atau justru gugur di tangan iblis?
Sampul Novel Lawon Abang (Kafan Merah)
9.4
Mbah Karso didera dendam hebat usai Mawar, cucunya yang bermata merah, tewas mengenaskan di tebing akibat kejaran dan fitnah warga Ledokombo. Demi membalas kematian keji sang cucu, ia nekat membangkitkan iblis kuno bernama Nyai Larapati yang telah lama tertidur. Jasad Mawar yang tak bernyawa pun dipaksa bangkit kembali untuk mengobarkan aksi balas dendam berdarah tanpa ampun, menyasar seluruh penduduk desa yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut.
Sampul Novel Pendekar Petualang Cinta
8.9
Anjasmara, putra selir dari Kerajaan Galuh yang rupawan, memulai pengembaraan sebagai pendekar untuk memenuhi perintah ibunya: mencari seorang wanita tangguh yang sulit ditaklukkan sebagai cinta sejati. Alih-alih demikian, ketampanannya malah memikat banyak gadis. Perjalanan asmaranya kian rumit saat ia terseret ke dalam pusaran konflik dunia persilatan yang mematikan sekaligus menguji kekuatannya. Akankah ia berhasil menemukan belahan jiwanya di tengah ancaman bahaya?
Sampul Novel Teratai Abadi
7.8
Puti Bungo Satangkai, gadis bisu yang lahir prematur, memiliki kesaktian besar di Pulau Sinaka berkat didikan Inyiak Mudo. Setelah sang guru wafat, Bungo berkelana ke Andalas untuk mencari asal-usulnya. Berbekal liontin teratai, ia bertemu Kumbang Janti dan mengetahui bahwa dirinya keturunan Sialang Babega. Perjuangan merebut pusaka Teratai Abadi untuk Raja Minanga dipenuhi pertempuran sengit yang merenggut nyawa rekannya. Namun, ia berhasil bertemu kakaknya dan bersatu dengan Antaguna, cinta sejatinya.
Sampul Novel Wife Of The Antagonist
9.7
Terbangun di dunia novel dewasa, Archelia mendapati dirinya menjadi istri Alister Fernando, bos mafia kejam yang terobsesi pada Alice. Berdasarkan plot asli, Archelia adalah sosok antagonis yang ditakdirkan tewas di tangan suaminya sendiri. Kini, ia terjebak dalam pernikahan maut. Demi bertahan hidup dari ancaman sang suami dan protagonis pria, ia harus memutar otak untuk mengubah takdir tragisnya serta menjinakkan keliaran Alister.