APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Silent (Love, loyalty and hurt)

Silent (Love, loyalty and hurt)

Kehancuran Nadin bermula saat perselingkuhan Nathan terungkap, dipicu oleh penyimpangan seksual yang tak tersalurkan. Di tengah upaya bertahan dari pengkhianatan itu, Nadin bertemu Devon. Meski menaruh hati, Devon enggan mengusik pernikahan mereka. Saat karma buruk mulai mendera Nathan, Nadin justru memilih tetap bungkam. Namun, keheningan ini menjadi awal keputusan besar yang tak terduga. Meski mencintai suaminya, ia tak akan membiarkan pengkhianatan berakhir manis.
Bab
Bagikan

Bab 2

Hari-hari dilewati dengan sempurna. Meski belum memiliki keturunan---selama hampir tiga tahun ini, hal itu tak membuat perhatian Nathan kepada sang istri menjadi luntur.

Mereka bahagia, melewati semuanya bersama. Di dalam cinta mereka percaya, bahwa suatu saat, Tuhan akan memberikan mereka keturunan jika sudah tiba waktunya.

Malam ini, Nathan yang sudah lebih dulu menerima gaji bulanan, ia pun mengajak istrinya untuk mencari makan di luar.

"Makan di luar, mau?" tanya Nathan, memastikan. Nadin yang tengah menyisir rambut di depan cermin pun berbalik, melihat suaminya yang sudah memakai jaket miliknya.

"Hayo, Mas pasti habis gajian, kan?!" Dengan antusias, Nathan mengangguk. Tersenyum, berjalan mendekati istrinya.

"Kuylah, mumpung malam minggu. Mas pengen ngajak istri Mas jalan-jalan," katanya, "Mau?"

"Mau..." Nadin berseru, berdiri dan langsung bergelayut manja di lengan suaminya. Segera mereka keluar rumah. Nathan lebih dulu naik ke atas motor, memakai helm dan mengenakannya juga pada istrinya.

"Peluk!" Nathan meraih kedua tangan Nadin, membawa tangan Nadin melingkari pinggangnya.

"Siap?" tanya Nathan.

"Siap, Boss," jawab Nadin. Mereka tertawa kecil bersama, lalu mulai melaju dengan santai. Menikmati suasana malam minggu, melihat para anak-anak muda yang nongkrong dan berkumpul.

Nathan menoleh ke samping. "Mau makan apa, um? Awas kalau jawab terserah." Nadin yang meletakkan dagunya di bahu Nathan, ia tergelak lalu mencubit kecil pinggang suaminya.

"Lalapan jaer enak nih. Eh, tapi, sate juga enak. Um ... gimana kalau mie ayam? Eh, enggak-enggak. Coto! Biar anget." Nadin pun memajukan kepalanya, memeriksa wajah Nathan. Benar saja, wajah lelaki itu sudah mendatar lucu.

Lagi-lagi mereka tertawa bersama. "Yang bener atuh, Neng. Jangan buat Kakang pusing tujuh bangunan," ucap Nathan bercanda. Setelah berunding, akhirnya mereka memilih untuk lebih dulu memakan lalapan, kemudian memesan martabak.

"Kamu nggak mau beli anu? Itu loh, apa sih ya, yang buat keset-keset itu? Mas lupa." Nathan sungguh terlalu, berbicara santai di depan orang-orang yang sedang mengantri martabak mereka. Alhasil, mereka diliriki dengan senyum tertahan.

"Apa toh, Mas. Ishh!" Nadin malu, mencubit lengan Nathan yang otomatis tertawa.

Setelah pesanan martabak mereka usai, kembali lagi kedua orang itu melanjutkan perjalanan. "Singgah bentar di taman, mau nggak?" Nathan mengangguk, kemudian memberhentikan motornya di suatu taman yang cukup ramai malam ini.

Turun, merangkul bahu istrinya, seraya menentang kantung martabak mereka. Duduk pada kursi di taman, dan mulai bercerita tentang kisah mereka sendiri. Tetapi, seketika Nadin melamun. Tatapannya lurus ke depan, melihat pada satu titik.

"Kenapa sih, um? Kok melamun?" Nathan bertanya. Merangkul lagi bahu Nadin, lalu ia bawa kepala wanita itu bersandar di dadanya.

Nadin menggeleng, tersenyum lebar dan langsung menyuap satu potong martabak manis ke mulut suaminya. "Manis ya, kayak istri Mas," celetuk Nathan, mengulum bibirnya menahan senyum.

"Eleh, pret! Dasar, kang gombal," balas Nadin, kemudian mereka tergelak.

Merasa sudah larut, mereka memutuskan untuk segera pulang ke rumah. "Asyik deh, jalan-jalan pake motor gini. Berasa balik lagi ke zaman pacaran," ucap Nadin yang sudah meletakkan dagunya di bahu Nathan.

"Iya, sensasi masa pacarannya berasa balik lagi, 'kan?" balas Nathan, kemudian mengecup punggung tangan istrinya sembari terus mengemudi.

Nadin mengulas senyum manis. "Ini nih yang aku suka dari Mas. Romantisnya nggak pernah berubah dari zaman pacaran, selalu bisa hibur aku. Tau ... aja kalau istrinya lagi sedih."

Sekali lagi Nathan mengecup punggung tangan Nadin, lalu mengusapnya pelan dengan ibu jarinya. "Nggak usah sedih-sedih. Mas nggak suka lihat kamu sedih. Mending deh, kamu kesurupan, ketimbang sedih-sedih dan buat Mas nggak tenang," balas Nathan, tetapi langsung helm-nya digetok oleh Nadin.

"Yakali kesurupan. Mas aja sono yang kesurupan di tengah jalan." Di detik berikutnya, Nathan dan Nadin pun tertawa. Merasa gemas, Nathan langsung menggigiti jemari istrinya.

"Gemes. Terkam boleh?"

****

Karena ini hari minggu, datanglah Naka--adik Nathan--untuk mengunjungi rumah sang kakak. Mengajak istrinya tentu saja.

Kebetulan, ada Nathan yang duduk di ruang tengah. Mengetik pada laptop yang ia letakkan di atas meja kaca.

"Assalamualaikum!"

Nathan menoleh. Sontak berdiri, saat melihat Naka dan Margie yang sudah memasuki rumah. "Wa'alaikumussalam. Wah, padahal baru aja Mas pengen nelfon, mau ngajak kalian ke rumah," lontar Nathan, lalu berpelukan singkat dengan sang adik.

"Mbak Nadin ... mana?" tanya Margie, mencari-cari keberadaan kakak iparnya.

"Oh, di dapur. Nyusul gih, lagi masak tuh dia," jawab Nathan. "Hati-hati," timpal Naka. Selalu memperingati sang istri untuk berhati-hati saat di dapur.

Duduklah Nathan dan Naka bersama, mulai bercerita dan saling melontarkan isi pikiran masing-masing tentang pekerjaan. Lalu, seketika Naka menceletuk, "Rumah segede gini, kalau banyak bocilnya pasti seru."

Tidak bermaksud lain, Naka benar-benar spontan mengatakan apa yang terlintas di otaknya. "InsyaAllah, suatu saat ada lebih dari dua bocil yang bakal ramein rumah ini," balas Nathan, bersikap dewasa.

Nathan tersenyum, melihat sang adik. "Kalau bukan anak-anak Mas, ya anak-anak kamu dong yang harus ramein ni rumah. Anak kamu dan Margie, ya anak Mas sama Nadin juga. Iya, kan?"

Mereka pun tersenyum bersama. Inilah yang membuat Naka bangga pada sang kakak. Nathan, pria itu memiliki sifat yang sangat dewasa. Apa pun itu keadaannya, dapat ia ubah bak air yang tenang. Yah, semua itu berkat sifat dan pemikirannya yang matang, yang dewasa.

"Eh, ini mereka masak apa ya? Wangi banget." Dahi kedua pria itu otomatis mengernyit, menghirup aroma masakan Nadin dan Margie yang begitu wangi.

"Opor," pekik kakak beradik itu. Melotot, berdiri, kemudian berlari cepat menuju dapur.

"Mau opor..." Seru keduanya.

"E-eh? Belum mateng. Buset!" Nadin dan Margie tertawa, melihat suami-suami mereka yang berlari seperti dua badak kesurupan menuju mereka.

"Ya udah, makan kalian aja," lontar Nathan dan Naka, serentak.

"Mesooom..." sahut Nadin dan Margie kompak. Menyisakan gelak tawa mereka berempat. Nadin mengedipkan sebelah matan ke arah suaminya, yang ciuman jauh dari suami tercintanya itu. Malam minggu mereka, ditutup dengan saling bercerita, banyak hal, membuat Nadin larut dalam suka cita tak terelakkan.

Bersambung,

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Beyond the Song
9.0
Aku menyembunyikan identitas asliku sebagai monster di balik rupa manusia. Namun, ketenanganku terusik saat lagu mematikan Siren memicu beruntunnya kasus bunuh diri misterius. Situasi kian rumit ketika Kenneth, seorang pemburu, hadir dan membawaku masuk ke dunia supernatural yang penuh ancaman. Demi melindungi orang terdekat, aku harus turun tangan walau penyamaranku terancam terbongkar. Ironisnya, aku justru terpikat pada Kenneth, pria yang ditakdirkan untuk memburuku.
Sampul Novel Different Body
8.0
Bagaimana jika saat terbangun Anda berada di tubuh bergender lain? Kejadian aneh ini menimpa Aurora Nadine Rachellina tanpa peringatan. Begitu terjaga, jiwanya telah berpindah ke raga seorang pria. Transformasi mendadak ini bukan sekadar perubahan fisik biasa, melainkan awal dari berbagai persoalan rumit dan besar yang harus segera ia selesaikan dalam kehidupan barunya yang membingungkan.
Sampul Novel GAIRAH TENGAH MALAM
9.5
Ekspedisi seorang fotografer alam liar ke pedalaman Amazon mempertemukannya dengan pemandu lokal yang tangguh. Ketertarikan kuat langsung terjalin di antara mereka di tengah keindahan hutan hujan yang penuh misteri. Namun, perjalanan ini tidak mudah karena mereka harus menghadapi berbagai ancaman maut yang menguji bertahan hidup. Di balik bahaya dan aksi menegangkan tersebut, tumbuh gairah romantis yang membara, menyatukan keduanya dalam petualangan penuh risiko.
Sampul Novel Istri yang Dianggap Sempurna
9.6
Kegagalan dua kali pernikahan menyadarkan Keyyan Munir bahwa modal ketampanan fisik saja tidak cukup tanpa kestabilan finansial. Di tengah keputusasaan itu, ia jatuh cinta dan menikahi Shabilal Haq, atau Shabby. Namun, Keyyan tidak mengetahui bahwa sang istri yang tampil sebagai wanita cantik tersebut sebenarnya lahir dengan organ ganda. Akankah pernikahan mereka tetap bertahan saat rahasia biologis Shabby yang selama ini disimpan rapat akhirnya terungkap di hadapan Keyyan?
Sampul Novel Mantan Gay Kaum Pelangi
8.9
Kepergian sang ayah membuat Leo kehilangan arah hingga terjerumus ke dunia kelam demi mengejar kasih sayang. Trauma masa lalu itu menyeretnya ke dalam hubungan sesama jenis. Sadar akan dosa, ia mendapat hidayah dan bertekad kuat untuk berhijrah. Namun, jalan pulang tidak mudah karena berbagai godaan masa lalu terus menguji imannya. Mampukah Leo tetap istiqomah, melepas identitas lamanya, dan membangun lembaran hidup baru yang normal?
Sampul Novel Seputih Mawar
9.7
Saat jiwanya terguncang, Dinda akhirnya mengungkap cinta terpendamnya kepada Shalu. Pengakuan ini terpaksa ia lakukan karena Shalu nekat menodongkan senjata ke kepalanya sendiri. Meski sadar takdir mustahil mempersatukan hubungan mereka, Dinda dan Shalu tetap teguh mempertahankan perasaan tersebut. Di tengah keterbatasan yang ada, keduanya memilih terus saling berbagi kisah dan menghargai setiap momen kebersamaan yang tersisa dalam hidup mereka.