
Siasat Cinta Pertama Suamiku
Bab 2
Januar tertegun sejenak, lalu menatapku sambil tersenyum sinis. "Hazel, jangan menyesal. Kalau kamu mengakui kesalahanmu dan minta maaf kepada Liora sekarang, aku mungkin akan memaafkanmu."
Banyak orang di sekitar yang melirik kami dengan penasaran, termasuk kolega dan teman kami.
Namun, Januar dan Liora mempermalukanku di depan umum seperti ini.
Aku tidak boleh diam saja.
Liora juga berkata dengan hati-hati, "Maaf, Kakak Ipar. Aku nggak sangka kamu nggak setuju dengan masalah ini. Maafkan aku. Jangan bercerai dengan Kak Januar, ya?"
Januar menarik Liora kembali. "Sudah kubilang, jangan minta maaf pada wanita ini. Kamu nggak salah. Yang salah itu Hazel. Dia nggak seharusnya perhitungan dengan pasien sepertimu."
Januar menatapku. "Nggak punya etika. Bagaimana orang tuamu mendidikmu?"
Dia bukan hanya menceramahiku, tetapi sekarang dia malah membicarakan orang tuaku.
Tentu saja aku tidak tinggal diam. Aku langsung maju ke depan dan mendaratkan sebuah tamparan di wajah Januar.
"Aku peringatkan, jangan bilang orang tuaku."
Januar tertegun. Dia menutupi wajahnya dan menatapku dengan tidak percaya.
Liora langsung berteriak, "Kak Januar, kamu baik-baik saja? Pasti sakit, 'kan?"
"Kakak Ipar, pukul aku saja. Jangan pukul Kak Januar."
Aku tersenyum sinis. "Kamu kira aku hanya menamparnya, tapi nggak menamparmu?"
Saat aku bersiap untuk menampar Liora, Januar meraih pergelangan tanganku dengan sigap.
Ada kemarahan luar biasa yang muncul di matanya. "Hazel, keluar dari sini!"
"Surat cerai akan kukirimkan kepadamu hari ini. Keluar dan jangan pernah kembali lagi!"
Aku menarik tanganku kembali. "Nggak perlu, aku sudah menyiapkannya. Akulah yang menceraikanmu."
Aku mengeluarkan dua surat cerai dari tasku. Dua-duanya sudah aku tandatangani sebelumnya.
Aku sudah lama memikirkan hal ini. Jika aku tidak bisa menghentikan Januar, maka aku akan menceraikannya.
Aku tidak bisa menoleransi ada orang ketiga dalam pernikahanku.
Hanya saja, aku tidak menyangka situasinya akan berakhir buruk seperti ini.
Januar yang dikuasai emosi langsung menandatangani surat cerai itu.
Aku tidak lupa memperhatikan ekspresi Liora di sebelahnya. Sepertinya senyuman di wajahnya sudah tidak bisa disembunyikan lagi.
Ada sedikit rasa bangga dalam senyuman itu.
Selesai menandatangani surat cerai, Januar pun mengembalikannya kepadaku. "Keluar dari sini!"
Di bawah tatapan semua orang, aku mengambil surat cerai yang telah ditandatangani, lalu berbalik, dan meninggalkannya begitu saja.
Ada beberapa teman yang menarikku dan memintaku untuk mempertimbangkan masalah ini lagi.
Bagaimanapun, Januar dikenal sebagai pengusaha muda di Kota Adalon di saat berusia dua puluhan. Apalagi, dia punya masa depan yang cerah.
Namun, aku menolak semuanya.
Saat ini, yang kuinginkan hanyalah perceraian yang layak.
Sesampainya di rumah, aku memandang tempat yang telah kutinggali selama tiga tahun ini. Namun, aku tidak merasakan nostalgia sedikit pun.
Dalam tiga tahun ini, Januar bukan hanya sekali membawa Liora pulang ke rumah.
Suatu kali, saat aku mau naik ke lantai atas, dia sengaja membuat dirinya terjatuh. Kemudian, menuduh bahwa aku yang mendorongnya.
Januar marah besar, seakan ingin menelanku hidup-hidup waktu itu.
Tidak peduli bagaimana aku menjelaskan, Januar sama sekali tidak menghiraukan dan hanya mendengarkan perkataan Liora.
Waktu itu, kami sudah hampir bercerai. Demi menyelamatkan rumah tangga yang retak ini, aku harus merendahkan diri untuk menyenangkan suamiku selama setengah tahun.
Setelah dipikir-pikir sekarang, sepertinya aku sudah gila waktu itu.
Aku sudah muak dengan pernikahan tidak sehat seperti ini. Terserah suamiku mau menikahi wanita mana. Pokoknya, aku sudah tidak menginginkannya lagi.
Setelah mengemasi barang-barang, Januar juga kembali ke rumah.
Bekas tamparanku pagi tadi masih terlihat jelas.
Mendapati aku masih di sana, dia langsung memelototiku dengan benci. "Hazel, kenapa kamu masih nggak keluar?"
"Kamu membuatku kehilangan harga diri di depan semua orang hari ini. Aku pasti nggak akan melepaskanmu begitu saja. Kamu tunggu saja!"
Anda Mungkin Juga Suka





