APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Siapa Yang Menghamili Istriku?

Siapa Yang Menghamili Istriku?

Kisah romansa modern ini menyajikan misteri kelam dalam pernikahan yang penuh emosi dan pengkhianatan. Pembaca dewasa akan diajak menelusuri rahasia yang menghancurkan kepercayaan antar pasangan. Bersiaplah menghadapi alur penuh air mata saat kepingan teka-teki perlahan terungkap. Karakter utama pun dipaksa melihat kenyataan pahit yang tak terduga di tengah konflik hubungan yang sangat pelik.
Bab
Bagikan

Bab 3

Trotoar depan pasar malam, sore itu sudah dipenuhi lalu lalang ibu-ibu yang akan healing akan mungkin sekedar mengantar anaknya main sambil belanja. Tukang gorengan sibuk melayani pembeli, tukang parkir sibuk bersiul sambil mengatur motor, aroma gorengan bercampur harum maratbak dan sejenisnya mulai membumbung di udara.

Saat melewati sudut jalan dekat warung kopi yang baru mulai buka, langkah Zahra terhenti. Sebelah tangannya bahkan masih mengelus-elus perutnya, iseng.

"Eh... kamu Zahra ya?" teriak seseorang.

Suara nyaring itu membuat Zahra menoleh. Seorang wanita dengan lipstik merah menyala, celana jeans ketat, dan atasan warna kuning terang berdiri sambil menggendong anak balita. Wajahnya tak berubah, masih sama seperti dulu, meski kini lebih dewasa. Tetap cerewet, tetapan tajam, dan itu tetap Wina.

"Wina..." Zahra tersenyum kecil, berusaha tetap hangat, walau dulu sempat bermusuhan.

"Astaga! Udah lama banget ya kita nggak ketemu! Terakhir itu pas reuni SMA, ya? Ih, kamu makin glowing sekarang, Ra! Ini siapa ya?" Wina menunjuk perut Zahra, seolah berharap ada kabar bahagia.

Zahra buru-buru meletakkan tangan ke samping, menyembunyikan gerakan elusan tangaanya di perutnya tadi.

"Nggak siapa-siapa, hehe. Aku baru habis dari pasar," jawabnya ringan, meski hatinya mulai terasa tak nyaman.

"Lho, kamu kan udah lama nikah sama Fadlan?"

Wina memiringkan kepala, pura-pura lupa padahal jelas-jelas ingat.

"Iya, udah mau lima tahun."

"Wah, luar biasa sabar banget ya kamu. Belum dikasih rezeki ya? Tapi sabar itu pahalanya besar loh, Ra. Tapi... tetep sih, kalau suami mah sukanya pengen cepet punya penerus."

Tawa Wina terdengar ringan, tapi bagi Zahra, rasanya seperti belati diselipkan di antara tulang rusuknya.

"Iya, Kalau sudah waktunya, Insya Allah pasti diberiakan yang terbaik," sahut Zahra pelan, menahan gelisah yang mulai naik ke dada. Dia tahu kemana arah pembicraan Wina.

"Eh, ini anak aku yang kedua loh, Ra. Baru dua tahun, tapi udah pinter ngomong. Kamu harus punya juga, Ra. Anak itu... bikin rumah rame, ngeselin tapi juga bikin adem," cerocos Wina.

Zahra hanya mengangguk. Kata-kata seperti itu sudah sering ia dengar, tapi tetap saja selalu meninggalkan luka.

Tiba-tiba suara klakson motor terdengar. Seorang pria datang dengan motor matic, senyum lebar di wajahnya.

"Sayang, yuk cepetan! Kita telat nih ke rumah mama, si kakak udah rewl katanya!"

"Iya, iya! Udah ya Ra, nanti kita ngobrol lagi. Aku mau ke rumah mertua dulu, kemput anak pertamaku. Kamu semangat ya... jangan sampai disusul sama Retno adikku yang baru nikah bulan kemarin!"

Wina tertawa lagi, lalu naik ke motor dan melaju bersama suami dan anak keduanya, meninggalkan Zahra yang kembali berdiri sendirian di trotoar.

Zahra menarik napas panjang. Hatinya remuk. Lalu duduk di selasar pagar pembatas, tak lama kemudian, suara motor berhenti di pinggir jalan.

"Ra...!"

Fadlan melambaikan tangan dari atas motornya, mengenakan kemeja kerja yang lengannya sudah digulung hingga siku. Senyumnya tampak lelah, tapi hangat.

Zahra segera menghampiri, naik ke boncengan. Mereka sudah janjian sore ini mau ke dokter Firdaus, mengambil hasil pemeriksaan yang dilakukan minggu lalu sambil konsultasi lebih lanjut.

Sepanjang perjalanan, tak banyak yang mereka bicarakan. Hanya suara motor yang mengisi jeda. Zahra sempat melirik suaminya dari belakang helm. Fadlan masih seperti biasa, tenang, tangguh, dan selalu mencoba terlihat kuat. Tapi Zahra tahu di balik sikapnya itu, suaminya juga menyimpan harap dan kerapuhan yang dalam.

Setibanya di klinik, suasana ruang tunggu tak terlalu ramai. Mereka menunggu giliran, duduk bersebelahan. Tangan Fadlan menggenggam tangan Zahra erat, seolah ingin berkata: apa pun yang terjadi, kita tetap satu.

Ketika nama mereka dipanggil masuk, detak jantung Zahra sedikit berdebar. Tak lama, dokter Firdaus yang dikenal ramah dan lugas itu membuka map hasil pemeriksaan sambil menatap mereka bergantian.

"Saya akan langsung ke intinya, ya," ujar Dokter Firdus perlahan.

"Dari hasil analisa kemarin, hasilnya masih sama. Jumlah sperma rendah, motilitasnya juga lemah. Artinya, sel sperma yang aktif dan mampu membuahi sangat sedikit. Dalam kondisi seperti ini, kemungkinan untuk terjadi kehamilan secara alami sangat kecil."

Zahra menahan napas. Fadlan hanya menunduk, seolah kata-kata itu adalah palu yang menghantam tepat di ubun-ubunnya. Tiga dokter, tiga kali pemeriksaan hasilnya nyaris sama.

"Tapi bukan berarti tidak ada harapan. Masih ada pilihan medis seperti inseminasi atau bayi tabung. Tapi semua tergantung kesiapan mental dan finansial kalian. Kita bisa diskusikan lebih lanjut kalau kalian sudah siap," tambah dokter Firdaus dengan hati-hati.

Zahra mengangguk, meski pikirannya mendadak kosong. Fadlan tak berkata apa-apa. Senyumnya menghilang, terganti raut getir yang jarang sekali terlihat.

Malam itu, perjalanan pulang terasa lebih sunyi. Motor Fadlan melaju pelan. Tak ada canda, tak ada obrolan ringan seperti biasa. Zahra memeluk pinggang suaminya, lebih erat dari sebelumnya. Seakan ini adalah boncengan mereka yang terkahir.

Sesmpai di rumah, Fadlan duduk di tepi ranjang sambil menunduk.

"Maaf ya, Ra..." Suaranya lirih, nyaris tak terdengar.

Zahra mendekat, duduk di sampingnya, lalu menaruh kepala di bahu suaminya.

"Jangan pernah minta maaf atas sesuatu yang nggak kamu bisa kendalikan."

"Aku cuma... nggak pengen kamu jadi kayak selama ini. Ditanyain, dibandingin dan disalahin oleh semua orang. Aku pengen kamu bahagia. Aku suami seharusnya bisa ngasih kamu anak, Ra."

Zahra menutup mata, menahan airnya yang hampir jatuh.

"Kita belum gagal, Mas. Dokter mengatakan kita subur, hanya saja ada masalah pada spermamu. Tapi aku yakin kita masih punya harapan asal tetap saling genggam. Kita berjuang besama dan jangan mudah menyerah."

Fadlan tak menjawab. Tapi pelukannya malam itu lebih erat dari biasanya, seolah ingin mengatakan bahwa cinta mereka masih bisa tumbuh, bahkan di tanah yang tandus.

Waktu terus berlalu.

Tak terasa sudah satu bulan sejak kabar terakhir dari dokter Firdaus. Zahra semakin kuat memanjatkan doa-doanya setiap malam. Ia pun semakin ketat memperhatikan setiap hal yang bisa membantu kelancaran perjuangan dan usaha mereka. Mulai dari menyiapkan menu makanan sehat dan bergizi, sampai suplemen herbal yang direkomendasikan dokter. Semua ia siapkan dengan telaten, meski waktu luangnya pun nyaris tak ada.

Pekerjaannya sebagai staf keuangan di perusahaan garmen ternama menuntut ketelitian dan beban lembur yang tak jarang membuatnya pulang malam. Namun tetap saja, setiap pagi ia bangun lebih awal, menyeduh jus segar, merebus telur omega-3, dan menyiapkan bekal makan siang untuk suaminya.

Namun tidak demikian dengan Fadlan. Suaminya itu tampak datar. Sibuk, iya. Lelah, tentu. Tapi bukan lelah yang disertai tekad. Lebih seperti lelah dan pasrah yang dibuat-dibuat sebagai alasan untuk menyamarkan ketidak-acuh-annya.

"Mas, jusnya jangan lupa diminum ya sebelum berangkat."

"Iya, iya..." jawab Fadlan sambil mengenakan sepatu, tapi gelas jus itu sering kali masih utuh di atas meja ketika Zahra pulang.

Suplemen dari dokter hanya disentuh sesekali. Makan siang dari kantor lebih menarik daripada bekal sehat yang dibawakan istrinya. Bahkan, rokok yang sempat dijanjikan akan dikurangi... masih tetap ia isap diam-diam, ketika Zahra tak ada.

Zahra tak serta-merta marah. Tapi tiap kali ia buka kulkas dan melihat potongan pepaya dan brokoli yang tak disentuh, atau saat ia mencuci gelas jus yang penuh seperti pagi tadi, hatinya perlahan-lahan tergores. Zahra mulai merasa sendiri lagi.

Malam-malam selanjutnya makin sunyi. Zahra sering duduk di meja makan sendirian, dengan dua piring tersaji tapi hanya satu yang disentuh. Kadang ia bertanya, "Kamu pulang jam berapa, Mas?" dan Fadlan hanya menjawab, "Nggak tahu, tergantung rapat."

Padahal Zahra tahu, Fadlan pasti nongkrong dulu di kafe bersama teman-temannya. Melepaskan penat atau lari dari kenyataan. karena penat yang Zahra rasakan, bukan berarti harus lari dari kenyataan. Tapi dilawan dengan semangat membara.

Ketika di dapur kadang Zahra bicara sendiri pada sayuran yang hendak di masaknya. "Aku nggak butuh kamu sempurna," bisiknya pada sayur bayam di tangannya. "Aku cuma butuh kamu sama-sama berjuang."

Malam itu hujan turun perlahan. Di luar, lampu-lampu jalan berkedip samar tertutup kabut air. Zahra duduk di meja makan, menunggu Fadlan yang bilang akan pulang jam delapan. Sekarang sudah hampir jam sembilan. Makan malam yang ia siapkan sudah dingin.

Terdengar suara motor berhenti. Fadlan akhirnya datang.

"Maaf, Ra. Tadi ketemu klien lama, diajak ngopi bentar," katanya ringan sambil membuka jaket yang basah.

Zahra menatapnya tanpa berkata apa-apa. Ia berdiri, memanaskan kembali lauk dengan ekspresi yang datar.

"Tadi jusnya diminum?" tanyanya sambil tetap menunduk ke wajan.

"Lupa." Fadlan menjawab pelan.

Hening.

"Suplemennya?" tanya Zahra.

"Belum. Tapi aku sehat-sehat aja kok." Fadlan kembali beralasan.

Zahra meletakkan spatula. Matanya mulai memerah. "Kamu pikir semua ini cuma soal sehat atau nggak?" Suaranya sedikit bergetar.

Fadlan menatap Zahra, sedikit bingung tapi juga malas berdebat. "Ya terus, aku harus gimana? Aku kerja juga capek. Nggak semua orang bisa langsung ngubah hidupnya dalam semalam, Ra."

"Aku juga kerja, Mas! Aku juga capek! Tapi aku nggak nyerah. Aku masih masakin kamu, nyiapin makan sehat, aku ngurangin kopi, nyari resep, ngubek-ubek internet buat makanan yang bisa bantu program kita. Tapi kamu? Bahkan minum jus aja males." Zahra mulai hilang kesabarannya.

"Kenapa sih kamu jadi kayak nyalahin aku terus, Ra?" protes Fadlan.

"Aku nggak nyalahin. Tapi aku juga nggak mau berjuang sendirian, Mas. Oke kalau kamu gak mau berjuang, kamu harus bicara jujur sama keluargamu. Jangan aku saja yang disalahin. Hadapi semua orang-orang yang selalu ngoceh itu." Zahra mengklarifikasi.

Suara hujan makin deras di luar. Di dalam, hanya terdengar bunyi detak jam dan napas mereka yang mulai berat.

Fadlan duduk menunduk. Tapi kali ini, ia tak berkata apa-apa. Seolah tak tahu harus membela diri atau minta maaf.

Zahra berdiri pelan, mengambil piring, lalu berjalan ke kamar. Ia tak menutup pintu dengan kasar, hanya perlahan, tapi penuh luka.

Di dalam kamar, ia terduduk di ujung ranjang, matanya menatap kosong ke arah jendela.

"Apa... cuma karena aku paling pengen punya anak, aku juga yang harus paling berjuang?"

"Apakah suamiku tidak bersungguh-sungguh ingin punya anak? Apa telinganya sudah tuli dengan sindirian keluarganya, temannya juga para tetangga?"

Malam itu kembali berlalu dengan beku dan sunyi.

"Mau dibawa kemana hubungan ini?" desah Zahra lirih.

^*^

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Crossing Love
9.6
Trauma masa kecil membuat dunia Miya Tamama menjadi kelabu tanpa warna. Namun, kehadiran Tamama Kunai, seorang putra konglomerat sekaligus investor sekolah, mulai membawa perubahan besar di hidupnya. Di sisi lain, meski Miya selalu disayangi oleh kakaknya yang berprofesi sebagai dokter, Koko Tamama, ternyata ada sosok pria misterius yang diam-diam terus mengawasinya. Mampukah ketulusan sang pewaris takhta kekayaan menyembuhkan luka masa lalu Miya dan mengubah takdirnya?
Sampul Novel KESAKSIAN CINTA STEVI
8.1
Wasiat terakhir mendiang ibunya untuk selalu bekerja keras terus membayangi Stevi. Kini, di tengah duka yang belum sepenuhnya sirna, ia memulai lembaran baru sebagai istri Aria. Stevi berharap sang ibu bisa beristirahat dengan damai karena suaminya kini sangat mengandalkan dirinya. Sementara itu, Aria disibukkan oleh tanggung jawabnya sebagai dosen. Saat membimbing mahasiswi menyusun makalah, ia dengan tegas mengingatkan pentingnya keaslian karya agar terhindar dari plagiarisme saat seminar nanti.
Sampul Novel KIRANI SI WANITA MALAM
8.5
Kirani, seorang istri muda, terpaksa menempuh jalan kelam sebagai wanita malam demi menopang kondisi finansial dan menghidupi keluarga suaminya. Kisah ini mengupas tuntas pergolakan batin serta perjuangan beratnya dalam menjalani profesi rahasia tersebut di tengah ikatan pernikahan. Sebuah drama modern yang menyoroti pengorbanan, impitan ekonomi, serta rahasia gelap yang menyelimuti kehidupan rumah tangganya.
Sampul Novel Messy LOSY
9.3
Dilara terjebak dalam hubungan toksik bersama Keenan, pria munafik yang tega menyiksanya secara fisik dan mental. Meski dikhianati dan diselingkuhi, ia sempat bertahan sebelum akhirnya lelah dan memutuskan pergi. Namun, Keenan menolak melepaskannya dan terus mengekang Dilara agar tidak bisa menjauh. Di tengah penderitaan yang menghancurkan impian indahnya tentang cinta, sanggupkah Dilara mengumpulkan kekuatan untuk melawan rasa sakit dan merebut kembali kebahagiaan sejatinya?
Sampul Novel Suara Bayi di Ponsel Suamiku
9.0
Pernikahan Suci yang tenang mulai diguncang keraguan setelah ia mendengar tangisan bayi misterius di telepon suaminya. Meski sempat mengabaikan kecurigaan tersebut, berbagai keanehan lain justru terus bermunculan. Perlahan, tabir misteri mulai terbuka dan membongkar rahasia kelam yang selama ini disembunyikan sang suami di balik sikap manisnya, menyeret Suci pada kenyataan pahit yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Sampul Novel The Devil CEO
7.8
Ethand Girogino Alves memimpin Alves Corp dengan tangan besi dan ucapan yang selalu menusuk hati. Namun, keangkuhan sang CEO berjuluk iblis ini langsung mendapat tantangan sengit begitu ia bertemu Emma Liandra Jones. Di balik parasnya yang menawan, Emma adalah ahli teknologi informasi yang sangat cerdas. Ia menolak tunduk meski Ethand merendahkan harga dirinya. Pertarungan harga diri pun dimulai di kantor, di mana keteguhan Emma perlahan meruntuhkan keyakinan sang bos.